Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Terpana


__ADS_3

Dua sopir itu membayar bakso dua mangkok dan es teh yang mereka pesan. Alfian dan Julio juga ikut membayar dengan tergesa-gesa. Bertekad mengikuti mereka, tidak rela jika gadis incarannya di rayu laki-laki lain.


"Ayo Jul cepatlah ... ikuti mereka!"


"Sabar Bang, gue percaya kalau gadis pilihan Abang tidak mungkin menerima salah satu sopir itu."


"Abang tetap tidak rela, ayo cepatlah!"


Dua Angkot keluar dari pangkalan dalam keadaan kosong dan pintu di tutup. Tandanya angkot tidak mengambil penumpang atau tidak menarik trayek yang di tentukan. Penumpang juga tidak akan menyetop angkot dalam keadaan pintu tertutup.


Angkot berjalan sekitar dua kilo meter dari pangkalan, datang angkot yang datang dari arah berlawanan, "Bang lihatlah, itu angkot milik gadis impian Abang!"


"Balik arah Jul ... cepatlah!"


"Ya Bang."


Julio langsung membelokkan kuda besinya mengikuti angkot yang terlihat penuh dengan penupang. Hanya jarak kurang dari lima meter di belakang angkot motor milik Julio. Berkali-kali Alfian menepuk pundak Julio agar mempercepat laju motornya.


"Cepat Jul susul dia, Abang ingin melihat wajahnya!"


Saat Julio akan menambah kecepatan motornya, ada truk besar yang datang dari lawan arah berjalan dengan kecepatan tinggi. Dengan terpaksa Julio mengerem mendadak untuk menghindari tabrakan tiba-tiba. Kini Julio terpaksa harus kembali menyusul angkot setelah truk melewati mereka.


Angkot yang di ikuti Alfian dan Julio memasuki pangkalan dan tandanya seluruh penumpang harus turun. Saat seorang gadis turun dari kemudi angkot datang seorang laki-laki berlari mendekatinya. Membuat Julio memberhentikan motornya secara mendadak.


"Siapa lagi dia, Bang?"


"Berhenti saja dulu Jul!"


Laki-laki dewasa dengan berpenampilan rapi dan membawa tas kerja yang di selempangkan di pundaknya berjalan dengan langkah panjang. Tangan langsung meraih tangan gadis itu tetapi langsung di tepis olehnya, "Neng Rani ...?"


"Awas Bang tolong jaga batasan ya!" teriak Rania.


"Maaf ... apakah Abang masih belum di terima?"

__ADS_1


"Apa maksud Abang, Rani sudah mengatakan dari awal jika Rani hanya menganggap Abang seperti kakak sendiri, Rani sudah memiliki suami."


"Ayolah Rani, Abang tahu kalau kamu masih sendiri!" Kembali laki-laki itu akan meraih tangan Rania dan ingin memeluknya secara paksa.


"Abang, jangan memaksa ya!" Tangan Rania menepis tangan laki-laki itu dengan cepat.


"Rani ... Abang datang jauh-jauh dari Bandung hanya ingin menemui kamu saja, mengapa kamu masih saja bersikap sama?"


"Siapa yang suruh Abang ke sini, kembali saja sana ke Bandung!" Rania berjalan meninggalkan laki-laki itu dan ingin berjalan kearah para sopir yang sedang beristirahat di kursi panjang tempat favorit para sopir melepas penat dan menunggu penumpang.


Tangan laki-laki itu kembali ingin meraih tangan Rania. Dengan cepat Rania kembali menepis tangan laki-laki itu sehingga tanpa sengaja dia sedikit bergeser ke samping. Celakanya laki-laki itu malah hampir memegang pinggang Rania.


Tanpa sengaja dan spontan Rania berbalik badan dan menendang dengan keras pipinya, "Huuuuugh!"


"Sudah Rani bilang, jaga batasan Abang!"


Sikap laki-laki yang tidak sopan terhadap seorang gadis membuat Alfian geram dan ingin marah. Dia langsung turun dari motor sambil menepuk pundaknya, "Elo di sini saja. Abang temui dia sekarang!"


"Tu ... Tuan?" Terbata-bata Rania memanggil orang yang sedang menarik tangannya.


Mata Rania tak berkedip menatap wajah Alfian sambil tetap melangkah mengikutinya. Seolah saat ini sedang bermimpi sedang berhadapan dengan khayalannya. Seolah sedang menghalu menatap foto yang ada di ponselnya.


"Cepat naik!" perintah Alfian sambil membuka pintu angkot dan membantu Rania naik. Sedangkan laki-laki itu hanya terpaku melihat langkah Rania sampai angkot.


Rania hanya terdiam sambil terus menatap wajah Alfian yang mulai menjalankan angkot keluar pangkalan. Sampai di samping Julio, Alfian langsung berteriak kepada Julio, "Jul ... ikuti Abang!"


Julio mulai mengikuti angkot yang di kemudikan oleh Alfian. Hanya tersenyum melihat Alfian pertama kali dekat dengan seorang wanita tanpa canggung. Hanya bisa berdoa dalam hati semoga gadis itu adalah jodoh dari bos sekaligus sahabatnya.


Rania masih tetap terpaku seperti hampir tidak percaya suami halunya sedang berada di sampingnya. Antara mimpi dan kenyataan kini seolah tidak bisa di bedakan. Bahkan suara berisik lalu-lalang kendaraan seolah tidak di dengarnya sama sekali.


Alfian hanya tersenyum tipis melihat gadis yang di lihatnya terpana tanpa kata. Menatap wajahnya tanpa berkedip bahkan badannya bergerakpun tidak. Hanya sesekali meliriknya karena harus berkonsentrasi menyetir dan melihat ke depan, dia baru pertama menyetir angkot.


Alfian masih melajukan angkotnya tanpa tujuan. Masih bingung akan di ajak ke mana gadis yang ada di sampingnya. Tidak mungkin di bawanya pulang ke rumah. Karena tidak mungkin bisa penjawab pertanyaan oma dan opa saat di tanya tentang gadis yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Yang ada di pikiran Alfian hanya wajah kakeknya yang ingin dia temui saat ini. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya segera menyatukan antara mami dan ayah kandungnya. Hanya saja ingin menyelesaikan permasalahannya dulu dengan gadis yang sedang duduk ada di sampingnya.


Walaupun belum pernah masuk rumah Abah tetapi Alfian tahu betul di mana posisi dan rumah milik dari ayah kandung maminya. Sudah hampir tiga perempat perjalanan menuju rumah Abah, Rania masih terpaku memandang wajah suami halunya tanpa berkedip.


Karena heran bercampur gemas tangan kiri Alfian menjentikkan tangannya tepat di depan wajahnya, "Tik ... tik ... tik!"


"Eeee Tu ... Tuan!"


"Mengapa melamun, apa yang kamu pikirkan?"


"Apakah Rani sedang mimpi?"


Alfian terkekeh sambil mencupit lengan Rania agar tersadar mengatakan dan menyadari jika ini adalah kenyataan, "Auaaw ... sakit Tuan!"


"Kenapa bengong terus dari tadi?"


Rania kembali termenung melihat senyum manis suami halunya. Seakan senyuman itu menghipnotis hati dan pikirannnya. Harapan dan khayalannya seolah menyatu dalam satu pikiran.


Setiap hari dan setiap malam Raria hanya selalu membayangkan suami halunya sehingga saat bertemu dia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalanan. Seperti antara ada dan tiada padahal suami halunya ada di sampingnya. Bahkan mata seolah tidak berkedip dan mulut terbuka dan menganga karena terpana.


Sampai halaman rumah Abah Rania masih terpaku menatap wajah Alfian. Dia tidak menyadari jika sekarang ini berada di halaman rumah Abah. Sampai angkot itu berhenti dengan sempurna, Rania tetap terpana tanpa kata.


Alfian langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Rania hanya berjarak kurang dari lima centimeter. Tangannya memegang pintu angkot yang ada di samping Rania. Bahkan hembusan napas Rania tepat di mulut Alfian dan jantung keduanya berdegup kencang.


"Tu ... Tuan?"


BERSAMBUNG


Sambil menunggu AST up jangan lupa mampir ya shobat


Ini re-komen banget lo


__ADS_1


__ADS_2