Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Perjanjian


__ADS_3

Hari Sabtu sore keluarga besar Papi Alfarizi satu persatu datang ke villa. Mereka datang selain untuk berlibur rencananya Rania dan Alfian akan menemui Ibu Titin Suhartin untuk memberikan undangan pesta pernikahan yang tinggal satu minggu lagi. Di dampingi oleh Abah, Doni, Ibu Ani dan Endang Kusnandar.


Malam Minggu semua keluarga mengadakan BBQ di gazebo samping kolam renang. Esih dan istri Pak Endang Kusnandar bernama Bu Siti yang membuat sambal mantah dan sambal mangga. Di bantu oleh para bibi dan security.


Malam ini adalah hari yang sangat spesial khususnya Mami Mitha. Pertama kali berkumpul ada ayah kandung. keluarga, karyawan dan sahabat berkumpul. Menikmati indahnya temaram cahaya bulan yang syahdu.


Pagi pukul sepuluh Rania dan Alfian berangkat ke rumah Ibu Titin bersama di dampingi keluarga seperti rencana kemarin.


Mereka memakai satu mobil menuju rumah sederhana milik ibu kandung Rania. Yang pertama kali turun dari mobil adalah Doni dan Endang Kusnandar. Rania masih takut sambil memegang erat lengan Alfian. Rasa trauma yang di rasakan membuat Rania masih takut bertemu dengan ibu kandungnya.


"Ayo turun Sayang, jangan takut ada Abang, ayah, Bapak dan yang lain yang akan melindungi!"


"Rani masih takut, Bang."


"Apa perlu Abang gendong?"


"Tidak aaah ... malu dong, Bang."


"Setiap malam Abang di gendong Rani, Abang tidak malu tuuh."


"Itu beda Abang, kebiasaan mesum aja maunya."


"Tapi Rani suka, 'kan?"


"Banget Eee ... Abang iiih kebiasaan. Ayo turun!"


"Sudah tidak takut?"


Rani menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Turun dari mobil menyusul, Doni, Endang, Abah dan Ibu Ani yang sudah berjalan duluan sampai teras rumah Titin Suhartin. Rumah yang terlihat rapi walaupun ukurannya kecil.


Sampai di depan teras Alfian dan Rania ikut berhenti seperti yang lain. Ada suara perdebatan antara Titin Suhartin dengan seorang laki-laki. Mereka hanya mendengarkan perdebatan mereka dengan diam.


"Ini sudah lebih dari satu tahun, tetapi kamu belum juga menulasi hutang."


"Aku tidak ada uang, tunggu saja bersabarlah lagi."

__ADS_1


"Aku tidak bisa sabar lagi, kamu tidak pernah mencari putrimu, atau jangan-jangan kamu sengaja?"


"Aku sudah lapor polisi, kamu saja yang tidak sabaran."


"Kurang sabar apa, aku sudah menunggu satu tahun lebih."


Dari percakapan itu Rania bisa menyimpulkan jika orang yang sedang berdebat dengan ibunya adalah bandot tua yang akan menikahinya, "Bang, itu bandot tua yang akan dinikahkan sirri dengan Rani," kata Rania semakin mengeratkan tangan di lengan Alfian.


Doni dan Endang Kusnandar meletakkan jari telunjuk di bibirnya secara bersamaan. Nasi telah menjadi bubur ternyata dua orang yang sedang berdebat di dalam mendengar ucapan Rania. Mereka lanagsung berlari keluar karena suara itu tidak asing bagi keduanya terutama Titin Suhartin.


"Rani ...!" teriak Titin Suhartin.


"Calon istriku ...!" teriak bandot tua langsung mendekati Rania dan menarik tangananya.


"Abang ...!" Rania ikut berteriak sambil menghempaskan tanganya dengan kuat kemudian memundurkan badannya bersembunyi dibalik tubuh Alfian yang kekar.


Laki-laki bandot tua itu kembali mendekati Rania sambil mendorong tubuh Alfian agar minggir. Alfian yang emosi langsung memberikan bogem mentah tepat mengenai rahang laki-laki itu, "Buuug!"


"Kamu kurang ajar ya!" Laki-laki itu memegangi rahangnya yang terasa sakit.


"Rani, kamu ke mana saja membuat ibu su ...?" Titin Suhartin berniat ingin memarahi putrinya.


Tiitin Suhartin mengundurkan tubuhnya karena Endang Kusnandar bertolak pinggang berjalan sambil menatap tajam mantan istrinya, "Aku mau ...!" Titin suhartin menutup mulutnya tidak ingin melanjutkan ucapannya karena terintimidasi oleh tatapan mata Endang Kusnandar.


"Elo mau menjual putri gue, elo mau gue ambil lagi rumah yang elo tempati sekarang ini?"


"Aku ... aku ...?" Titin terbata-bata tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.


"Dan kamu Pak tua, kamu sadar tidak berapa umurmu, sudah bau tanah juga!" Endang Kusnandar semakin emosi dan mendekatinya.


"Aku melamar dengan baik-baik, ibunya juga setuju apa salahku, uangku sudah banyak di pakai oleh dia." laki-laki itu menunjuk kearah Titin Suhartin.


Doni ikut maju mendekati dia, "Berapa hutang wanita tua itu, aku yang bayar?"


Alfian ingin melerai mereka dan ingin membayar hutang ibu mertuanya tidak jadi maju karena Rania terus saja menggandeng lengan Alfian.

__ADS_1


"Abang, jangan pergi!" kata Rania.


"Abang Al, biarkan mereka berdua yang mengatasi, kita lihat saja dulu!" perintah Abah.


Titin Suhartin tersenyum tipis saat Doni mengeluarkan dompetnya. Sayangnya Endang Kusnandar langsung menarik dompet milik Doni dan mengantongi, "Tunggu dulu jangan dibayar, keenakan wanita tua tapi ganjen itu. kita harus membuat perjanjian!"


"Perjanjian apa maksudnya? " tanya Titin Suhartin.


"Elu suka ngelunjak kalau dibaikin, elu harus diberikan ketegasan, tidak mungkin akan kami bayar sebelum ada perjanjian jelas dan hitam diatas putih."


"Apa isi perjanjian itu?" tanya Titin Suhartin dengan cepat


"Mulai saat ini elu dilarang ikut campur di hidup Rani dalam bentuk apapun, elu juga tidak boleh tinggal bersama Rani. Elu akan tinggal di rumah ini sendirian, apakah sanggup?" Endang Kusnandar membuka tas pinggang dan mengeluarkan satu buku dan pulpen.


"Baiklah aku sanggup."


Tidak hanya Endang Kusnandar yang tersenyum mendengar jawaban Titin Suhartin. Abah ikut tersenyum mendengar kepintaran mantan suami kedua dari ibu cucu menantunya. Apalagi Ibu Ani yang tertawa lebar sambil mengajungkan jempolnya tanda setuju.


Endang Kusnandar berjalan mendekati Alfian dan Rania, "Silahkan Anda yang membuat perjanjian seperti yang Bapak katakan tadi!"


"Tentu Pak, terima kasih."


Alfian menulis surat perjanjian seperti yang di maksud. Dalam surat itu ada saksi yang akan ikut tanda tangan. Termasuk Rania, ke dua ayahnya, Ibu Ani dan Abah.


Abah langsung menghubungi temannya yaitu ayah kandung dari Pak RT. Dengan tujuan untuk menyaksikan perjanjian itu lebih kuat. Mereka datang hanya dalam waktu sepuluh menit mengendarai motornya.


Selesai membuat surat perjanjian, Endang Kusnandar mengeluarkan materai dan di berikan kepada Alfian. Titin Suhartin tanda tangan diatas metrai dan di saksikan dengan tanda tangan sesuai nama yang tertera. Termasuk Pak RT setempat sebagai saksi utama.


"Ok sudah selesai surat perjanjiannya, suatu saat nanti kalau elu mengingkari perjanjian kita ini langsung akan masuk penjara, mengerti?" anjam Endang Kusnandar lagi.


"Iya ..iya cepat bayar hutang aku!"


"Pak tua ... berapa hutang dia?" tanya Doni sambil meminta dompet yang tadinya di pegang oleh Endang Kusnandar.


Titin Suhartin tersenyum devil, seolah mengejek Doni tidak mungkin sanggup membayar hutangnya. Laki-laki yang sering di sebut bandot tua oleh Rania langsung mengeluarkan catatan kecil. Memberikan catatan itu kepada Doni.

__ADS_1


"Ini hutang dia, kalau bisa tolong bayar lunas langsung!"


"Berapa hutang Ibu, tunggu Ayah ... biar Rani saja yang bayar?"


__ADS_2