
Hampir satu bulan ini Neng mempersiapkan konfeksi impiannya yang berada di kontrakannya, yang awalnya gudang milik Ibu Yuni yang berukuran 4 x 10 meter di sulap menjadi ruang produksi.
Awal produksi Neng membeli 5 mesin jahit dua mesin obras dan satu mesin khusus untuk lobang kancing dan pasang kancing, karyawannya Ibu Yuni, Mpok Atun dan Ibu Ani, Neng bekerjasama dengan perusahaan garment yang tudak jauh dari kontrakannya.
Tetapi setelah berjalan satu bulan ada lima orang paruh baya bekas karyawan Ibu Yuni yang datang minta pekerjaan kepada Neng, mereka sebagian besar single parent dan menjadi tulang punggung keluarga dan sudah cukup umur sehingga melamar di perusahaan tidak di terima.
"Kami di bayar berapapun mau Bu, yang penting kami bisa bekerja dan mendapatkan uang halal," kata Ibu Sumi teman Ibu Yuni.
Neng tersenyum dan merasa iba apalagi di panggil Bu olehnya, "Panggil aku Neng Mitha aja Bu, seperti Ibuku dan Bu Rt,"
"Berarti kami di terima bekerja disini kan Neng Mitha?"
"Baiklah Bu, tetapi mulai masuk kerja hari senin aja, aku akan membeli mesin jahit terlebih dahulu."
"Terima kasih Neng Mitha."
Hari Minggu ini Neng mulai mencari mesin jahit di temani oleh Ibu Ani, perut yang mulai terlihat membesar ternyata membuat Neng semakin mudah lelah, harus sering berhenti untuk istirahat dan menambah asupan gizi untuk Si jabang bayi dalam kandungannya karena Neng sering cepat lapar.
"Makan saja dulu Nak, jangan terlalu di paksakan untuk berjalan,"
"Iya Bu, aku rasanya lapar sekali padahal baru saja makan dua jam lalu,"
"Itu ada ayam bakar, dan sebelahnya ada bakso, pilih yang mana?"
"Aku pingin makan opor ay---?" Neng tidak melanjutkan ucapannya karena seketika itu teringat Tuan Al yang sangat menyukai opor ayam apa lagi di tambah kerupuk.
"Mengapa tidak di lanjutkan Neng Geulis omongannya, kalau opor ayam disana ada Nak, warteg yang di ujung jalan sana,"
Neng meniknati nasi opor ayam, sambal terasi dan kerupuk sambil berlinang air mata, sudah hampir empat bulan tidak bertemu dengan ayah bayi yang ada dalam kandungannya terkadang ada rasa rindu yang tidak bisa di ungkapkan, entah karena hormon yang berubah atau rasa cinta yang tumbuh di hatinya.
Walau pikirannya menolak, berkali-kali meyakinkan hatinya untuk tidak memikirkan masa lalu yang ingin di lupakannya tetapi terapi debaran jantung tetap tidak bisa di sangkal oleh Neng.
__ADS_1
"Neng Geulis mengapa menangis, Nak?" tanya Ibu Ani sangat khawatir.
"Tidak apa-apa Bu, entahkah akhir-akhir ini aku merasa cengeng dan sering ingin menangis tanpa sebab," jawab Neng sekenanya.
"Terjadang memang seperti itu, itu bawaan bayi, sebaiknya kontrol ke dokter ksndungan, sekalian bisa melihat cucuku laki atau permpuan,"
"Iya Bu, besok saja antar aku periksa ke rumah sakit ya Bu!"
Selesai makan Neng berbelanja keperluan konfeksinya, merasa sangat beruntung usahanya dalam waktu dua bulan bisa berjalan lancar, bahkan sekarang akan menambah karyawan lagi.
Keesokan harinya Neng sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit, tetapi Ibu Yuni antusias ingin ikut ke rumah sakit, "Neng Mitha, Ibu juga mau ikut, Ibu ingin melihat cucu laki atau perempuan!"
"Boleh Bu, tetapi naik angkot Ibu mau?"
"Tidak masalah, oya Neng Mitha seharusnya harus bersiap-siap pindah alamat rumah dan membuat Kartu keluarga, mumpung bayimu belum lahir." saran Ibu Yuni saat mereka sudah berada di dalam angkot.
"Apakah Ibu bisa membantu membuatkannya aku kurang faham tentang hal seperti itu,"
Sampai di rumah sakit, melakukan pendaftaran, seperti sebelumnya Neng mengisi nama suami hanya dengan nama depannya saja tanpa menggunakan nama belakangnya.
Duduk menunggu di depan ruang Dokter Ogym rasa hati Neng sangat lega, merasa ada yang memperhatikan tidak seperti saat dia periksa kandungan sendiri tanpa ada yang menemani.
Saat namanya di panggilpun Neng terasa lega tidak seorangpun yang memandang aneh padanya karena adanya dua calon nenek yang mendaminginya.
Silahkan duduk Nyonya, waaah rombongan calon oma ikut mendampingi?" canda Dokter Ogym sambil menyalami pasien dan para ibu yang mendampingi Neng.
"Iya Dok, yang antusias malah para neneknya," jawab Ibu Ani.
Di periksa dengan teliti oleh Dokter dan di bantu satu suster, semakin membuat para nenek semakin penasaran mengenai kondisi bayi dalam kandungan.
"Ayo kita USG dulu, agar rasa penasaran oma terjawab," kata Dokter Ogym sambil mempersilahkan Neng naik ke brankar tempat tidur.
__ADS_1
Setelah sekesai di olesi dengan jel Dokter mulai menggerakkan alat yang di pegangnya dalam perut bumil itu.
"Waah sudah terlihat oma, cucu anda jagoan, selamat ya,"
"Terima kasih Dok, cucuku laki-laki," jawab Bu Yuni dengan antusias.
"Selamat ya Neng Mitha, Ibu sangat bahagia semoga sehat sampai melahirkan Aamiin." Ibu Ani juga ikut bahagia.
"Terima kadih Bu," jawab Neng dengan linangan air mata.
Hatinya terasa sangat gamang karena semakin hari pikirannya tidak bisa lepas dari ayah dari bayi yang di kandungnya, semakin hari keinginannya ingin bertemu semakin menbuat dadanya sesak, berusaha di sembunyikan rasa itu rapat rapat keinginan itu karena sudah tidak mungkin lagi bertemu.
Neng hanya mencoba berpikir rasional dan sering bermonolog sendiri dengan putranya sambil mengusap perutnya apalagi saat dia sendiri di dalam kamarnya, "Jangan meminta hal yang tidak bisa Mami kabulkan Nak, kita sudah tidak bisa bertemu dengan Papi, kita harus ikhlas Nak, jangan membuat Mami merasa bersalah karena keinginan bertemu dengan Papi, Maafkan Mami ya sayang, Mami tidak bisa memenuhi jika kamu ibgin bertemu dengannya, ingat jangan ngiler setelah lahir nanti."
Setelah karyawan Neng bertambah, produksi semakin besar bersamaan bertambahnya rejeki yang di dapat, yang awalnya hasil jahitan di kirim melalui jasa kurir ojek online sekarang harus menggunakan mobil pik-up, sehingga Neng memutuskan untuk membeli mobil pik-up untuk angkutan produksinya.
"Neng Mitha, siapa yang akan menyetir mobil pik-up nya?" tanya Ibu RT setelah Neng sekesai membeli mobil wakaupun hanya mobil bekas tudak beli di show room.
"Aku Bu, yang mempunyai mobil ini berjanji akan mengajari aku nyetir dan meguruskan SIM sekalian,"
"Kamu sedang hamil Nak, bagaimana jika terjadi sesuatu?" khawatir Ibu Ani.
"Tidak usah khawatir Bu, aku pasti bisa dan mampu, yang penting mohon doanya saja, tidak usah berpikir yang macam-macam,"
"Baiklah hati-hati!"
"Iya Bu, awalnya aku ingin membeli motor, tetapi setelah di pikir lagi akan lebih bermanfaat membeli mobil, apalagi pemiliknya menawari mau mengajari aku menyetir."
Akhirnya walaupun dalam keadaan hamil, hanya dalam dua Minggu Neng sudah bisa mengendarai mobil pik-up miliknya, dan memiliki SIM dengan bantuan pemilik pik-up sebelumnya.
Bu RT juga sudah membuatkan Kartu Keluarga untuk Neng dan Ibu Ani, dengan bantuan ketua RW, Neng nendapatkan kemudahan itu karena secara tidak langsung dia menbantu para warga mendapatkan pekerjaan wakaupun mereka sudah cukup umur.
__ADS_1