
Neng langsung membuka mata kembali setelah Alfarizi mengira dirinya pingsan. Bahkan seluruh keluarga ikut berdiri dan mengerumuni tempat tidurnya dengan wajah yang khawatir, "Aku baik-baik saja ..."
"Mitha, jangan membuat kami khawatir!" Dokter Harry yang paling mengkhawatirkan Neng karena dia yang selama ini merawat dan mengobati traumanya.
"Ayo kita lanjutkan doa terlebih dahulu!" kata Pak penghulu.
"Baik Pak terima kasih, ayo duduk dulu!" jawab Abi Ali.
Doa langsung di pimpin oleh Pak Penghulu, di lanjutkan dengan pembacaan ikrar nikah yang di bacakan oleh mempelai pria. penandatanganan surat nikah, serah terima mahar berupa seperangkat emas yang beratnya 100 gram dan surat tanah dan rumah atas nama Neng. Sungkeman hanya di lakukan oleh Alfarizi sedangkan Neng hanya menerima selamat dan pelukan sambil berbaring di brankar tempat tidur.
"Selamat Mitha, Abang harap kamu bahagia, jangan kenang lagi masa lalu, masa lalu harus di tinggal di belakang." nasehat Dokter Harry.
"Terima kasih Bang Harry, terima kasih sudah menjadi Abang aku."
"Selamat Neng, aku selalu mendukungmu sahabatku, semoga impian kita saat di bangku SMK satu persatu bisa kamu wujudkan," bisik Lilis di telinga Neng.
"Terima kasih Lilis, semoga saja Aamiin."
Alfarizi yang mendengar pembicaraan dua sahabat itu mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah mengetahui latar belakang istrinya dengan detail. Di samping karena Neng adalah gadis yang tertutup, dia juga belum sempat bertanya pada Lilis secara mendetail.
Setelah selesai mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, acara dilanjutkan dengan menikmati hidangan makan malam bersama. Karena acara di lakukan di rumah sakit hidangan di kemas dalam kotak box lengkap dengan sendok dan garbu dan bisa langsung di nikmati. Nasi kotak tidak hanya untuk yang hadir saat itu di ruang rawat inap tetapi juga di bagikan untuk karyawan dan seluruh pasien yang sedang di rawat di rumah sakit.
Banyak yang mendoakan dari paseian dan keluarganya serta seluruh karyawan rumah sakit. Kabar menikahnya Duren dan mantan dari model terkenal Sinta terendus oleh Infotaiment saat ini. Sayangnya tidak ada yang bisa memberikan bukti foto dari acara pernikahan itu.
Infotaiment hanya mendapatkam kabar dari Kantor Urusan Agama yang membenarkan kabar itu tetapi mereka tidak memberikan nama jelas dari istri dari Alfarizi. Dan malam itu juga Sinta di wawancarai oleh infotaimen juga membenarkan jika mantan suaminya sudah move on dan sudah menikah. Tetapi dia juga tidak tahu identitas istri barunya.
Malam itu juga Umi Anna dan Abi Ali terpaksa mengadakan konferensi pers jika putranya Alfarizi sudah menikah. Belum bisa memberikan identitas istrinya saat ini karena istrinya sedang cidera. Berjanji jika sudah dekat dengan hari H resepsi akan kembali mengabari infotaiment.
Setelah satu persatu tamu dan keluarga berpamitan pulang termasuk Alfian ikut pulang bersama Umi Anna. Malam ini hanya tinggal Neng dan Alfarizi yang ada di dalam ruang rawat inap. Neng yang masih canggung hanya diam dan memejamkan matanya. Pikirannya masih seperti dulu, masih ada benteng yang menyelimuti hatinya apalagi moment seperti ini dia menjadi teringat dengan ayah kandungnya Ayah Asep.
Sudah bertahun-tahun sengaja memutuskan hubung dengan ayah kandung. Saat seperti ini baru Neng teringat dia memaksanya menikah walau sebenarnya dengan seiring waktu tanpa di sadari jatuh cinta dengan orang yang sama. Neng hanya bisa menggengkan kepala dan memejamkan matanya membayangkan bagaimana wajah ayahnya saat ini setelah hampir sepuluh tahun berlalu.
"Honey ..." panggil Alfarizi duduk di samping Neng dan menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Spontan Neng membuka matanya dan memandang wajah Alfarizi yang berseri-seri, "Hhmm ...!"
"Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk aku memperbaiki diri, terima kasih telah menerima aku, I love you so much."
Neng hanya mengangguk dan tersenyum, sudah berkali-kali dia menyatakan cinta. Neng tidak mernah mengungkapkan perasaannya sekalipun. Bertahun-tahun hidup hanya berdua dengan putranya tanpa bisa menerima laki-laki lain selain papi dari putranya membuat mulutnya kelu tidak pernah bisa menjawab ucapannya.
"Apakah aku boleh bertanya?"
Neng kembali mengangguk dan tersenyum, tanpa mengeluarkan kata sepatah katapun. Neng hanya melirik wajah Alfarizi yang selalu ingin menunjukkan rasa cintanya. Terkadang bertingkah absurt hanya demi menunjukkan rasa cintanya.
"Ada yang ingin di wujudkan saat masih SMK dulu?"
Neng hanya tersenyum, impian anak remaja pada umumnya saat itu membuat merasa malu untuk di ceritakan. Impian yang dulu di catat dalam buku hariannya hanya ada satu impian yang serius yaitu memberikan perawatan yang selayaknya di makam ibu kandungnya. Sudah hampir sepuluh tahun tidak berkunjung di makam ibu, sekarang tidak tahu lagi keadaannya bagaimana.
"Honey, mengapa malah melamun, apa yang belum terwujud?"
"Tadi mendengar ucapan Lilis ya, itu hanya impian gadis lugu yang miskin, tidak usah di wujudkan."
"Iiiih ayolah, aku ingin membahagiakan istriku, ayolah!"
"Ke kampung maksudnya, apakah kamu ingin bertemu dengan Ayahmu?"
"Tidak, aku belum berani bertemu dengn beliau."
"Terus, ini tentang siapa?"
"Jaman SMK impian terbesarku merawat makam Ibu, dulu hanya ada tanda dua kayu dan nama yang diukir di sana, sekarang aku tidak pernah ke sana, mungkin sudah hilang tanda itu."
"Ok anggap saja itu sudah terwujud sekarang, apalagi impian yang khusus untuk dirimu sendiri?"
"Banyak sekali, menikah dengan laki-laki tampan, aneh kan aku?"
"Itu juga sudah terwujud, Honey!"
__ADS_1
"Idiiih narsis, siapa yang tampan, bukankah Anda kalah tampan dengan Alfian?"
"Mengapa masih begitu manggilnya, maunya yang romantis gitu lo, Honey!"
Neng malah mengerucutkan bibirnya, "Seperti ABG aja!"
"Emang tahu artinya ABG apa?"
"Anak Baru Gede kan?"
"Bukan Honey, itu singkatan dari abdi bogo ga anjeun," jawab Alfarizi sambil menunjukkan jari jempol dan telunjuk yang di silangkan sebagai simbul tanda cinta.
"Itu maah ngawur, bukan ga anjeun tapi ka anjeun."
Alfarizi terkekeh, bahagia bisa bercanda seperti ini tanpa jarak. Yang dulunya selalu membatasi diri sekarang ini mulai bisa menerimanya, "Lanjut-lanjut, apa lagi impian nya?"
Neng teringat saat ibu masih bersamanya saat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama lagu dan film kesukaannya adalah India. Dia selalu menonton film India di rumah tetangga sebelah rumah yang memiliki televisi. Sering mendengarkan lagu India di radio kesukaannya.
"Dulu ibu pernah berpesan sebelum meninggal dunia, kata Beliau begini, Neng nanti kalau kamu sudah menjadi desainer terkenal dan memiliki butik sendiri, ajak Ibu bertemu dengan Syah Rukhan dan berwisata di sana ya!"
"Apakah itu termasuk amanah yang harus di laksanakan?"
"Entahlah, Ibu sekarang sudah tidak ada."
"Bagaimana kalau kita bulan madu ke sana?"
"Aku tidak mau meninggalkan Alfian, lagian aku juga tidak tahu kapan aku bisa bangun dari tempat tidur ini, badanku tidak bisa di gerakkan, masih sakit sekali, bagaimana jika aku tidak bisa bangun lagi, apakah Anda akan meninggalkan kami lagi?"
Ini novel teman yang sangat rekomen banget lo
jangan lupa mampir ya, sambil menunggu "Apa Salahku Tuan" up lagi
__ADS_1
I love you all