
Neng lansung berdiri setelah melihat lampu di atas pintu kamar operasi berubah menjadi warna hijau. Diikuti oleh keluarga yang lain mendekati pintu dengan perasaan yang tidak menentu. Sudah sekitar tiga jam menunggu operasi Alfarizi akhirnya selesai juga.
Dokter Harry dan satu suster yang pertama keluar dari dalam kamar operasi. Dengan tidak sabar Neng bergegas mendekati kakak angkatnya, "Abang ... bagaimana keadaannya sekarang?"
"Operasi dan tranfusi darah berjalan dengan lancar, pisau yang menanjam di perut Al tidak dalam, sehingga tidak membahayakan organ dalam perut."
"Syukurlah ... terima kasih."
Alfian langsung mendekati Dokter Harry karena ingin sekali segera bertemu dengan papinya, "Uncle, di mana Papi sekarang, Abang ingin bertemu sekarang?"
"Sabar ya Bang, Papi sebentar lagi akan di pindahkan di ruang rawat inap."
Rasa lega kini di rasakan oleh Neng dan seluruh keluarga dan para karyawan. Hanya Surya yang masih menunjukkan raut wajah khawatir. Rasa bersalah dan masih belum jelasnya keadaan Dokter Mario yang membuatnya masih gelisah.
Setelah Alfarizi di pindahkan di ruang rawat inap. Dia masih memejamkan matanya karena pengaruh obat bius yang masih ada. Sehingga Dokter Harry memerintahkan untuk bersabar dan masuk untuk melihat keadaan Alfarizi secara bergantian.
Yang pertama masuk adalah Neng, melihat suaminya berbaring lemah membuat Neng tiada henti meneteskan air mata. Neng langsung menciumi seluruh wajah Alfarizi tanpa henti. Bersamaan Alfarizi tersadar dan mengerjapkan matanya.
"Ma ... mi."
"Alhamdulillah ... Papi sudah sadar." Kembali Neng menciumi wajahnya.
"Honey, wajah Papi basah, jangan mancing Papi. Nanti kalau Papi minta goyang bagaimana?" canda Alfarizi sambil tersenyum devil.
"Iiiis Papi ini kebiasaan, Mami sangat khawatir malah pikirannya mesum aja."
"Bercanda Honey, kemarilah Papi mau lihat apakah wajah Mami masih pucat?"
Neng duduk di samping brankar tempat tidur mendekatkan wajahnya di depan Alfarizi. Alfarizi langsung mengusap pipi Neng dengan lembut, "Papi khawatir banget saat Mami wajahnya pucat karena tangan Mario melingkar di leher Mami sambil memegang pisau."
"Mami tidak pernah berinteraksi dengan orang asing Papi, rasanya tidak nyaman seolah tubuh Mami menolak sendiri."
"Papi tahu Honey, maafkan Papi ya. Papi ceroboh membiarkan Mami di sentuh oleh laki-laki breng sek itu."
"Justru Mami berterima kasih sama Papi, Papi rela mengorbankan diri Papi sendiri demi menyelamatkan Mami."
"Papi sangat mencintai Mami, apapun akan Papi lakukan demi Mami."
__ADS_1
"Terima kasih, Mami juga sangat mencintai Papi."
Alfian tidak sabar ingin bertemu papinya. Dia langsung memdorong pintu ruang rawat inap tidak sabar menungggu maminya keluar, "Papi ...!"
"Bang Al, sini Nak!"
Alfian langsung naik di brankar tempat tidur. Mencium pipi Alfarizi sambil tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca, "Papi ... jangan membuat Abang takut. Papi harus sehat, Abang sayang Papi dan Mami!"
Alfarizi tersenyum dan mengacak rambutnya dengan gemas, "Jangan khawatir, Nak. Papi kuat seperti Abang, Papi sudah sehat sekarang. Papi juga sayang Bang Al, Elfa dan Mami."
"Apakah darahnya sudah tidak keluar lagi, Pi?"
"Tidak Bang, ini sudah di jahit sama dokter."
"Di jahit, apakah pakai mesin jahit Mami?"
"Ha ha ha ...!" Neng dan Alfarizi tertawa terbahak-bahak karena keluguan putranya.
"Beda Bang, ini pakai jarum bedah bukan pakai jarum jahit mesin milik Mami."
"Kirain ...." Alfian nyengir dan menggaruk tengguknya yang tidak gatal.
"Mengapa wajah kalian babak belur begitu?"
"Saya yang memukuli mereka, Tuan." Surya langsung mendekati Alfarizi dan mengakui berbuatannya.
"Mengapa kamu menghajar mereka, Surya?"
"Karena mereka semua tidak pecus menjaga dan melindungi Anda dan keluarga, Tuan."
Alfarizi tersenyum melihat asistenya terlihat kesal dan kecewa, "Tidak usah di perpanjang, ini tidak sepenuhnya kesalahan mereka. Aku yang tidak sabar menunggu Junaidi datang karena istriku sudah pucat pasi, takutnya dia pingsan kalau tidak cepat-cepat Mario di lumpuhkan."
"Maafkan saya Tuan, saat kejadian saya sedang tertidur di ruang security." Jujur Junaidi sambil menunduk.
"Tidak apa-apa, Jun. Aku tahu seharian kamu tidak tidur."
"Saya juga bersalah dalam peristiwa ini, maafka saya," kata Doni dengan wajah yang khawatir.
__ADS_1
"Bang Doni saat itu melindungi Alfian dan Elfa, seharusnya aku yang berterima kasih."
Ada suara notifikasi masuk di ponsel Surya. Dia langsung membuka dan membaca pesan WA. Dua jam yang lalu tanpa persetujuan Alfarizi atau Neng dia memanggil dua temannya sesama karateka untuk menjadi bodyguard untuk mengawal keluarga tuannya.
"Tuan, maaf saya bertindak tidak meminta pertimbangan Anda terlebih dahulu. Di luar ada dua bodyguard yang akan mengawal keluarga untuk sementara."
"Apakah itu perlu, Surya?"
"Ya Tuan, saya tidak mau kecolongan lagi. saya masih belum bisa sepenuhnya mengawal Anda saat ini."
"Terserah kamu saja, jika itu yang terbaik. Tetapi kalau bisa bodyguard untuk istriku perempuan saja karena dia tidak akan nyaman jika di kawal oleh laki-laki."
"Baik Tuan, saya akan menghubungi satu bodyguard wanita."
Surya keluar kamar ruang rawat inap Alfarizi untuk menemui dua temannya yang akan menjaga Alfarizi dan keluarga. Menghubungi satu orang lagi teman wanita yang akan di tugaskan untuk mengawal Neng.
Keesokan harinya Junaidi mendapatkan kabar dari rumah sakit jiwa jika Dokter Mario sudah sadarkan diri. Dia terbangun seperti tidak terjadi sesuatu, sikapnya masih seperti semula datar dan pandangan kosong. Orang yang mengalami gangguan mental tidak bisa di tuntut hukum.
Surya hanya bisa meminta pegawai rumah sakit yang menangani Dokter Mario untuk mengabari jika terjadi sesuatu dengan dia. Surya hanya bisa mengantisipasi agar kejadian itu tidak terulang lagi. Berusaha agar tidak terjadi hal buruk lagi dengan keluarga Alfarizi.
Setelah tiga hari berlalu, Alfarizi di perbolehkan pulang. Dia beristirahat total di rumah selama satu minggu agar luka jahitan di perutnya kering. Neng merawatnya dengan telaten selama satu minggu juga dia tidak pernah meninggalkan suaminya sendirian.
Satu Minggu juga Alfarizi selalu menggoda dan merayu Neng, ingin mengajak bergoyang. Sayangnya bersamaan Neng sedang menstruasi. Sehingga Alfarizi sering uring-uringan.
"Jangan marah terus Papi, nanti cepat tua lo!"
"Mami sih, mengapa lama banget sih itunya. Papi sudah kangen tahu, senjata onta arab Papi pingin bergoyang." Alfarizi cemberut dan kesal.
"Di larang keras bergoyang Papi, selama luka di perut Papi belum kering."
"Aaiis ... Mami, yang sakit perut Papi, senjata orab Papi masih sehat, malah ini coba pegang dia meronta-ronta mencari pasangannya." Alfarizi menarik tangan Neng dan di letakkan di atas senjatanya yang masih terhalang celana.
"Aaaiiss ... Papi, jangan mulai mesum ya. ini Mami belum selesai PMS. Tidak boleh bergoyang untuk sementara." Tangan Neng ditariknya cepat agar tidak terpancing.
"Jadi kapan bolehnya Mami?"
"Kapan-kapan," jawab Neng sekenanya.
__ADS_1
"Yaaaaa ... Mami tidak asyik ah."