Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Akad dan Resepsi Julio


__ADS_3

Zain awalnya tersenyum bahagia saat mendengar permintaan Dokter Atha jangan jauh darinya. Sayangnya sesaat kemudian dia meralat ucapannya, "Tidak usah GR dan senyum begitu. maksud aku barang yang kamu bawa itu harus dekat dengan aku, sebentar lagi acara di mulai."


Zain mencoba menata hati pura-pura bersikap biasa saja. Menyembunyikan perasaan dan debaran di dada. Berusaha tidak menunjukkan kelemahan dan kekecewaan hati.


Zain langsung pura-pura cuek tidak menanggapi ucapan Dokter Atha. Dia memilih memperhatikan Julio dan Bintang yang sebentar lagi akan mengikrarkan akad nikah. Acara dari pembukaan sampai saat ini akad nikah segera di mulai. Ikrar berjalan lancar dengan berucap satu tarikan napas.


Akad nikah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas sebesar sepuluh gram. Berjalan dengan lancar tanpa halangan. Bahkan hanya sekali mengucapkan ijab qabul langsung dijawab sah oleh semua tamu dan keluarga.


Acara di lanjutkan dengan resepsi dengan adat Sunda. Tamu undangan yang datang silih berganti membuat sebagian keluarga dan saudara sibuk dengan tugas masing-masing. Tidak terkecuali Zain yang bertugas menyambut tamu terutama teman mereka baik teman kuliah atau teman saat kecil.


Hanya saja kali ini Zain jarang menyambut tamu wanita dengan akrab. Dia hanya menyambut dan mempersilahkan duduk. Tidak berbincang atau merayu setiap teman yang datang.


Zain lebih memilih berbincang dengan teman laki-laki. Terkadang tertawa dan menemani mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan. Terkadang menemui mereka saat sedang berbincang dengan teman yang lain.


Dokter Atha yang duduk berbincang dengan Rania dan Mami Mitha. Sesekali melirik Zain yang sedang sibuk menerima tamu. Dia berkali-kali mencuri pandang saat ada tamu masuk dan berbincang dengan Zain terutama tamu seorang wanita.


Selalu menyambut dengan senyum dan ramah. Tidak merayu dan terlihat biasa saja. Zain terkadang hanya becanda dengan Eki Darsono saja.


Rania yang memperhatikan kakak tirinya dengan diam-diam. Tersenyum melihat dia selalu mencuri pandang kearah Zain. Ingin bertanya tidak berani karena ada Mami Mitha di samping mereka.


Alfian datang duduk di samping Rania. Dia juga ikut memperhatikan kakaknya selalu mencuri pandang kearah Zain. Tersenyum dan menggelengkan kepala sambil memberikan kode kepada Rania, "Sudah dari tadi begitu, Bang," bisik Rania di telinga Alfian.


"Sepertinya usaha Zain mulai berhasil, Sayang," jawab Alfian juga ikut berbisik.


"Iya ...."


Zain bercerita kepada Alfian dan Rania saat akan melakukan strategi May. Terutama Alfian sangat menyetujuinya. Rania hanya tersenyum dan tidak terlalu menanggapi rencana Zain waktu itu.


Rania lebih memilih tidak mendukung atau menerima. Dia memilih netral diantara ke duanya. Tidak juga bercerita kepada kakaknya, jadi memilih adil tidak memihak.


Tamu terus saja datang silih berganti. Rania yang tinggal menunggu hari untuk melahirkan sudah terlihat kecapean. Alfian langsung mengajak beristirahat di hotel yang sudah di pesannya.


Untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan. Alfian sengaja memesan satu kamar hotel untuk Istrinya. Seperti saat ini setengah hari duduk kakinya mulai bengkak dan pegal.


"Abang ... kaki Rani?"


Alfian langsung jongkok memijat kaki Rania dengan lembut, "Apakah sakit, Sayang."


"Tidak tetapi rasanya capek banget."


"Beristirahat saja sana, Nak!" perintah Mami Mitha.


"Mami kami tinggal tidak apa-apa?" tanya Rania.

__ADS_1


"Masih ada Kakak kalian yang menemani Mami, tapi coba di periksa dulu, Nak Atha!"


"Baik, Mami."


Dokter Atha memeriksa kaki Rania dengan teliti. Kaki bengkak tetapi tidak terlalu besar. Masih dalam tingkat wajar bagi ibu hamil. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pembengkakan.


Terkadang makanan yang banyak mengandung garam atau kafein. Terlalu lama duduk atau berdiri. Aliran darah yang tidak lancar, masih banyak lagi penyebabnya.


Jika sudah terjadi pembengkakan ibu hamil harus beristirahat. Jika perlu saat merebahkan tubuhnya dengan di berikan bantal pada ujung kaki. Agar peredaran darah bisa lancar kembali.


"Ayo Sayang, istirahat dulu biarkan saja kurma jumbo yang bekerja!" bisik Alfian lagi.


Rania mengerucutkan bibirnya, jika sudah berdua suaminya selalu mensejaterakan kurma jumbo. Apalagi suasana di hotel sangat mendukung. Tidak mungkin akan menyia-nyialan waktu jika sudah berdua.


"Abang ini, tidak kasihan kaki Rani bengkak begini?"


"Sayang ... kurma jumbo juga bengkak kalau bangun."


"Beda dong, Abang. Kalau dia tidak bangun, pasti Rani towel."


Alfian bergelak sambil menggandeng Rania masuk kamar hotel. Membantu membuka sepatu dan berganti gaun dengan baju yang longgar. Dengan sengaja Alfian menyenggol gunung kembar sambil tersenyum devil.


"Abang ... jangan mulai ya!"


"Dari tadi kaki Rani tidak sakit, Bang. Hanya bengkak saja."


Sambil mengedipkan matanya Alfian mentowel salah satu gunung kembar yang belum tertutup dengan sempurna, "Ayo kita jangan kalah dengan Julio hari ini!"


"Julio belum melakukannya Abang, mengapa Abang mau duluan?"


"Ini yang terpenting harus Abang yang terdepan."


Siang ini kaki memang beristirahat, tetapi kurma jumbo bekerja keras. Walau di kerjakan dengan pelan-pelan tetap saja keduanya terpuaskan. Rania langsung memejamkan mata setelah selesai ritual.


"Sayang tidur saja, Abang ke acara lagi ya!"


Rania mengangguk dan tersenyum walau mata terpejam. Dengan mencium keningnya Alfian meninggalkan Rania agar beristirahat. Ikut bergabung kembali ke acara resepsi pernikahan Julio.


Baru masuk pintu samping Alfian masih melihat kakak tirinya. Dia masih memperhatikan Zain yang mondar-mandir menerima tamu. Matanya selalu melirik dan kearah dia jika tidak di perhatikan.


"Kak ...!" Alfian mengagetkan Dokter Atha yang sedang melihat arah Zain.


"Bikin kaget saja, ada apa?"

__ADS_1


"Kalau memang suka ngomong aja, Kak. Jangan hanya memandangi dari kejauhan begitu," goda Alfian.


"Memang mudah main suka aja. Itu sangat sulit buat Kakak."


"Kak, jujurlah dengan hati dan perasaan, setiap orang itu memiliki garis tangan yang berbeda."


"Entahlah ... Kakak belum yakin saja, apalagi dengan orang seperti dia. Masa lalu Kakak kehidupan dia samngatlah bertolak belakang bak bumi dan langit." Dokter Atha berkata sambil melirik Zain yang masih berbincang dengan tamu yang sebagian besar tenaga medis yang bekerja di rumah sakit.


"Apakah Kakak masih belum yakin dengan pakar cinta yang sudah taubat itu?"


"Bukan cuma itu, Dik. Kakak masih selalu terngiang dengan apa yang dilakukan Papa Mario."


"Maksud Kakak?"


"Kakak selalu terbayang mata Papa saat menabrak mobil yang kami tumpangi dulu."


Mata Dokter Atha langsung berkaca-kaca. Teringat dulu saat tabrakan dengan berhadapan mobil dengan mobil. Dia melihat mata Papa Mario yang penuh kebencian.


Rasa cinta Papa Mario yang berlebihan, kecemburuan yang berlebihan. Semua tidakan yang tidak sewajarnya. Membuat Dokter Atha takut untuk menjalani komitmen dengan lawan jenis.


"Apakah Kakak masih tidak percaya dengan adanya cinta sejati?"


"Kakak belum pernah merasakan itu, Dik. Apakah ada cinta sejati itu?"


BERSAMBUNG


Catatan, bagi Shobat Anna yang mendapatkan give away tolong kirim alamat segera ya, trims.


jangan lupa mampir Shobat ini rekomen banget lo


sambil menunggu AST up lagi



Wanita Pengganti Kekasih Sang CEO


Author: SyaSyi


Clara Wilson dan Elena Gloria adalah dua wanita yang berbeda, tetapi memiliki wajah dan bentuk tubuh yang sangat mirip. Mereka seperti kembar. Namun, mereka memiliki sifat yang berbeda. Clara memiliki sifat angkuh, sedangkan Elena memiliki sifat ramah dan lembut.


Demi sebuah karier, Clara rela memutuskan hubungan dengan Alexander Dimitri. Pria yang sudah dua tahun menjalin hubungan dengannya. Bahkan dua bulan lagi mereka berencana menikah, dan sudah bertunangan. Pertemuan Alexander dengan Elena merubah segalanya. Alexander menjadikan Elena sebagai wanita pengganti, kekasihnya yang telah pergi meninggalkan dirinya.


Akankah Alexander jatuh cinta dengan Elena, wanita sang pengganti? Bagaimana kisah selanjutnya hubungan mereka? Apa reaksi Clara saat dirinya mengetahui sosok pengganti dirinya?

__ADS_1


__ADS_2