Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Ke Villa


__ADS_3

Di gazebo itu semua terdiam dalam pikirannya masing-masing. Umi Anna dan Abi Ali juga ikut berpikir setelah mengetahui permintaan dari Mbah Buyut. Ada yang berpikir sambil mondar-mandir ada yang berpikir sambil jongkok samping kolam renang ada juga yang hanya menepuk dahinya sambil melihat ke langit.


"Roller coaster ...."


"Itu terlalu cepat Oma, Mbah Yut bilang jalannya pelan."


"Helikopter ... "


"Bukan Pakde itu terbang di atas, Mbah Yut maunya jalan ke atas."


"Apa mungkin MRT, Al?"


"Tidaklah Papi, itu jalannya rata dan cepat."


Karena semua pada bingung dan tidak faham apa yang di maksud, Mbah Buyut langsung memberikan penjelasan lagi "Sing iku lo cah bagus, yen wong podo tuku kelambi sing apik." (Itu lo anak Ganteng, di tempat orang jika belanja baju yang bagus).


"Maksud Mbah Yut lift kali, Nak."


"Bukan lift Mami, lift itu bentuknya persegi tetapi kemungkinan eskalator."


"Bener juga beda antara lift dan ekskalator."jawab Neng sambil menganggukkan kepalanya.


"Mbah Yut nopo engkang kados niki?" (Mbah Yut apa yang seperti ini?)" tanya Alfian menunjukkan vedio saat orang sedang berdiri di ekskalator yang berjalan naik ke lantai atas.


"Iyo cah Bagus, pinter awakmu, ayo budal saiki!" (Iya Anak Ganteng, kamu pintar, ayo berangkat sekarang).


Seluruh keluarga tertawa lepas lagi sambil menggelengkan kepalanya. Apalagi Mbah Buyut ingin mengajak berangkat sekarang. Padahal Mbah Yut saat ini hanya memakai kain jarik dan kemben karena cuacananya masih terasa panas.


"Ganti baju dulu Mbah, dandan yang cantik!" celetuk Abi Ali sambil menggelengkan kepalanya.


Sore itu Alfarizi mengajak seluruh keluarga berkunjung di mall miliknya sendiri. Ingin membahagiakan mereka semua keluarga yang selama ini membuat Neng dan Alfian bahagia. Ingin membelikan oleh-oleh untuk keluarga yang ada di desa.


Mbah Buyut membuat drama lagi setelah tiba di mall, membuat semua keluarga kembali tertawa terbahak-bahak. Pasalnya Mbah Buyut tidak berani naik eskalator yang ingin di lihatnya sejak tadi.


"Emoh, Mbah Yut ora wani, cuma pengen weroh ora pingin munggah!" (tidak, Mbah Yut tidak berani, cuma ingin lihat tetapi ingin tidak ingin naik).


"Ayo tak gendong Mbah Yut!"


Neng menggendong Mbah Yut di punggungnya sampai di satu tangga, di turunkan dan berdiri sambil di peluk oleh Neng dan gandeng tangannya oleh Alfian. Sampai paling ujung tangga di bendong kembali dan akhirnya sampai lantai dua. Mbah Yut tersenyum senang bisa merasakan naik eskalator walaupun awalnya takut dan tidak berani.

__ADS_1


Berbelanja apa saja yang di inginkan, hampir semua cucunya yang di desa di sebut satu persatu untuk di belikan oleh-oleh. Alfarizi hanya tersenyum dan mengangguk kepada Neng dan memberikan kartu black cart miliknya.


"Ini Mami saja yang pegang untuk keperluan sehari-hari!"


"Tidak usah Papi, Mami juga punya walaupun warnanya tidak hitam sih." bisik Neng di telinga suaminya.


"Ayolah Mami di ambil, Papi akan sangat bahagia dan bangga bisa memenuhi kebutuhan istri dan keluarga, atau perlu diancam dulu kalau tidak mau terima, Papi hukum?"


"Apa memang hukumannya?"


"Apa ya, hukumannya favorit Papi aja, bergoyang sampai pagi." Alfarizi berbisik sambil tersenyum simpul.


Neng tidak menjawab ucapan Alfarizi hanya mengerucutkan bibirnya sambil mencubit lengannya dengan keras.


"Isssst ... sakit Honey!"


"Biarin aja Papi sukanya mesum sih sekarang."


"Mesumnya hanya untuk Mami aja kok."


Setelah satu minggu tinggal di rumah Neng, keluarga pulang kembali ke desa. Hari Sabtu pagi Alfarizi mengajak Neng dan Alfian berkunjung ke makam ibu kandung Neng. Junaidi, Lilis dan putranya Julio sudah menunggu di villa mulai Jum'at sore untuk mempersiapkan kedatangan tuannya.


Dalam perjalanan Neng selalu melamun dan termenung, akhirnya setelah sekian lama tidak berkunjung di kampung halaman. Hari ini akan kembali menginjakkan kakinya di sana membuat hatinya resah tidak menentu. Pikirannya masih was-was jika bertemu dengan Ayah Asep, saat ini rasanya belum sanggup untuk bertemu dengan beliau.


Alfian tertidur di jok mobil bagian belakang pahadal perjalanan baru setengah jalan. Neng sebetulnya juga ingin memejamkan mata tetapi sayangnya mata tidak bisa di ajak terpejam. Selalu teringat masa lalu yang masih membekas di hatinya yang susah di lupakan.


"Honey, are you ok?"


Neng hanya mengangguk dan kembali mengambil napas panjang. Berkali-kali meyakinkan hati untuk tenang dan bisa ikhlas menerima masa lalu. Mencoba berpikir masa lalu memang harus di tinggal di belakang dan tak perlu untuk di ingat lagi.


"Maafkan Papi, Honey. I love you so much."


"Mami hanya gugup aja kok Pi, jangan khawatir."


"Papi takut Mami teringat waktu ...!"


Neng langsung memotong ucapan suaminya, "Pi, Mami sudah bisa menerima Papi sepenuhnya, jangan selalu merasa bersalah, Mami akan mencoba melupakan semuanya, tolong bantu ya!"


"Tentu Honey, manusia tidak ada yang sempurna yang penting bagaimana kita bisa memperbaiki diri dari kesalahan masa lalu, Papi akan selalu ada untuk Mami, kita langsung ke makam atau mampir dulu ke villa?"

__ADS_1


"Itu Al tidur ke villa aja dulu Pi!"


"Ok sebentar lagi sampai, Mami siap ke villa itu?"


"Ya Papi ...."


"Nanti kita ciptakan memori yang indah di sana, kita hapus kenangan yang jelek di masa lalu, ok!"


"Jangan mulai ya Pi, ada Al di belakang!"


ALfarizi hanya tersenyum, ini kemajuan yang bagus untuk Neng sudah mulai bisa lebih terbuka dan bisa mengatakan perasaanya. Bisa berkunjung di villa yang membuatnya trauma semoga tidak ada hal yang membuatnya kembali trauma, saat nanti memasuki halaman villa. Parkir di halaman villa sambil melirik Neng yang masih terdiam memandangi bangunan villa yang masih berdiri kokoh.


"Honey ... ayo turun!"


"Ya Papi sebentar."


"Apakah masih ragu, Papi jadi teringat saat terakhir kita melakukan goyang onta arab di sini, itu saja yang di ingat Mi, jangan mengingat yang lain."


"Jangan mulai lagi Pi, ayo gendong Al masuk ke villa!"


Junaidi berlari mendekati Alfarizi yang membuka pintu mobil belakang, "Tuan, saya saja yang menggendong putra Anda!"


"Ok terima kasih, Jun."


Junaidi menggendong bridal Alfarizi dan masuk menuju kamar Alfian yang sudah di persiapkan sebelumnya di samping kamar utama milik Alfarizi dan Neng.


"Ayo Honey!"


Neng mengandeng tangan Alfarizi dengan erat, seolah tangannya bergetar tanpa bisa di kendalikan. Melangkah mengikuti langkah Alfarizi dengan ragu. Badannya mulai mengeluarkan keringat dingin setelah sampai di ruang keluarga.


"Honey ... aduh kamu berkeringat dingin sini duduklah, Papi peluk sebentar!"


Neng hanya terdiam dan memejamkan matanya saat dalam pelukan Alfarizi. Hatinya ternyata masih merasakan trauma yang mendalam saat ada di dalam villa itu. Saat Alfafizi melirik Neng yang terpejam matanya, membuat dia gugup dan khawatir, "Honey ....



Visual ALFARIZI ZULKARNAIN


__ADS_1


Visual NINGTIYAS PARAMITHA


[Untuk pemenang pertanyaan hari kemarin pemanangnya adalah "Eer Erna Aza", Kk ini yang menjawab benar pertama kali. tunggu di akhir novel ya kk baru di bagikan, mohon bersabar. maaf keputusan Author tidak bisa di ganggu gugat trims]


__ADS_2