Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
pantai Kuta


__ADS_3

Setiap pagi Alfian harus berangkat ke kantor tanpa diantar oleh Rania sampai depan pintu seperti biasa. Jadwal Rania saat ini jungkir malik, pagi tidur sampai tengah hari. Makan malam di lakukan pukul sebelas malam.


Terkadang sampai pagi tidak tidur lagi. Setelah sarapan baru dia akan tidur cantik sampai siang hari. Untungnya dia tidak pernah merasa mual dan muntah. Kesukaan Rania makan buah yang asam dan rasa sepat.


Sabtu ini setelah bangun tidur pukul sebelas siang Rani berlari masuk kantor pribadi yang ada di sebelah kamarnya. Alfian sedang memeriksa dokumen yang menumpuk. Setiap Sabtu dan Minggu Alfian sering meghabiskan waktu dan bekerja di rumah.


"Abang ...!"


"Ada apa Sayang?"


"Rani mau jalan-jalan di pinggir pantai."


"Rani ngidam pingin jalan-jalan di pinggir pantai?"


"Tidak tahu ... ini ngidam atau tidak, pokoknya Rani mau sekarang!"


"Rani pingin di pantai mana?"


"Terserah Abang saja, cepat tidak pakai lama!"


"Iya baiklah, sana siap-siap ganti baju dan dandan yang cantik!"


Rania tersenyum dan kembali ke kamar untuk berganti baju. Alfian menghubungi Julio untuk mempersiapkan pesawat menuju Bali. Harus di berangkat sekarang juga dan tidak boleh di tunda.


Julio bekerja dengan keras agar bisa mewujudkan ngidam Rania. Bahkan kru pesawat baru di hubungi, Alfian dan Rania sudah berangkat dari rumah.


Tidak hanya Julio yang dibuat kelimbungan mempersiapkan perjalanan. Kru, pilot dan pramugari harus mempersiapkan diri dengan cepat. Tidak ingin mendapatkan dampratan atasan saat majikan sudah sampai bandara tetapi para kru dan pilot belum sampai di bandara.


Hanya beda lima menit perbedaan kedatangan Kru dan Alfian. Sebagian besar masih terengah-engah saat mereka sedang menyambut tuannya di pintu masuk pesawat. Bahkan ada juga yang mengelurkan keringat dingin karena takut terlambat.


Selama ini Alfian selalu mencontohkan anak buahnya selalu disiplin waktu. Bukan Alfian yang sering marah jika ada yang terlambat. Papi Alfarizi yang sering marah dan mendisplinkan mereka tanpa kenal ampun.


Tidak sampai dua jam pesawat sudah berada di Bandar udara Internasional Ngurah Rai Bali. Rania tidak mau mampir ke hotel terlebih dahulu. Dia meminta langsung mengajak ke pantai. Alfian mengajak Rania ke pantai Kuta Bali.


Pantai Kuta Bali, terletak di sebelah selatan pulau dewata. Dengan pemandangan laut samudra Hindia yang luas. Tempat wisata favorit dan salah satu tempat wisata menarik di Bali yang menjadi tujuan utama wisatawan saat liburan.

__ADS_1


Pantai pasir putih ini sangat tekenal dan menjadi andalan pulau Bali. Sebagai tempat wisata pantai sejak tahun 70-an. Terutama wisatawan muda yang berasal dari Australia dan wisatawan Indonesia.


Sambil bertelanjang kaki menyusuri pantai dengan deburan ombak yang syahdu. Bergandengan tangan berdua menambah suasana semakin romantis.


"Bang, mengapa harus ke Bali, sih?"


"Yang penting pantai, Sayang."


"Di Ancol juga pantai, 'kan?"


"Ini sekalian menghibur kurma jumbo Abang."


"Apa hubungannya kurma jumbo Abang dengan pantai?"


"Kakak Dokter kemarin bilang, Abang tidak boleh sering-sering menyedot tenaga Rani. Takut kurma jumbo Abang tidak mendapatkan tenaga dan kurang gizi, jadi harus sering diajak jalan-jalan."


"Nanti Rani ganti hibur kurma jombo Abang pakai dangdut koplo."


"Garing aah ayo jalan lagi!"


Garis pantai di Kuta Bali memiliki bentangan sejauh 2.5 kilometer belum ada separohnya Rania berjalan, "Abang istirahat dulu, Rani capek banget!"


"Belum ada separohnya, Sayang."


"Rani mau beli minum es kelapa dulu."


"Rani duduk sini saja, Abang yang beli di sebelah sana!"


"Iya ...."


Hamparan garis pantai sangat landai, dan bibir pantai sangat luas dengan tekstur pasir putih halus. Membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan terpsona. Seperti Rania saat ini, hatinya sangat damai memandangi laut lepas dan mempesona.


Alfian datang membawa dua butir es kelapa lengkap dengan camilan, "Ini es kelapanya, Sayang. Ayo di minum dulu!"


"Terima kasih."

__ADS_1


Rania duduk di pinggir pantai sampai hampir senja. Memandangi sunset yang berwarna jingga, yang akan kembali keperaduan. Seolah enggan untuk beranjak dari sana, sangat damai tenang dan bahagia.


"Sayang ayo kita ke hotel Abang pingin mandi!"


"Mandi aja di situ, Bang. Rani malas ke hotel."


"Eee nanti kedinginan."


"Iya ayo, tapi setelah mandi kita ke sini lagi ya?"


Alfian hanya menjawab dengan anggukan. Berjalan ke hotel yang tidak jauh dari pantai. Langsung mandi di kamar mandi setelah sampai di kamar hotel.


Rania merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menunggu Alfian mandi. Tidak terasa Rania terlelap tidur padahal belum mandi ataupun makan. Alfian keluar dari kamar mandi melihat Rania terlelap dengan damai tidak tega untuk membangunkannya,


Alfian memilih memesan makanan khas Bali yaitu ayam betutu melalui layanan kamar. Dengan terpaksa Alfian makan sendiri karena Rania enggan untuk bangun. Matanya seakan di lem, sudah berkali-kali di bangunkan untuk makan tetapi tidak kunjung bangun juga.


Alfian ikut tidur di sebelah Rania setelah pukul sebelas malam. Hanya bisa memeluknya, padahal biasanya menyedot tenaga Rania dulu sebelum memejamkan mata. Walaupun susah akhirnya Alfian bisa terlelap juga sambil memeluk istrinya.


Alfian terlelap, kini gantian Rania yang terjaga setelah lewat tengah malam. Rania yang terbiasa di sedot oleh Alfian sebelum tidur merasa heran melihat Alfian tidur terlelap tanpa meminta jatah. Dia sampai memperhatikan wajah suaminya mengira dia hanya pura-pura tidur.


Dengan usil Rania membuka mata Alfian perlahan. Alfian masih tetap terlelap walau terasa ada yang mengusiknya. Rania duduk dan mentowel kurma jumbo Alfian yang sedang tertidur pulas.


"kok tumben tidak menyedot Rani dulu sebelum tidur?"


Alfian masih pura-pura tertidur lelap. Enggan membuka mata karena baru saja terlelap sudah ada gangguan. Hanya sayangnya Rania berkali-kali mentowel kurma jumbonya sampai dia menegang sempurna,


Rania tertawa cekikian menyangka suaminya tidak terjaga walau kurma jumbo sudah siap tempur, "Abang lucu matanya terpejam tetapi kurma jumbo bangun sendiri," monolog Rania sendiri sambil menutup mulutnya.


Alfian membuka matanya sedikit mengintip tingkah istrinya yang absurt. Masih pura-pura tidak terjaga ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Sampai melihat Rania turun dari tempat tidur dan dia kembali mentowel kuma jumbo yang semakin memegang sempurna.


"Tidur lagi ya, Rani mau ke kamar mandi, jangan buat Abang Sayang terbangun!" Rania berjalan mengendap-endap ke kamar mandi bertujuan agar Alfian tidak terjaga,


Baru beberapa langkah, tangan Alfian menarik Rania dan dibawa dalam kungkungannya, "Enak aja mau melarikan diri, Rani mau meninggalkan kurma jumbo yang sudah terbangun begitu saja?"


"Ha ha ha ampun Abang!"

__ADS_1


__ADS_2