
Dengan emosi yang kembali memuncak, Doni mendatangi Titin Suhartin. Dia langsung berdiri didepan mantan istri sambil bertolak pinggang. Titin menjadi kaget dan memundurkan badannya sambil nyengir kuda.
"Ngapain kamu mengikuti kami?"
"Abang mau ngapain bertemu dengan Pak RT?"
"Mencari Rara, memang kenapa?"
Sambil tersenyum mengejek, Titin ikut bertolak pinggang, "Percuma tanya Pak RT, aku sudah bilang putrimu itu minggat sudah satu tahun yang lalu."
"Tidak usah ikut campur, minggat saja kamu dari sini!"
Titin Suhartin diam terpaku dan tidak bergerak dari tempatnya. Dia memandangi wajah dan penampilan Doni dari kaki sampai wajahnya. Terlihat bersih dan terawat walau penampilannya sederhana.
"Eee malah bengong ... minggat dari sini!" teriak Doni dengan kesal.
Ibu Ani mendekati Doni karena mendengar Doni yang berteriak. Mengusap pundaknya agar bisa mengurangi emosi. Akan menjadi perhatian orang lewat jika bertengkar di pinggir jalan.
"Nak ... jangan marah di pinggir jalan. Nanti tidak enak di perhatikan oleh orang yang lewat."
"Maaf Bu ...."
"Sebaiknya kamu pulang sana, jangan sampai saya laporkan kamu ke Pak RT!" Ibu Ani menarik tangan Doni untuk meninggalkan Titin yang tidak menjawab ucapan Ibu Ani.
Doni dan Ibu Ani berjalan dan kembali berdiri di depan pintu pagar milik Pak RT. Sambil melirik Titin Suhartin yang mulai berjalan pulang. Menunggu Abah yang tak kunjung keluar dari rumah Pak RT.
Hampir seperempat jam menunggu Abah tidak kunjung keluar. Ibu Ani dan Doni berniat menyusul Abah setelah Titin tidak terlihat lagi. Baru mau masuk pintu pagar, Abah dan laki-laki tua seumuran Abah keluar rumah berjalan beringinan.
Doni dan Ibu Ani mengangguk dan tersenyum menyapa laki-laki itu, "Selamat siang bapak ...." Doni mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Kenalkan dia Ayah mertua dari cucuku dan Ibunya."
Abah langsung berpamitan dengan teman lamanya yaitu orang tua dari Pak RT. Sambil berjalan keluar area rumah, mereka melihat area sekitar jalan raya. Mencari sosok Titin Suhartin, takut dia masih mengikuti lagi.
__ADS_1
Abah bercerita tentang orang yang dicari yaitu mantan suami kedua Titin Suprihatin. Laki-laki yang di cari Doni bernama Endang Kusnandar. Dia pergi dari desa satu tahun setelah bercerai dari Tiitin Suhartin.
Teman lama Abah juga bercerita jika Endang Kusnandar telah menikah lagi dengan seorang wanita dari Tangerang dan di karuniai dua anak. Bekerja sebagai security di sabuah perusahaan yang ada di Jakarta. Hanya sayangnya teman Abah tidak mengetahui tinggal dan nama perusahaannya.
Setelah mereka berjalan hampir sampai di villa milik Papi Alfarizi. Doni kembali mengawasi belakang untuk memastikan Titin Suhartin tidak mengikuti. Dan masuk villa dengan cepat ketika dirasa aman.
Dalam perjalanan pulang Abah mengajak Doni untuk bertemu dengan Esih Suprihatin. Abah sengaja mendatangi kontrakan dia untuk memastikan ceritanya benar atau salah. Dalam hati Abah masih ada keraguan tentang Esih karena pengalaman masa lalu.
Mencari alamat Esih yang berada di belakang restoran langganan Mami Mitha. Mereka sampai di kontrakan milik Esih pukul enam sore. Abah awalnya hanya bertemu dengan Raffa sendirian di rumah kontrakan.
"Di mana Ibu kamu?" tanya Abah.
"Mama belum pulang kerja, biasanya pulang jam tujuh malam," jawab Raffa bingung dan takut.
"Tidak usah takut sama Abah atau Kakek kamu sendiri, nama kamu Raffa, 'kan?"
"Iya Abah ... dan apakah beliau Nenek dan Ba ...?" Raffa tidak melanjutkan ucapannya. Rasa takut ingin memanggil orang yang di dambakan.
Raffa tersenyum dan mengangguk, "Bapak ... apakah Raffa boleh memeluk Bapak?"
Doni merentangkan tangannya sambil tersenyum, "Tentu Nak, kemarilah!"
Raffa memeluk Doni dengan erat. Kemudian meraih punggung tangannya dan menciumnya berkali-kali. berpindah ke Abah dan Ibu Ani juga bersalaman dengan mencium punggung tangan mereka.
"Alhamdulillah ... Raffa mempunyai keluarga. Sekarang Raffa tidak akan di ledek oleh teman sekolah lagi."
Doni kembali memeluk Raffa, ucapan dari anak kecil itu seolah menusuk tepat di jantungnya. Teringat masa lalu saat dia masih tinggal bersama ayah kandung dan Ibu Ani. Dulu mempunyai orang tua yang sangat menyayangi tetapi di balas dengan perlakuan yang tidak pantas.
Ibu Ani hanya bisa mengusap pundak Doni dengan lembut. Ibu Ani bisa merasakan apa yang di rasakan Doni. Rasa bersalahnya karena tidak sempat meminta maaf kpada ayah kandung, sampai sekarang dia masih selalu menyalahkan dirinya sendiri.
Abah berjalan melihat kondisi kontrakan yang di tempati Esih dan Raffa. Kontrakan satu pintu, ada ruang tamu kecil, satu kamar dan dapur saja. Kamar mandi ada di belakang dan digunakan bersama dengan mengguna kontrakan yang lain.
Abah kembali melihat kondisi Esih, di kamar hanya ada kasur tipis yang di letakkan di lantai. Tidak ada lemari pakaian, seluruh bajunya hanya di letakkan di keranjang plastik yang ada di pojok kamar. Buku-buku sekolah Raffa juga di letakkan keranjang plastik yang di balik yang berfungsi seperti meja.
__ADS_1
Di dapur hanya ada kompor gas dengan satu mata dan sedikit perabot yang dijejer rapi dilantai dengan alas spanduk plastik. Tidak ada kulkas ataupun barang elektronik lainnya. Barang-barang peralatan rumah tangga bisa di hitung dengan jari.
Abah kembali ke ruang tamu bergabung dengan Doni, Ibu Ani dan Raffa yang sedang berbincang lesehan beralaskan karpet lusuh dan sudah banyak yang robek. Ada televisi berukuran 14 inci dengan model tabung yang di letakkan di pojok ruang tamu menggunakan kardus tebal yang di beri taplak meja.
"Raffa sudah makan?" tanya Ibu Ani.
"Belum ... Raffa makan nanti menunggu Mama pulang, biasanya Mama akan membawa lauk sisa restoran, di rumah hanya ada nasi saja."
"Ya ... Allah kasihan banget sih, Nak. Raffa pingin makan apa, Bapak yang belikan?"
Raffa menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Bapak, Raffa tunggu Mama saja."
Doni berdiri dan mendekati Raffa, "Bapak dan Abah juga sudah lapar, ayo antar Bapak membeli makan!"
"Baik Pak ...."
Baru saja keluar darai pintu kontrakan datang seorang ibu paruh baya yang mendekati Raffa, "Raffa ... apakah Mama kamu sudah pulang?"
"Belum Bu, mungkin sepentar lagi."
"Dia siapa Raffa?"
"Ini Bapak Raffa, Bu."
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Doni sambil membungkukkan badannya tanda hormat.
"Apakah tidak apa-apa saya bicara dengan Bapak?"
"Tentu saja Bu, silahkan saja katakan apa yang bisa saya bantu?"
Abah dan Ibu Ani keluar melihat Doni sedang berbincang dengan seorang. "Ada apa Nak Doni?"
"Maaf ya Pak, sebenarnya saya juga tidak tega. Mamanya Raffa belum membayar kontrakan selama dua bulan ini, katanya uang gajinya kemarin untuk membayar uang les sekolah Raffa. Jika bulan ke tiga ini tidak di bayar terpaksa harus pindah."
__ADS_1