Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Treveling


__ADS_3

Julio mengambil langkah seribu setelah memarkirkan mobil Putri Siregar di bawah pohon beringin. Bulu kuduknya merinding setelah turun dan melihat area pemakaman yang sepi. Rasanya ada yang memperhatikan dari kejauhan karena lampu yang hanya temaram.


Zain semakin tertawa setelah melihat Julio berlari kencang kearahnya. Badan kekar Julio berbanding terbalik dengan nyali kini. Terlihat lucu dan menghibur.


Zain yang notabene seorang dokter sudah terbiasa menghadapi masalah jenazah bersikap biasa saja. Apalagi sekarang Zain sedang melanjutkan kuliah spesialis forensik dan medikolegal. Dia setiap hari bercibaku tentang bukti biologis manusia yang masih hidup ataupun sudah meninggal.


"Cemen lo ... badan aja gempal tetapi nyali ciut!" teriak Zain saat Julio mendekatinya.


"Gue bukan takut hanya merinding disko saja," kilah Julio setelah sampai di dekat Zain.


"Zain, kira-kira jam berapa Putri bangun dari tidurnya?"


"Kemungkinan pukul tiga pagi dia pasti akan terjaga, ayo kita tinggalkan dia!"


Dalam perjalanan pulang kembali ke rumah Papi Alfarizi, Julio penasaran. Ingin melihat reaksi Putri Siregar saat dia terjaga. Dia berpikir cara untuk bisa melihat reaksi Putri Siregar.


Setelah sampai di pintu gerbang, Julio memiliki ide setelah melihat dua security yang sedang bermain karambol untuk mengisi waktu luang. Dia langsung mendekati mereka, "Pak ... mau uang satu juta?"


"Tentu mau dong, Bang Jul," jawab mereka bersamaan.


"Jika Bapak berdua berhasil mengambil vedio Putri Siregar di pemakaman, nanti aku bayar dua juta untuk berdua, bagaimana?"


"Siapa takut ... janji ya, Bang?"


"Tentu saja sana berangkat!"


Zain dan Julio baru saja melangkah ingin masuk pintu pagar, Alfian berlari mendekati mereka. Bahkan tangannya berada di pinggang sambil melotot, "Kalian dari mana?"


"Menyingkirkan duri ke pemakaman, ada apa?" tanya Zain.


"Elo berdua meninggalkan Putri di pemakaman sendirian?"


"Ha ha ha ... iya. Gue sampai merinding di sana gara-gara ini."


"Tega banget sih elo berdua, sudahlah sekarang kerja lagi!" perintah Alfian dengan cepat.


"Eeee gue mau tidur, lagian ngapain elu di sini? seharusnya sono ngerjain bini elo di kamar," jawab Zain sambil tersenyum devil.


"Gue tidak memerintahkan elu, tapi Julio!"


"Apakah gue harus masih bekerja jam segini?"

__ADS_1


"Papi sudah merencanakan perjalanan bulan madu keliling Eropa berangkat pukul tiga pagi. Elo hanya mempersiapkan surat dan akomodasi saja!"


"Waaah tertunda lagi dong MP elo?" tanya Zain dan mengedipkan matanya.


"Bang, gue tidak ikut ke Eropa?"


Alfian dan Zain bersamaan memukul pundak Julio bersamaan, "Elo mau jadi nyamuk di sana?" tanya Zain.


"Elo mau ngintip Abang MP?"


Julio hanya menjawab dengan nyengir kuda saja. Perjalanan ke luar negeri merupakan hal yang mewah buatnya. Kuliah saja jika tidak dibantu Papi Alfarizi mungkin belum lulus kuliah saat ini.


"Ok Bang ... gue kerja lagi saja."


Mereka masuk rumah langsung di sambut oleh Surya dan Junaidi yang belum pulang. Hanya istri mereka yang pulang duluan setelah akad nikah tadi. Kini semua keluarga semakin sibuk mempersiapkan perjalanan Alfian dan Rania.


Alfian berlari mencari Rania ke kamar setelah tidak ada di ruang keluarga. Tadi dia belum sempat berganti baju dan masih berbincang dengan Ibu Ani dan Umi Anna. Membuka pintu kamarnya ternyata tidak ada juga di kamar.


Mengambil ponsel yang ada di kantong celana ingin menghubungi dia. Ingin memanfaatkan waktu sedikit berdua kini gagal sudah setelah mendengar panggilan Mami Mitha, "Abang mencari Rania, dia ada di kamar Elfa."


"Ngapain dia di sana, Mami?"


Alfian hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Elfa yang manja dan Rania yang lugu dan jujur pasti akan klop seperti wadah dan tutupnya. Jika di perhatikan ke duanya memiliki sifat kesederhanaan yang sama.


"Sayang ...!" teriak Alfian membuka pintu tanpa mengetuk pintu.


"Eeee Abang!" teriak Elfa dan Rania bersamaan.


Rania langsung menutup dadanya dengan bantal karena saat Alfian masuk dia hanya memakai bra dan kaos dalam saja. Alfian langsung duduk di sampingnya dan mengedipkan matanya, "Buat apa di tutup, Abang sudah lihat?"


"Abang ... jangan mesum, ada anak di bawah umur di sini!" teriak Elfa kesal.


"Elfa tutup telinga, di larang mendengarkan percakapan suami istri!"


"Abang saja yang keluar dari kamar. Ini urusan cewek!"


"Abang ingin berdua dengan istri Abang, Elfa aja sono yang keluar! "


"Enak aja ... ini kamar Elfa."


Rania hanya terdiam dan mendengar adik kakak sedang berdebat. Ada rasa bangga melihat suami dan adiknya terlihat rukun walau mereka bercandanya seperti orang yang sedang bertengkar.

__ADS_1


"Abang Tuan saja yang keluar, panggil Rani kalau nanti sudah siap berangkat!"


"Mengapa Rani malah membela Elfa?"


"Yeee Abang jangan iri, Elfa yang di pilih oleh Teteh Rani."


Alfian mengacak rambut Elfa dengan gemas. Rasanya bahagia melihat adik kecilnya langsung bisa akrab dengan Rania walau baru satu hari bertemu. Lebih baik mengalah dan memberikan waktu untuk mereka berdua saling mengenal.


"Baik ... Abang keluar dulu, istirahat saja jangan sampai kecapean!"


Rania hanya mengangguk sambil tersipu mendengar nasehat suaminya. Otaknya sudah treveling entah ke mana saat ini. Teringat MP yang sengaja gagal kemarin.


"Aaarghhh otak ini ...!" teriak Rania sambil memukul kepalanya sendiri ketika Alfian keluar dari kamar Elfa.


"Teteh kenapa?"


Rania menjadi gugup, lupa ada adik ipar yang duduk di sebelahnya. Tidak mungkin dia berterus-terang tentang apa yang sedang ada dalam pikirannya, "Teteh berpikir negatif tentang Ibu," jawabnya asal.


"Maksud Teteh?"


Rania bercerita sekilas tentang ibunya yang akan menikahkan sirri dengan seorang laki-laki tua demi uang. Dia juga bercerita dari kecil tinggal bersama ibunya saja. Tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya.


"Sekarang bagaimana kabar Ibu Teteh?"


"Entahlah ... sampai sekarang Teteh belum berani bertemu dengan beliau."


"Nanti minta temani Abang Al saja, Teh. walau bagaimanapun juga beliau tetap Ibu yang harus kita hormati," saran Elfa.


"Iya terima kasih, ternyata adik Teteh bijak sekali." Rania memeluk Elfa dengan erat.


Alfian masuk kembali ke kamar Elfa sambil tersenyum, "Abang ikut berpelukan Dong!"


Alfian memeluk Rania dari belakang. Tangannya saja yang melingkar di punggung Elfa. Bahkan berkali-kali Alfian mencium tengkuk Rania.


"Ayo keluar semua sudah siap, kita akan berangkat ke bandara!"


"Iya ...." Rania menjawab dengan gugup.


Berpamitan dengan seluruh keluarga terutama Ayah Doni, Abah dan Ibu Ani. Rania merasa terharu melihat kebersamaan keluarga Alfian. Selama ini dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang lengkap terutama dari orang tua atau saudara.


Sampai berpamitan dan tiba di bandara Rania masih banyak terdiam dan hanya mejawab sekenanya saat di tanya oleh suaminya. Setelah sampai dan naik di pesawat pribadi, Rania hanya terdiam dan terpaku melihat betapa mewahnya interior pesawat. Tiba di depan pintu kamar pribadi milik Alfian, Rania tersentak kaget karena tiba-tiba tubuhnya melayang dalam gendongan bridal suaminya, "Aaaa ... Abang Tuan!"

__ADS_1


__ADS_2