Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Awas Nyangkut


__ADS_3

Saat suara alunan gitar berhenti, lampu kembali di nyalakan tepuk tangan kembali bergemuruh di balroom setelah Neng selesai bernyanyi. Alfarizi yang tidak mengetahui arti dari lagu yang di nyanyikan Neng langsung memelukknya dan berbisik, "Honey tadi artinya apa?"


"Silahkan Papi tanya pada Abang goegle aja ya!"


Alfarizi mengerucutkan bibirnya mendengar Neng memanggil Abang goegle dirinya saja tidak pernah di panggil begitu, "Mengapa goegle di panggil abang, coba sekali-kali Papi di panggil Abang gitu biar romantis!"


"Emangnya Papi Abang tukang bakso?"


"IIih jangan bikin gemes nanti Papi ajak goyang di sini bagaimana hayo!"


Sekarang gantian Neng yang mengerucutkan bibirnya selalu saja inginnya di goyang tidak tahu waktu dan tempat. Alfarizi terkekeh melihat Neng seperti itu terlihat lucu dan menggemaskan. Semakin hari Alfarizi semakin tahu karakter dan cara membuatnya bahagia walaupun dia masih belum sepenuhnya terbuka.


Pergelaran acara resepsi berlangsung sampai pukul lima sore. Para tamu berdatangan silih berganti sambil mengucapkan selamat semoga samawa. Banyak para pewarta yang meliput acara itu dan di siarkan ke seluruh masyarakat Indonesia. Ada berjuta pasang mata yang menyaksikan acara bahagia antara AL dan Mitha itulah berita yang tersiar di media.


Ada tamu satu keluarga yang menjadi perhatian para pewarta sore itu sebelum acara berakhir. SInta, Dokter Mario dan Marta berserta kedua orang tua Sinta yang mengucapkan selamat kepada mempelai. Sinta yang terlihat tersenyum dengan perutnya yang membuncit sedang menunggu kelahiran putranya.


"Selamat Al, semoga cepat menyusul kami dan mendapatkan putri yang cantik seperti mamanya," kata Sinta sambil melirik Neng yang hanya terdiam dan tersenyum tipis.


"Terima kasih, kalian semoga lancar kelahirannya." jawab Alfarizi sambil menggenggam erat tangan istrinya.


Sekarang ini bukan saling menyalahkan untuk masa lalu, sudah waktunya untuk saling memaafkan dan bahagia untuk keluarga masing-masing. Itulah gumaman Alfarizi saat ini setelah bertemu dengan dua orang yang pernah membuatnya hilang arah dan tujuan hidup. Berusaha ikhlas dan memperbaiki diri menjadi lebih baik dan belajar dari kesalahan masa lalu yang secara tidak langsung telah menyakiti orang yang di sayangi.


Pukul lima sore resepsi berakhir orang tua dan tamu dari desa pulang terlebih dahulu ke rumah karena lelah seharian tanpa beristirahat. Alfarizi masih berbincang dengan kolega yang baru datang dan Neng masih duduk di sampingnya. Surya dan Junaidi datang ke panggung menemui tuannya.


"Tuan, putranya Ibu Ani masih menunggu Anda di ruang security, apakah Anda ingin menemuinya?" bisik Surya di telinga Alfarizi.


Neng yang mendengar bisikan Surya langsung bertanya, "Apakah dia bersama istrinya?"


"Tidak Nona, dia sendirian."jawab Junaidi.


"Bawa dia ke sini sekarang!"


"Siap Tuan!" Surya dan Junaidi menjawab dengan kompak.


Neng memandangi wajah laki-laki yang pernah mendorong ibu angkatnya di jalan aspal sembilan tahun yang lalu itu sangat berbeda. Dulunya badannya bersih kekar dan terlihat sehat sekarang ini kurus, matanya cekung dan kulitnya terlihat kusam. Neng hanya bertanya dalam hati apa yang terjadi pada keluarganya saat ini.


"Selamat sore Tuan," Doni membungkukkan badannya tanpa berani mendekati Alfarizi dan Neng.


"Selamat sore, katakan apa yang ingin kamu sampaikan, ingin bertemu istriku?"


"Ya Tuan, saya hanya ingin megucapkan terima kasih kepada Nyonya Mitha telah merawat Ibu Ani, saya ingin meminta maaf kepada Ibu tetapi tidak berani menemuinya. dosa saya sangat besar pada Beliau."


"Apalagi yang akan kamu sampaikan kepada Ibu Ani?" tanya Alfarizi lagi penasaran ingin menguji ketululusan hatinya.


"Tidak ada Tuan, saya hanya ingin mohon ampunan saja, saya tidak meminta yang lain lagi."

__ADS_1


"Surya berikan dia uang untuk transportasi pulang!" perintah Alfarizi kepada Surya.


"Tidak Tuan, ampuni saya Tuan, saya ke sini bukan ingin meminta uang, saya hanya ingin meminta ampunan kepada Ibu Ani."


"Tetapi mengapa kemarin kamu mencopet nasi satu bungkus?"


"Saya hanya ingin mencari perhatian agar Anda bisa menemui saya, setelah saya bertemu dengan Anda di parkiran nasi itu sudah saya kembalikan kepada yang punya Tuan, saya berani bersumpah."


"Baiklah nanti akan aku sampaikan kepada Ibu Ani niatan kamu, selebihnya Ibu yang akan menentukan di maafkan atau tidak, kamu mengerti?"


"Baik Tuan kami mengerti, saya permisi."


"Silahkan!"


Doni berpamitan keluar dari balroom hotel sendirian sedangkan Junaidi dan Surya masih berdiri di samping Alfarizi menunggu perintah selanjutnya. Neng hanya terdiam sambil memanang Doni yang keluar tanpa menoleh ke belakang. Alafizi sedikit heran dengan sikap dari putra Ibu Ani yang sedikit misterius.


"Jun, coba kamu ikuti dia, dan selidiki sedetail mungkin apa sebenarnya tujuannya!"


"Siap Tuan."


Malam ini kedua mempelai menginap di hotel berdua saja. Seluruh keluarga memilih pulang terutama keluarga dari Ngawi. Apalagi Mbah Buyut yang selalu kesulitan dengan yang namanya kamar mandi. yang rencananya ingin di sewakan kamar hotel di urungkan hanya gara-gara mandi menggunakan shower, Mbah Buyut tidak mandi namaya kalau tidak menggunakan gayung sedangkan di kamar hotel tidak ada gayung.


Sampai di dalm kamar hotel Neng masih saja termenung dan memikirkan kehadiran Doni. Pikirannya melayang ke masa lalu, mengingat Ayah Asep yang tidak pernah di temuinya. Sebagai anak sebenarnya ingin sekali bertemu dengan ayahnya. Berkali-kali meyakinkan hati untuk ikhlas sampai sekarang tetap tidak bisa.


"Apa yang di pikirkan, Honey?"


"Eee Papi bikin kaget aja, Mami masih memikirkan Doni, apa yang terjadi sekarang ini padanya?"


"Tunggu saja besok, setelah Junaidi menyelidiki dia."


"Mami juga teringat Ayah Asep, apa kabarnya dia sekarangnya?"


"Apakah Mami mau bertemu dengan Ayah Asep, Papi tahu alamatnya?'


"Tidak, Mami belum siap bertemu dengan beliau, Mami masih ...!"


"Tidak apa-apa, jangan terlalu di pikirkan nanti kalau sudah siap, akan Papi antar. Sekarang ini yang harus Mami pikirkan adalah bertemu dengan senjata onta arab yang sudah tidak tahan lagi." Alfarizi mulai merangkul dan menciumi bibir Neng dengan penuh gairah.


"Aaaa no Papi, Mami mau mandi dulu, ini gaunnya juga belum di buka!"


"Sini Papi bantu buka, mulai dari mana atas atau bawah?"


Kembali Alfarizi memeluknya dan menciumi seluruh wajahnya dengan gemas, "Tunggu Papi, sabar dulu. wajah Papi jadi cemong terkena lipstik naaaah!"


"Biarin aja nanti kita mandi bareng setelah ini, anggap saja Mami membersihkan muka menggunakan wajah Papi."

__ADS_1


"Tapi ini wajah Papi jadi lucu."


"Papi tidak perduli yang penting senjata onta arab Papi bergoyang, ini bagaimana cara membuka gaunnya?"


"Ini resletingnya di belakang, pelan-pelan Papi, awas nanti nyangkut!"


"Apanya yang nyangkut Honey, kalau senjata onta arab tidak nyangut mana bisa terasa nikmat?"



Ini ada di bab 36 FATAL GIRL


Jangan lupa mampir ya shobat


"Sabar dong, Bang; aku ganti baju dulu."


"No Sayang, tidak perlu ganti baju, ayolah please!" Kembali Jose merentangkan tangannya.


Cia dengan ragu berjalan dan naik ke tempat tidur. Menyandarkan kepalanya di dadanya yang bidang. Langsung dipeluk oleh Jose dengan erat.


"I love you, Sayang; verry much."


"Me to, Bang."


Rasa cinta yang bergemuruh di dada membuat keduanya saling menikmati quality time berdua. Jose mulai menarik dagu Cia, mencium bibirnya dengan lembut. Kali ini Cia bisa membalas dan mengimbangi cara Jose saat sedang mengeksplor dan mengabsen satu persatu yang ada di dalamnya.


Napas Cia semakin lama semakin berkurang karena lamanya mereka berciuman, "Fffhhh, Abang iih!"


"Jangan lupa ambil napas, Sayang; mengapa di tahan?"


"Abang sih tidak memberikan aku waktu untuk bernapas!"


"Ya sudah sekarang pindah aja."


"Apanya yang pindah Bang?"


"Ciumnya dong Sayang."


"Memang ada lagi selain di sini, di mana lagi kok aku tidak tahu, di pipikah Bang?" tanya Cia sambil menunjuk bibirnya.


"Iiih istri cantikku polos banget sih, ada tempat yang lebih favorit lagi selain di situ, langsung praktek saja, ok!"


Cia hanya mengangguk pelan. Jose membetulkan posisi duduknya, menundukkan kepalanya, dan mendekatkan bibirnya di leher jenjang Cia langsung meninggalkan beberapa tanda kissmark di sana. Cia yang baru pertama kali merasakannya lebih merasa geli dari pada menikmati kissmark yang diberikan Jose. "Bang, hhmm ... geli banget."


"Sayang, harusnya di nikmati mengapa malah tertawa?"

__ADS_1


__ADS_2