Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Tabrakan Beruntun


__ADS_3

"Ya Pak, saya Alfarizi."


" ... "


"Kantor polisi ...?"


Surya kaget setelah Alfarizi menyebutkan kantor polisi. Berbisik di telinganya untuk melakukan loud spiker agar dia juga bisa mendengarnya. Al langsung mengangguk dan menekan tombol itu.


"Kami dari kantor polisi Kramajati Pak, ingin memberitahukan jika Junaidi dan istrinya Lilis sekarang ini berada di UGD rumah sakit, ada kecelakaan beruntun di lampu merah."


"Baik Pak, kami dari Bekasi langsung kesana sekarang."


Sebelum berangkat Surya mencari infomasi tentang kecelakaan beruntun dari media sosial. Ada kabar bahwa di lampu merah ada sebuah truk tronton yang mengalami rem blong menabrak 17 motor, 10 mobil pribadi dan 4 angkutan kota. Ada korban meninggal dunia 8 orang, luka berat 9 orang, dan luka ringan 13 orang.


"Tuan, saya saja yang ke sana, Anda tunggu di sini, jika ada kabar penting saya akan menghubungi Anda."


"Baiklah, cepatlah berangkat!"


Al kembali mengawasi Butik AA sendirian. Sampai jam istirahat siang yang diharapkan hadir ternyata tidak menunjukkan batang hidungnya. Dengan gontai Al kembali ke kantor melewati Butik AA yang terlihat sudah ramai pengunjung.


Setelah menempuh perjalanan jauh Surya sampai di rumah sakit yang ada di kramat Jati. Dia mendatangi lobi rumah sakit untuk mencari informasi tentang Junaidi dan Lilis. Dari lobi menggabarkan jika Lilis terluka parah dan sedang di operasi di ruang operasi, sedangkan Junaidi hanya terluka ringan.


Surya memasuki area rumah sakit untuk mencari ruang operasi ingin menemui Junaidi yang sedang menunggu Lilis di sana. Mata Surya membelalak sempura setelah mendengar ada pasangan laki-laki dan perempuan yang sedang berdebat. Surya tidak mengenal laki-laki yang memakai seragam dokter, tetapi dia sangat mengenal suara dari wanita itu dia adalah Sinta Zulkarnain bersama Dokter Mario.


Surya bergegas mengambil ponsel miliknya. Surya ingin memberikan gambar foto atau merekam percakan keduanya. Dia duduk tidak jauh mereka yang sedang bircang.


"Bagaimana sayang, apakah Marta sudah sadar?"


"Belum masih di tangani oleh Dokter, kata Dokter putri kita membutuhkan donor darah, cepatlah kamu donor darah dia kan putrimu!"


"Dia putrimu juga kan?"


"Iya putri kita berdua, kamu senang?"


"Sangat senang, apakah aku boleh minta satu lagi, anak laki-laki?"


"Isst kamu ini, bagaimana aku bisa hamil, aku sudah lama pisah ranjang dengan Al, aku berhubungan hanya dengan kamu saja, aku masih pakai KB!"

__ADS_1


"Nanti aku pikirkan caranya, ayo kita lihat Marta kita!" Dokter Mario dan Sinta pergi meninggalkan tempat dan berjalan kearah ruang operasi juga.


Surya tersenyum bisa merekam percakapan mereka. Dia mengurungkan niatnya untuk ke ruang operasi. Bergegas kembali ke lobi rumah sakit untuk mencari informasi tentang putri angkat bosnya mengapa juga dirawat di rumah sakit ini.


Karena berjalan tergesa-gesa sambil melihat ponselnya, Surya menabrak orang yang sedang berjalan tergesa-gesa dan ponselnya terjatuh." "Traaaang ... waduh ponselku!"


"Hiks ... hiks maaf Mas, aku tidak sengaja suamiku meninggal dunia karena kecelakaan beruntun itu." Wanita itu berbicara sambil menangis tersedu-sedu.


"Oo tidak apa-apa Bu, saya ikut berduka cita."


"Terima kasih, Mas."


Surya bergegas mengambil ponselnya yang pecah dan terbelah menjadi beberapa bagian setelah wanita itu pergi. Dia mencoba merangkai kembali ponselnya tetapi tidak bisa lagi untuk di buka, ponselnya mati total. Surya kembali melanjutkan langkahnya ke lobi rumah sakit.


"Permisi Bu saya numpang tanya, apakah ada pasien bernama Marta Zulkarnain diantara korban tabrakan beruntun itu?" tanya Surya.


"Sebentar ya Pak saya cek dulu,"


Dari keteragan rumah sakit Marta dan kedua orang tua kandung dari Sinta juga menjadi korban kecelakaan beruntun yang ada di lampu merah itu. kedua orang tua Sinta hanya mengalami luka ringan, Marta mengalami patah tulang kaki karena kejepit tuas rem mobil manual milik kakeknya. Saat kecelakaan terjadi Sinta baru tiba di bandara Sukarno Hatta setelah melakukan pemotretan di Bali.


"Jun bagaimana keadaan kalian?" tanya Surya dengan napas yang masih tersengal.


"Beginilah Bang, Lilis mengalami patah lengan dan luka di punggungnya, aku nicch luka semua disekujur tubuh, aku dan Lilis sempat terseret truk itu sekitar dua meter," cerita Junaidi dengan wajah yang sedih.


"Apakah ponselmu bisa di pakai?"


"Tas kami terlempar entah ke mana, kami kesini tidak membawa apa-apa, bahkan uangpun tidak punya."


"Ok, ini aku beri uang untuk makan, ponsel aku mati total tadi terjatuh, aku ke konter beli ponsel baru nanti kamu juga aku belikan sekalian, aku harus laporan pada Tuan Al!"


"Ok Bang, terina kasih."


Surya membeli ponsel baru karena ingin segera memberikan kabar tentang dua hal yaitu tentang keadaan Junaidi dan Lilis yang kedua tentang Sinta dan Dokter Mario. Ponsel yang lama juga harus di servis agar bisa memberikan bukti rekaman itu kepada Al. Ponsel baru sudah di tangan, juga sudah mengabari tentang informasi yang penting itu kepada tuannya.


"Bagaiman Tuan, apa langkah selanjutnya?"


"Aku akan tetap melanjutkan rencana awalku, pura-pura saja tidak tahu, baiklah kamu awasi Sinta, rekam semua tindakannya, untuk bukti suatu saat nanti pas di perlukan!"

__ADS_1


"Ok siap Tuan."


Kini emosi Al semakin memuncak, seharian menunggu Owner Butik AA tidak datang. Baru saja mengetahui jika Marta anak angkatnya adalah putri kandung dari istrinya bersama selingkuhannya. Otak rasanya sudah mau pecah, tetapi jantung selalu berdegup kencang merindukan Neng dan anaknya.


Sesaat setelah berbicara dengan Surya, ponsel Alfarizi berdering lagi. Dibacanya ternyata dari Sinta, walaupun rasa kesal emosi yang memuncak Al tetap mengangkatnya karena tidak ingin Sinta curiga jika dia tahu tentang peselingkuhannya. Sebelum mengangkatnya, Al mengambil napas panjang agar emosi bisa turun dan stabil kembali.


"Halo!" kata Al singkat.


"Al, kamu dimana, putri kita mengalami kecelakaan bersama Oma dan Opa, apakah kamu bisa ke sini?"


"Aku sedang meeting di Bekasi, nanti setelah selesai meeting aku kesana, bagaimana keadaan mereka?"


"Opa dan Oma cuma luka ringan, putri kita mengalami patah tulang kaki, ini sudah selesai operasi, Marta ingin bertemu Papanya terus!"


"Ya, nanti aku ke sana."


"Tut ... !" Ponsel langsung Al matikan, menahan emosi agar tidak marah, membuatnya sesak di dada.


Untuk menghibur diri, Al berganti baju dengan hem yang di gulung sampai siku, memakai kaca mata hitam dan topi koboy. berjalan keluar kantor berniat mengunjugi Butik AA. Niatnya ingin membelikan baju untuk Marta.


Sampai di depan pintu butik di sambut seorang wanita dengan ramah. "Selamat datang Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Terima kasih, saya mau cari gaun untuk anak perempuan berumur delapan tahun."


"Mari Tuan ikuti saya!"


Al berjalan mengikuti pelayan toko, tetapi matanya menyapu seluruh area butik. Berharap bisa bertemu dengan owner Butik AA hari ini. Berharap rasa rindu bisa terobati setelah tiga tahun mencari keberadaan Neng dan anaknya.


☆☆☆☆☆


Sekarang author promo novel terbaru author sendiri. dengan judul


"Fatal Girl" ada di di pf sebelah (Fi-zzo) tengang aja gratis juga.


Jangan lupa mampir, Nama pena tetap sama Muda Anna


__ADS_1


__ADS_2