
Alfian adalah pemuda yang pendiam dan cenderung introvert, jarang bergaul seperti pemuda kebanyakan. Kejujuran dan tanggung jawab yang tinggi selalu di tanamkan sejak kecil oleh maminya. Mandiri dan jarang bercerita kepada kedua orang tuanya jika mengalami peristiwa yang bersifat pribadi.
Setelah Alfian menalami peristiwa malam itu, dia sering melamun dan termenung. Hari demi hari berlalu tanpa sedetikpun bayangan polos gadis itu selalu terlintas di pelupuk mata. Pemuda tampan berwajah timur tengah itu sekarang ini tidak sepolos seperti dulu lagi.
Setelah satu minggu berlalu, malam ini Zain dan Julio menyusul Alfian ke villa. Mendengar sahabatnya liburan semester pulang ke Indonesia. Zain dan Julio baru bisa menemui Alfian setelah satu minggu berlalu karena mereka baru bisa libur dari kampusnya.
Jika Julio sering berhubungan baik melalui pesan WA ataupun CV karena Julio membantu bisnis villa milik Alfian. Hanya Zain yang jarang berhubungan dan jarang bertemu karena kuliahnya beda jurusan dan sama-sama sibuk. Tiga sahabat itu malam ini bertemu dan menginap di villa milik Alfian.
"Hai Bro ... apa kabar?" tanya Zain saat memasuki ruang tamu milik Alfian.
"Hai Zain, gue baik. Elo ke sini tanpa gebetan?" tanya Alfian sambil memeluk dan menepuk pundak Zain.
"Kagak, gebetan sudah gue hempaskan kemarin."
"Dia kalau punya gebetan hanya bertahan tidak lebih tiga bulan, Bang." Julio tersenyum membuka rahasia Zain.
"Waaah parah lo, dari dulu tidak pernah berubah. Sudah berapa cewek elo modusin?" tanya Alfian lagi.
"Jangan bahas gue, bagaimana dengan Putri. Elo sudah dengar kabarnya belum, Al?"
"Gue sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan dia. Ada apa dengan dia, Zain?"
"Tanya Julio tuuuh, yang baru kemarin bertemu dengan Putri!"
"Kemarin tidak sengaja gue bertemu dengan Putri Siregar di mall. Dia banyak bertanya tentang kabar Abang Al, masih mengharapkan bisa menjadi kekasih Abang."
"Ogah banget gue, tipe wanita seperti itu bukan tipe gue!" teriak Alfian kesal.
__ADS_1
"Ha ha ha ... elo belum tahu bagaimana gaya pacarannya dengan kekasihnya yang bernama Dio Pornomo," jawab Zain sambil tersenyum devil.
"Maksud elo apa?"
Zain dan Julio bercerita berganatian tentang Putri Siregar. Gadis itu sering menginap di apartemen milik Dio Purnomo. Putri sering moroti uang saku kekasihnya setelah menginap. Pacaran mereka sudah seperti pasangan suami istri selama satu tahun lebih.
Baru satu bulan yang lalu Zain dan Julio mendengar kabar jika Dio Purnomo memiliki kekasih gelap. Awalnya Putri melabrak dan membully gadis yang menjadi saingannya. Sayangnya Dio Purnomo lebih memilih kekasih barunya dari pada Putri.
"Berarti sekarang mereka putus?" tanya Alfian penasaran setelah mereka selesai bercerita.
"Iya Bang, maka itulah Putri menanyakan Abang saat bertemu dengan gue saat di mall," jawab Julio.
"Jangan mau, Bro. dia sudah bolong luar dalam." Zain langsung menilai tentang pergaulan Putri.
Alfian jadi teringat dengan gadis yang pernah di temuinya satu minggu yang lalu. Gadis yang membuatnya selalu teringat dengan tubuh polosnya. Ingin rasanya bercerita kepada mereka berdua tentang itu, tetapi di urungkan karena pasti mereka akan berkomentar yang anah-aneh terutama Zain.
Mereka tinggal di villa selama satu minggu bercengkerama bercanda dan menghabiskan waktu bertiga. Mencerikan kegiatan sehari-hari, kampus, pacar dan yang lain. Mereka berpisah kembali setelah liburan Zain dan Junaidi selesai dan Alfian pulang ke Bekasi.
"Putra Mami yang tampan, mengapa tidak menghubungi Mami dulu?"
"Rencana sore Mami mau pulang, karena bareng Zain dan Julio jadi pulang pagi."
"Ya sudah istirahat dan mandi sana dulu, nanti Mami masakkan opor ayam kesukaan Abang!"
"Ya terima kasih, Mami. Itu yang selalu Abang rindukan kalau pulang masakan opor ayam buatan Mami."
Alfian masuk kamar dan membersihkan badan ke kamar mandi santai merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Teringat lagi dengan gadis yang masuk villanya minggu lalu. Ingatan itu selalu saja datang setiap saat, apa lagi saat dia sendirian seperti ini.
__ADS_1
Jaman semakin canggih, tehnologi semakin maju, mungkin dengan mudah bisa mencari gadis itu. Hanya saja Alfian masih ragu dan bingung apa yang harus di lakukan. Ingin berceritapun masih ragu dan bingung siapa yang akan di ajak untuk berbagi cerita.
Alfian ragu untuk bercerita karena mengetahui kisah masa lalu mami dan papinya. Rasanya dia seperti telah menyaksikan kisah maminya sendiri. sehingga ada rasa tidak rela saat ingin menceritakan kejadian itu.
Maminya bernasib baik karena bisa kembali menikah dengan orang yang sama dan bahagia sekarang. Alfian jadi teringat saat dia cerita akan di nikahkan sirih dengan laki-laki tua. Kelebihannya laki-laki itu berani memberikan mahar yang sangat tinggi.
Rasa nyeri dan kasihan saat Alfian membayangkan nasib gadis itu jika seandainya dia tertangkap oleh bodyguard yang mengejarnya. Membayangkan gadis itu di paksa menikah sirih dengan laki-laki tua. Membayangkan betapa menderitanya gadis itu jika di paksa harus melayani suami sirihnya.
Saat teringat ketika keduanya polos tanpa sehelai benangpun, Alfian hanya bisa berdoa semoga pengorbanan dan bantuannya saat itu bisa membantu gadis itu. Gadis itu bisa terbebas dari tradisi dan adat masyarakat yang tidak bisa di benarkan karena merugikan seorang gadis.
"Tidak usah-lah, sebaiknya untuk sementara di rahasiakan saja dulu, semoga gadis itu selamat dan bernasib baik dan tidak jadi di nikahkan dengan bandot tua," monolog Alfian sendiri.
Alfian mengotak-atik ponselnya, ingin mencari informasi tentang gadis itu di media sosial. Di urungkan lagi karena keraguan di hati semakin besar. Dia membuka game online dan bermain untuk mengalihkan perhatian agar tidak teringat peristiwa itu lagi.
Sia-sia saja usaha Alfian berusaha untuk mengalihkan pikirannya dengan bermain game online. Tetap saja pikirannya kembali ke tubuh polos gadis itu lagi, "Aaargh ... mengapa sekarang otakku jadi ternodai sih!" teriak Alfian sambil mengajak rambutnya sendiri.
Alfian turun dari tempat tidur berpindah ke sofa panjang mengambil laptop yang berada di tas rangsel. Membuka laptop dan menyibukkan diri dengan memeriksa usaha villa miliknya. Membaca email yang masuk, mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan yang belum selesai.
Sayangnya Alfian hanya bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaaannya kurang dari satu jam. Otaknya kembali lagi kepada gadis yang belum pernah di ketahui identitasnya. Otaknya terus saja teringat kepolosan tubuh gadis itu lagi, sampai membuat Alfian frustasi.
Kembali Alfian mengacak rambutnya, "Aaaarrgh ... mengapa dia lagi dan dia lagi yang selalu ada di otakku sih!" teriaknya lagi.
Pintu terbuka tanpa di ketuk, maminya masuk kamar bersamaan saat Alfian berteriak, "Apa yang selalu ada di otak Abang?" tanya Mami Mitha.
BERSAMBUNG
Jangan lupa mampir di novel teman ya shobat di NT juga
__ADS_1
Rekomen banget lo