
Saat ini Isya menangis tergugu dalam pekukan tunangannya Fano duduk di depan kursi UGD. Beberapa saat lalu sudah mengabari Alfarizi untuk datang ke Bekasi. Sampai sekarang ini Umi Anna belum sadar juga padahal sudah satu jam berlalu.
"Keluarga Nyonya Anna Zulkarnain!" panggil Suster dari dalam ruang UGD.
"Saya putrinya Suster," Sambil mengusap air matanya Isya berlari mendekati Suster yang berdiri di depan pintu UGD.
"Bagaimana dengan Umi saya Suster?"
"Pasien sudah sadar, apakah ada yang memicu pasien mengalami kenaikan tensi, tensinya 180/100, sebaiknya dirawat di sini dua samapi tiga hari."
"Baik, Suster lakukan yang terbaik untuk Umi kami."
"Ok, akan kami pindahkan di ruang rawat inap."
Setelah dua jam berlalu Umi Anna masih tertidur pulas. Fano pulang ke rumah untuk membelikan keperluan Umi Anna dan menjemput mama dan papanya. Isya hanya mondar menunggu Abang Al bersama asistennya Surya datang dari kantor.
"Isya apa yang terjadi dengan Umi?" tanya Al setelah sampai di rumah sakit.
"Isya tidak tahu Bang, kami baru masuk mall, Umi berdiri dekat butik, lalu pingsan."
"Kamu sedang ngapain, pacaran dengan Fano, mengapa tidak memperhatikan Umi?"
"Bang Fano tidak ikut! Bang, kami hanya berdua."
"Terus, mengapa Umi bisa pingsan?"
Mendengar ada suara Alfarizi, Umi Anna membuka matanya. Mencoba menahan emosi saat mengingat ada foto yang baru saja dilihatnya. Umi Anna melihat seluruh ruangan hanya ada Al dan Isya serta Surya.
"Al, kemarilah Umi mau bicara!" kata Umi Anna lirih.
"Mi, jangan berpikir macan-macam dulu, nanti Umi pingsan lagi!" kata Isya dengan khawatir.
"Tidak Umi mau bicara dengan kalian sekarang juga, Surya kamu jaga di pintu, jangan boleh ada orang masuk saat Umi bicara dengan mereka!"
"Baik Nyonya." Surya keluar ruang rawat inap dan berdiri di depan pintu untuk menjaga agar tidak ada yang masuk.
"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dari Umi?"
"Maksud Umi apa, Isya tidak tahu?"
"Umi tanya kepada Abangmu, Isya!"
Isya dan Al saling memberi kode dengan mengedipkan matanya. Mereka menyangka Umi mengetahui tentang perselingkuhan Sinta. Dan mereka mengira Umi melihat Sinta di mall yang baru mereka kunjungi.
"Umi, jika ini menyangkut istriku Sinta ... !" kata Al tidak sempat melanjutkan ucapanya sudah dipotong oleh Umi Anna.
__ADS_1
"Ini bukan tentang Sinta, Al apakah kamu pernah melakukan sesalahan dengan seorang wanita selain Sinta?"
"Apa maksud Umi?" tanya Isya bingung.
"Isya diam dulu, Umi bicara dengan Abangmu!"
Al mulai teringat dengan Neng dan anaknya. Teringat perlakuan kasar yang dulu di lakukan kepada ibu dari anaknya yang tidak tahu keberadaanya saat ini. Mata Al mulai berkaca-kaca saat mengingat itu semua.
"Al lihat Umi Nak, coba bawa sini handphone Umi!"
"Ini Mi, ada apa sebenarnya sih Mi, Al bingung?"
Umi Anna membuka handphone miliknya, membuka galeri dan menunjukkan foto Al saat masih kecil menggunakan baju kotak-kotak. Saat itu umur Al tujuh tahun. Foto itu diambil saat Al berkunjung di Riyadh mengunjungi Abah atau kakek di sana.
"Kamu ingat foto ini Al?"
"Itu foto saat Al berada di Riyadh berumur tujuh tahun, ada apa dengan foto ini Umi?"
"Umi baru saja melihat foto itu dengan ukuran besar tetapi menggunakan jas berada di mall yang akan Al beli."
"Benar kah Mi, aku akan ke sana sekarang!" Al berdiri ingin keluar ruang rawat inap.
"Al tunggu, jangan buat Umi naik tensi lagi, duduk sini dulu!"
"Baiklah Umi, ada apa lagi?"
"Isya saja yang panggil, Abang di sini saja!"
Hanya hitungan menit, Surya dan Isya masuk kembali, "Nyonya memanggil saya!"
"Iya Surya, tolong kamu ke mall, ada butik dekat pintu masuk, di depan pintunya ada foto anak laki-laki memakai jas, kamu foto kirim ke handphone milik Al, kamu mengerti?"
"Baik Nyonya saya permisi." jawab Surya dan keluar dari ruang rawat inap.
"Sekarang ceritalah!"
"Ini semua karena Kak Sinta Umi, Isya tahu juga masalah Abang."
Al masih ragu untuk bercerita walaupun dengan Umi Anna yang notabene ibunya sendiri. Dia memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya. Umi Anna memandangi wajah Al yang terlihat sedih dan ragu untuk bercerita.
"Al, ayo berceritalah, jika kamu masih ragu cerita dari Sinta juga boleh!"
"Baik Umi."
Di depan Umi Anna dan Isya, Al bercerita tentang penyelidikan yang dilakukan selama tiga bulan Jakarta jika sejak SMA Sinta mempunyai kekasih. Sampai saat ini mereka masih berhubungan walaupun sudah menikah dengannya. Al juga bercerita tentang surat keterangan palsu yang dilakukan Sinta dan kekasihnya seorang dokter, bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
__ADS_1
"Isya tahu dari mana jika Kakakmu Sinta mempunyai selingkuhan?"
"Saat Isya masih kuliah di Australia, Umi; tetapi waktu itu Abang tidak percaya."
"Waktu itu aku tidak percaya karena berpikir Sinta mau menerima aku apa adanya, Umi."
"Berarti kamu bisa memiliki keturunan Al?"
"Iya Umi, aku sudah tes ulang ke Singapura dokter di sana menyatakan aku bisa memiliki keturunan sebanyak yang aku mau."
"Apakah Sinta sudah mengetahui jika kamu sudah melakukan tes ulang?"
"Tidak Umi, sampai sekarang aku belum melakukan tindakan apapun,"
"Mengapa kamu tidak menceraikan Sinta?"
"Itu pasti Umi, tetapi aku masih ada hal yang akan aku lakukan, aku akan memastikan terlebih itu dahulu, maaf Umi beri aku waktu sedikit lagi, nanti aku akan bercerita alasan mengapa sampai saat ini aku belum menceraikan Sinta."
Ada notifikasi suara pesan WA dari Surya. Al langsung membukanya, "Umi ini pesan WA dari Surya."
"Cepat kamu buka!"
"Baik Umi."
Al membuka pesan WA dari Surya. Yang pertama dikirim adalah nama butik yang bernama Butik AA. Foto yang kedua adalah foto Alfian yang berukuran poster besar yang terketak di samping pintu. Mata Al seperti melihat dirinya saat masih kecil, dari rambut, hidung, pipi, bibir bahkan dagunya semua sama persih seperti dirinya.
"Ini Al coba kamu samakan dengan fotomu sendiri!" perintah Umi Anna sambil menyodorkan handphone miliknya.
Al menjejerkan foto yang dari Umi Anna dengan yang ada di handphonenya sendiri. Keduanya sama persis dari posisi berdiri, dan posisi tangan. Isya ikut melihat dan berdiri di samping Al dan sama kagetnya seperti Al.
"Abang, apakah zaman modern begini Abang bisa rainkarnasi?"
"Abang masih hidup ngawur aja, rainkarnasi itu jika sudah mati." jawab Al sambil memukul bahu Isya perlahan.
"Terus ini foto siapa, kembaran Abang?"
Kaki Al terasa lemas seperti tak bertulang. Mulai menyadari mengapa Umi Anna pingsan karena tensi langsung tinggi. Naluri seorang ibu tidak pernah salah jika menyangkut anak atau cucunya.
"Al Sekarang kamu faham maksud Umi, kamu bisa cerita sekarang?"
"Umi aku...!" Al tidak melanjutkan ucapannya, lidahnya terasa kelu.
Rekomendasi novel teman, ayo kepoin ya seru lo ceritanya,
jangan lupa mampir ya
__ADS_1