Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Aku Tahu Status Kalian


__ADS_3

Setelah minum setengah gelas air putih Alfarizi merasa laga. Duri sudah tertelan tangannya masih di atas tangan Neng yang sedang memegang gelas. Setelah dia lega Neng baru menyadari dan menarik tangannya dan juga menyadari air yang di berikan adalah gelas miliknya.


"Maaf air minumnya ...!" Neng tidak berani melanjutkan ucapannya, takut dia marah karena jijik sudah menberikan minum bekasnya.


"Terima kasih, aku malah suka minum bekas kamu, kalau perlu dari kamu langsung lewat situ!" Alfarizi menunjuk bibir Neng sambil tersenyum.


"Eee ... no, big no no!" Spontan Neng menutup mulutnya sambil menatap horor kearah Alfarizi.


"Ha ha ha bercanda, Neng Geulis." Tetapi dia bergumam dalam hati, "Suatu saat nanti pasti terjadi."


Sementara itu di teras setelah Surya keluar dan mengatakan jika tuannya sedang suap-suapan. Si Serangga semakin naik pitam tidak percaya jika wanita yang diincarnya sedang berduaan dengan tuannya Surya. Sudah hampir dua minggu ini Rangga mengetahui latar belakang Mitha dan statusnya dengan Alfarizi, bahkan dia juga tahu di mana saat ini Ayah Asep tinggal.


"Breng sek kalian lepaskan aku, aku tidak mempan dengan omongan receh kalian!" teriak Rangga meronta-ronta karena masih di pegangi oleh dua anak buah Surya.


"Jangan berisik set tan lo, Tuan belum selesai makan!" Surya kesal tangannya mengepal dan sudah diangkat ingin menonjok serangga pengganggu.


"Surya stop, jangan kotori tangan kamu hanya untuk orang seperti dia!" kata Alfarizi datang dari dalam rumah dengan mengandeng tangan Neng dan menautkan jarinya dengan sempurna.


Surya menarik tangannya kembali dengan menahan amarah yang memuncak. Untung di peringatkan oleh bosnya, jika tidak mungkin sudah babak belur. Dan pasti akan berurusan dengan polisi setelah menghajar dia.


"Surya bawa masuk dia sekarang!"


"Siap Tuan!"


Alfarizi kembali masuk ke rumah bersama Neng di sampingnya. Bahkan tanpa sadar Neng menempel di badan Alfarizi bagian samping karena di tatap nanar oleh Rangga Siregar. Rangga duduk di sofa dan masih di apit oleh dua orang anak buah Surya.


"Apa sebenarnya mau kamu, mengapa kamu mengganggu rumah tangga kami?" tanya Alfarizi sambil berdiri di depannya.


"Ha ha ha, rumah tangga, aku tahu betul bagaiman hubungan kalian, aku tahu betul cerita Bu Mitha dari awal, aku suka kamu Bu Mitha," jawab Rangga tetap saja menatap nanar kearah Neng.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak bisa mengerti bahasa manusia, jika istriku tidak suka dan tidak mau berhubungan dengan kamu?"


"Kamu jangan percaya diri setinggi langit menyebut Bu Mitha istri, bahkan aku tahu di mana Ayah Asep sekarang, aku berani membayar lima kali lipat dari kamu dulu kalau perlu agar aku bisa mendapatkan Bu Mitha, ha ha ha!" Rangga semakin berani mengucapkan kata yang membuat Neng teringat masa lalu.


Neng yang merasa terhina karena di anggap sebagai wanita yang bisa di beli dengan uang. Dia langsung mendekati Rangga Siregar dengan melepaskan tangan yang sedang di genggam oleh Alfarizi. Dadanya bergemuruh dan darahnya seolah mendidih karena ucapannya.


"Plaaaak ... plaaaak!"


Neng menampar pipi Rangga Siregar kanan dan kiri dengan kencang dan tatapan mata yang memerah karena menahan amarah yang meledak-ledak. Pipi Rangga Siregar terlihat memerah ada bekas telapak tangan Neng. Rangga Siregar memegangi pipinya, syok tidak menyangka jika wanita cantik dan anggun yang selama ini di kejarnya berani menamparnya.


Alfarizi dan yang lain juga terlihat kaget melihat Neng yang bisa bertindak nekat. Selama ini mereka tahu Neng adalah wanita yang lemah lembut dan selalu sopan. Neng tidak pernah bertindak kasar kepada siapapun walaupun dia di sakiti.


"Papi, lempar dia keluar dari rumahku, sekali lagi dia terlihat di sekitar sini laporkan saja ke polisi!" perintah Neng pergi meninggalkan ruang tamu berlari naik tangga menuju kamarnya sendiri.


"Ok, perintah Sang Ratu siap di laksanakan!" jawab Alfarizi dengan tersenyum karena baru pertama kali Neng memanggil nama papi saat tidak ada putranya.


Alfarizi menghempaskan Rangga kembali di sofa sampai sofa itu terguling dan Rangga ikut terjengkang ke belakang. Rasanya belum puas melihat dia terjengkang ingin sekali menghajar dia sampai tidak bisa lagi memikirkan istrinya. "Aku juga tahu siapa sebenarnya kamu, keluargamu dan ke tiga istrimu, mulai sekarang jika kamu masih berusaha mendekati istriku lagi, show room kamu akan aku ratakan dengan tanah, mengerti?"


"Dia bukan istrimu, aku tahu itu, ha ha ha!" Rangga Siregar masih ingin melawan dan memancing emosi Alfarizi.


Surya mendekati Alfarizi, membisikkan sesuatu di telinganya. Awalnya tidak ingin bercerita jika Rangga Siregar mau mundur dan tidak ingin lagi mendekati Bu Mitha. Plan B kembali di lakukan agar permasalah cepat selesai.


"Aku tahu kegiatan kamu dengan mobil bodong yang sering kamu datangi di geng mobil di pinggiran Jakarta, kamu bisa terjiduk polisi sekarang juga jika aku sebar di media sosial, bo*oh!"


Rangga Siregar terdiam setelah mendengar ancaman Alfarizi yang terakhir. Tidak menyangka tidak hanya dirinya yang menyelidiki tentang latar belakang mereka. Ternyata Alfarizi juga menyelidiki dirinya, nyalinya mulai ciut dan tidak berani lagi menjawab.


"Surya, lempar dia keluar sekarang, awasi dia jika masih berkeliaran di sekitar sini, panggil polisi!"


"Siap Tuan, ayo bawa dia!" perintah Surya kepada kedua anak buahnya

__ADS_1


Surya hanya menyeringai sesaat saat memandang si Serangga. Dari tadi diam saja saat tuannya meluapkan emosinya sekarang gilarannya untuk memberikan pelajaran tambahan untuknya. Desi juga ikut keluar bersama mereka.


Sampai di luar rumah Neng, Surya memberikan kode kepada kedua anak buahnya untuk di bawa masuk dalam mobilya, "Cepat masukkan dia ke mobilku sekarang!"


"Apakah kita jalankan rencana selanjutnya, Bos?" tanya salah satu anak buahnya.


"Ya, naiklah, seharusnya di sana sudah menunggu kita sekarang!" Mereka langsung ikut naik mobil termasuk Desi. Surya langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Rangga Siregar hanya terdiam mendengarkan percakapan antara Surya dan anak buahnya. Tidak bisa berkutik lagi setelah di ketahui rahasia terbesarnya yang selama ini selalu di sembunyikan dengan rapat. Hanya pasrah akan dibawa ke mana oleh mereka.


Sambil menyetir Surya menghubungi seseorang menggunakan headset, "Halo, apakah sudah siap?"


" .... "


"Ya, kami sekarang menuju ke sana!"


" .... "


"Tidak, Tuan tidak tahu tentang hal ini."


" .... "


"Siap laksanakan."



hai shobat ini novel rekomen banget lo, mampir yo


jangan lupa sambil menunggu author up lagi trims

__ADS_1


__ADS_2