
Tidak hanya Junaidi yang geram dan marah saat ini, Surya juga sangat marah dengan mengeratkan giginya karena menahan marah sambil menulis balasan pesan WA dari Junaidi, "Jangan bertindak gegabah, tunggu perintah dariku, kamu awasi saja mereka, kalau perlu rekam percakapan mereka, aku akan laporan kepada Tuan Al dulu!"
Selesai menulis jawaban pesan dari Surya langsung ingin melaporkan temuan Junaidi kepada tuannya. Tidak ingin Neng dan Desi khawatir, Surya memilih untuk bicara berdua dan beralasan membahas tentang pekerjaan, "Tuan, saya baru saja mendapatkan email dari klain apakah bisa kita bahas pekerjaan di kantor pribadi Anda sebentar!"
"Tentu, ayo ke kantor!"
"Ya Tuan, terima kasih."
"Mami, Papi ke kantor sebentar tolong pesankan seblak pedas dua porsi!"
"Eee, Papi yakin habis dua porsi?"
"Iya Honey, jangan lupa pesan yang pedas!"
Alfarizi duduk di kursi singgasananya saat Surya memberikan pesan WA dari Junaidi saat mereka sudah masuk kantor pribadinya, "Maaf Tuan, ini bukan tentang pekerjaan, silahkan Anda lihat ini!"
Alfarizi langsung mengambil ponsel milik Surya. Melihat dua orang laki-laki yang sedang berpelukan dia adalah Rangga Siregar dan Dokter Mario Sanusi. Dua laki-laki walau berbeda peran tetapi membuat hatinya sangat marah dan sakit hati.
Saat Alfarizi membaca Pesan dari Junaidi antara kesal dan terkekeh yang dia rasakan saat ini. Membaca balasan Surya kepada Junaidi dia hanya mengangguk setuju, "Apakah saat ini Jun masih ada di kantin rumah sakit itu sekarang?"
"Sebentar Saya tanya dia sekarang," jawab Surya ingin mengirim pesan.
Surya mengirim pesan WA kepada Junaidi, "Di mana posisi sekarang, Bro?" Hanya hitungan detik Surya langsung mendapat balasan dari Junaidi, "Aku sudah keluar dari rumah sakit Bang, sekarang lagi otw menuju rumah Rangga Siregar."
"Ok lanjutkan, di tunggu kabar selanjutnya."
Selesi mendapatkan kabar dari Junaidi, Surya kembali melaporkan kepada Alfarizi, "Tuan, Jun sudah keluar dari kantin rumah sakit, sekarang dia sedang mengikuti Rangga pulang ke rumahnya."
"Ya sudah di tunggu saja apa hubungan mereka setelah itu baru kita bertindak!"
"Baik Tuan."
Mereka berdua kembali bergabung dengan Neng dan Desi yang sedang mendisain gaun pengantin. Dan ada menu seblak yang masih terlihat mengepul panas tanda baru di masak. Alfarizi langsung mengambilnya, "Mami, mengapa tidak bilang jika seblaknya sudah datang?"
"Mami kira Papi masih lama, ayo di meja makan saja!"
__ADS_1
Surya yang melihat tuannya terlihat aneh mengerutkan keningnya. Dia orang yang ceplas-ceplos tanpa di tutup-tutupi jika bicara mengeani tuannya, "Kok tumben Tuan, Anda makan seblak biasanya hanya pesan saja, Anda lebih suka menu opor ayam dan sambal terasi."
"Sudah tidak usah komen kalau mau ayo gabung tetapi ingat jangan minta bagianku!" Alfarizi langsung duduk di kursi yang berada di ruang makan.
"saya tidak doyan pedas Tuan, tenang aja saya hanya ikut makan opor ayam kesukaan Anda lebih enak."
"Hhmm .... bau Surya, jauhkaan opor itu dariku!" pernitah Alfarizi sambil menutup mulutnya.
"Sepertinya dia sedang ngidam Nak Surya dari kemarin aneh, sekarang yang dia minta makanan favorit istrinya saja, selain itu bau katanya," cerita Ibu Ani santai sambil menarik opor ayam dan di letakkan di pinggir meja dekat kursi Surya dan Desi.
"Ngidam ...?" tanya Neng dan Alfarizi bersamaan.
"Iya Neng Mitha, dari kemarin Ibu sudah curiga kemungkinan Alfian akan segera memiliki adik."
"Tetapi Bu, aku tidak merasa pusing, mual dan mutah seperti saat hamil Alfian dulu?"
"Itu suamimu yang mengalaminya, Neng Mitha tidak menyadarinya?"
"Ooo ha ha ha!" Neng hanya tertawa teringat dulu Alfarizi saat dia mengatakan sanggup menggantikan mual dan muntah saat hamil.
"Bisa Nak Desi, banyak yang mengalami itu, lihatlah Neng Mitha biasa saja tetapi Nak Alfarizi dari kemarin mual dan muntah"
Afarizi dengan cepat menyantap seblak yang baru saja disiapkan di mangkok oleh Neng. Tidak memperdulikan mereka membicarakan tentang kehamilan. Rasanya air liurnya seperti menetes setelah melihat menu seblak.
Neng terdiam sesaat teringat seharusnya satu minggu yang lalu dia menstruasi. Sampai sekarang tamu bulalan itu belum datang juga. Jika hamil mengapa tidak mengalami seperti dulu saat hamil Alfian.
Selesai makan bersama Surya dan Desi berpamitan pulang, Alarizi yang dari tadi tidak konsentrasi memikirkan tentang kehamilan karena melihat menu seblak yang menggiurkan. Kini sangat antusias bertanya kepada Ibu Ani yang masih duduk di ruang makan.
"Ibu coba ceritakan apa maksudnya jika istri yang hamil tetapi suami yang ngidam?"
"Untuk apa Ibu harus cerita itu Nak Al sudah mengalaminya sendiri."
"Betul Mami sekarang sedang hamil?"
"Tidak tahu juga Papi, Mami belum periksa ke dolter."
__ADS_1
"Sebaiknya beli testpeck di apotik sana!" perintah Ibu Ani lagi.
"Papi saja yang beli, Mami istirahat saja!"
Dengan semangat empat lima Alfarizi pergi ke apotik untuk membeli testpeck seperti yang di perintahkan Ibu Ani. Masuk apotik dengan percaya diri, "Permisi, beli testpeck Bu."
"Ya apa merk nya Tuan?"
Alfarizi mengerutkan keningnya, berpikir ini adalah pengalaman membeli tespeck pertama kali. Tidak tahu tentang nama dan merk testpeck yang beredar membuatnya bingung, "Ada berapa merk testpeck yang ada, Bu?"
"Ada banyak Tuan, Anda mau berapa?"
"Aku mau dua di setiap merk-nya."
"Tidak salah Tuan, banyak banget itu?"
"Tidak Bu, tolong bungkus ya!"
Pulang dengan hati yang bahagia ini suatu prestasi yang membuatnya sangat bangga karena baru pertama kali mengalami ini. Masuk rumah dengan langkah panjang ingin cepat mengetahui kabar yang lama di tunggunya. Neng dan Ibu Ani sedang menunggu di ruang keluarga sambil berbincang santai.
"Mami, ini testpecknya sudah Papi belikan."
Neng dan Ibu Ani tertawa lebar setelah melihat ada sekitar 50 pics testpeck yang di letakkan di atas meja, "Papi mau buka apotik di rumah, mengapa beli testpeck sebanyak ini?"
"Nak Al, belinya satu atau dua saja cukup, buat apa beli sebanyak ini?"
"Tidak apa-apa Bu, ini untuk stok persiapan memiliki anak sepuluh dengan Mami, jadi tiap bulan bisa di pakai testpecknya," jawab Alfarizi sekenanya sambil terkekeh.
"Papi aja yang hamil setiap bulan nanti keluar anak kelinci, ngawur aja memangnya setiap bulan Mami harus melahirkan, tega banget sih." Neng ngedumel kesal, tetapi Ibu Ani semakin tertawa terbahak-bahak.
"Jangan marah dong Honey, ayo ini cepat lakukan pemeriksaan, Papi sudah tidak sabar lagi ingin melihat testpeck ini ada dua garis biru!"
"Baiklah ayo kita ke kamar mandi, Mami ambil satu dan ini buat Papi satu, Papi harus tes juga!"
"Iya baiklah tetapi ... eee!"
__ADS_1