Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Melihatmu


__ADS_3

Harapan hanya tinggal harapan, sampai Al memilih dan membayar baju yang dipilihnya untuk Marta selesai. Al tidak juga menemukan sosok yang dicarinya. Saat pegawai mengajak untuk membayar ke kasir, Al bertanya kepadanya. "Jika ingin memesan gaun apakah bisa langsung bertemu dengan ownernya?"


"Bisa Tuan, sebaiknya Anda membuat janji terlebuh dahulu, tetapi hari ini belum bisa."


"Mengapa belum bisa?"


"Bu Mitha baru pulang dari kampung, biasanya dua atau tiga hari baru bisa mengunjungi Butik AA, Beliau memprioritaskan Konfeksi AA terlebih dahulu."


"Dimana Konfeksi AA, apakah aku boleh minta alamatnya?"


"Tentu Tuan, saat Anda membayar di kasir, di sebelah kasur ada karu nama, Anda bisa mengambilnya."


"Terima Kasih."


Al membayar baju yang dipilihnya dan mengambil satu kartu nama yang ada di samping kasir. Tertulis nama Paramitha dan Konfeksi AA, alamat dan nomor ponsel. Al tidak berniat menghubunginya, kemungkinan besar anak buahnya yang akan menjawabnya. Lebih baik berkonsentrasi menyusun strategi agar bisa melihat atau bertemu langsung dengannya.


Al keluar Butik AA dengan perasaan yang kecewa. Ada dua karyawan wanita yang sedang bergosip dari arah kanan butik berjalan beriringan dengan Al. Mereka belum mengetahui siapa pemilik mall yang baru karena belum memperkenalkan diri.


"Kok belum ada kabar tentang pemilik mall yang baru ya?"


"Iya seharusnya dia mengadakan ramah-tamah dengan para owner atau penyewa serta karyawan."


"Palingan ujung-ujungnya kamu pingin kenalan untuk cari jodoh."


"Apa salahnya sih, namanya juga usaha?"


"Kalau pemilik mall ini duda, orangnya pendek, botak dan perutnya buncit, kamu mau?"


"Yang penting uangnya banyak, kalau lagi anu merem dan diam aja membayangkan ber-anu ria dengan Li Min Ho."


"Dasar gelo siak!"


Al mengerutkan keningnya, memikirkan ucapan dua karyawan wanita itu. Ada dua yang hal yang bisa di lakukan agar bisa bertemu dengan owner Butik AA. Satu dengan mengadakan ramah-tamah dengan seluruh karyawan, owner ataupun pemilik usaha. Kedua langsung memanggilnya dengan alasan tertentu.


Sore harinya Al pergi nengunjungi putri angkatnya di rumah sakit. Semakin hari Al semakin menyadari anak kecil itu tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahan orang tua. Walau mengetahui Marta adalah putri kandung dari Sinta dan selingkuhannya.


Sampai di rumah sakit Al langsung menghubungi Surya dan mengajaknya untuk menemui Marta. Al tidak ingin emosi di depan putrinya, lagi pula istrinya tidak mengetahui jika Al sudah mengetahui kebusukannya. Sinta bersikap seolah-olah istri yang baik saat di depan umum.

__ADS_1


Wanita itu sangat pandai mengambil hati dengan bersikap manis, tersenyum dan sok akrab. Melihat Al, dia langsung mengusap lembut rambut putrinya. Dan membantu putrinya untuk duduk.


"Naaah, Papa datangkan, sekarang Marta senang?" kata Sinta dengan suara lembut.


"Papa, aku kangen, mau peluk Papa!"


"Papa juga kangen Marta, apakah masih sakit?" Al memeluknya erat, matanya terpejam membayangkan yang dipeluknya adalah putra dari owner Butik AA.


"Tidak Papa, aku sudah sembuh, ada Papa dan Mama di sini."


"Ini Papa belikan baju dan gaun bagus-bagus buat Marta."


"Terima kasih, Papa baik deh."


Al hanya fokus berbincang dengan Marta, melirik Sinta pun malas. Rasa sakit hati di khianati membuatnya malas berinteraksi langsung dengannya. Sinta bergabung duduk di samping Al, membantu Marta membuka satu persatu gaun dengan teliti.


"Waaah, gaunnya bagus, ayo bilang apa sama Papa?"


"Aku tadi sudah terima kasih sama Papa, Mama lebay." Marta mengerucutkan bibirnya kesal.


"Iya maaf." Sinta salah tingkah ingin menarik perhatian Al tetapi gagal.


Setelah dari kamar Marta, Al mengunjungi Lilis dan Junaidi untuk mengetahui perkembangan kesehatan Lilis. Setelah pukul sepuluh malam Surya mengajak Al untuk makan malam privat room di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit. Dia ingin menunjukkan vedio rekaman perbincangan antara Sinta dan Dokter Mario.


"Brengsek, Kamu ini manusia atau iblis, Sinta!" kata Al setelah selesai melihat langsung vedio rekaman itu sambil membanting ponsel milik Surya yang baru saja di perbaiki.


"Tuan, yaaah ponselku baru saja aku perbaiki rusak lagi." Surya mengambil ponselnya yang sudah rusak setelah di banting dan di injak-injak oleh Al.


"Untung semua file sudah aku pindah ke laptop."


"Kamu beli lagi saja yang baru."


"Ya Tuan, terima kasih."


Setelah dua hari ini Al mengawasi Butik AA dan konfeksi AA tetapi hasilnya nihil. Al akhirnya memutuskan unuk membuat acara ramah-tamah bertemu dengan seluruh karyawan, owner, pengelola usaha. Acara itu akan diadakan setelah istirahat siang esok hari.


Undangan sudah disebar seluruhnya hari ini. Surya berniat ingin memberikan undangan secara khusus kepada Desi untuk memastikan owner Butik AA akan datang. Surya mengajak makan siang di kafe yang ada depan mall.

__ADS_1


Surya sudah duduk di pojok kafe saat Desi datang dengan tergesa-gesa. "Bang, maaf terlambat!"


"Tenang saja, Sang Surya tetap setia menunggumu."


"Gombalnya mulai lagi, Abang sudah pesan makan?"


"Belumlah, Abang masih menunggu dikau!"


Desi memesan makan untuk berdua dan makan tanpa bersuara sampai selesai. Surya berniat ingin mencari tahu mengapa sudah hampir lima hari owner Butik AA tidak juga datang. Tuannya sudah mulai uring-uringan dan emosi karena tidak bisa bertemu dengan istrinya.


"Ini undangan untuk Butik AA, harus datang ya, aku juga ingin kenalan dengan calon Bosku!"


"Mengapa calon Bos Abang, dia itu Bosku, ngarut aja Abang ini!"


"Kalau kita bersatu, pasti akan menjadi Bosku juga, iya kan?"


"Mulai mulai!"


"Eee ngomong-ngomong boleh dong tanya, apakah setiap hari Bu Mitha datang ke butik?"


"Bu Mitha biasanya hanya datang satu Minggu tiga kali, emang ada apa?"


"Itu adik dari Bosku mau menikah ingin memesan gaun pengantin, hari apa saja datang, agar bisa bertemu langsung?"


"Biasanya hari, Selasa, Kamis dan sabtu."


Seperti penuh drama bagi Al hanya ingin bertemu dengan orang yang di duga Neng dan putranya. Memerkukan kesabaran tingkat dewa, sampai saat ini sudah saatnya acara ramah-tamah di mulai. Acara di adakan di taman di belakang mall dengan konsep autdoor.


Al dan Surya berdiri di samping pintu masuk acara sebelah kiri dengan jarak hanya dua meter. Ada pohon Palm yang menghalangi, sehingga jika ada yang datang tidak bisa melihat Al, tetapi Al bisa melihat dengan lalusa.


Setelah menunggu hampir satu jam datang wanita dewasa, cantik dan anggun berjalan bersebelahan dengan Desi sambil tersenyum, memakai rok dan blazer berwarna Pink Magenta, rambut di biarkan tergerai. Memakai sepatu haighill, ber make-up dengan elegan berjalan anggun memasuki tempat acara.


Mata Al memandang wajah itu tanpa berkedip. Bahkan mulutnya terbuka tanpa sadar. Al bisa mengenali jika dia adalah Neng. Sayangnya belum sempat dia melangkah melewati pintu ada seorang wanita paruh baya berlari mendekati Neng sambil menangis.


"Neng Mitha... Neng Mitha tunggu, Nak!"


Tunggu besok lagi ya, sekarang mampir di novel temanku dulu

__ADS_1



__ADS_2