
Alfian membaringkan tubuh Rania di tempat tidur kamar kabin yang ada di dalam pesawat pribadi. Alfian memandang wajah Rania yang bersemu merah. Memandangi dengan penuh cinta yang membara, bahkan pesawat sedang take of sudah tidak terasa dan tidak memakai sabuk pengaman.
Tatapan mata ke duanya saling mengunci, gejolak cinta yang membara langsung di curahkan dengan Alfian mencium bibir Rania dengan lembut. Ke duanya saling menikmati indahnya ciuman, saling mengabsen dan menjelajah ke seluruh rongga mulut.
Tautan itu terlepas setelah ke duanya hampir kehabisan pasokan oksigen. Alfian kembali memandangi wajah Rania yang terlihat malu dan bersemu merah, "Love you, Rani!"
Kini Alfian menelusuri leher jenjang istrinya. Memberikan tanda di setiap incinya tanpa terkecuali. Rania hanya menikmati sentuhan itu sambil memejamkan mata.
Sambil terus beraksi tangan kanan Alfian menurunkan reseleting perlahan ke bawah. Aksinya kini pindah di sekitar dada dan gunung kembar yang masih tertutup bra dengan sempurna. Mengecup lembut lembah diantara dua gunung kembar. Membuat Rania menggeliat karena merasakan sensasi yang tidak pernah di rasakan sebelumnya.
Alfian mendongakkan wajahnya membut Rania spontan membuka matanya, "Boleh Abang buka?"
"Apa lagi yang mau Abang Tuan buka, ini resleting sudah terbuka lebar?"
"Polos banget sih istri Abang, yang ini lo yang dibuka!" Alfian menunjuk bra milik Rania.
Dengan malu Rania mengangguk dan kembali memejamkan mata. Tangan Alfian menyusup di balik punggung Rania ingin membuka kaitan bra yang masih terkait sempurna. Sayangnya karena kecil susah untuk di buka, "Sayang ... susah sekali bukanya, Abanng geser saja deh!"
Sudah tidak sabar membuka, Alfian hanya menggeser bra keatas dan langsung menangkup ke dua gunung kembar istrinya. Tangannya langsung bermain mendaki, menuruni lembah bergantian tanpa henti. Langsung melahap dengan mulutnya saat tangannya menyentuh salah satu puncaknya.
Rania hanya menikmati aksi suaminya dengan mengeluarkan suara yang di tahan dengan tangan menutup mulut. Takut keceplosan jika di tanya karena sambil melahap salah satu puncak gunung kembar. Alfian memandangi wajah Rania yang terlihat menikmati.
Alfian melepas puncak gunung sambil tersenyum dan bertanya dengan cepat, "Enak, 'kan?"
"Banget ... Eee!" Rania kembali menutup mulutnya di ikuti gelak tawa Alfian.
"Abang mau reka adegan di rasakan lagi, nanti katakan dengan jujur, ok!"
"Hhhmm...." Rania menjawab tangan masih menutupi mulutnya tetapi kepala mengangguk.
Kembali Alfian menuruni lembah, mendaki gunung, melahap puncak gunung kanan dan kiri secara bergantian. Suara syahdu yang keluar dari mulut Rania semakin terdengar indah di telinga Alfian. Membuat semangat bermain diarea gunung kembar semakin menggebu.
tangan kiri Alfian kini melepas satu persatu baju yang ada pada tubuhnya tanpa terkecuali. Bergantian membuang helaian benang yang menempel pada Rania. Kini ke duanya polos tanpa sehelai benangpun pada tubuh mereka.
__ADS_1
Alfian teringat saat istrinya tidak bisa tidur sebelum melihat tubuh polos dan kurma jumbo. Dengan usil Alfian menarik tangan Rania dan di sentuhkan di kurma jumbo yang semakin menegang. Rania yang awalnya memejamkan mata menikmati sentuhan suaminya langsung membuka mata dan berteriak, "Abang Tuan...!"
"Abang hanya memperkenalkan kurma jumbo yang setiap malam Rani pandangi, coba pegang!"
Karena Alfian berbicara dengan cepat, dengan cepat pula Rania menjawab, "Sudah tahu."
"Ha ha ha ...."
"Iiiih Abang, Rani malu tahu!" Rania menyembunyikan wajahnya di dekat ketiak Alfian.
"Tidak perlu malu, ayo kita lanjutkan lagi!"
Dengan anggukan dan persetujuan Rania. Alfian mulai mengulang lagi dari mencium dan menjelajahi dengan lembut. Turun menelusuri leher dan terus turun ke gunung kembar dan kembali mendaki dan melahap ke duanya bergantian.
Rania selalu mengeluarkan suara syahdu tanpa di sadari. Tangannya mulai meremas rambut suaminya saat rasa sensasi memabukkan ketika Alfian mulai mengisap puncak gunung kembar seperti bayi. Bahkan tanpa sadar tangan Rania menekan kepala Alfian agar semakin dalam dia bermain di sana.
Turun sampai mendekati bagian inti tubuh milik Rania, mengusapnya dengan lembut. Mengarahkan tangan Rania kembali untuk menyentuh kurma jumbo yang semakin menegang. Rania mulai berani memegang dan mulai menganali setiap lekuk kurma jumbo tanpa melihatnya.
Rasa semakin memuncak saat Alfian mulai kembali mengusap inti tubuh milik Rania, "Boleh Abang mengenal dia?" tanya Alfian kembali mengusap bagian inti tubuhnya.
"Ikuti cara Abang dan nikmati saja ok!"
Dengan persetujuan Rania, Alfian mulai membimbing Rania untuk santai dan rileks. memasukkan kurma jumbo perlahan ke dalam inti tubuh istrinya perlahan. Awalnya hanya diam di dalam sana saat melihat Rania menggigit bibirnya.
"Apakah sakit?" Rania mengangguk tanpa menjawab dengan ungkapan kata.
"Tetapi enak, 'kan?" Kembali Rania menjawab dengan mengangguk, "Abang lanjutkan lagi ya?" ucapnya sambil tersenyum.
Alfian mulai menggerakkan kurma jumba perlahan. Semakin lama semakin cepat dan lebih cepat saat rasa kini sudah memuncak. Setelah sampai puncaknya, Alfian langsung menghujam dengan rasa yang memuncak dan sampai ke duanya sampai puncak surga dunia bersamaan.
Alfian langsung bergeser di samping Rania sambil memeluknya dengan erat. Alfian kaget saat melihat air mata Rania mengalir tanpa ada isakan tangis. Sambil mengusap air mata itu Alfian bertanya, "Kenapa Sayang ... kok menanagis?"
"Sakit Abang Tuan, tetapi ...!" Rania tidak melanjutkan ucapannya saat Alfian kembali mengusap air mata yang masih mengalir.
__ADS_1
"Sakit tetapi enak?" tanya Alfian sambil tersenyum.
Rania menjawab dengan anggukan kepala dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Rasa malu dan bahagia kini di rasakan dalam hati. Otak ngeresnya kini semakin menjadi setelah melakukan hubungan dengan suaminya.
"Nanti tidak akan sakit lagi setelah kita sering melakukannya," kata Alfian memeluk tubuh polos istrinya.
Hanya lima menit Rania dalam pelukan Alfian. Dia merasakan ada sesuatu yang basah di sepray yang di tiduri. Tangannya meraba sekejap dan melihatnya dengan cepat.
Sontak Rania kembali meneteskan air mata saat tangannya terlihat memerah, "Abang Tuan, mengapa ada darah di sepray?"
Alfian tersenyum dan mentowel hidungnya dengan gemas, "Itu tandanya Rani cantik sudah tidak virgin lagi."
Rania hanya membulatkan mulutnya, sering mendengar cerita tentang itu sekarang mengalaminya sendiri. Kembali menenggelamkan wajahnya di dada Alfian. Sesekali Rania mencium dada bidang itu dengan mesra.
Alfian menarik selimut dan menutup tubuh polos istri dan untuk dirinya sendiri, "Sayang ... mau tidur dulu atau ke kamar mandi?" tanya Alfian sambil mengusap pipi Rania.
"Tunggu sebentar, Abang. Masih perih nich, Rani tidak mau berjalan takut tambah perih."
"Mau Abang gendong ke kamar mandi?"
"Abang Tuan kuat gendong Rani?"
"Kuat dong ... Rani saja tadi kuat gendong Abang, pasti Abang lebih kuat lagi."
Rania mengerutkan keningnya berpikir, dia tidak pernah merasa menggendongnya, "Eeee ... kapan Rani gendong Abang Tuan?"
"Baru saja tadi saat Abang diatas Rani dibawah!"
"Eeee ...?"
BERSAMBUNG
Shobat Yok mampir di novel teman sambil menunggu up AST, rekaman lo
__ADS_1