
Tanpa canggung dan sungkan Alfarizi langsung duduk di samping Neng. Berharap di ambilkan sarapan layaknya seorang istri melayani suaminya di meja makan. Alfian juga langsung duduk di depan Neng meminum susu coklat hangat buatan Ibu Ani.
"Al mau sarapan roti bakar atau nasi goreng?" tanya Neng kepada putranya.
Alfian menjawab, "Roti bakar."
Bersamaan Alfarizi juga menjawab, "Nasi goreng."
"Iiiih Papi, Al dulu Papi belakangan aja!"
"Iya Nak, Mami ambilkan roti bakar untuk Al dulu, Papi belakangan aja!" jawab Alfarizi sambil tersenyum.
Neng tidak menjawab perkataan Alfarizi, dia hanya melirik sesaat saja. Neng hanya menjawab di dalam hati enak betul minta diambilkan. Ibu Ani hanya tersenyum melihat Neng sedang mengambilkan roti bakar untuk putranya.
"Ini Nak, ayo sarapan dulu!"
"Terima kasih Mami, I love you!"
"Me to, Nak." jawab Neng singkat.
"Aku lebih mencintai mu istriku." Sayangnya Alfarizi berkata hanya dalam hati.
Neng mengambil satu piring dan mengisi nasi goreng di tambah telur dadar dan mentimun. Di letakkan di depan Alfarizi tanpa memandang wajahnya. Hanya bergumam dalam hati sudah datang tanpa izin sarapan minta diambilin, dasar Pohon Pisang.
"Terima kasih."
Setelah Neng juga mengambil nasi goreng untuk Ibu Ani dan untuk dirinya sendiri. Mereka sarapan tanpa bersuara, hanya sendok dan garpu yang berdenting saling beradu dengan piring. Sampai semua selesai dan habis seluruh isi menu sarapannya di piring.
"Al berangkat sekolah bareng Papi aja ya!" kata Alfarizi setelah selesai sarapan.
"Mau Pi, apa tidak merepotkan Papi?"
"Tentu tidak lah, Papi malah senang bisa antar Al berangkat sekolah."
__ADS_1
"Al pingin Mami dan Papi antar Al sekolah seperti teman-teman gitu!" Tatapan mata Alfian sendu kearah Neng yang masih menunduk.
Alfarizi melirik dan memperhatikan Neng, walaupun dia terlihat cuek dan menunduk. Selama ini Neng selalu memperhatikan apapun yang di inginkan putranya biasanya selalu di turuti. Alfarizi berharap bisa mengantar putranya bertiga layaknya keluarga utuh.
"Maaf Nak, lain kali saja ya Mami harus meeting cepat hari ini."
"Ya Mami, sekarang Al sangat bahagia kok di antar Papi."
"Baiklah, ayo kita berangkat, Nak!"
"Ok Papi, Mami, Nenek, Al berangkat dulu ya."
"Belajar yang rajin, ok!"
Alfarizi mengikuti Alfian mendekati Neng meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. Saat Alfarizi ikut mengulurkan tangannya spontan Neng mencium punggung tangan Alfarizi seperti saat mereka berada di villa. Kembali Alfarizi tersenyum menarik tangannya, gantian dia mencium punggung tangan Neng lembut,
"Eeee ...!" Neng tersentak kaget langsung menatap tajam Alfarizi.
"Papi dan Alfian berangkat dulu, terima kasih." kata Alfarizi sambil mengusap lembut tangannya.
Ibu Ani menepuk pundaknya, "Neng Mitha, mengapa melamun sana berangkat, nanti terlambat meeting lo!"
"Iya Bu, aku berangkat dulu."
Dalam perjalanan ke sekolah Alfarizi berjanji saat Alfian pulang sekolah akan menjemputnya lagi. Membuat Alfian sangat bahagia bisa merasakan diantar oleh papinya seperti teman lainnya. Alfarizi merasa sangat terharu hal kecil dan sederhana yang dilakukan untuk putranya sangat membuat dia bahagia.
Pukul dua siang Alfarizi menjemput putranya pulang sekolah. Alfarizi mengajak Alfian untuk menyusul Neng di butik AA. Mengajak putranya hanya alasan saja agar lebih mudah masuk di kantor milik Neng tanpa harus memberikan alasan bisnis.
Alfarizi dan Alfian baru saja masuk mintu mall saat melihat Neng sedang berjalan dengan Dokter Harry dan Rianti sambil bercanda. Saat mereka ingin mendekati rombongan itu datang dari arah belakang seorang kaki-laki sambil berlari melewati duo Al begitu saja. Tanpa memperdulikan Alfian dan Alfarizi dia langsung memotong langkah Neng.
"Bu Mitha, tolong aku ingin bicara berdua denganmu!"
Dengan spontan Neng mundur dua langkah, dan berdiri di balik tubuh Rianti. Datang lagi seorang wanita seumuran Rianti yamg berlari mendekati mereka dan langsung bertolak pinggang, "Ooo dia Papa, targetmu sekarang?" kata wanita itu sambil menunjuk Neng.
__ADS_1
"Ada apa, apa maksud Anda?" tanya Dokter Harry sambil melindungi Neng dan Rianti.
"Anda tidak usah ikut campur, aku akan membuat perhitugan dengan pelakor ini!" Kembali wanita itu menunjuk Neng sambil bertolak pinggang.
"Mama, kamu jangan ikut campur urusan Papa, pergi kamu!" Rangga Siregar menarik tangan wanita itu dengan kasar.
"Mama tidak terima, Papa; gara-gara dia Papa sekarang meninggalkan Mama!" Wanita itu masih meronta-ronta sambil menunjuk kearah Neng yang bingung karena di tuduh pelakor.
Neng memegangi lengan Rianti karena terasa pusing dan mulai berkeringat dingin. Di tuduh sebagai pelakor membuatnya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Padahal selama ini selalu menghindar dan tidak pernah mau menanggapi saat Rangga Siregar mendekatinya.
"Mama pulang sana, jangan ikut campur urusan pribadiku!" Terus saja Rangga mencoba menarik wanita itu agar menjauh dari Neng.
Rangga menengok ke belakang melihat Neng yang sedang memegangi kepalanya, kemudian dia langsung berteriak, "Bu Mitha, jangan dengerin wanita ini, aku menyukai kamu makanya aku kesini untuk berbicara empat mata denganmu!"
Neng semakin pusing dan semakin erat memegangi lengan Rianti, "Kak Ria, kepalaku pusing sekali, tolong aku!"
Alfarizi yang mendengar teriakan Rangga Siregar langsung berlari mendekatinya dan mendorongnya dengan keras, "Kamu berani macam-macam dengan istriku!" Rangga Siregar oleng ke samping dan wanita itu ikut mundur dan oleng.
"Ha ha ha, aku tahu posisi kalian, kalian dulu hanya menikah siri." Dengan menyeringai Rangga siregar berdiri tegak dan mendekati Alfarizi kembali.
"Dia masih istriku, b*d*h!" Alfarizi mendekati Rangga Siregar, memegang kerah lehernya dan ingin meninjunya.
"Al, No ... jangan bikin masakah dengan orang seperti dia!" Dokter Harry menahan tangan Alfarizi yang sudah mengepal.
Bersamaan itu juga Neng semakin pusing karena selain dianggap sebagai pelakor dia juga masih dianggap istri oleh papi dari putranya. Rianti selalu mengusap pundak Neng agar sabar dan tidak pingsan. Alfian yang melihat maminya memegangi lengan Auntie Rianti dan memegangi kepalanya membuatnya semakin khawatir.
"Mami ...are you ok?" tanya Alfian saat melihat Neng mulai oleng tidak bisa menahan pusing yang amat sangat.
"Papi ... lihatlah Mami!" teriak Alfian semakin khawatir dengan keadaan Neng.
"Harry, urus si Brengs*k ini, kalau terjadi sesuatu dengan istriku, habis dan tamat riwayatmu!" ancam Alfarizi.
Alfarizi langsung berlari mendekati Neng yang sudah pucat-pasi. Dia langsung menggendong Neng dengan bridal style. Berlari menuju kantornya sambil diikuti Alfian dan Rianti di belakangnya.
__ADS_1
Neng masih tersadar saat Alfarizi menggendongnya. Ingin sekali berontak dan minta untuk di turunkan. Sayangnya hati dan pikirannya tidak sejalan, dia hanya diam saja saat di baringkan di tempat tidur.
"Apakah kamu baik-baik saja, Neng Geulis?" tanya Alfarizi sambil menggenggam tanganya.