Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Pakar Cinta Terkena Karma


__ADS_3

Kehamilan Rani kini memasuki 16 Minggu atau sekitar empat bulan. Sudah mulai terlihat buncit walaupun belum besar. Pola tidur sudah mulai kembali normal. Kurma jumbo juga sering menengok dikbay saat malam hari.


Dengan cara yang berbeda tentuya saat kurma jumbo mengunjungi dekbay yang masih ada dalam kandungan. Dengan pelan, berusaha tidak menekan perut buncit Rania. Bahkan Rania di larang dibawah selama kehamilan setelah melewati trimester pertama.


Rania yang terbiasa di bawah saat kurma jumbo menyedot tenaga. Terkadang protes karena tidak nyaman baginya jika berada di posisi atas dan harus duduk, "Bang, tidak nyaman Rani kalau posisinya begini!" cabik Rani membuat konsentrasi kurma jumbo buyar.


'Maunya bagaimana, Sayang?"


"Kalau bagian dada Rani tidak menempel rasanya kurang asyik."


"Ok ... Abang juga ikut bangun saja."


Dalam posisi setengah duduk menghadap Rania, Alfian memeluk Rania dengan erat. Posisi kurma jumbo sudah berada di dalam dengan sempurna, "Sudah nyamann sekarang?"


"Ini Rani sangat suka, beda rasanya dari dulu dan dari sebelumnya."


"Yang mau bergerak siapa, Abang atau Rani?"


"Abang aja, kan Abang yang ingin menengok dekbay."


"Baiklah ... Abang mulai beraksi ya!"


"Ayo terus, Bang. Rasanya enak banget."


Alfian tersenyum mendengar ucapan Rania. Awalnya kurma jumbo yang bersemangat setelah hampir ******* Rania sangat menikmati permainannya.


Samapi kedua sampai puncak nirwana berdua posisi tetap sama. Yang biasanya sering mencoba berbagai cara, tetapi berakhir dengan posisi diatas tempat tidur. Kali ini sangat berbeda dari biasanya.


Setelah selesai Rania bingung bagaimana melepasnya, "Abang, ini bagaimana melepasnya?"


"Begini saja terus, Abang malah suka. Kalau kurma jumbo bangun tinggal di goyang dikit selesai."


"Capek kaki Rani, Bang!"


"Setelah ini seprai diganti ya!"


"Memang kenapa, Bang?"


"Itunya hamburan kemana-mana."

__ADS_1


Rania hanya nyengir kuda sambil melepaskan pelukan suaminya. Dia memilih langsung merebahkan tubuhnya. Walau melakukan dengan pelan dan tidak seganas biasanya. Tetap saja napas tersengal-sengaal seperti habis berjalan dua kilometer jauhnya.


"Apakah capek, Sayang?"


"Tidak terlalu sih, Bang. Rani masih menikmati sensasi yang berbeda saja."


"Eee mau tambah lagi?"


"Nanti saja, Bang. Dekbay pingin tidur dulu."


Alfian hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Yang biasanya langsung terlelap setelah melakukan ritual berdua adalah dirinya. Sekarang Rania yang langsung terlelap bahkan tanpa benang sehelaipun. Alfian menyelimuti tubuh istrinya setelah mengganti seprai hanya sekedarnya saja.


Keesokan harinya saat libur kerja kali ini dimanfaatkan tiga sekawan plus Eki Darsono untuk menghabiskan waktu bersama. Berbincang berbagai hal dari pekerjaan, istri ataupun tentang gebetan. Terutama Zain yang sedang kelimpungan seperti cacing kepanasan karena Dokter Atha.


Zain semakin dekat dan akrab dengan Dokter Atha. Hanya sekedar teman rekan kerja dan rekan di bidang sosial saja. Jika Zain mendekati secara personal dia selalu gagal total.


Lebih dari dua bulan Zain selalu mengalami kekagalan. Sifat Dokter Atha yang tertutup sangat sulit di tembus oleh rayuan gombal Zain. Seorang Marta Inayah yang mandiri dan tegas selalu saja membuat Zain terus dan terus jungkir balik mendekatinya.


Mulai Alfian, Julio bahkan Eki Darsono di mintai pertimbangan saat mereka sedang berbincang, "Memang ada, pakar cinta minta saran kepada pengemis cinta," seloroh Julio saat dimintai saran juga oleh Zain.


"Ini beda yang di rayu soalnya. Gue sampai capek berlari mengejarnya." Zain terlihat frustasi dan ingin menyerah.


"Dulu gue pernah bilang, Kakak Atha itu berniat tidak ingin menikah setelah mengalami trauma papa dan pamannya rela berbuat apa saja untuk mendapatkan cinta." Alfian memberitahukan kembali tentang kakaknya.


"Elo sudah ngebet pingin kawin?" tanya Eki Darsono.


"Boro-boro kawin, cinta saja belum terucap," jawab Julio dengan tersenyum devil.


"Waaah pakar cinta yang terkena karma dong namanya." Eki Darsono meledek sambil melirik Zain.


"Sumpah gue sudah tobat, tidak ingin merayu wanita manapun, gue ingin serius kali ini, nikah duluan dari Abang Zaqi gue jabanin deh kalau Atha mau sama gue."


"Elo harus lebih berjuang lagi untuk mendapatkan Kakak gue."


Zain berkali-kali mengacak rambutnya karena frustasi. Semakin susah mendapatkan Dokter Atha semakin dia penasaran. Hanya saja dia tidak mendapatkan ide dengan apa lagi untuk bisa menaklukkan pujaan hati.


Trik dan rayuan yang pernah dia pakai merayu wanita semua mental dan tidak berhasil. Segala cara yang ada sudah dipakai dari merayu, membantu membelikan nasi padang untuk panti asuhan. Tetap saja Dokter Atha berhasil mementahkan semua usahanya.


Mengutarakan cinta saja Dokter Atha tidak pernah memberikan kesempatan sedikitpun. Seolah Dokter Atha bisa membaca pikiran Zain. Saat dia ingin mengambil kesempatan dan ingin menyatakan cinta, Dokter Atha akan langsung menghindar dengan seribu satu alasan.

__ADS_1


"Andai waktu sehari lebih dari dua puluh empat jam. mungkin elu baru mendapatkan waktu bisa menyatakan cinta, Zain." Eki kembali berpendapat.


"Gelo elu ya, sama saja elu nyumpahin gue tidak pernah ada kesempatan menjadi Kakak Ipar Al dong!" teriaknya.


Alfian hanya nyengir kuda, tetapi memilih hanya diam saja. Hanya ingin tahu sampai mana perjuangan untuk mendapatkan kakak tirinya. Agar Zain juga tidak lagi hobi merayu banyak wanita.


Beda lagi dengan Julio, walau dia umurnya yang paling muda diantara mereka. Julio yang sering memiliki ide ceperlang. Pengalaman hidup sederhana justru membuat dia tertempa dengan pengalaman hidup lebih matang.


"Gue punya ini, tentang masalah elo, Bro!" teriak Julio sambil mengetuk jidatnya.


"Apa idenya katakan cepat?" Zain langsung bersemangat dan penasaran.


"Tetapi elu harus sungguh-sungguh, karena kalau elu main-main tidak hanya elu yang akan mendapatkan imbasnya." Julio masih belum mengutarakan idenya, dia lebih memilih menunjukkan resikonya dulu jika gagal dan Zain hanya main-main saja.


"Maksudnya bagaimana, Julio?"


"Tidak hanya elu yang akan di depak, kemungkinan seluruh keluarga elu juga akan medapatkan imbasnya."


"Waduuuh berat juga ya?"


Zain seolah ciut nyalinya, tidak mungkin akan mengorbankan ke dua orang tua dan kakaknya. Seharusnya hanya dirinya sendiri yang akan menanggung semua resiko yang aan di lakukan. Membuat Zain berpikir negatif dan menggunakan cara kotor untuk mendapatkaan pujaat haati.


"Elu menyarankan gue berbuat kotor pada Dokter Atha, Jul?"


"Eeee otak elu berisi apa sih?" tanya Julio.


"Sampah kali isinya," celetuk Eki Darsono.


"Otak gue tidak pernah diajari oleh Ayah Jun tentang hal yang negatif, catat itu!" Emosi Julio mulai terpancing.


"Tidak perlu emosi, Jul. Lanjutkan apa usulan elu, Abang juga jadi penasaran."


"Baik Bang Al terima kasih. Untung ada Bang Al, kalau tidak sudah gue gibeng lu, Zain"


"Iya ... iya maaf. Cepat katakan apa ide brelian elu. Gua akan ambil resiko yang akan terjadi asal gue jadi Kakak Ipar Al!"


BERSAMBUNG


Jangan lupa mampir sobat di Novel teman author

__ADS_1


sambil menunggu AST Up besok



__ADS_2