
Alfian kaget saat masuk kamar melihat Dokter Atha sedang memasang perban di kaki. Kakaknya tidak memeriksa perut Rania melainkan terfokus pada telapak kaki, "Kak ... mengapa kaki yang di periksa, bagaimana dengan putra kami?"
"Abang berisik, dari tadi Rani bilang kaki Rani yang sakit tetapi Abang tidak mendengarkan sama sekali."
"Jadi kandungan Rani baik-baik saja?"
"Iya Dik, lain kali di lihat dulu apa yang luka, jangan membuat seluruh rumah sakit heboh." Dokter Atha masih memerban kaki Rania.
"Mengapa darahnya banyak sekali?"
"Ini terkena pecahan gelasnya dalam sehingga darah terus mengalir. Sekarang semua sudah aman."
Alfian langsung duduk di samping Rania. Hatinya merasa lega hal buruk tidak terjadi. Dari tadi berpikiran jelek dan takut kehilangan bayinya.
"Abang berpikir macam-macam ya?"
"Iya Sayang ... maaf, melihat darah yang bececeran banyak sekali, Abang jadi berpikiran yang buruk."
"Ayo meminta maaf kepada si Kasep juga! "
Alfian mengelus perut Rania yang buncit, "Maaf ya, Nak. semoga sehat di sana sampai lahirnya nanti."
"Aamiin."
Di luar kantor pribadi Alfian yang pertama kali datang adalah Umi Anna dan Abi Ali. Masih menunggu dengan cemas. Yang ke dua adalah Bapak Endang Kusnandar bersama Ibu Siti.
Zain duduk di kursi kamar rawat inap Ibu Titin Suhartin. Mendengar penjelasan Bibi Esih sambil menangis tersedu-sedu. Takut kena amarah dari Alfian, Mami Mitha dan Papi Alfarizi.
Bibi Esih bercerita awalnya Ibu Titin Suhartin ingin keluar ruangan setelah selesai berdandan dan memakai wig. Bibi Esih melarang karena belum mendapatkan izin dari Dokter. Saat Bibi Esih ingin meminta izin Ibu Titin Suhartin sangat marah dan mengamuk.
Setiap Ibu Titin Suhartin marah. Semua barang yang ada di sekitarnya pasti akan melayang. Di lempar ke sembarang tempat dan Bibi Esih dengan sabar membersihkan.
Sayangnya belum sempat membersihkan ruangan. Rania masuk dan tanpa sengaja menginjak pecahan gelas kaca. Bibi Esih juga tidak mengetahui mengapa darah terus mengalir sehingga membuat Alfian salah sangka.
Setelah mendengar cerita dari Bibi Esih Zain menepuk dahinya sendiri, "Waduuuh mati aku!" teriaknya.
"Ada apa, Bang?"
"Aku terlanjur mengabarkan ke seluruh keluarga jika Teh Rani pendarahan."
"Jadi bagaimana ini, Bang?"
"Permisi Bibi ...."
__ADS_1
Zain lari sekencang mungkin menuju kantor Alfian. Kemungkinan mereka yang di daerah Bogor saat ini sudah berada di depan kantor Alfian. Ternyata benar sudah ada yang menunggu dengan cemas di sana termasuk Papa Harry dan Mama Rianti.
Kebetulan orang tua Zain berada di Bogor saat di hubungi Zain tadi, "Papa ... Mama!" teriak Zain saat mereka sampai.
"Bagaimana keasaan Rani, Zain?" tanya Umi Anna cemas.
Zain baru mau menjawab pertanyaan Umi Anna. Alfian dan Dokter Atha membuka pintu, "Ada apa ini?" tanya Alfian heran.
Akhirnya Zain bercerita tentang situasi tadi saat menegangkan Rania terluka. Tidak terjadi apa-apa pada Rania. Membuat keluarga lega walaupun mereka sambil menggeplak kepala Zain yang membuat kehebohan.
"Bang, hubungi Mami dan Papi. Pasti mereka akan cemas." Umi Anna langsung masuk kantor dan kamar untuk melihat keadaan cucu menantu kesayangan.
Alfian menghubungi Mami Mitha dan Papi Alfarizi. Mereka sudah hampir sampai. Alfian menjelaskan keadaan yang sebenarnya, tetapi mereka tetap datang untuk melihat kesehatan Rania.
"Elu buat heboh seluruh keluarga saja sih!" Alfian memukul lengan Zain perlahan.
"Namanya juga panik bro!" Zain membela diri.
Zain teringat sebelum kejadian Dokter Atha ada yang menunggu dengan setia, "Bro, katanya mau ceritain tentang gebetan!"
Alfian teringat kata kakaknya tadi siang. Babe masih setia menunggu di depan kamar pemulasaran jenazah. Akan lucu jika Zain bertemu langsung dengan rivalnya.
"Ayo ikut gue, siapa tahu orangnya masih ada di sana!"
Dari kejauhan Alfian bisa melihat masih ada seorang laki-laki tua yang ada di sana. Dia sedang tertidur pulas di kursi panjang sambil meringkuk memeluk lutut.
Alfian mendekat dan mengambil foto sambil tersenyum devil. Zain yang tidak tahu apa-apa jadi heran dan bertanya. Seorang laki-laki tua diambil gambarnya dalam keadaan tidur pulas.
Alfian mengajak duduk Zain duduk di kursi panjang di ruang laboratorium. Menceritakan tentang petemuannya dengan Babe. Mulai di parkiran sampai dia menunggu di depan kamar pemulasaran jenazah.
"Jadi ABG tua itu saingan gue?"
"Iya ...." Alfian menjawab sambil tertawa terbahak-bahak.
"Mana mungkin Kakak elu mau menerima dia, gue yg ganteng maksimal aja harus jungkir-balik mengejarnya."
"Itu elu tahu, makanya jangan buat Kakak gue ilfil dengan kelakuan elu kayak tadi pagi. Main mepet dia karena emosi dan cemburu."
"Baiklah Adik Ipar."
Mami Mitha dan Papi Alfarizi tiba di rumah sakit bersama Ayah Doni. Walaupun Ayah Doni sudah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Tetap saja dia naik pitam dan marah kepada Ibu Titin Suhartin.
Ayah Doni sampai ke rumah sakit. Tidak menemui Rania terlebih dahulu. Dia lebih memilih meluapkan amarah kepada Ibu Titin Suhartin.
__ADS_1
Membuka pintu dengan kasar dan langsung menatap tajam kepada penghuni di dalamnya, "Kamu tidak kapok membuat ulah lagi?" tanya Ayah Doni.
"Saya tidak sengaja, maaf."
"Otak kamu letakkan di mana, lutut atau mata kaki?"
Ibu Titin Suhartin menunduk tidak menjawab pertanyaan Ayah Doni. Pertanyaan dia sudah yang entah sudah urutan ke berapa. Hampir semua keluarga bertanya dan menyalahkan tentang perbuatan yang dilakukan.
"Kalau otak di kepala seharusnya mikir. Anak sendiri jadi korban keegoisan kamu saja, kamu sadar tidak siapa yang membiayai dan merawat di sini?"
"Aku sudah minta maaf."
"Kepada siapa?"
"Pada semua orang yang datang ke sini."
"Dasar gila kamu ya, minta maaf kepada Bang Al, apakah sudah?"
Ibu Titin Suhartin menggelengkan kepalanya. Hanya Alfian dan ke dua orang tuanya yang belum datang ke kamarnya saat ini. Sehingga belum sempat meminta maaf pada mereka.
"Minta maaf sama Bang Al, kalau tidak awas aja, kamu akan aku lempar ke kampung lagi."
Bibi Esih yang hanya diam dan tidak berani menatap wajah Ayah, "Dan kamu Esih, mengapa kamu tidak melaporkan ke kantor polisi saja agar dia di penjara."
Bibi Esih tidak tidak berani menjawab pertanyaan Ayah Doni. Tidak mungkin akan melaporkan ke polisi. Melaporkan ke Abang Alfian saja tidak berani.
Ayah Doni semakin naik pitam karena Bibi Esih tidak berani menjawab pertanyaannya. Emosinya seolah tidak bisa di kendalikan lagi saat melihat wajah mantan istri yang pura-pura Sedih.
"Esih ... rapikan saja bajunya wanita gila ini. Lebih baik sekarang aku pindah saja ke rumah sakit jiwa!"
BERSAMBUNG
Jangan lupa mampir Shobat
ini rekomen banget lo sambil menunggu AST up lagi
judul: Un Familiar Brother
Kerumitan hidup membawa tiga saudara bermarga Natadisastra berurusan dengan seorang gadis dari kalangan biasa bernama Aleanska Nara. Rasa benci, obsesi, serta mencintai, membuat mereka harus berkorban, saling membohongi, bahkan saling menyakiti.
"Kembaran gue suka Kakak tiri gue, Kakak tiri gue suka adek gue. Cih, takdir Tuhan macam apa ini?"
__ADS_1