Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Seperti Bercermin


__ADS_3

Neng duduk bersandar di dasbort tempat tidur meluruskan kakinya melamun teringat pertemuan dengan papinya Alfian tadi siang. Laki-laki itu sekarang lebih terlihat sabar dan berbicara dengan nada yang lembut. Dia masih bingung dari mana Alfarizi tahu jika Alfian adalah putranya.


Alfian yang mulai pulih dari cideranya masuk kamar Neng sambil membawa buku PR yang belum di kerjakan sambil ngomel-ngomel dengan mulut yang di monyongkan. Hatinya terlihat kesal, tangannya sambil memukuli buku berkali-kali. Berniat meminta bantuan maminya untuk mengerjakan PR menggambar tema "Membantu Ayah Mencuci Mobil"


"Mami, Mami tolongin Al!"


"Ada apa Nak, mengapa wajahnya kusut, mulutnya monyong dan komat kamit begitu?"


"Al kesel Mi, gara-gara pacarnya Zain selingkuh, Zain tidak mau membantu menggambar dengan tema "Membantu Ayah Mencuci Mobil"


"Ha ha maksudnya apa pacar Zain selingkuh, Al dan Zain sudah punya pacar?"


"Tidak Mi, yang punya pacar itu Zain lain Al."


"Al cerita dulu bagaimana bisa pacar Zain selingkuh?"


"Zain pacaran sama Dhea, tetapi hari ini Dhea memilih mengambar berdua dengan Gandi, Dhea tidak mau diajak Zain menggambar bersama."


"Seharusnya Al dan Zain menggambar berdua saja dong Nak!"


"Zain marah Mi, Al juga terkena marahnya Zain, Al jadi kesal, Al minta bantuan Mami saja!"


"Baiklah, apa yang akan Al gambar, mobil atau orangnya?"


"Al bingung Mi, Al itu belum pernah membantu Papi mencuci mobil."


Hati Neng terasa nyeri mendengar kata polos putranya. Dari kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang papinya. Teringat kemarin bertemu dengan si Pohon Pisang itu di Mall.


"Al gambar mobil saja dulu, nanti ayah dan anak berdiri di samping mobil memegang selang dan ember!"


"Iya Mi."


Sambil menggambar Neng memandang wajah Al serius persis seperti papinya. Mulut Neng menyunggingkan senyuman saat mengingat pacar Zain yang selingkuh. Berpikir ini moment yang tepat untuk bercerita tentang papinya Al dengan versi seorang anak umur delapan tahun.


"Al tahu apa itu artinya selingkuh?" tanya Neng sambil memperhatikan Al yang sedang menggambar.


"Tahu dong Mi, selingkuh itu punya pacar lain selain pacarnya."

__ADS_1


"Kalau seandainya Mami di tuduh menjadi selingkuhan suami orang bagaimana menurut Al?"


"Al tidak rela Mi, enak aja; Mami Al itu terbaik sedunia."


"Mami kemarin bertemu dengan ...!"


"Dengan siapa Mi?"


"Tetapi berjanji dulu jangan menyalahkan siapapun, atau menuduh siapapun berselingkuh, Al harus berjanji untuk tidak marah dengan siapapun, ok!"


"Iya Mami, ayo cerita jangan buat Al jadi penasaran!"


"Kemarin Mami bertemu dengan Papinya Al di mall."


"Mengapa tidak diajak pulang ke sini, agar Al juga bisa bertanya banyak pada Papi?"


"Tidak bisa Al, Papi mempunyai istri dan satu putri, jika Papi tinggal bersama kita, nanti ada yang menuduh Mami ini menjadi selingkuhan Papi dong."


Al mengerutkan keningnya, tidak jadi melanjutkan gambarnya. Pertanyaan demi pertanyaan ada di otaknya. Al bingung mulai dari mana akan menanyakan tentang papinya.


"Al bingung ya?" Dengan mengangguk Al masih bengong dan bingung.


"Al boleh bertemu dengan Papi?"


"Tentu saja boleh, tetapi Al tidak boleh ...!" Neng tidak jadi melanjutkan ucapannya.


Neng bingung harus menjelaskan kepada anak berumur delapan tahun itu sesuai umurnya. Takut dia akan menuntut untuk minta tinggal bersama ayahnya. Takut akan meninggalkan dirinya suatu saat nanti.


"Al hanya ingin merasakan memiliki Papi sekali saja, Mi; setelah itu Al tidak akan menuntut apapun lagi."


Neng langsung memeluk Al dengan erat. Putranya itu sangat berpikir dewasa, bisa dengan mudah memahami jika dia tidak berhak atas papinya yang memikili anak lain selain dirinya. Seringnya Al melihat maminya selalu minum obat membuat Al lebih mudah memahami apa yang terjadi.


Setelah mendengar cerita dari maminya, Alfian di kamarnya sendiri mencari informasi tentang papinya. Anak jaman sekarang akan dengan mudah mencari informasi di media sosial tentang latar belakang seseorang. Saat ini Alfian sedang membaca tentang kehidupan papi kandungnya bersama kekuarganya.


Awalnya Alfian sangat marah dan merasa tidak adil untuk dirinya. Sama-sama anaknya tetapi mengapa hanya anak perempuannya saja yang di sayang. Saat mengingat nasehat Maminya dan mengingat jika orang yang mirip dengan wajahnya itu tidak tahu tentang dirinya, Rasa marah dan sakit hati hanya di pendamnya dalam hati.


Dari kecil Alfian memang anak yang mandiri, jarang menuntut hal yang tidak menjadi haknya. Selalu menurut jika di nasehati oleh maminya. Al lebih memilih mengabiskan waktunya untuk bermain game online saat senggang.

__ADS_1


Bahkan sudah dua hari berlalu setelah Neng bertemu dengan Alfarizi. Dan Neng tidak berangkat ke Butik AA, Al juga tidak merengek ingin bertemu dengan papinya. Al lebih memilih menunggu Neng pergi ke mall dan mengutamakan kesehatan Neng.


Sore ini Al melihat Neng sudah berganti baju kerja. Dia harus ke Butik AA untuk meeting dengan pelanggan yang akan menesan seragam untuk keluarga yang akan melakukan resepsi khitanan putranya. Neng terlihat segar dan sudah tidak terlihat pucat lagi.


"Mami mau ke mall, apakah Al boleh ikut?"


"Tentu Nak, apakah Al ingin bertemu dengan Papi?"


"Al belum tahu, Mi, lihat nanti lah."


Neng berjalan berdampingan dengan Al masuk mall diikuti oleh Desi yang berada di belakangnya. Neng berjalan dengan menunduk tanpa melihat sekitar mall. Al yang melihat sekeliling mall sambil menggandeng tangan maminya.


Sampai mereka baru akan masuk pintu Butik AA ada suara seorang wanita yang memanggil Neng dengan nama lamanya.


"Neng ... Neng tunggu!"


Mereka berbalik badan mencari suara itu, selama ini yang memanggil Neng hanya Ibu Ani saja, sedangkan orang lain sering memanggil dengan nama Mitha.


Seorang wanita yang seumuran dengannya, tangannya nenggunakan gips dan gips itu di kalungkan di leher. sama seperti Alfian bedanya Alfian memakai gips di kakinya. bersama wanita itu ada seorang laki-laki yang menggandeng seorang anak laki-laki kecil yang umurnya lebih muda dari Alfian.


"Apakah kamu lupa denganku, Neng?" tanya Dia lagi.


"Nona, kamu juga lupa padaku?"


Neng menggeleng sambil meneteskan air matanya. Dia langsung memekuk wanita itu dengan erat. "Apa kabarmu Lilis, apakah Aa Jun adalah suamimu?"


"Ya, dia suamiku, kami mencarimu hampir delapan tahun lamanya, kamu jahat banget meninggalkan aku begitu saja tanpa ada pesan dan kabar." Lilis memukul lengan Neng dengan tangannnya.


"Nona, apakah dia putra dari Tuan ...?" tanya Junaidi tidak melanjutkan ucapannya.


Jun melihat Alfian lekat dan sambil melirik ke tempat yang tidak jauh darinya. Ada dua orang yang berdiri terpaku melihat wajah Alfian. Salah satunya berdiri seolah sedang menghadap cermin saat melihat Alfian.


"Ayah mengapa wajah Abang kecil ini mirip dengan Tuannya Ayah yang di sana?" tanya Julio putra Junaidi.


"Mana orangnya, ayo antar aku!" kata Al penasaran.


Promo novel teman lagi ya shobat, jangan lupa mampir

__ADS_1



__ADS_2