
Alfian sedang menunggu Abah di pangkalan angkot. Dia hanya berdiri di samping Abah yang sedang berbincang dengan calon sopir angkot yang akan menggantikan Rania. Mata Alfian menyapu area pangkalan mencari sosok orang yang mungkin di kenalnya.
Awalnya Alfian hanya diam saja tanpa ikut berbincang dengan orang yang di temui Abah. Satu persatu datang sopir yang pernah bertemu saat malam setelah acara akad nikah. Akhirnya Alfian ikut berbincang dan bercanda dengan mereka.
Sebagian sopir bercerita tentang Rania yang tinggal bersama Abah selama satu tahun terakhir. Abah semakin sehat dan banyak beristirahat setelah ada yang merawat. Rania yang jujur dan lugu banyak mengubah pendirian Abah yang keras kepala.
Sopir banyak yang bercerita jika banyak sopir yang ingin mengajak Rania menikah. Ada juga yang ingin mengambilnya sebagai menantu. Pelanggan angkot juga tidak sedikit yang menyukai Rania yang cantik dan sederhana.
Ada pelanggan dan sebagian sopir yang mengundurkan diri karena Rania dan Abah bercerita jika sudah memiliki suami. Sebagian besar lagi tidak percaya karena di samping Rania masih muda. Mereka tidak pernah bertemu dengan suaminya dan Rania mencari nafkah sendiri.
Ada satu sopir yang bercerita kejadian setengah tahun yang lalu. Cerita yang membuat satu pelanggan Rania mundur dengan terpaksa. Mencintai Rania dengan memaksa dan selalu mengejar cintanya.
Suatu ketika pelanggan itu mengajak Rania dengan paksa. Rania di paksa ikut ke klub malam dengan alasan ulang tahun dan mengajaknya minum minuman keras. Hanya sayangnya pelanggan itu di hajar sampai babak belur di kamar mandi klub malam sebelum Rania menenggak minuman keras.
Sopir itu bercerita, saat pelanggan angkot itu sudah membeli minuman keras dan di letakkan di meja. Rania mengajaknya ke kamar mandi. Dia menghajar pelanggan di kamar mandi wanita sampai babak belur.
"Apakah Rania bisa bela diri, Pak?" tanya Alfian setelah selesai bercerita.
"Iya Bro, istrimu itu pandai olahraga dan silat terutama kaekwondo."
"Syukurlah ... dia bisa menjaga diri." Alfian merasa lega mendengar cerita sopir setengah baya.
"Iya Bro ... ngomong-ngomong mengapa kamu baru datang sekarang, mengapa kamu meninggalkan Rania?"
Alfian kaget dan bingung harus berbuat apa dan mengatakan apa. Setelah teringat saat masih kecil tidak bersama papi. Dan teringat memiliki darah Arab membuat Alfian memiliki pemikiran seperti Mami Mitha.
"Saya melanjutkan pendidikan di Riyadh bersama kakek yang tinggal di sana."
"Kakek kamu orang asli Arab?"
"Benar Pak, saya campuran Arab, Betawi dari Papi dan Sunda dari Mami."
Abah datang mendekati Alfian setelah selesai membicarakan kesepakatan tentang angkot, "Abang ayo jemput Neng Rani, Kakek sudah selesai!"
__ADS_1
Alfian melihat jam di pergelangan tangannya dengan cepat. Rania berada di rumah kecantikan satu jam yang lalu. Kemungkinan Rania membutuhkan dua atau tiga jam untuk menyelesaikan perawatannya, "Kakek, apakah boleh Abang pulang sebentar?"
"Pulang ke Bekasi?"
"Tidak Kakek, Abang punya rumah di Bogor sini, kita mampir sebentar ya?"
"Sejak kapan Abang mempunyai rumah di kota Bogor?"
Alfian tersenyum karena lupa tidak menceritakan jika Mami Mitha dan Papi Alfarizi membeli rumah di Bogor demi bisa melihat ayah kandungnya dari jauh, "Sudah lama Kakek, dari Abang kecil tetapi baru di renovasi satu tahun terakhir ini."
"Baiklah ayo kita ke sana!"
Tidak sampai satu jam Alfian sampai rumah yang berada di perumahan elit di kota Bogor. Parkir di halaman rumah yang sangat luas setelah tiba. Hanya di sambut dua bibi dan security yang menyambut mereka. Oma Anna dan Opa Ali masih di rumah Auntie Isya.
"Masuk Kakek, kenalkan itu Bibi Sri dan Bibi Tiwi."
"Selamat datang, Tuan," kata mereka.
"Bibi beliau ini ayah kandung Mami Mitha," cerita Alfian.
"Apakah yang sering Anda sebut kakeknya Bang Toyib saat kecil ya, Tuan?" tanya Bibi Tiwi.
"Eeee ...!" teriak Abah.
"Ha ha ha ... iya Bibi." Afian tertawa terbahah-bahak.
"Maaf Abah ...." kata Bibi Tiwi lagi.
Abah tersenyum dan mengangguk sambil berjalan mengikuti Alfian ke ruang keluarga. Ada satu foto yang membuat Abah berdiri termenung sambil mendongak melihatnya. Ada fotonya bersama istri dan Mami Mitha saat lulus sekolah dasar.
Senyum istrinya yang mengembang dan masih terlihat muda. Senyuman Mami Mitha yang mengembang sambil menggandeng tangan Abah. Membuat Abah tanpa terasa meneteskan air mata.
Alfian teringat Mami Mitha saat melihat Abah berdiri di bawah foto itu. Mami Mitha sering berdiri seperti Abah mendongak keatas sambil menangis diam-diam. Terkadang Mami Mitha tahan berdiri lebih dari satu jam hanya berbicara dengan foto ke dua orang tuanya.
__ADS_1
Alfian langsung menyentuh pundak Abah dengan lembut, "Kami sangat menyayangi Kakek."
Abah semakin tergugu mendengar ucapan Alfian. Rasa cinta tulus putrinya selama ini selalu di abaikan. Memilih menjauhinya selama bertahun-tahun tetapi putrinya tidak pernah marah dan menuntut apapun.
"Kakek tahu ... saat Mami kesal karena Abang dan Elfa nakal atau sedang marah sama Papi, Mami akan ke sini berdiri di tempat Kakek berdiri saat ini dan mengadu pada foto Kakek." Alfian ikut meneteskan air mata sambil merangkul pundak Abah.
"Maafkan Kakek, Bang. Kakek terlalu egois seumur hidup Kakek." Bertambah tergugu Abah melihat cucunya ikut menjadi korban keegoisannya.
"Mami akan pulang kembali setelah mengadu pada foto Kakek, terkadang Abang marah pada diri sendiri saat melihat Mami menangis tersedu-sedu di sini."
"Bagaimana kabar Mami dan Papi Abang sekarang?"
"Mami dan Papi sehat, Abang berharap setelah bertemu dengan Kakek, Mami tidak akan menangis secara diam-diam lagi."
"Iya Bang ... Kakek berjanji akan mengakhiri penderitaan Mami Abang."
Semakin yakin Abah saat ini ingin bertemu dengan putrinya kini. Akan meminta maaf kembali karena telah meninggakannya selama bertahun-tahun. Semoga putrinya akan tetap memaafkan walaupun sudah berkali-kali menyakitinya.
Alfian hanya sebentar masuk kamarnya sendiri. Dia hanya mengambil laptop dan tas kerjanya. Sudah seharian kemarin dia bekerja hanya menggunakan ponselnya di sela-sela pernikahan sirri. Sekarang harus lebih serius mengerjakan pekerjaan yang sudah di percayakan padanya dari Papi Alfarizi.
"Kakek, mau makan di sini atau langsung berangkat menjemput Rani?"
"Kakek masih kenyang, Bang. Kita jemput Rani saja agar tidak lama Neng Rani menunggu."
"Baiklah, ayo Kakek!"
Sambil berjalan beriringan menuju halaman rumah Alfian iseng bertanya kepada Abah, "Nanti setelah resmi menikah Abang dan Rani tinggal di sini, Kakek mau memilih tinggal bersama Abang atau Mami?"
Abah mengerutkan keningnya berpikir sejenak. Bingung harus menjawab pertanyaan cucu kandungnya. Rumah otomais kosong jika harus tinggal di salah satu tawaran Alfian.
"Apakah Kakek boleh tinggal di rumah Kakek sendiri, Bang?"
"Tidak boleh, Kakek harus memilih rumah Abang atau rumah Mami."
__ADS_1