Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Bentuk Lain


__ADS_3

Freestyle bola dengan menggunakan baju olah raga dan sepatu cat sudah biasa. Saat ini Rania memakai gaun simpel di bawah lutut dan memakai sepatu weedges adalah yang istimewa. Rania adalah pemain basket saat masih sekolah, kemampuannya tidak bisa di remehkan.


Freestyle bola basket adalah salah satu kemampuan lain yang di milikinya. Dulu dia pernah menjuarai kejuaraan itu saat masih duduk di bangku kelas 12. Kini dia tunjukkan di depan orang asing dan di depan suaminya sendiri.


Banyak tepuk tangan dari para wisatawan yang hadir melihat penampilan Rania. Yang awalnya para menyumbang hanya sedikit kini setelah penampilan Rania kotak sumbangan penuh. Permainan dan freestyle yang mumpuni membuat para pengunjung terkagum-kagum.


Alfian yang awalnya hanya melipat tangannya di depan saat melihat Rania mulai memutar bola basket di tangan. Akhirnya dia ikut bertepuk tangan saat bola itu bisa berpindah di dahi, lutut dan punggung masih berputar tanpa terjatuh. Yang membuat para wisatawan tercengang lagi saat Rania memutarkan bola basket itu di siku yang di arahkan ke belakang badan.


Setelah selesai pertunjukan dan para anak muda mengucapkan terina kasih. Alfian mengajak rambut istrinya sambil memeluknya, "Hebat juga istri Abang ya."


"Cuma hobi, Bang. Bukan pekerjaan."


"Apa lagi hobi Rani selain itu?"


"Olahraga terutama taaekwondo."


"Itu hobi saat Rani sekolah, tetapi setelah menikah apa hobi Rani?" tanya Alfian dengan cepat dan mendekatkan pipinya ke pipi Rania.


"Melihat foto kurma jumbo, setor tena ...?" Rania langsung menutup mulutnya.


"Ha ha ha!"


"Iiihhh Abang Tuan, ... jangan ngajarin Rani mesum." Rania menutup wajahnya karena malu.


"Enak aja, Abang tidak mesum pikiran Rani saja yang mesum."


Wajah Rania bersemu merah seperti tomat karena malu. Setelah menikah pikiran dan otaknya menjadi mesum dan teringat terus dengan kurma jumbo. Ini karena setahun terakhir ini dia selalu memandangi foto kurma jumbo dan dua tubuh yang tanpa sehelai benangpun.


"Ayo makan ... Rani lapar!" Rania mengalihkan perhatian agar Alfian tidak menggodanya lagi.


Alfian masih tersenyum devil saat tangan Rania menariknya keluar area tengah alun-alun. Rasa bahagia saat bisa menggoda dan memanfaatkan keluguan istrinya. Sebanarnya otaknya juga lebih mesum dari Rania, tetapi tidak di ungkapkan sudah di wakili istrinya.


Alfian mencari restoran timur tengah untuk menu makan kali ini. Restoran yang menyediakan nasi briani kambing dan kondimen lainnya. Tidak lupa minuman jus kurma madu yang menjadi teman makan nasi briani.


"Makan nasi yang banyak, Sayang!"

__ADS_1


"Makan sampai kenyang aja Bang, nanti takut kekenyangan."


"Biar Rani memiliki tenaga ekstra."


"Tidak aaah, keenakan Abang nanti."


Senja hari Alfian dan Rania sampai di villa. Beristirahat, mandi dan menunaikan kewajiban waktu senja. Karena malam ini harus berpindah ke negara ke dua, malam ini Alfian mengajak Rani membeli oleh-oleh. Mereka membeli prance soap dan parfum Eau de Toilette yang sangat terkenal.


Saat sedang memilih oleh-oleh, kembali Alfian melancarkan modusnya untuk bisa merayu istrinya, "Rani mau membeli oleh-oleh buat siapa, Sayang?"


"Buat Abah, dan sopir karyawan Abah yang ada di Bogor."


"Setelah membeli oleh-oleh berarti kurma jumbo Abang boleh dong menyedot tenaga Rani lagi?"


"Tidak bisa dong, Abang Tuan?"


"Kenapa tidak bisa, Rani sudah menghabiskan uang Abang untuk membeli oleh-oleh?"


"Oleh-olehnya tidak menambah tenaga Rani, kalau Abang sedot tenaga Rani nanti Rani jadi letoy dan lemas."


Alfian tersenyum kecut, kali ini modusnya gagal. Harus mencari aka agar modusnya berhasil. Belum sempat mendapatkan ide ada notifikasi pesan WA dari pilot bahwa satu jam lagi pesawat sudah harus take of.


"Iya tunggu sebentar, Abang Tuan."


Alfian dan kru pesawat sudah berangkat dan take of dari Bandar Udara Internasional Charles de Gualle tepat pukul delapan malam waktu setempat. Seharian ini berkeliling Kota Paris baru terasa sakit kaki saat sudah merebahkan diri di kamar. Baadan rasanya pegal semua apalagi kaki yang selalu berjalan mengikuti Rania yang antusias menikmati indahnya Kota Paris.


"Rani .. pijitin Abang dong, sakit semua badan Abang!"


"Dari kaki atau punggung, Bang?"


"Dari punggung saja."


Alfian mulai tengkurap dengan bertelanjang dada. Rania menggunakan minyak urut mulai mengusap punggung Alfian. Memijat dengan lembut dari punggung atas sampai bawah. Tangan Rania dengan cekatan menghilangkan pegal dari punggung sampai kaki.


Lama-kelamaan Alfian merasa nyaman dan mulai memajamkan mata. Tanpa terasa Alfian bernapas dengan teratur dan mulai tertidur dengan lelap. Rania langsung ikut berbaring di samping suaminya ikut tidur dengan nyenak.

__ADS_1


Saat mata terbuka, Alfian sudah berada di Bandar Udara Internasional Heathrow, London. Rania masih terlelap sambil memeluk suaminya dan berada di dalam selimut yang tebal, "Sayang ... bangun!"


Rania membuka mata dan mengawasi sekekliling kamar kabin pesawat, "Apakah kita sudah sampai rumah, Bang?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kita berada di London Inggris, Sayang bukan pulang."


Spontan Rania bangun dan duduk, termenung mengingat saat berangkat tadi tidak sempat bertanya akan terbang lagi ke mana. Kini sudah ada di negeri Ratu Elisabeth yang sangat terkenal. Seolah mimpi dan kenyataan menjadi satu, seumur hidup dia tidak pernah membayangkan bisa berkunjung ke negara yang sagat terkenal.


Alfian mentowel hidung Rania karena dia bengong dan melamun, "Sayang, mengapa melamun?"


"Eee Rani hampir tidak percaya, Abang Tuan."


"Maksudnya?"


"Rani tidak pernah bermimpi bisa berbulan madu ke Eropa, terima kasih Abang."


Alfian tersenyumdan mengecup kening Rania, "Dulu bayangan Rani kalau pingin berwisata, Rani pingin ke mana?"


"Rani pingin ke Monas dan Bali."


Alfian kaget dengan pengakuan Rania yang polos. Jarak antara Bogor dan monas tidak terlalu jauh. Dia belum bernah mengunjungi ikon ibukota negaranya sendiri.


"Rani belum pernah berkunjung ke Monas?"


"Belum pernah ...."


"Kok bisa, padahal jaraknya tidak jauh dari Bogor?"


"Ranai belum pernah pergi dari desa kecuali Bogor, itu saja kalau tidak minggat dari rumah mungkin tidak pernah menginjakkan kota Bogor."


"Kasihan ... nanti lain waktu Abang ajak ke Monas."


Rania mengangguk dan tersenyum, ingin bangun dan turun ke kamar mandi. Alfian masih dalam posisi telanjang dada seperti semalam. Dia tiduran terlentang sambil memejamkan matanya melamun membayangkan kehidupan sederhana istrinya.


Saat ingin turun dari tempat tidur, tanpa sengaja Rania menyenggol kurma jumbo yang sedang tertidur pulas. Rania mengerutkan keningnya, teringat saat malam pertama ketika berada di rumah Abah. Dia melirik kurma jumbo yang bentuknya tidak seperti biasa setelah kedinginan keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Dengan sengaja Rania mentowel kurma jumbo karena penasaran, "Abang Tuan ... mengapa kurma jumbo bentuknya tidak seperti biasa?"


"Eee ... aduh Sayang!"


__ADS_2