Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
I Love You Rani


__ADS_3

Alfian memeluk Rania dengan erat, mencium bau harum tubuhnya. Sedari awal bertemu hari ini dia sering menggoda Rania sambil bercanda. Sekarang ini saat berdua di dapur rasanya ingin menumpahkan segala kerinduan yang di pendamnya selama satu tahun.


"Tu ... Tuan?"


"Berusahalah mengubah panggilan, jangan panggil Tuan!" perintah Alfian sambil memandangi bibir Rania yang terlihat menggoda.


"I ... iya Rani akan berusa ...!" Belum sempat Rania melanjutkan ucapannya Alfian sudah menempelkan bibirnya.


Awalnya Alfian hanya mengecup bibir Rania sekilas, "Mulai sekarang panggil Abang." Kembali Alfian mengecup bibirnya dengan lembut.


Rania hanya terpaku antara bingung dan salah tingkah. Gugup dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Ini adalah pengalaman pertamanya di kecup seorang laki-laki.


Alfian tersenyum sambil menatap wajah Rania yang bersemu merah seperti tomat sambil masih memeluk pinggangnya, "I love you, Rani."


Rania tidak berani menjawab pernyataan cinta Alfian. Bergegas dia menutup mulutnya takut keceplosan karena di dalam hatinya juga mempunyai perasaan yang sama. Dia hanya sanggup menatap wajah suami halu dengan tatapan penuh damba.


Alfian langsung mengulangi mencium bibir Rania setelahtangannya di genggam. Kali ini dia mulai mel*mat dengan lembut bibirnya, "Hhmm ...!" Rania hanya merasakan dan menkmati sentuhan bibir Alfian tetapi tidak bisa membalasnya.


"Mengapa tidak membalas ciuman Abang?" tanya Alfian setelah melepas tautan bibirnya.


"Rani ti ... tidak tahu caranya," jawabnya jujur.


"Mau Abang ajari?" tanya Alfian lagi dengan cepat.


"E ... iya mau, aduh keceplosan!" Rania langsung menutup mulutnya.


"Ha ha buka dong mulutnya!"


"Sudah ... Eee buat apa?"


"Untuk ini ...." Alfian kembali reka adegan mencium bibirnya dan mel*mat dengan lembut sambil mengabsen seluruh bagian dalam rongga mulut Rania.


"Hhhfff ...! Rania langsung mendorong tubuh Alfian saat dia hampir kehabisan pasokan oksigen.


Rania mengambil napas panjang sambil tertunduk malu. Baru kali ini dia merasakan yang namanya ciuman. Selama ini dia hanya pernah melihat di film atau hanya membayangkan saja saat memandangi wajah tampan suami halu di ponsel.


"Sudah bisa sekarang?"

__ADS_1


Rania menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Rasa malu bercampur canggung membuat Rania semakin saah tingkah, "Mau Abang ajari lagi?"


"Rani ...!"


Rania belum sempat melanjutkan ucapannya. Ada suara angkot berisik yang datang di halaman rumah Abah. Suara angkot yang datang tidak hanya satu atau dua. Suara angkot terdengar banyak dan bahkan seolah bersahutan.


"Abang Tuan ... suara angkot siapa itu?"


Alfian bergelak mendengar Rania sudah bisa memanggil dirinya abang tetapi sayangnya sebutan tuan juga tidak bisa hilang. Membuat Alfian gagal fokus dan tidak bisa mendengar ada berapa angkot yang datang, "Ayo temani Abang melihat siapa yang datang!" Alfian menggandeng Rania menuju pintu utama rumah Abah.


Berjalan dengan langkah panjang sambil bergandengan tangan, sampai pintu Alfian langsung membuka pintu dengan cepat, "Assalamualaikum ...!" teriak rombongan sopir sudah berdiri berjajar di depan pintu.


"Walaikum salam," jawab Alfian dan Rania bersamaan.


Ada sekitar 40 orang laki-laki yang berdiri berjajar di halaman rumah Abah. Mereka adalah teman Abah dan Rania saat mencari nafkah. Abah datang sambil berlari bersama Babe mendekati rombongan, "Ngapain kalian semua ke sini?" tanya Abah heran.


"Kami ingin berkenalan dan bertemu dengan cucu menantu Abah."


"Aku ingin bertemu langsung dengan suami Neng Rani."


"Gue tidak percaya sebelum melihat sendiri suami Neng Rani."


Jawaban dari sopir satu persatu saling bersahutan. Abah jadi bingung dan tidak menjawab perkataan teman-temannya. Sampai Abah menunggu mereka selesai mengeluarkan unek-unek yang ada di hati mereka.


"Dari mana kalian tahu jika suami Neng Rani datang hari ini?"


"Dari Karjo dan temannya." Salah satu Sopir menjawab dari barisan belakang.


Alfian tertenyum dan menggelengkan kepalanya. Masih menggandeng tangan Rania, Alfian mendekati prombongan sopir, "Maaf Bapak semua, perkenalkan nama saya Alfian suami Rania!" teriaknya lantang.


Kembali para rombongan sopir berkomentar dengan suara lantang dan bersahutan. Ada yang bilang ganteng. tajir, anak sultan, minta di traktir sampai mengajak pesta malam ini. Abah dengan cepat menyela suara berisik mereka dengan mengangkat ke dua tangannya, "Baiklah sebagai tanda berkenalan kita makan-makan di sini, Babe dan dua orang lainnya silahkan panggil rombong bakso dan sate yang ada di ujung gang!"


"Abah ... es campurnya juga dong!" teriak salah Satu Sopir yang ada di bagian belakang.


"Silahkan panggil saja!" Alfian langsung menjawab teriakan sopir itu.


"Ok Bro ... Tukang es campur gue panggil ke sini ya!" teriaknya lagi dan di acungi jempol oleh Alfian.

__ADS_1


Abah menghubungi temannya Pak RT kembali seperti tadi pagi. Tidak ingin di salahkan masyarakat membuat pesta tanpa izin. Agar tidak terjadi salah faham, Abah juga mengundang tetangga sekitar untuk datang bergabung dengan rombongan sopir.


Satu persatu rombong makanan datang di halaman rumah Abah. Berjajar di halaman bagian samping melayani pesanan mereka satu persatu. Sambil bercanda dan berbincang menikmati hidangan yang sudah selesai di buat.


Abah mengambil tikar dan terpal di gelar di halaman rumah. Seluruh rombongan sopir dan tetangga duduk lesehan. Menikmati indahnya malam yang bertabur bintang dan pancaran sinar rembulan.


Rania tetap di samping Alfian karena tangannya selalu di genggamnya. Dia hanya menjawab pertanyaan para sopir yang usil melihat Alfian tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Semakin malam banyak para sopir yang usil menggoda Rania walau ada Alfian di sampingnya.


"Rani sebaiknya istirahat masuk kamar saja ya, nanti Abang nyusul kalau mereka sudah pulang," bisik Alfian di telinganya.


"Iya Abang Tuan, kaki Rani juga sudah pegal dari tadi berdiri terus."


Alfian membayar tiga rombong makanan dan minuman yang tandas dan habis di serbu oleh rombongan sopir dan tetangga. Hampir sampai tengah malam mereka bercengkerama dan bercanda sambil menikmati hidangan yang di pesan. Semua merasa puas dan kenyang bahkan banyak yang memesan hidangan dobel tanpa sungkan.


Mereka membubarkan diri setelah waktu tepat tengah malam. Mengucapkan selamat dan terima kasih sebelum berpamitan. Merasa puas setelah bertemu langsung dengan Alfian apalagi di traktir makan dengan puas.


Alfian masuk kamar setelah Abah juga beristirahat di kamarnya. Rania masih duduk meluruskan kakinya di tempat tidur, "Mengapa belum tidur?"


"Belum mengantuk."


"Sudah malam tidurlah!"


Alfian berbaring di samping Rania setelah dia juga berbaring, "Abang hanya akan memeluk Rani saja jangan khawatir. Abang akan berusaha mengabulkan syarat Rani kemarin."


"Terima kasih Abang Tuan, dari tadi Rani sudah khawatir dan takut."


"Selamat malam istri Abang yang cantik." Alfian mengecup kening Rania dan memeluknya.


Hampir setengah jam Rania tidak bisa memejamkan matanya. Alfian juga tidak bisa tidur karena Rania berkali-kali mengubah posisi tidur, "Kenapa tidak bisa tidur?" tanya Alfian cepat.


"Rani tidak bisa tidur sebelum melihat foto itu," jawab Rania jujur.


"Melihat kurma jumbo dulu?"


"Iya ... eee maaf keceplosan."


Sambil tertawa Alfian bertanya, "Bagaimana kalau melihat langsung saja?"

__ADS_1


"Eeee ...!"


__ADS_2