Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Bukan Ayah Asep


__ADS_3

"Eeee siapa laki-laki itu ayo katakan, jangan Buat Papi cemburu ya!"


"Dia ... dia adalah Alfian ha haha!"


"Mengapa cinta sama putranya sendiri, tidak boleh cinta Mami hanya untuk Papi seorang!"


Neng mengerucutkan bibirnya kesal, "Aneh mana ada cemburu pada putranya sendiri, memang dari sejak Al lahir, Mami hanya bisa mencintai Alfian."


"Maksud Papi cinta yang tumbuh untuk lawan jenis, bukan untuk anak."


"Kata Papi tadi yang penting laki-laki, Alfian juga laki-aki kan?"


"Aaaa sudah sudah yang penting Mami jangan mencintai Alfian seperti Mami mencintai Papi, nanti Papi hukum bergoyang bersama senjata onta arab sampai pagi."


"Hukuman macam apa itu, aneh?"


"Aneh tapi Mami suka, kan?'


"Tau aaah!"


"Kalau begitu ayo kita langsung praktek, bergoyang sampai pagi!"


Alfarizi langsung meraih bibir Neng yang ranum, menciumnya dengan penuh gairah, mengapsen seluruh yang ada di dalamnya satu persatu. Semakin malam mereka semakin menikmati indahnya berberdua, bercinta dan saling meluapkan rasa yang selalu menggebu di dada. Malam ini menghabiskan waktunya hanya untuk bercinta dan bercinta sampai menjelang pagi.


Pagi ini Alfarizi selesai mengantar Alfian berangkat ke sekolah langsung mengadakan meeting bersama Surya dan Junaidi. Alfarizi masih penasaran dengan laki-laki lusuh yang kemarin ingin bertemu Neng dan Ibu Ani Safitri. Sengaja memanggil Junaidi yang berada di perusahaan yang ada di Jakarta untuk datang.


Sebelum meeting Surya sudah membawa dan mempersiapkan rekaman CCTV kejadian kemarin sore di parkiran. Junaidi datang pukul sembilan pagi langsung bertemu dengan Alfarizi dan Surya yang sudah menunggunya dari tadi, "Maaf Tuan, saya terlambat."


"Tidak apa-apa, duduklah kita mulai saja, Surya coba kamu putar vedio CCTV kejadian kemarin sore!"

__ADS_1


"Siap Tuan."


Surya langsung membuka laptopnya, membuka rekaman CCTV dari seberang jalan mall. Laki-laki lusuh itu berada di seberang jalan, menengok ke kanan dan ke kiri kemudian menyeberang sambil melambaikan tangannya. Masuk mall ada deretan food cort berbagai macam makanan yang berjajar rapi. Paling ujung ada seorang ibu sedang mengambil nasi bungkus yang dibelinya di gerogak food cort yang menjual nasi padang.


Laki-laki lusuh itu langsung merampasnya sambil berlari menuju pintu samping yang tembus parkiran. Karena kaget ibu yang sedang mengambil dan membayar nasi bungkus itu langsung berteriak, "Copeeet ... copeeet!" Ada dua security spontan mengejar laki-laki lusuh itu sampai di parkiran.


Setelah mereka selesai melihat laki-laki lusuh itu berlari meninggalkan Alfarizi dan menghilang menjauhi parkiran. Surya ingin mematikan vedio itu, "Tunggu Surya, coba kamu zoom wajah laki-laki itu!"


"Baik Tuan."


Surya memfokuskan untuk memperbesar wajah laki-laki lusuh itu, "Jun, apakah kamu mengenal wajah itu?" tanya Alfarizi.


"Tidak Tuan, umurnya tidak jauh dengan Anda sepertinya, siapa dia?" jawab Juanidi sambil matanya fokus di laptop melihat foto laki-laki itu.


"Aku juga tidak mengenalnya, yang aku heran mengapa dia mengenal istriku dan Ibu Ani."


Alfarizi mengingat Neng saat tadi malam takut jika laki-laki lusuh itu adalah ayahnya, "Tapi itu bukan Ayah Asep kan, Jun?"


"Bukan Tuan, Ayah Asep orangya agak gemuk dan pendek, laki-laki itu tinggi dan masih muda."


"Siapa ya dia?" Alfarizi kembali bertanya-tanya, yang dia takutkan ada serangga yang akan mengganggu istrinya seperti Rangga Siregar.


Surya mengingat saat tuannya melakukan konfrensi pers dan di dampingi oleh Ibu Ani dan Umi Anna. Bisa jadi berhubungan dengan salah satu di antaranya. Jika berhubungan dengan Umi Anna pasti Alfaizi mengenalnya, berarti kemungkinan besar laki-laki lusuh itu berhubungan dengan Ibu Ani.


"Tuan, apakah Anda mengenal keluarga Ibu Ani, siapa tahu dia keluarga dari IbuAni?"


Alfarizi hanya mengenal keluarga Ibu Ani yang ada di Ngawi, yang sekarang ini masih ada di perjalanan. Keluarga yang di kota dia tidak mengenalnya, "Aku hanya mengenal keluarga yang ada di desa saja, yang lain tidak mengenalnya, sebaknya begini saja, nanti saat acara resepsi pernikahan kemungkinan dia akan datang lagi, itu tugasnya Junaidi untuk bertanya apa hubungannya dia dengan istriku dan Ibu Ani!"


"Siap Tuan, kalau perlu aku akan mempersiapkan baju untuknya agar dia bisa ikut menikmati hidangan yang di sediakan saat resepsi, kasihan dia seperti tidak pernah makan kenyang."

__ADS_1


"Waah ide bagus itu." jawab Surya sambil mengajungkan jempolnya.


Setelah istirahat siang Surya dan Desi di teman Ibu Ani bertugas menjemput keluarga keluarga dari Ngawi dengan menggunakan dua mobil. Sayangnya Ibu Ani ikut mobil Desi sehingga dia tidak sempat menanyakan tentang laki-laki lusuh yang kemarin menemui tuannya. Sampai di stasiun para tamu dari Ngawi itu sudah menunggu jemputan sambil duduk dan menikmati bekal makan yang di bawa dari desa.


Surya dan Desi sangat kaget setelah melihat rombongan dari desa itu, mereka mendapatkan kabar jika rombongan dari desa hanya tujuh orang tetapi ternyata rombongan itu ada dua belas orang. Dengan terpaksa Surya menyewa satu mobil online tambahan untuk mengantar mereka sampai rumah.


Tiba di rumah keluarga menjadi riuh rendah dan sangat ramai, di samping karena mereka baru pertama kali pergi ke kota mereka juga merasa heran dengan rumah Neng yang seperti istana. Yang lebih parahnya lagi neneknya Kang Sarto yang sering di panggil oleh Alfian Mbah Buyut ikut juga. Mbah Buyut tidak bisa berbahasa Indonesia, Beliau hanya mengerti sedikit saja bahasa Indonesia, sudah memiliki pandangan matanya sudah tidak jelas lagi.


Mbah Buyut terlihat lucu saat bertemu dengan Umi Anna, keduanya sering tidak nyambung saat berbincang karena Umi Anna tidak bisa bahasa Jawa, terkadang Neng atau Alfian yang menjadi translete di antara keduanya. Karena kesal Alfian yang sering di tanya oleh omanya Alfian berpesan, "Oma jika nanti Mbak Buyut mengajak berbincang jawab Injih saja!"


"Baiklah Al, nanti Oma jawab injih."


Pagi hari ini Mbah Buyut kebingungan tidak bisa menggunakan closet duduk yang berada di kamar mandi, dengan membawa peralatan mandi dan diterjen yang di bawa dari desa. Keluar lagi ke dapur menemui bibi yang sedang masak juga tidak bisa di ajak berbincang karena bibi bersuku Sunda. Mbah Buyut melihat ada kolam renang samar-sabar dan melihat Umi Anna yang sedang berolah raga di samping gazebo.


"Umi Anna kaline apik tenan, banyune rupane biru." (Umi Anna sungainya bagus betul, airnya berwarna biru)"


"INjih Mbah." jawab Umi Anna.


"Mbah tak adus karo ngumbahi klambi yang kali wae yo?" (Mbah boleh mandi dan cuci baju di sungai saja ya?)


"Injih MBah."


Umi Anna menjawab sambil tetap berolahraga tanpa memperhatikan Mbah Buyut. Mbah Buyut Duduk di samping kolam renang, melilitkan kain jarik di badannya mandi dan mencuci baju di kolam renang. Setelah Umi Anna melihatnya, dia kebingungan harus berkata apa, "Waduh bagaimana ini?"



jangan lupa mampir ya


ini promo novel teman yg bagus soalnya

__ADS_1


__ADS_2