Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Rania Kirana


__ADS_3


Rania Kirana


Malam itu setelah keluar dari villa, seorang gadis berjalan mengendap-endap menghindari lima bodyguard yang masih berputar-putar mencari dirinya di sekitar villa Alfian. Tanpa sadar dia berjalan sampai depan pintu pemakaman. Ada cahaya lampu ponsel dari dalam makam yang berjalan mendekatinya.


Membuat gadis itu bermonolog sendiri, "Itu hantu, setan atau orang yang jalan ke sini?"


Cahaya lampu ponsel itu samakin mendekatinya perlahan. Mata gadis itu sampai melotot melihat sosok yang tidak terlihat dari kejauhan. Antara takut dan nekat, dia tidak beranjak dari tempatnya bersembunyi di balik tiang pintu makam.


Setelah yakin itu adalah manusia bukan setan ataupun hantu. Kembali gadis itu memperhatikan sosok laki-laki tua yang berjalan menuju kearahnya. Gadis itu memberanikan diri untuk menyapanya dengan suara pelan, "Abah ... Abah ...!"


Laki-laki tua itu kaget dan menyorot lampu ponsel yang di pegangnya kearah gadis yang bersembunyi di balik tiang pintu makam.


"Ee Neng Geulis ngapain kamu di situ?"


"Sstt ... aku lagi sembunyi dari lima bodyguard yang ada di sebelah sana."


Laki-laki tua itu menyapu area yang gelap, dia hanya melihat samar-samar ada beberapa orang berjalan mondar-mandir. Mereka tampak kebingungan mencari seseorang di sekitar area jalan raya. Hanya saja tidak terlihat jelas wajah atau jumlah mereka.


"Siapa mereka, Neng?"


"Mereka suruhan bandot tua yang akan di nikahan sirih denganku."


"Maksud kamu?"


"Ibuku akan menikahkan sirih aku dengan mahar 4 M."


Laki-laki tua mengerutkan keningnya, ada rasa sesak seketika. Kenangan masa lalu seolah terulang kembali saat melihat gadis belia itu. Hatinya terasa sakit, seolah dia yang melakukan transaksi dengan dengan bandot tua yang di sebutkan gadis itu.


"Ayo Neng, ikut Abah saja!"


"Abah tinggal di mana?"


"Di Bogor, Abah bawa angkot di sebelah sana."


"Bah ... matikan lampu senternya, biar aku tidak di lihat oleh mereka!"


"Baiklah ...."

__ADS_1


Mereka berjalan sambil menunduk dan mengendap-endap. Langkah kaki juga pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara dan tidak menjadi perhatian. Sesekali melirik mereka berjalan mendekati angkot yang tidak jauh dari pintu utama makam.


Sebelum laki-laki yang di panggil abah itu masuk dan naik di kemudi angkot gadis itu sudah naik duluan. Dia tidak langsung duduk di jok angkot tetapi memilih merebahkan tubuhnya di bawah jok. Tidak ingin ketahuan atau terlihat oleh beberapa bodyguard yang celingak-celinguk masih mencarinya.


Angkot di jalankan dengan kecepatan sedang agar tidak di curigai oleh bodyguard yang berdiri melihat angkot itu lewat. Pura-pura tidak terjadi apa-apa, dia malah membunyikan klakson untuk menyapa mereka.Sambil melirik gadis yang merebahkan tubuhnya di bawah jok mobil bagian depan samping kemudi.


Setelah sampai angkot berjalan sekitar dua kilometer abah kembali melirik gadis itu, "Neng .. bangunlah!"


"Apakah mereka sudah tidak terlihat lagi, Abah?"


"Ya mereka sudah tidak terlihat lagi, bangunlah!"


"Terima kasih, Abah."


"Nama kamu siapa, Neng?"


"Rania Kirana."


"Abah mengapa tengah malam ke makam, jangan-jangan Abah mencari pesugihan ya?"


"Ha ha ha Neng bisa aja, Abah mengunjungi makam istri. Abah memang ke sini malam hari karena narik angkot kalau siang hari."


Abah melajukan angkotnya menuju Bogor, matanya tetap saja terjaga dan tidak mengantuk walaupun malam semakin larut. Gadis itu terlihat memejamkan matanya dan bernapas dengan teratur. Tertidur pulas sambil menyandarkan badannya di jok angkot dengan tenang.


Abah kembali laki teringat masa lalu, saat melihat gadis itu dia seperti melihat masa lalunya sendiri. Rasa bersalah selalu saja menyesakkan dada padahal kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Bahkan sampai sekarang lebih memilih hidup sendiri dari pada memperbaiki kesalahan masa lalu.


Hampir menjelang papi angkot Abah sampai di rumah kecilnya. Di halaman rumah Abah ada empat angkot lagi yang terparkir rapi. Mematikan mesin angkot berniat membangunkan gadis yang tertidur pulas di sampingnya.


"Neng Rania ... Neng ... Rani!" panggil Abah perlahan.


Mata Rania mengerjap setelah mendengar panggilan dari seorang laki-laki tua yang telah menolongnya lolos dari kejaran bodyguard, "Kita sudah sampai, Bah?"


"Iya sudah ayo turun!"


Rania Kirana matanya menyapu area rumah milik Abah, "Ini rumah dan angkot Abah semua?"


"Iya masuklah. apakah kamu mempunyai identitas diri?"


"Ini Abah, Rania punya identitas KTP, ponsel dan uang lima puluh ribu." Jujur Rania sambil mengeluarkan dompet dan ponsel yang berada di kantong celana.

__ADS_1


"Besok di foto kopy, untuk laporan RT dan RW setempat. Mulai sekarang Rania adalah cucu Abah!"


"Terima kasih, Abah. Tetapi aku hanya memiliki uang lima puluh ribu saja."


"Jangan pikirkan uang, ayo masuk dulu. Ada kamar kosong yang di bagian depan, kamu istirahat dulu sana besok pagi kita bicarakan lagi!"


"Iya Abah, terima kasih."


Rania sejak saat itu tinggal dan ikut bersama Abah. Daftar ke lingkunagan RT setempat dengan menyebut sebagai cucunya. Mendapatkan perlakuan seperti layaknya keluarga sendiri dari tetangga ataupun teman sopir Abah.


Saat pagi hari Rania bangun tidur langsung ke dapur. Membuatkan sarapan Abah dengan seadanya isi dapur Abah. Membuat nasi goreng yang di campur petai.


Abah pulang dari beribadah sampai rumah tersedia nasi goreng petai yang menggugah selera. Baru masuk rumah aroma nasi goreng membuat Abah tersenyum dan bergegas ke dapur, "Neng Rania, baunya harum sekali, kamu masak apa?"


"Abah, ayo duduklah! ... Rani bikin nasi goreng petai. apakah Abah suka?"


"Petai ini kesukaan Abah, di masak apapun pasti Abah suka."


Abah makan nasi goreng petai dengan lahap. Tanpa terasa matanya meleleh membasahi pipi. Ingatannya langung ke masa lalu yang selalu ingin di lupakannya.


Rania langsung duduk di sebelah Abah saat melihat Abah meneteskan air mata sambil menyuapkan nasi goreng ke mulut, "Apakah masakan Rania tidak enak, Abah?"


Abah menggelengkan kepalanya sambil menyuapkan satu sendok nasi ke mulut, "Enak banget masakan Neng Rani. Abah jadi teringat dengan putri Abah."


Rania hanya mengerutkan keningnya, melihat rumah yang tidak tanda-tanda ada penghuni perempuan di rumah. Menduga Abah tinggal sendiri tanpa ada yang menemani. Di mana putri sekarang ini, mengapa sekarang ini putrinya tidak tinggal bersama gumam Rania dalam hati.


"Apakah boleh Rania tahu di mana putri Abah sekarang?"


Abah mengerutkan keningnya sambil mengusap air matanya, "Maaf Rania, Abah belum bisa bercerita tentang putri Abah sekarang, mungkin suatu saat nanti."


Rania hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Abah. Dia hanya mengangguk dan matanya menatap kearah wajah Abah yang terlihat sedih dan bingung. Ada misteri yang mencoba di sembunyikan di balik keceriaan Abah saat ini.


Rania tidak ingin memaksa Abah untuk mengatakan sekarang. Dia hanya berharap suatu saat nanti bisa meringankan beban yang ada di pundak, "Tidak apa Abah, jangan khawtir sekarang ada Rania yang akan menenami Abah!"


"Terima kasih!"


BERSAMBUNG


Menunggu AST? Up besok yok mampir di novel teman yg rekomen di NT

__ADS_1



__ADS_2