
Dokter Atha termenung di ruang apartemennya sendiri. Setelah acara resepsi Julio berakhir, dia selalu teringat ucapan Alfian. Cinta sejati, masa depan yang berbeda dengan nasib orang tua, selalu terngiang di telinga.
Sudah hampir satu bulan setelah pertemuan Zain dengan May teman yang berasal dari Kalimantan. Sekarang ini Zain semakin menjauh darinya. Tidak pernah lagi merayu, membawakan makan atau memperhatikan seperti dulu.
Hatinya ternyata seolah ada yang aneh dan ada yang hilang. Walau pikirannya bersyukur tidak didekati dan tidak di rayu lagi. Hatinya mulai merasa kehilangan, hatinya mulai merasa ada yang aneh tidak bisa seperti dulu.
Dokter Atha hanya menebak dan menduga jika Zain kini menjalin hubungan denga May teman kuliahnya. Yang beredar di lingkungan rumah sakit kabarnya seperti itu. Zain tidak membantah juga tidak mengakui hubungan itu.
Berkali-kali Dokter Atha meyakinkan pikiran untuk tidak berharap Zain datang dalam kehidupannya lagi. Sayangnya hati tetap berharap dia mengetuk pintu dan datang seperti biasa membawakan sesuatu. Masih berharap dia hadir di apartemen atau di kantor seperti dulu lagi.
Lamunan Dokter Atha berhenti saat ada suara dering ponsel yang masih ada di saku celana. Baru saja Alfian menghubungi dari bandara Sukarno Hatta. Malam ini Rania meminta izin bersama empat sahabat ikut mengantar Julio dan Bintang saat mereka berangkat bulan madu ke Singapura.
Di depan bandara Rania meringis kesakitan menahan perutnya yang melilit sakit. Walau mulut Rania tanpa kata, dia terus meringis menahan sakit. Sesekali sakit dan sesekali menghilang. Rania serbenarnya santai dan tidak mengeluh.
Hanya saja Alfian yang panik dan seperti sedang kebakaran jenggot. Keringat dingin mengucur deras di badan Rania. Membuat Alfian semakin panik tidak karuan.
Untungnya Zain dan Eki Darsono ikut mersama mereka. Sehingga ada yang menghibur saat Alfian bingung harus berbuat apa. Zain kali ini kalem dan tenang, mengetahui sebentar lagi Rania akan melahirkan. Dari tadi dia menghitung waktu setiap Rania merasakan sakit sambil memejamkan mata.
Kembali Alfian menghubungi Dokter Atha karena panik saat melihat Rania meringis mengusap perutnya dan beristigfar, "Kakak cepat ke rumah sakit ... Rani sudah kesakitan!" teriaknya karena panik.
"Abang ....ssst diam mulutnya!" Rania mendesis menahan sakit sekaligus kesal dengan tingkah suaminya.
Yang seharusnya panik dan bingung itu istri yang akan melahirkan. Kini sebaliknya setiap Rania merasa kesakitan Alfian tidak tega dan bingung. Mengusap perut, mengusap pipi, sampai menarik napas panjang seperti yang Rania lakukan.
"Sakitkah, Sayang. Sabar ya ... jangan buat Abang panik. Apa yang harus Abang lakukan agar Rani tidak kesakitan?"
"Cukup Abang diam dan elus si Kasep saja. Jangan panik Bang!"
"Iya ... iya Abang tarik napas panjang uf!"
Eki Darsono yang dari tadi geram belihat tingkah Alfian yang seperti cacing kepanasan menggeplak kepalanya, "Dodol lu, yang harus menaris napas panjang itu Teh Rani, bukan elu!"
"Gue panik dan tidak tega, Bro. Ayo Sayang tarik napas panjang!"
__ADS_1
Padahal Rania sedang terdiam karena rasa sakitnya kini belum muncul lagi. Alfian meminta untuk menarik napas panjang. Sekarang gantian Zain yang berkomentar karena melihat tingkah Alfian.
Zain berteriak dari setir kemudi, Adik ipar, seharusnya elu yang mengambil napas panjang agar otak elu bisa berpikir dengan lancar!"
"Diam Zain, elu konsentrasi nyetir saja!"
Rania hanya tersenyum sambil mengusap pipi Alfian. Jadi terlihat ibu hamil yang menenangkan suaminya agar tidak panik. Padahal umumnya suami yang menenangkan istrinya yang akan melahirkan.
Perjalanan baru dapat setengahnya antara bandara dan rumah sakit. Jarak kontraksi yang Rania rasakan sudah mulai dekat. kurang dari sepuluh menit sekali kontraksi itu muncul.
"Al ... Teh Rani biarkan berbaring di pangkuan elu, Eki pindah jok belakang untuk menjaga Teh Rani!" perintah Zain dengan tenang.
"Apakah akan melahirkan sekarang Zain?"
"Belum Al, tenang saja, kontraksi masih jarang kemungkinan belum ada lima pembukaannya."
Rania berbaring di pangkuan Alfian. Alfian terus mengelus perut istrinya mencoba tenang dan memberikan dukungan sepenuhnya kepada Rania. Sesekali ikut mengambil napas saat perut Rania terasa di putar ketika kontraksi.
"Nak tunggu sampai di rumah sakit ya, jangan keluar di mobil, nanti Mami dan Papi bingung!" Alfian mengajak bayi yang ada di dalam perut Rania berbincang.
Interaksi itu terus berlangsung sampai mobil berhenti sempurna di depan UGD rumah sakit Aljuzeka. Seluruh dokter dan mara medis sudah siap siaga menerima kedatangan istri owners rumah sakit. Mulai dari kamar dan tempat bersalin sudah dipersiapkan dengan matang.
Seluruh keluarga juga sudah berkumpul lengkap. Bahkan Ibu Titin Suhartin walaupun duduk di kursi roda. Karena mereka memang belum ada yang pulang ke rumah masing-masing setelah acara resepsi Julio.
Di depan UGD Rania nekat turun sendiri. Tidak mau menggunakan kursi roda, digendong oleh Alfian. Juga tidak mau di papah oleh Dokter Atha dan Mami Mitha.
"Jangan bantu Rani, Rani masih sanggup sendiri. Rani tidak mau di operasi, biarkan semua berjalan lancar." Rania tetap berjalan sendiri tanpa bantuan siapapun hanya minta di gandeng oleh Alfian.
Alfian hanya menautkan tangannya dengan sempurna diikuti tenaga medis di belakangnya. Tidak ada yang berani membantah ucapan Rania. Mereka memilih menjaga dan mengikuti Rania berjalan ke kamar bersalin sekaligus kantor Alfian.
Kurang dari dua meter sudah sampai di pintu yang sudah di buka lebar oleh perawat yang menunggu. Rania berhenti melangkah setelah ada air yang mengalir tanpa terasa mengalir diantara dua kaki, "Abang ... mengapa Rani Ngompol?"
"Kak Atha ...!" teriak Alfian sambil jongkok melihat ada air yang mengalir di sela kaki Rania.
__ADS_1
"Ketuban sudah pecah, Dik. Sebentar lagi si Kasep akan hadir diantara kita. Ayo persiapkan semua!"
Para medis bergerak dengan cepat melakukan tugas masing-masing. Ada brankar tempat tidur yang mendekati Rania, tetapi Rania tetap menolaknya, "Rani mau jalan saja sampai Kamar."
"Tapi Sayang, bagaimana jika nanti si Kasep keluar saat Maminya berjalan, Kan tidak lucu?"
Rania tergelak mendengar ucapan Alfuian. Dia justru membayangkan jika bayinya keluar belum sampai di ruang bersalin, "Iya sudah Abang saja yang gendong."
"Baiklah istri Abang yang cantik dan kuat, Abang juga pasti kuat menggendong Rani."
Alfian langsung menggendong bridal Rania. Baru berjalan beberapa langkah Rania teriak dengan kencang, "Abang .... aduh!"
"Kenapa Sayang jangan bikin Abang panik?"
"Abang ... Kakak Atha .. Rani pingin buang air besar, bagaimana ini?"
*****
Masih ada yang belum mengirim alamat untuk give away
tolong segera DM ig miftaannabalikpapan trims
BERSAMBUNG
ayo mampir Shobat sambil menunggu AST up lagi, ini rekomen banget lo
Cintai Aku, Istriku!
Author Mom Al
Tidak pernah di cintai oleh istrinya sendiri, membuatnya selalu berusaha untuk mencari perhatian agar sang istri bisa jatuh cinta kepadanya-- Fareza Syarief (32tahun).
__ADS_1
Airin Kusuma (26tahun) langsung menjadi janda ketika beberapa jam baru saja sah menjadi istri seorang pengusaha Furniture, pernikahan yang singkat membuat Airin di cap sebagai wanita pembawa sial oleh orang lain.
Bagaimana kisah asmara mereka selanjutnya? Dan bagaimana kehidupan Airin ketika ditinggal oleh sang suami?