
Spontan Alfarizi berjongkok memeriksa akan membuka baju hamil Neng, "Papi jangan dibuka di sini juga dong!"
"Nak Mitha, ini ketubannya sudah pecah apakah tidak merasa kontraksi atau merasakan tanda-tanda akan melahirkan?" tanya Umi Anna ikut jongkok di samping Alfarizi.
"Yang merasakan mulas dan melilit Nak Al, Umi," jawab Ibu Ani dengan cepat.
"Apa maksudnya Bu ... Papi merasakan apa?" tanya Neng sambil meringis.
"Mulai dari tadi pagi Nak Al merasa nyeri di pinggang, katanya sering muncul dan terkadang menghilang, dia tidak bercerita sama Neng Mitha agar tidak khawatir." Ibu Ani kembali bercerita.
"Waaah syukurlah, biar saja dia yang merasakan sakitnya. ayo cepat kita ke rumah sakit!" perintah Umi Anna sambil memukul pundak Akfarizi.
Alfarizi hanya nyengir kuda, rasa syukur dan lega di hati saat mendengar jika dia yang yang merasakan sakit sebelum melahirkan. Dalam hatinya paling tidak bisa sedikit membayar rasa bersalahnya saat Alfian lahir. Bisa mengurangi rasa sakit yang akan dirasakan istrinya dalam sehari ini.
"Apakah ini waktunya melahirkan Umi?" tana Alfarizi mulai panik.
"Iya ayo cepatlah!"
Ibu Ani berlari mengambil tas yang berisi baju bayi dan maminya yang sudah dipersiapkan dua minggu lalu. Alfarizi berteriak memanggil Doni yang ada di dapur sedang menikmati kopi, "Bang Doni ... cepat siapkan mobil!" teriak Alfarizi.
"Ya siap."
"Papi ... ssttt aaaah, sakit sekali."
"Honey ... mana yang sakit, pindahkan ke Papi saja sakitnya, cantik putri Papi jangan menyusahkan Mami ya." Alfarizi mengusap perut Neng dengan lembut.
"Mana mungkin sakit di pindah, Papi ...."
Ibu Ani datang membawa koper, Umi Anna datang setelah memanggil Alfian. Doni langsung mempersipkan mobil dan membuka pintunya. Alfarizi langsung menggendong bridal istrinya masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan Neng hanya merintih dan mengeluarkan air matanya. Alfarizi yang sedang memangku kepala istrinya selalu mengusap perutnya dan menciumi wajahnya dengan sangat khawatir.
"Aaaah Papi sakit sekali ... aduuuh."
"Bang Doni cepatlah jangan kayak keong jalannya, sudah kesakitan ini!" teriak Alfarizi dengan keras.
"Nak Mitha sabar ya ... ambil napas panjang," kata Umi Anna yang juga ikut khawatir.
Neng menarik napas panjang menahan rasa sakit dengan mencengram tangan Alfarizi sampai kukunya menancap di sana. Alfarizi hanya menahan dengan sekuat tenaganya padahal nyeri di pinggangnya juga semakin terasa. Air mata sampai menggenang menahan rasa sakit di tangan dan di pinggang bersamaan.
"Umi ... Ibu ... aaaah rasanya mau buang air besar!" teriak Neng sambil menahan perutnya.
__ADS_1
"Eeee tunggu Neng, jangan brojol di mobil!" perintah Ibu Ani juga ikut gugup.
"Aah sudah tidak terasa sakit lagi, Mami mau minum Papi cepetan!" Kembali Neng berteriak.
"Mami ini minumnya, yang sabar ya Mi, Al sayang Mami." Alfian memberikan botol minum miliknya.
"Terima kasih, Nak. Doakan Mami dan Adik Cantik lahir lancar ya."
"Ya Mami, semoga Adik Cantik dan Mami sehat selalu."
"Aamiin."
Mobil langsung berbelok ke UGD dengan cepat setelah sampai di rumah sakit. Dokter Harry sudah menunggu adik angkatnya di depan UGD. Alfarizi langsung kembali menggendong bridal istrinya sampai brankar yang di dorong oleh Dokter Harry dan petugas yang lain.
"Papi ... aaah sakit lagi," kata Neng sambil mencengkeram tangan suaminya dengan erat.
"Sabar Honey, Papi di sini, Abang Ipar cepatlah!" Suara Alfarizi semakin meninggi karena kekhawatiran istrinya yang terus saja merasa kesakitan.
Di UGD Neng hanya di periksa lima menit saja karena setelah di periksa oleh dokter sudah pembukaan lima. Kembali di dorong ke ruang bersalin diikuti oleh seluruh keluarga. Yang masuk ruang bersalin hanya diikuti oleh Umi Anna dan Alfarizi.
"Ini suamiya yakin mau menemani istri yang akan melahirkan?" tanya Dokter Maria saat akan memeriksa Neng.
Dokter Maria memeriksa Neng dengan teliti di bantu suster, dan bidan. Perkembangan dari mulas dan tanda-tanda akan melahirkan terbilang cepat. Bayinya sangat mudah mencari jalan keluar sehingga Neng tidak terlalu lama mengalami kontraksi.
"Ini sudah pembukaan enam, bayinya sangat pintar sudah mulai siap mencari jalan keluar sendiri, mungkin sekitar satu jam lahi pasti adik cantiknya akan keluar."
"Satu jam lagi Dok, lama banget?" tanya Alfarizi.
Dokter Maria hanya terkekeh mendengar protes dari Alfarizi yang bingung dan sangat khawatir melihat istrinya terus saja merintih kesakitan, "Sabar ya, jalannya masih belum lebar. nanti jika sudah pembukaan sempurna pasti bayinya akan memberi tanda."
"Tapi Dok, istriku sudah sangat kesakitan, bagaimana ini?"
Umi Anna yang mendengar putranya terus bertanya memukul pundaknya perlahan karena kesal, "Jangan protes terus, malah bikin tambah panik istrimu!"
Alfarizi mengangguk sambil mengelus perut istrinya. Wajah istrinya yang pucat dan selalu meringis kesakitan seolah membuat hatinya teriris-iris. Rasanya ingin memindahkan sakit itu pada dirinya padahal tangannya sudah banyak luka karena ulah Neng yang selalu mencengkeram dan menanjapkan kukunya di sana saat rasa sakit itu muncul.
"Aduuuuh Papi, sakit sekali ... sini tanagannya Pi, Mami mau pegangan!"
"Ini Honey, pindahkan ke tangan Papi semua ya!"
"Papi aaah ampun sakit sekali."
__ADS_1
"Umi ini bagaimana sih, ayo cepat di tangani, mengapa lama sekali Al tidak tahan melihat dia kesakitan."
"Sabar Al, kamu jangan ngomong dan protes terus, usap saja perut istrimu, agar berkurang sakitnya," nasehat Umi Anna sambil mengusap pipi Neng.
Hampir satu jam berlalu Alfarizi gelisah dan hampir tidak tahan lagi melihat Neng selalu merintih. Selalu protes dan memanggil Umi Anna ataupun petugas yang lain agar segera menangani istrinya. Mebuat Umi Anna dan Neng sendiri mulai kesal.
"Papi, jangan protes terus, Mami jadi tambah pusing, bantu Mami menenangkan putri Papi saja, ok!"
"Iya honey, Papi tidak tega melihat Mami kesakitan. Apa tidak ada cara lain?"
"Mami tidak mau di operasi lagi, Papi. Sudah jangan protes terus tolong ambilkan minum saja!"
Setelah Neng mendapatkan sedikit tenaga kontraksi semakin kuat dan rasanya ingin buang air besar seperti saat ada di dalam mobil, "Papi ... Umi aduuuuh, rasanya ingin buang air besar bagaimana ini?"
Dengan spontan Alfarizi berteriak kencang karena panik, "Suster ... Dokter cepat kemari!"
"Papi ... panggilnya ke sana jangan berteriak di telinga Mami juga!"
"Maaf Mami, Papi semakin tambah panik."
Mendengar teriakan Alfarizi Dokter Maria dan beberapa suster datang. Memeriksa dengan teliti keadaan ibu dan bayinya, "Baiklah, ini sudah pembukaan lengkap, ayo suster siap-siap bayinya sebentar lagi lahir."
"Baik Dok."
"Aaaaaa Dokter ...!" teriak Neng.
"Mami ... ada apa, Dokter bagaimana ini, Umi apa yang harus Al lakukan?"
Alfarizi semakin panik karena bingung sambil memegangi tangan istrinya. Kegugupan dan tingkah absurtnya membuat tidak konsentrasi dan tidak fogus.
"Al kalau kamu tidak bisa diam, Umi lempar ke Antartika nich bikin gagal fokus saja!"
"Tapi Umi ...!"
"Papi diaam sakit tau .. sana ke Antartika saja!"
BERSAMBUNG
*******
__ADS_1