Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Karena Alfian Menghilang


__ADS_3

Neng langsung terduduk lemas di lantai rumah kecantikan setelah mengetahui Alfian tidak berada di sana. Hampir seluruh hidupnya berjuang untuk kebahagiaan putranya dan tidak pernah berpisah. Kini tidak mengetahui dia berada mana membuatnya syok dan terpukul.


"Mami ... are you ok?"


"Cepat cari Al, Papi. Bisa mati Mami tanpa dirinya, cari dia sampai ketemu!" Suara Neng sudah mulai bergetar karena lemas.


Air mata Neng mengalir deras tanpa bisa di kendalikan lagi. Membuat Umi Anna dan Ibu Ani panik dan bingung, ikut terduduk di samping Neng dan menenangkannya.


"Abi, Al sana cepat cari Alfian jangan bengong saja!" teriak Umi Anna mulai khawatir dengan keadaan Neng.


"Tetapi Umi, istriku ...?" Alfarizi bingung dan dilema tidak melanjutkan ucapannya. Mendekati Neng tidak tega meninggalkan istrinya yang menangis dan terlihat lemas.


Neng semakin lemah dan menurun kesehatannya. Bayangan masa lalunya sekelebat datang dalam pikirannya seperti di putar ulang rasa sakit yang selalu menyesakkan dada. Sekarang ini perutnya terasa kram dan tegang karena pikiran yang kalut.


"Papi, jangan hiraukan Mami, cepat cari Alfian jangan sampai dia hilang dan tidak di temukan. Mami tidak akan memaafkan Papi jika ini terjadi!"


"Tetapi keadaan Mami ...? kembali Alfarizi tidak melanjutkan ucapannya sudah di potong dengan teriakan Neng.


"Papi, kalau Papi tidak berangkat sekarang, Mami akan menghukum Papi tidak cuma delapan tahun saja tidak bisa bertemu Mami, selamanya ingat itu selamanya, pergi sekarang!"


"Ok Honey, please jangan bicara seperti itu, Umi tolong jaga dia. Abi ayo kita cari Alfian di pantai!"


Alfarizi berlari menggandeng Abi Ali yang juga ikut berlari keluar rumah kecantikan. Neng semakin lemas dan perutnya semakin kram karena tegang, "Umi, Ibu aaah perutku kram, mengapa sakit sekali. Aku mau rebahan aaa sakit Bu." Neng merintih merebahkan tubuhnya di lantai miring memeluk perutnya sambil terus meneteskan air matanya.


"Neng Mitha, tenangkan pikiranmu, Nak. Istigfar ayo Istigfar dulu!" Ibu Ani mengusap perut Neng dengan lembut.


"Nak, jangan berpikir macam-macam, di rilekskan pikirannya. Alfian pasti di temukan." Umi Anna juga menenangkan Neng dengan tenang.

__ADS_1


"Bu ...Mbak ... Mas apakah bisa tolong panggilkan ambulance atau dokter di sekitar sini!" teriak Ibu Ani meminta pertolongan.


"Bu, ada klinik di sebelah rumah kecantikan ini, saya akan memanggil mereka, tunggu ya!" seorang terapis laki-laki ikut berteriak karena ikut panik dan berlari keluar rumah kecantikan.


Hanya tidak kurang dari sepuluh menit petugas datang dengan mendorong brankar tempat tidur mendekati Neng yang masing berbaring miring di lantai rumah kecantikan. langsung di angkat dan di dorong ke klinik yang jaraknya tidak sampai setengah kilometer. Langsung masuk ruang UGD dan di tangani dokter jaga dengan cepat.


Karena tegang yang membuat Neng merasa perutnya kram dan terlihat lemah. Ibu Ani selalu terisak saat melihat keadaan Neng. Rasanya perjuangan awal mereka merantau ke Bekasi dulu terlintas di pikirannya. Hatinya seolah hilang sebagian karena selama ini yang selalu membuat Ibu Ani dan Neng bertahan adalaah kehadiran Alfian.


Umi Anna selalu memeluk Ibu Ani, sama khawatirnya seperti dirinya. keceriaan treatment menjadi tragedi yang menegangkan karena keteledoran mereka. Umi Anna ikut merasa bersalah dengan menghilangnya Alfian tanpa di sadari oleh keluarga.


Dokter UGD yang memeriksa Neng langsung dan memberikan obat penguat kandungan lewat infus setelah di pasang selang infus. Diberikan obat penenang agar pikirannya bisa rileks dan beristirahat dengan tidur pulas. Setelah pasien tenang di pindahkan di ruang rawat inap untuk bisa lebih tenang dan tidak terganggu oleh lalu-lalang kegiatan di UGD.


Umi Anna dan Ibu Ani mulai merasa tenang setelah melihat putri kesayangannya tertidur pulas dan terlihat tenang. Kekhawatirannya mulai berkurang mendengar keterangan dokter bahwa bayi yang ada di dalam kandungannya juga sehat dan tidak terjadi sesuatu yang membahayakan. Sekarang tinggal menunggu kabar dari Alfarizi dan Abi Ali yang telah mencari keberadaan cucu gantengnya di pantai.


Alfarizi dan Abi Ali berlari menuju pantai dan mendekati gerombolan wisatawan baik asing maupun domistik di pinggir pantai. Mereka sedang menyaksikan tari kecak yang sangat menghentak dengan suara yang membangkitkan semangat. Lampu yang temaram dan gemerlap pakaian penari membuat pandangan mata Alfarizi dan Abi Ali mengalami kesulitan mencari dari jarak kejauhan.


"Ok Nak, ponsel harus stanbye ya jangan lupa!"


Satu persatu Alfarizi memeriksa anak-anak terutama yang sedang konsentrasi melihat meriahnya tari kecak yang sedang berlangsung. Pikiran Alfarizi bercabang dua saat ini teringat istrinya yang lemas terduduk di lantai rumah kecantikan. Khawatir karena keteledorannya tidak memperhatikan Alfian sampai dia pergi tanpa diketahui olehnya.


Hampir setengah putaran Afarizi mencari putranya, setiap orang di lihat satu persatu terutama anak-anak. Melihat putranya sedang berdiri paling depan dengan tangannya bersedekap sambil tersenyum membuatnya merasa lega. Meringsek masuk diantara orang yang sedang konsentrasi menghadap para penari kecak.


"Permisi ... permisi!" Afarizi terus berjalan melewati satu persatu orang yang sedang berdiri.


"Al ... aduh Nak, mengapa pergi tidak izin dulu?" Alfarizi langsung memeluk putranya dengan erat sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya.


"Ada apa, Papi?"

__ADS_1


"Nanti Papi ceritakan, ayo kita keluar dulu dari sini, Opa juga mencari Alfian, kita temui Opa agar beliau tidak khawatir.


Abi Ali melihat putra dan cucunya berpelukan saat dia sedang memperhatikan orang satu persatu dengan khawatir. Dia langsung mendekati mereka dengan perasaan lega bisa menemukannya dalam keadaan baik-baik saja, "Al, apakah kalian baik-baik saja?"


"Ya Abi, kami baik-baik saja, ayo kita keluar dari sini dulu!"


Sambil bergandengan tangan mereka keluar dari area pertunjukan tari kecak yang masih ramai. Sambil berjalan Alfarizi bercerita kepada putranya jika maminya sangat khawatir karena dia pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu. Membuat Alfian sangat merasa bersaalah baru menyadari kesalahannya membuat maminya khawatir.


"Maaf Papi, Al tidak berniat membuat Mami khawatir, tadi Al boring karena tidak ada temannya saat Papi dan Opa sedang di pijit."


"Tidak apa-apa Nak, Papi juga salah membiarkan Al sendirian tadi, tetapi lain kali izin dulu saat akan pergi, ok!"


"Ya Papi, Opa maafkan Al ya!"


"Ya cucu Opa Ganteng, ayo kita temui Mami ke rumah kecantikan sekarang!"


Masih tetap bergandengan tangan bergegas tiga laki-laki berbeda generasi itu mengambil langkah panjang menuju rumah kecantikan. Alfarizi masih belum sepenuhnya kekhawatiran hilang karena teringat saat meninggalkan istrinya dalam keadaan lemas. Langsung mendorong pintu rumah kecantikan saat mereka sampai di sana dan mendekati resepsionis.


"Permisi ... apakah Anda mengetahui istri dan Ibu kami masih di sini?" tanya Alfarizi.


"Iya Tuan, mereka sekarang ada di klinik yang ada di sebelah rumah kecantikan ini, tadi istri Anda mengalmi kram perut."


"Mami ...?"


BERSAMBUNG


jangan lupa mampir ya novel teman ada di NT jg

__ADS_1



__ADS_2