Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Aku Kembalikan Jodohmu


__ADS_3

Pada penerbangan pagi di Balikpapan pukul enam pagi dan di Jakarta masih pukul lima pagi. Zain sekarang ini berada di ruang tunggu di Bandara Internasional Sultan Muhamad Aji Sulaiman Spinggan Balikpapan.


Rasa rindunya sudah tidak bisa di tahan lagi dengan pujaan hati. Setelah tadi berpamitan dengan pasangan Dokter May dan La Ricco suaminya. Sambil berfoto mengabadikan perpisahan mereka di depan pintu masuk bandara.


Tanpa di duga Dokter May mengirim foto Zain kepada Donkter Atha yang sedang masuk bandara. Foto saat akad nikah dengan suaminya La Ricco dengan saksi Zain. Dan foto saat Zain termenung di pinggir Sungai Mahakam.


Tidak lupa Dokter May mengirim pesan WA di bawah foto, "Dok ... aku kembalikan orang yang memang menjadi jodohmu, maaf selama ini telah menyakiti perasaanmu. Saat ini dia sudah akan terbang menggunakan pesawat pertama."


Dokter May menunggu sejenak belum di baca dan di lihat oleh Dokter Atha. Dia menulis pesan kedua agar dia mendengar notifikasi masuk. Berharap langsung dibaca pesannya, "Dua jam lagi tolong jemput dia di Bandara Internasional Sukarno Hatta, dia tidak membawa kendaraan sendiri!"


Semalaman Dokter Atha tidak bisa tidur. Hatinya selalu gelisah dan merasa bersalah. Sangat menyesal karena menyia-nyiakan waktu dan tidak jujur dengan perasaan hati.


Selalu meneteskan air mata menyesali tindakannya yang tidak mau mengakui perasaan dalam hati. Rasa takut dan trauma yang selama ini dijadikan tameng runtuh sudah. Terkalahkan dengan rasa cinta yang terus tumbuh dari hari ke hari.


Hanya bisa mengenang saat pertemuan pertama. Mengenang kebersaaannya selama ini. Mengenang rayuan gombalnya, mengenang saat dia selalu mengejarnya.


Menyesali mencurigai ada hubungan dengan sahabatnya dari kalimantan. Menyesali selalu tidak percaya akan cintanya. Bahkan menyesali tidak percaya memang dia adalah jodoh yang di kirim Tuhan untuknya.


Hanya bisa berdoa semoga diberikan kesempatan ke dua. Kesempatan untuk mengakui dan berdamai dengan hati. Bisa menerima dia apa adanya jika kembali.


Semalaman hanya mencri informasi di media sosial. Berharap ada kabar yang bisa memberikan petunjuk tentang dia. Petunjuk di mana dia sekarang ini dia tinggal.


Sampai menjelang pagi mata sama sekali tidak mau diajak terpejam. Bayangan wajahnya yang tampan selalu ada di pelupuk mata. Bayangan senyumnya yang mengembang selalu saja ada di angan.


Ada suara notifikasi pesan WA tidak di kenali, Dokter Atha langsung membukanya. Membaca ternyata dari Dokter May yang pernah di temuinya sekali. Bertemu dengan dia di lobi rumah sakit saat dia mencari Zain.


Dokter Atha tersenyum dengan tangan bergetar setelah selesai membaca dan melihat ada tiga foto tentang Zain. Foto itu diciumnya berkali-kali karena sangat bahagia.


Dokter Atha langsung berlari ke luar kamar menuju kamar Alfian. Mengetuk pintu kamarnya dengan cepat dan tidak sabaran. Bahkan membuka handel pintu agar cepat terbuka padahal di kunci dari dalam.


Yang membuka pintu Rania sambil menggendong si Kasep Al. Alfian kebetulan keluar dari kamar mandi, "Ada apa, Kak?" tanya Rania dan Alfian bersamaan.


"Dik lihatlah ini!" Dokter Atha langsung menunjukkan foto dan kiriman pesan WA dari Dokter Atha.

__ADS_1


"Ayo dik ... antar Kakak ke bandara sekarang juga!" perintahnya dengan tidak sabaran.


"Baiklah ... Kakak ganti baju sana, Al juga akan bersiap-siap."


"Terima kasih, Dik." dokter Atha langsung keluar kamar dengan mengambil langkah panjang.


"Kak ... tolong kirim foto dan pesan itu ke ponsel Al. Lebih baik kita hubungi orang tua Zain sekalian!" teriak Alfian agar kakaknya mendengar.


"Ya ...."


Pesan dan foto langsung di kirim oleh Alfian kepada orang tua Zain, Papi Alfarizi, Julio dan Eki Darsono. Merka kompak akan menjemput Zain bersama-sama dari rumah mereka masing-masing.


Alfian menceritakan sekilas tentang hubungan Zain dan kakaknya kepada orang tua Zain dan papi dan mami. Bercerita juga jika dulu memang Zain berniat untuk menghilang sementara. Alfian mengaku juga tidak diberitahukan oleh Zain tentang rencananya kali ini.


Setelah Alfian bercerita, keluarga dan sahabat sepakat berangkat ke bandaranya secara diam-diam saja. Agar Dokter Atha mengakui perasaan kepada Zain. Yang akan mengantar Dokter Atha hanya Alfian sendiri.


Saat itu juga Alfian dan Dokter Atha berangkat menuju bandara. Alfian berpamitan kepada istri dan anaknya sebelum berangkat. Diikuti rombongan yang menyusul ke bandara dari rumah masing-masing.


Perjalanan di tempuh hampir dua jam sampai Bandara Internasional Sukarno Hatta. Sampai bandara Dokter Atha langsung berlari mencari informasi di lobi bandara. Menanyakan kedatangan pesawat yang datang dari Bandara Internasional Sultan Muhamad Aji Sulaiman Spinggan Balikpapan.


Dokter Atha tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Langsung menggandeng adiknya menuju pintu keluar bandara dengan senyum yang mengembang. Alfian hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat keceriaan kakaknya.


Alfian tidak pernah melihat kakaknya sebahagia hari ini. Wajahnya terlihat berseri-seri walau mata terlihat sembab. Seolah tubuhnya ringan tanpa beban berjalan menuju pintu tunggu keluar penumpang.


Semua keluarga juga sudah datang walaupun tidak bresamaan. Mereka duduk di kursi panjang bersama orang yang akan menjemput penumpang. Mereka hanya tersenyum melihat kebahagiaan Dokter Atha.


Beberapa kali mendengar ada suara pesawat yang sedang landing dari dalam aera bandara. Berharap pesawat itu yang membawa kekasih hati pulang. Selalu berdebar saat terdengar ada suara bergemuruh pesawat.


Netranya selalu tertuju ke pintu masuk. Memandangi satu persatu orang yang keluar dari pintu. Rasanya waktu seakan berhenti mengharap orang yang di tunggu tak kunjung terlihat.


"Mengapa lama sekali sih, Dik?" protes Dokter Atha setelah mendengar tiga pesawat yang landing tetapi Zain tak muncul juga.


"Sabar dong, Kak. coba lihatlah jam tangan Kakak. ini baru dua puluh menit, resepsionis tadi bilang sekitar setengah jam lebih sedikit."

__ADS_1


"Apakah jamnya sengaja lambat kali ya?"


Alfian tertawa mendengar ucapan kakaknya yang tidak sabaran, "Bukan jamnya yang lambat, Kak. hanya Kakak saja yang tidak sabar ingin bertemu denga sang kekasih," goda Alfian sambil menyenggol bahu menggunakan bahu juga.


Dokter Atha tersenyum malu, wajahnya memerah seperti tomat. Tidak lagi menutupi perasaanya kini. Membuatnya merasa lega dan hati bahagia.


Ada laki-laki yang berjalan dengan memasukkan tangannya di dalam jaket. Membawa tas pungung berkaca mata hitam berjalan dengan tegap. Wajahnya terlihat sayu untung saja matanya tertuutup kaca mata hitam.


"Kak ... lihatlah siapa yang memakai jaket dan kaca mata hitam itu!" tunjuk Alfian kepada laki-laki yang berjalan mendekati mereka.


Dengan spontan Dokter Atha berlari mendekatinya dengan tangan di rentangkan, "Dokter Zain ...!" teriaknya


BERSAMBUNG


YOK Shobat semua mampir di Novel temen author ini


rekomen banget lo sambil menunggu AST up lagi



Pewaris Untuk Musuh


Author: As Cempreng


Namanya Kamila Prameswati gadis berusia 19 tahun yang dilelang di dunia bawah.


Berbekal sebuah informasi anonim dia berpikir jika pria yang telah membeli dirinya adalah pembunuh kedua orangtuanya.


Dalam misi pembalasan dendam, justru kehamilan mengacaukan rencananya. Dia mulai terjebak dengan kelembutan sang musuh yang membuatnya jatuh hati.


Tidak sampai di situ, Kamila terjebak tidak bisa melepaskan diri dari jeratan cinta Mafia, demi menemukan sang pembunuh sebenarnya dan berakhir pada sebuah perjanjian yang memisahkan Kamila dengan cintanya.


Kamila tidak tahu bahwa musuh dari musuhnya ada adalah petarung hebat di dunia Mafia dengan nama Edrik yang adalah kakak tirinya.

__ADS_1


Di tengah perjalanannya Ia terjebak dalam dua cinta Mafia.


Jadi kehidupan mana yang akan dipilih Kamila?


__ADS_2