Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Berpulang Ibu


__ADS_3

Hampir setengah jam si Kasep Al menangis tanpa henti. Waktu hampir tengah malam saat ini. Tidak biasanya si Kasep menangis di tengah malam.


Si Kasep hanya berpindah gendongan dari Rania, Alfian atau Bibi Tiwi. Sampai ada suara dering telepon Si Kasep berhenti menangis tiba-tiba. Seolah dia mengerti apa arti dari panggilan itu.


Rania yang mengangkat dering telepon dari Bibi Esih. Si Kasep ada di dalam dekapan Alfian. Dengan sengaja Rania mengeraskan suara sambungan ponsel.


"Iya, Bibi. Ada apa jam segini menelpon? tanya Rania.


Bibi Esih awalnya hanya menjawab dengan suara isakan tangis. Rania dan Alfian saling memandang seolah bertanya. Ada suara ocehan planet yang keluar dari mulut si Kasep Al.


"Bibi, di sini belum ada yang tidur termasuk si Kasep. Katakan apa yang terjadi?"


"Ibu Titin, Neng. Bagaimana ini?"


Rania sudah berpikir yang eneh dan berpikiran tidak menentu. Kembali si Kasep Al juga mengoceh dan bersuara tidak jelas, "Bibi, coba ambil napas panjang."


Terdengar Bibi Esih menarik napas panjang. Suara hembusan saat mengeluarkan napas juga sampai terdengar di ponsel. Dengan terbata-bata dia berucap, "Ibu Titin tidak bergerak sama sekali, Neng. Bibi bingung, apakah Bang Al bisa ke sini?"


Rania semakin bingung dan semakin berpikir negatif. Alfain mengusap pundak Rania, tangan si Kasep meraih pipi Rania seolah dia tahu apa yang terjadi.


"Ayo kita ke sana sekarang. Bibi Tiwi tolong persiapkan keperluan Kasep Al!" perintah Alfian.


"Baik ...."


Bibi Tiwi mempersiapkan semua keperluan si Kasep Al di masukkan ke dalam tas koper. Rania semakin bersedih dan berkaca-kaca. pikirannya kalut dan bersedih membayangkan Ibu Titin tidak bergerak.


"Sabar ya Sayang, jangan berpikir macam-macam!"


"Iya, Bang."

__ADS_1


Jarak rumah Ibu Titin Suhartin dengan villa tidak lebih dari tiga ratus meter. Alfan tetap menggunakan mobil ke sana. Di samping agar lebih cepat sampai, dengan menggunakan mobil si Kasep Al akan tertindungi dari dinginnya malam.


Belum sempat terparkir sempurna Rania langsung berlari menerjang pintu rumah milik Ibu Titin Suhartin. Dai langsung menuju kamar. Melihat Bibi Esih sudah duduk bersimbuh di lantai dekat kepala Ibu Titin. Alfian menyusul Rania yang berlari kencang.


Sampai di kamar Ibu Titin Suhartin, Rania dan Alfian memeriksa dari denyut nadi yang ada di tangan. Memeriksa pupil mata dan suhu tubuhnya.


Semua sudah menunjukkan tidak ada tanda-tanda kehidupan pada Ibu Titin Suhartin. Alfian hanya memberikan kode kepada istrinya dengan gelengan kepala. Kini Ibu Titin sudah menghadap yang maha kuasa.


Tangan langsung di sedekapkan oleh Alfian. Di selimuti seluruh tubuh ibu mertuanya dengan menggunakan jarik yang ada di sampingnya. Memeluk Rania yang sedang terisak di samping Bibi Esih.


"Sayang, Ibu kini sudah tenang di sana, kita hanya bisa mendoakan semoga Ibu Husnul Khotimah."


Rania mengangguk dalam pelukan suaminya. Ternyata firasat si Kasep Al tadi menunjukkan jika sudah kehilangan eninnya. Terkadang firasat anak yang belum memiliki dosa seperti si Kasep Al lebih kuat.


Alfian langsung menghubungi karyawan yang mengelola bisnis villa. Menghubungi semua keluarga yang ada di Bogor dan Bekasi. Alfian juga menghubungi kakaknya yang sedang bulan madu di Australia.


Malam itu juga sebagian besar keluarga menuju villa. Sebagian lagi besok pagi termasuk orang tua Zain. Semua datang dengan satu tujuan mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya.


Rania hanya terduduk dalam dekapan Alfian sampai pagi. Untungnya si Kasep Al tidak rewal lagi. Dia hanya minta ASI jika lapar dan kembali di bendong Bibi Tiwi.


Pukul tujuh pagi seluruh keluarga sudah berkumpul di rumah duka. Tetangga dekat, teman semasa hidup Ibu Titin Suhartin datang untuk mendoakan almarhumah. Semoga di terima di sisi-Nya dan diampuni segala dosanya.


Semasa hidup Ibu Titin Suhartin banyak memiliki dosa, namun setelah si Kasep Al lahir. Ibu Titin Suhartin banyak mengalami perubahan. Lebih banyak mendekatkan diri pada yang maha kuasa.


Sebaik manusia yang berbuat salah meminta maaf kepada sesama. Memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa adalah jalan terbaik. Bisa berpulang dengan tenang dan diampuni segala dosanya.


Tanpa di duga Zain dan Atha pagi pukul sembilan pagi sudah di rumah duka. Atha yang langsung mengajak suaminya untuk pulang. Untuk bisa hadir di memakaman ibu dari adik ipar.


Tentu rasa duka di rasakan oleh seluruh keluarga terutama Rania. Walau awalnya hubungan mereka kurang harmonis. Namun setelah Rania berbahagia dengan suami tercinta hubungan kembali membaik dengan seiring waktu sampai ajal menjemput Ibu Titin Suhartin.

__ADS_1


Mami Mitha selalu menemani Rania menantu kesayangan mengantar ibu sampai ke peristirahatan yang terakhir. Ayah Doni sudah memaafkan semua kesalahan yang pernah di lakukan mantan istrinya. Bapak Endang Kusnandar juga sudah memberikan maaf setelah mantan istri berubah lebih baik.


Keluar dari pemakaman Rania berjalan dengan gontai di gandeng oleh Alfian. Dia berhenti sejenak di depan pintu gerbang masuk teringat Abah Asep. Teringat pertemuan pertama dengan beliau di sini.


"Sayang ayo kita pulang, mengapa berhenti?"


"Rani teringat Almarhum Abah, Bang."


Jarak antara makam Ibu Titin Suhartin dengan makam Abah jaraknya cukup jauh. Makam Abah, Encang Ginanjar dan Ibu kandung Mami Mitha ada di sebelah barat makam. Sedangkan makam Ibu Titin Suhartin ada di belakang bagian timur.


"Oya kita belum ziarah ke makam beliau, ayo kita kembali lagi!"


Mami Mitha dan Papi Alfarizi ikut berhenti dan menengok makam ke dua orang tuanya. Padahal dua hari lalu sudah berziarah ke sini. Ingin mampir lagi kebetulan ada di sini, "Bang, mau mampir? Mami ikut."


"Iya Mami, ayo kita ke sana dulu," jawab Alfian.


Tidak hanya orang tua Alfian yang ikut. Zain dan Atha juga ikut ziarah kali ini. Sebagai anggota keluarga baru pertama kalinya mereka berkunjung ke makam leluhur. Ikut mendoakan semua agar di lapangkan kuburnya, diampuni dosanya.


Malam harinya setelah mengadakan doa bersama sebagian besar keluarga pulang. Hanya tinggal keluarga inti di tambah pasangan pengantin baru Julio dan Bintang. Rencana setelah tiga hari baru akan pulang.


Rania pagi harinya mengunjungi rumah Almarhumah Ibu Titin Suhartin. Hari ini menunggu tetangga sekitar. Siapa tahu masih ada sangkutan hutang yang belum di selesaikan.


Rania di temani Alfian, Julio dan Zain. Ada empat tetangga yang datang untuk menyelesaikan permasalahan hutang piutang. Oleh Rania semua langsung dibayar cash dan bahkan dilebihkan jumlahnya.


Ada satu orang laki-laki tua yang pernah di jodohkan pada Rania datang. Dia datang bersama wanita muda. Rania jadi kaget saat dia berdiri di depan pintu, "Eeee mengapa Anda ke sini, bukankah hutang Ibu sudah lunas? " tanya Rania


BERSAMBUNG


Ayo mampir di sebelah Shobat jangan lupa

__ADS_1


di sana juga up setiap hari insyaallah



__ADS_2