
Rania sampai melotot melihat sosok laki-laki yang memakai seragam security yang berada di sebelah mobil suaminya. Ingatannya jauh di saat dia menangis sengunggukan saat berpisah dengan ayah sambungnya. Laki-laki yang dulu pernah menyayangi layaknya seorang putri sendiri.
"Bapak ... ya dia Bapak Rani, Abang berhenti sebentar!" teriak Rania sambil menunjuk laki-laki yang berseragam security.
"Siapa Sayang?"
"Bapak sambung Rani yang bernama Endang Kusnandar, cepat panggil dia, Bang. Rani ingin bertemu Bapak."
Belum sempat memanggil orang yang di maksud. Lampu merah berubah menjadi kuning sesaat kemudian menjadi hijau. Security itu langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Yaaa Abang dia kabur!" teriak Rania.
"Jul, kejar motor itu cepetan!" perintah Alfian ikut berteriak sambil menunjuk motor yang sudah melesat ke depan.
"Ok siap." Julio mengikuti motor yang berjalan di depannya.
Ada jarak sekitar tiga mobil yang menghalangi antara motor dan mobil milik Alfian. Baru berjalan sekitar dua kilo meter motor berbelok kearah kanan masuk sebuah jalan kecil dan kembali masuk gang. Motor berhanti di sebuah rumah kecil yang terlihat asri.
Rania turun dari mobil tanpa menutup pintu dan langsung berlari mendekati laki-laki yang sedang membuka helm. Dia semakin yakin bahwa dia adalah ayah sambungnya setelah melihat wajah yang terlihat jelas. Hanya bedanya sekarang dia terlihat lebih tua dan memiliki kumis tipis.
"Bapak ...!" teriak Rania sambil berlari mendekati laki-laki itu.
Laki-laki itu hanya bengong melihat seorang gadis yang memanggilnya bapak. Dia tidak mengenali sama sekali gadis yang berlari mendekatinya. Sampai keningnya di kerutkan untuk mengingat siapa gadis yang mendekatinya.
"Kamu siapa Neng?" tanyanya masih belum mengenali.
Rania langsung meraih dan mencium pungung tangan laki-laki yang masih belum mengenalinya, "Aku Rani ... Pak."
"Rani ... Rani saipa ya Bapak tidak ingat?"
"Rania Kirana putrinya ibu Titin Suhartin."
"Ya Allah Nak ... kamu sudah besar dan cantik sekali, Apa kabarmu?"
Saat bapak Endang Kusnandar ingin memeluk putrinya, bersamaan Alfian dan Julio turun dan berlari mendekati Rania. Dia mengurungkan niatnya untuk memeluk karena fokus melihat sosok orang yang sangat di kenalnya.
Tuan Al, ada apa Anda ke sini?"
"Bapak mengenali suami Rani?" tanya Rania sambil menunjuk Alfian.
__ADS_1
Bapak Endang Kusnandar semakin terbengong dan bingung. Kejutan dan pertemuan yang sangat membuatnya syok dan bingung. Apalagi setelah melihat Julio yang berdiri di belakang Alfian.
"Bang Jul ...!" teriak Bapak Endang Kusnandar.
"Tunggu dulu, mengapa Bapak mengenali mereka, tetapi tidak mengenali putrinya sendiri?" protes Rania bingung.
Bapak Endang Kusnadar tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Alfian dan Julio, "Selamat sore Tuan, Bang Jul. Saya Endang Kusnandar security Alfarizi corporation yang ada di Cibinong."
"Ooo ...." Alfian hanya mengangguk dan mulai memahami mengapa dia mengenalinya.
"Bang Jul, jangan kaget Bapak juga mengenalimu. Bapak ini anak buah Ayahmu yang setia."
Julio mengangguk dan tersenyum dan merasa bersyukur. Anak buah ayahnya sendiri sebagian besar memiliki loyalitas yang sangat besar pada perusahaan. Karena perusahaan sangat memperhatikan kesejahteraan mereka.
"Bapak di sini tinggal bersama siapa?" tanya Rania.
"Bersama keluarga Bapak ayo kita masuk, maaf rumah Bapak kecil."
Rania mengulurkan tangan pada suaminya, "Ayo Bang, Rani mau bertemu dengan keluarga Bapak!"
Alfian langsung menggandeng tangan Rania. Dia berbisik di telinga, "Sayang ... lain kali jangan main peluk aja sama siapapun."
Rania mencubit perut Alfian karena gemas. Seharusnya memeluk ayahnya sendiri tidak masalah. Tidak seharusnya merasa cemburu jika dengan orang tua walaupun hanya ayah tiri.
"Ya iyalah ... dilarang siapapun menyentuh istri Abang."
"Dia bapak Rani, Abang Tuan."
"Cuma Bapak sambung, lain kali cukup mencium bunggung tangan jangan pelukan, mengerti?"
"Iya deh."
Bapak Endang kusnandar memperkenalkan istri dan dua putranya yang masih kecil. Berbincang di ruang tamu bercerita tentang keluarga dan pekeraan. Pernah bekerja di perusahaan Alfarizi corporetion yang ada di Jakarta.
Bapak Endang Kusnandar dipindahkan ke Cibinong Bogor sudah satu tahun yang lalu. Karena prestasinya kini dia menjadi kepala security di perusahaan yang ada di Cibinong. Dia adalah salah satu orang kepercayaan Junaidi ayah Julio.
Kehidupannya semakin membaik setelah berpisah dengan ibu kandung Rania. Apalagi setelah menikah dengan wanita yang menjadi istrinya yang sekarang. Kebahagiaan bertambah setelah dikaruniai dua putra yang membuat keluarga kecilnya sejahtera.
Rania bercerita kepada bapak sambungnya tentang rencana pernikahan paksa dengan laki-laki tua. Bertemu dengan Alfian sampai menikah dan sekarang bahagia. Rencana pesta pernikahan yan akan di lakukan sebentar lagi.
__ADS_1
Rania dan Alfian juga bercerita sampai sekarang belum berani manemui ibunya. Dan kekhawatiran jika bertemu ibu setelah melihat hidup kini sudah mapan. Masih bingung mau mengabari atau tidak saat pesta pernikahan nanti.
"Neng Rani, walau bagaimanapun juga Ibu Titin adalah ibu kandungmu, kamu harus tetap menghormatinya." Pak Endang Kusnandar menasehati dengan lembut.
"Rani harus bagaimana Bapak, tidak usah diundang saja kali ya Ibu saat pesta pernikahan nanti?"
"Jangan begitu, Nak. Sebaiknya di undang."
"Nanti kalau Ibu buat ulah bagaimana?"
Alfian hanya mendengarkan interaksi antara ayah dan anak angkatannya. Tidak ingin momen curhatan hati istrinya terganggu. Memberikan ruang dan waktu yang ada untuk keduanya.
"Ibumu itu kalau di berikan ketegasan nyalinya ciut. Neng Rani harus tegas dan jangan diberikan kesempatan ibu untuk memanfaatkan Neng Rani"
"Caranya bagaimana, Pak?"
"Datang ke sana, meminta restu. Jika memang Neng Rani berniat membantu keuangan ibu harus sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan, jangan selalu dituruti keinginannya terutama tentang uang."
Rania mengangguk sambil mengerutkan keningnya. Sesekali mengambil napas panjang untuk mengurangi keresahannya. Memahami nasehat ayah yang bijak dalam menyikapi hidup.
"Apakan nanti tidak di bilang pelit, Pak?" Alfian akhirnya ikut bertanya setelah mendengar nasehat yang di dengarnya.
"Tidak Tuan, terus terang mantan istriku orangnya matre, dia akan merasa menang jika kita lemah dan menurut, tetapi jika dia di kerasi akan lembek seperti bubur."
"Jangan memanggil menantu dengan sebutan tuan, Pak!" kata Alfian lagi.
"Tidak apa-apa Tuan, Bapak sudah terbiasa. Jangan merubah apapun jika di kantor, Bapak tetap anak buah Anda, tetapi diluaran silahkan menganggap Bapak sebagai mertua."
Alfian mengangguk dan tersenyum, ternyata benar cerita Abah. Kepribadian Rania sebagian besar terbentuk karena ayah angkatnya yang memiliki kepribadian sederhana dan jujur. Sikapnya tetap santun walaupun mengetahui pemilik perusahaan adalah menantunya.
"Satu lagi, Neng Rani. Jangan sampai memberikan kesempatan untuk Ibu Titin mempengaruhi semua keputusan tentang apapun."
"Baik Pak, dari dulu Rani memang jarang sejalan dengan Ibu. Rani tidak mau mengikuti gaya hidup Ibu."
"Syukurlah kamu tumbuh menjadi pribadi yang baik, jika bisa Neng Rani harus bisa mengubah cara pandang dia!"
"Semoga saja bisa, Pak."
BERSAMBUNG
__ADS_1
terima kasih untuk Kakak berdua di bawah ini, terima kasih selalu bersama author remehan ini.