Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Rumah Sakit Baru


__ADS_3

Alfian membuka matanya lebar-lebar untuk melihat wanita yang di tunjuk oleh Rania. Diperhatikan dari kaki sampai kepala walau hanya terlihat badan bagian punggung saja. Jika dilihat sekilas siluet tubuhnya persis seperti Putri Siregar.


"Bang, apakah di mengikuti kita ke sini?"


"Tunggu Sayang!"


Alfian kembali memperhatikan wanita yang hanya terlihat punggungnya. Ada perbedaan warna rambut diantara keduanya. Putri Siregar rambutnya pirang sedangkan wanita yang sedang di perhatikan warna rambutnya hitam.


"Panggil Julio saja, Bang!"


"Di pastikan dulu saja, ayo kita dekati dia dulu!"


Sambil tetap mendorong troli berisi oleh-oleh, Alfian dan Rania berjalan melewati wanita itu. Setelah melewatinya ada banyak perbedaan terlihat. Wanita itu wajahnya berjerawat dan berkaca mata.


"Bukan ternyata, Bang."


Alfian dan Rania bernapas lega ternyata dugaanya salah. Jika di pikir tidak mungkin Putri Siregar tahu karena kemarin berangkat dari Jakarta dini hari. Untung belum sempat menghubungi Julio dan Zain.


Malam ini pesawat harus terbang kembali ke Jakarta. Pesawat berencana akan terbang ke Riyadh. Ada keponakan dari Umi Anna yang akan menikah di sana.


"Rani boleh ikut Oma Anna ke Riyadh, Bang?"


"Boleh saja kalau siang, tetapi kalau malam Rani harus temani Abang."


Rania cemberut dengan mengerucutkan bibirnya, jarak Indonesia Arab Saudi di tempuh dengan jarak 8 jam. Waktu akan habis hanya untuk bolak-balik dalam perjalanan.


"Abang ini, nanti Rani jadi gempor bolak-balik Riyadh Bogor."


Alfian hanya tersenyum devil sambil mengusap pipi Rania, "Nanti saja kita nyusul hari Sabtu."


"Janji ya Bang!"


"Iya Sayang."


Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Pembangunan rumah sakit yang didirikan bersama sudah selesai di bangun. lebih cepat dua bulan dari perkiraan semula. Rumah sakit megah berdiri di lahan seluas lebih dari dua hektar.


Rumah sakit yang tidak hanya untuk orang berada. Alfian, Zain dan Julio juga merencanaan untuk membuat program donasi dan untuk membantu masyarakat yang tidak mampu.

__ADS_1


Perekrutan keryawan, tenaga ahli, dan dokter juga sudah berjalan selama dua minggu. Pembelian peralatan dan obat juga sudah rampung semua bersamaan. Semua ditangani oleh Julio dan Zain sendiri tanpa campur tangan orang tua.


Zain belum di wisuda untuk program studi profesi. Dia sudah di sibukkan dengan memimpin rumah sakit. Hanya papanya sendiri Dokter Harry yang sering membimbing dia dalam menjalankan tugas.


Rumah sakit mulai beroperasi menerima pasien umum atau rujukan. Berencana akan di resmikan awal bulan depan. Membuat Zain semakin sibuk untuk mempersiapkan semua.


Selasa pagi dengan terpaksa Zain harus berkunjung ke rumah Alfian. Semua hanya gara-gara hampir tiga hari ini setiap pagi Rania selalu tidur cantik. Matanya tidak bisa di tahan saat suaminya akan berangkat ke kantor.


Sudah tiga hari ini juga Alfian merayu Rania untuk diajak ke dokter atau rumah sakit. Rania selalu menolaknya dengan alasan takut jarum suntik. Rania hanya memilih di periksa oleh Zain dari pada di periksa dokter laki-laki yang tidak di kenal.


Alfian sampai tidak tega untuk berangkat ke kantor karena tidak bisa membangunkan Rania saat akan berangkat ke kantor. Sampai Zain tiba rumah Alfian, "Coba elo periksa istri gue, mengapa dia selalu tidur setiap gue akan berangkat kerja?"


"Hus ... elu ini bagaimana sih Al, gue ini dokter forensik."


"Dia selalu menolak saat gue ajak periksa. Ya setidaknya elu pernah menjadi dokter umum, 'kan?"


"Iya juga sih, lebih baik elu ajak dia periksa ke dokter kandungan di rumah sakit kita saja."


"Gue tidak mau, di rumah sakit kita dokter kandungan belum ada yang perempuan, elo cari dulu!"


"Ayo ke kamar, dia masih tertidur pulas!"


Zain memeriksa denyut nadi Rania di pergelangan tangan. Membuka sedikit matanya dan melihat menggunakan senter kecil. Rania tidak juga terbangun saat Zain memeriksanya.


"Bagaimana ... Bro?"


Zain sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada Rania. Ingin memastikan dengan memanggil dokter untuk datang di rumah Alfian salah satu owner rumah sakit, "Tunggu sebentar gue hubungi Dokter, bidan dan dua perawat untuk ke sini saja."


"Ingat jangan dokter laki-laki. Kalau tidak elu tidak mungkin gue izinkan memegang tangan istri gue!"


"Yaelah ... cemburuan banget sih, mereka hanya memeriksa, Bro."


"Tetap saja gue tidak rela."


Dalam waktu satu jam dokter, bidan dan dua perawat datang setelah di hubungi Zain pimpinan rumah sakit. Membawa peralatan lengkap untuk memeriksa Rania. Bahkan mereka harus menunggu sang putri tidur terjaga.


Alfian duduk di samping Rania yang masih tertidur pulas. mengelus pipinya yang sekarang ini terlihat cabi. Zain, dokter, bidan dan dua perawat sedang mempersiapan peralatan yang akan di gunakan untuk memeriksa Rania.

__ADS_1


Mata Rania terbuka perlahan setelah merasa pipi ada yang menyentuh, "Abang ... Rani tertidur lagi ya, maaf?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Abang tidak jadi beragkat." Kembali Alfian mengelus pipi Rania dengan lembut.


"Eee mengapa Abang tidak berangkat?"


Zain dan yang lain langsung berdiri di samping tempat tidur setelah melihat Rania terbangun. Rani kaget dan bangun sambil memeluk tangan Alfian saat ada Zain dan yang lain, "Bang, mengapa mereka di sini, Rani tidak mau di suntik?" tanya Rania dengan suara manja.


"Mereka tidak akan menyuntik Rani, hanya memeriksa saja. Ada Abang juga yang menemani."


Rania mengangguk ragu sambil melihat satu persatu empat orang wanita yang berdiri dan tersenyum. Tangannya masih bergelayut manja di lengan Alfian. Hanya diam menunggu apa yang akan mereka lakukan, "Apa yang akan mereka lakukan, Abang?" bisik Rania.


"Cuma memeriksa aja, Sayang."


Saat ada seorang dokter membawa gelas urine dan bungkusan taspack. Rania langsung menyembunyikan badannya di belakang badan Alfian. Mengira bungkusan kecil itu adalah suntikan.


"Abang ... Rani takut jarum suntik."


"Itu bukan jarum suntik, Sayang. Jangan khawatir!"


"Ooo Rani sukanya di suntik Abang aja," bisik Rania di telinga Alfian.


"Iya jarum Abang tumpul ya." Alfian ikut berbisik sambil mengacak rambutnya.


Bidan mendatangi Rania, "Nyonya maaf, ini ada gelas urine, apakah bisa kami meminta contoh urine Anda?"


Rania menerima gelas urine sambil mengangguk. Melirik Alfian yang tersenyum dan memberikan kode kedipan mata untuk di terima, "Abang ... ayo temani Rani!"


"Ayo ... Abang temani."


Alfian menggandeng Rania ke kamar mandi. Membantu mengisi urine dan di tampung di gelas urine. Keluar dari kamar mandi dan menyerahkan gelas itu kepada Zain, "Ini ... Bro!"


"Ok .. di tunggu sebentar. Dokter silahkan diperiksa!" perintah Zain.


Mereka bekerja dengan cepat, membuka taspack dan mencelupkan di gelas urine. Di tunggu beberapa menit dengan tegang. Dokter mengangkat dan memeriksa perlahan.


Alfian dan Rania yang sedang menunggu duduk di pinggir tempat tidur ikut tegang. Melihat setiap gerakan yang di lakukan oleh dokter, "Bagaimana apa hasilnya?" tanya Alfian.

__ADS_1


__ADS_2