Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Cerita Esih


__ADS_3

Spontan Abah dan Alfian berbalik badan melihat seorang wanita yang memanggilnya. Seorang wanita yang umumnya sekitar tiga puluh tahun lebih berseragam pegawai restoran. Wajah yang tidak asing bagi Abah tetapi Alfian dan Rania tidak mengenalnya.


"Esih ...!"


Esih Suprihatin langsung meraih tangan Abah dan mencium punggung tangannya berkali-kali, "Maafkan Esih, Ayah ... sekali lagi maafkan Esih," katanya sambil berlinang air mata.


"Bang ... Neng Rani, kenalkan ini putri dari mantan istri Abah yang ke dua."


"Oooo ...!" Alfian dan Rania mengulurkan tangannya untuk bersalaman bergantian sambil tersenyum.


"Sebaiknya bicara sambil duduk, Abah!" perintah Rania.


"Ayo kita keluar restoran saja!" ajak Alfian.


Mereka berempat keluar restoran dan duduk di kursi panjang yang ada di dekat pos security. Alfian dan Rania duduk di pinggir membiarkan Abah dan Esih untuk berbicara berdua. Mereka berdua hanya mendengarkan pembicaraan antara Abah dan Esih.


"Apa yang terjadi Esih, di mana Ibumu?"


"Ibu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, Ayah."


"Innalilahi wa inna ilaihi rojiun."


"Apakah ibumu sakit?"


"Ibu dan suamiku mengalami kecelakaan, Ayah." Esih kembali menangis tersedu-sedu setelah menjawab pertanyaan Abah.


"Apa yang terjadi coba ceritakan sama Ayah?"


Esih bercerita setelah dua tahun bebas dari penjara, bekerja dan menjadi buruh di sebuah perusahaan. Satu tahun kemudian dia menikah dengan teman satu perusahaan. Awalnya rumah tangga harmonis dan bahagia saat ibu Kokom kontrak sendiri dan tidak tinggal satu rumah.

__ADS_1


Malapetaka datang saat Esih hamil muda dan ibu ikut satu kontrakan dengannya lagi. Suami Esih mulai ada main dengan Ibu secara diam-diam. Hubungan terlarang itu sampai putranya lahir.


Hubungan mereka mulai tercium setelah Esih selesai nifas. Suaminya tidak mau berhubungan badan dengan dirinya. Awalnya dengan berbagai alasan dan tetap tidak mau memberikan nafkah batin pada istrinya.


Hubungan terlarang mereka mulai tercium saat Esih melihat suaminya tidak sengaja. Esih izin pulang kerja setengah hari karena sakit, suaminya kerja siff malam dan tinggal di rumah bertiga dengan putranya. Esih melihat putranya menangis sendirian di ruang tamu.


Esih masuk rumah dengan mendorong pintu bersamaan dengan suaminya yang keluar kamar ibu bertelanjang dada sambil menaikkan celana panjangnya. Saat di tanya ke duanya tidak mengaku dan beralasan selesai membetulkan bohlam lampu yang mati di kamar ibu. Padahal dengan jelas Esih melihat ibu juga baru saja membetulkan baju daster dan rambutnya yang berantakan.


Sejak saat itu hubungan Esih dan ibunya merenggang. Selalu bertengkar dengan suaminya setiap saat. Dan terpaksa putranya di titipkan tetangga saat bekerja.


Banyak juga teman dan tetangga yang bercerita tentang hubungan terlarang antara menantu dan ibu mertua. Semakin hari hubungan mereka semakin dekat dan semakin intim. Mereka mulai terang-terangan dan tidak malu lagi mengakui hubungan terlarang itu.


Sampai suatu ketika Esih mengusir mereka dari kontrakan setelah memergoki mereka dalam satu kamar saat pukul tiga pagi. Baju dan barang-barang ibu dan suami di lempar malam itu juga ke luar kontrakan. Esih marah besar walau mereka minta maaf dan tidak mau di usir dari kontrakan.


Satu minggu setelah peristiwa pengusiran itu, Esih mendaptkan kabar suami dan ibu kandungnya meninggal dunia. Mereka mengalami kecelakaan tunggal jatuh di jurang sedalam dua puluh meter. Saat perjalanan pulang ke desa menggunakan motor.


Motornya dalam kecepatan tinggi dan tiba-tiba rem blong sehingga motor masuk jurang. Ke duanya meninggal di tempat, motor patah menjadi tiga bagian. Evakuasi jenazah membutuhkan waktu seharian karena medan yang cuman pinggir hutan.


Ada perasaan lega setelah Esih selesai bercerita, "Esih mencari Ayah hampir sepuluh tahun terahir ini. Esih hanya ingin minta maaf."


"Ayah sudah memaafkan Esih dari dulu."


"Esih sudah mendapatkan karma karena mengikuti jalan Ibu yang salah. Sekali lagi maafkan Esih, Ayah."


"Ya Esih, maafkan Ayah juga. Sekarang di mana putramu, umur berapa tahun sekarang?"


Esih tersenyum mengingat penyemangat hidupnya kini hanya putranya. Dia membuka ponsel jadulnya menunjukkan anak laki-laki yang memakai seragam pramuka, "Ini cucu Ayah umurnya baru sepuluh tahun sekarang kelas empat Sekolah Dasar."


"Siapa namanya?"

__ADS_1


"Namanya Raffa Ramadan."


Esih kembali bercerita sudah berpindah-pindah untuk mencari Abah di daerah sekitar Jakarta. Niatnya hanya meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu. Sudah hampir satu tahun bekerja di restoran ini. Menyewa satu pintu kontrakan dekat sekolah Raffa.


Sampai sekarang Esih tidak menikah lagi, hanya hidup berdua dengan putranya. Walau ada yang mengajak berumah tangga tetapi Esih lebih memilih hidup sendiri. Rasa trauma yang mendalam yang membuat Esih lebih tidak ingin menikah lagi.


"Baiklah semua sudah berlalu, yang penting sekarang Esih mencari nafkah untuk Raffa dengan cara yang halal," nasehat Abah.


"Baik Ayah ... Esih tidak ingin lagi hidup seperti almarhumah Ibu, Esih sudah tobat dan tidak ingin lagi melakukan hal yang salah seperti dulu."


"Ayah pamit dulu, lain kali Ayah akan mampir ke sini setelah urusan Ayah selesai."


"Ya Esih juga akan bekerja lagi, lain kali Ayah harus menemui Raffa, pasti Raffa akan sangat bahagia."


Alfian yang dari tadi mendengarkan cerita adik tiri dari Mami Mitha merasa iba. Perjuangan yang sangat berat dialami olehnya di masa lalu. Alfian hanya membayangkan Raffa yang seumuran dengan dia saat bisa bertemu dengan Papi Alfarizi.


Rasa bersyukur di hati Alfian masih bisa merasakan kasih sayang lengkap dengan ke dua orang tua. Apalagi memiliki adik Elfa yang sangat di cintainya. Sedangkan Raffa sudah tidak bisa merasakan kasih sayang ayah kandungnya.


Sebelum bermamitan Alfian mengambil dompet dan mengeluarkan lima lembar uang bergambar Soekarno dan Mohamad Hatta."Bibi ... tolong ini berikan pada Raffa, salam dari Abang Alfian putra dari Mami Mitha."


"Ya terima kasih ... Abang Al sudah dewasa sekarang ya."


"Sama-sama, Bibi. Kami permisi dulu."


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Bekasi sambil bercerita tentan Esih dan Ibunya. Bercerita juga tentang kehidupan Abah setelah adanya Rania bersamanya. Sambil bercanda dan sesekali Alfian merayu istrinya.


Tanpa terasa perjalanan sampai di Bekasi bertepatan Papi Alfarizi dan Mami MItha pulang dari kantor. Mobil Alfian langsung parkir di halaman rumah setelah di bukakan oleh security. Mami Mitha dan Papi Alfarizi langsung tersenyum melihat putranya datang dan menunggu dia dari mobil.


Mata Mami Mitha terbelalak lebar saat Alfian turun dari mobil. Dia diikuti dua orang yang turun dari mobil setelah Alfian. Ada laki-laki tua yang tidak asing bagi Mami Mitha. Ada juga seorang gadis cantik berdiri dan menggandeng tangan laki-laki tua.

__ADS_1


"Ayah ... Ayah datang ke sini mau pamer istri baru lagi?" tanya Mami Mitha tanpa sadar.


"Mami ...?"


__ADS_2