Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Terngiang


__ADS_3

AST 31


Dokter Harrry menghajar sampai babak-belur Reza di depan ruang UGD rumah sakit. Melihat adik angkatnya terkulai lemas pingsan tidak berdaya Dokter Harry tidak bisa menahan diri. Dia sudah hampir dua tahun ini mencoba menyembuhkan trauma Neng, tetapi kini trauma Neng kembali kambuh.


Dokter Harry sangat mengenal Reza dengan baik dari cerita istrinya Rianti. Reza adalah petualang cinta dan banyak gadis yang sudah jatuh dalam pelukannya. Reza selalu berhasil meluluhkan hati seorang gadis karena ketampanan dan rayuan bombalnya.


"Papa, cukup dan tahan emosimu, lebih baik kamu cek kondisi Mitha, biar Reza aku yang mengurus!" Rianti membujuk Dokter Harry yang emosi sampai lupa memeriksa kondisi Neng.


Dokter Harry langsung berlari masuk ruang UGD meninggalkan Reza begitu saja. Rianti menatap Reza yang mukanya terligat memar dan bibirnya berdarah. Rianti juga menatap tajam kepada Desi yang terlihat khawatir dan merasa bersalah.


"Kak maafkan aku, aku juga ikut bersalah karena permintaan Kak Reza aku memanggil Mitha dengan alasan ingin belajar bersama, aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya." kata Desi dengan menundukkan kepalanya.


"Kamu Reza, bukankah sudah aku bilang jangan kamu modusin adikku, apa yang kamu lakukan sampai adikku pingsan, ha?"


"Ria maafkan aku, aku hanya memeluknya dan menyatakan kalau aku menyukai Dia."


"Aku bisa menebak kalau kamu main nyosor memeluk Mitha seperti kamu merayu gadis targetmu!"


Reza tidak menjawab perkataan Rianti. Tebakan Rianti memang benar adanya. Reza mengira Mitha sama seperti gadis yang dikejarnya selama ini dengan mudah masuk dalam rayuan mautnya.


"Desi tolong kamu obati Reza, antar dia pulang; Reza kali ini aku maafkan kamu, sekali lagi kamu mendekati adikku lagi, habis kamu!" ancam Rianti meninggalkan mereka dengan perasan marah dan kesal.


"Baik Kak, ayo Kak Reza!"


Dokter Harry langsung memindahkan Neng ke ruang rawat inap. Rianti langsung menghubungi Ibu Ani untuk segera menyusul ke rumah sakit. Hanya Alfian yang akan bisa memberikan semangat kepada Neng untuk bisa bangkit lagi.


Hampir tiga jam Neng tidak sadarkan diri. Ibu Ani dan Alfian sudah menunggu dengan khawatir tetapi Neng tidak kunjung tersadar. Alfian menangis keras dan memanggil namaya dengan suara cadel setelah melihat Maminya terbaring tanpa bergerak.


"Mami, Mami Al mau enen, Mami hiks hiks hiks!"


Berkali-kali putranya memanggil dengan suara keras. Ibu Ani ikut meneteskan air matanya sudah hampir dua tahun berlalu putri angkatnya itu tidak pernah bisa melupakan masa lalunya. Setelah suara Alfian menggema di seluruh ruangan, tangan Neng mulai bergerak dan membuka mata perlahan.

__ADS_1


"Neng Mitha, Dokter Harry, dia sudah tersadar," kata Ibu Ani sambil mengusap air matanya.


"Al, mengapa menangis, Nak?" tanya Neng lirih mencoba bangun dari tempat tidur.


"Mitha, kamu jangan bangun dulu!" Dokter Harry menahan pundak Neng.


Rianti ikut duduk mendekati Neng. sambil menggendong Alfian mendekatkannya di samping Neng agar dia tidak terbangun. datang Desi dengan perasaan yang tidak menentu, merasa bersalah tentang apa yang terjadi.


"Bu Ani tolong ambilkan air putih dan obat untuknya, setelah itu dia boleh bangun!" perintah Dokter Harry.


"Aku saja yang mengambilkan Dok." jawab Desi berlari mendekati meja mengambil mineral satu gelas.


"Mami Mami udah bangun, Al mau enen?" celoteh Alfian lagi setelah dia di dudukkan di samping Neng.


"Sabar sayang, Mami mau minum obat dulu ya!"


Desi memberikan segelas air mineral dengan memandangi wajah anak kecil yang memanggil nama Neng Mami. Dia menjadi bungung sendiri tetapi tidak berani bertanya kepada siapapun. Memandangi Al, Ibu Ani dan Rianti seolah ingin bertanya siapa sebenarnya mereka.


Rianti langsung menarik tangan Desi keluar ruangan rawat inap. Masih kesal dengannya karena ulahnya lah Neng pingsan. Desi hanya pasrah dan diam saja saat dia ditarik oleh Rianti dengan tatapan mata yang tajam.


"Tidak Kak, Kak Reza memohon kepadaku katanya dia merindukan Mitha, dia bercerita kalau sudah jadian dengan Mitha, Kak Reza beralasan ingin ke rumah Mitha tetapi tidak tahu alamatnya, aku juga tidak tahu sehingga aku di minta untuk mengajaknya bertemu di kafe."


"Mitha tidak pernah bercerita kepada kamu kalau dia sudah memiliki putra satu?"


"Tidak pernah Kak, aku kira Mitha masih single."


"Sekarang kamu tahu jika Mitha sudah memiliki satu putra, suami dia ada di Arab Saudi menjadi TKI."


"Mengapa dia tidak mau bercerita padaku Kak?"


"Kamu tahu Mitha orangnya sangat tertutup, mungkin dia belum sepenuhnya percaya padamu, aku saja tidak pernah tahu nama suaminya."

__ADS_1


Desi termenung mengingat apa yang dilakukannya sebelum dia pingsan. mencoba mendekatkan kepada orang yang sangat menyukainya walaupun tahu Kak Reza tidak terlalu baik untuknya.


"Maafkan aku Kak, aku berjanji akan menjadi sahabat yang baik untuk Mitha, aku akan mencoba agar dia bisa mempercayai aku."


"Berbicaralah dari hati ke hati, aku berharap kamu bisa memposisikan sebagai sahabat yang baik untuknya, Mitha memiliki trauma spisikis di masa lalunya, tetapi aku tidak berhak menceritakan itu kepadamu."


"Iya Kak, terima kasih."


"Ayo kita masuk!"


Mereka masuk ruang rawat inap tetapi saat Dokter Harry masih berbincang serius dengan Neng, akhirnya mereka kembali keluar. Ibu Ani berada di samping Neng sambil memangku Alfian. Dengan berlibang air mata dan tubuh kembali berkeringat dingin saat Neng bercerita.


"Aku tidak bisa Bang, suaranya selalu terngiang di telingaku, aku tidak boleh di sentuh oleh siapapun, aku hanya miliknya katanya aku tidak bisa Bang, tolong aku Bang!" Neng merancu suaranya terdengar piku.


"Mitha lihat Abang, lihatlah Al, semua sudah berlalu, kamu harus ingat kami selalu bersamamu!"


"Bagaimana ini Bang, mengapa suara itu seolah selalu terngiang di telingaku?"


"Suara apa Mitha, coba kamu katakan, Si Pohon Pisang itu ngomong apa?"


"Ingat kamu hanya milikku, tidak seorangpun boleh menyentuhmu, kata kata itu masih saja terdengar di telingaku."


"Dia sudah pergi sekarang, beristirahatlah!"


"Iya Bang, mataku rasanya berat sekali."


"Tudurlah dulu, kami akan keluar!"


"Terima kasih Bang."


Obat yang diberikan Dokter Harry mulai bekerja, Neng mulai merasa mengantuk. Ibu Ani dan Dokter Harry keluar dari ruang rawat inap. Membiarkan Neng bisa beristirahat dengan tenang.

__ADS_1


Sejak saat itu Neng tiidak pernah menyembunyikan identitas dirinya. Seluruh teman kampusnya mengetahui jika Neng sudah menikah dan memiliki satu putra. Terkadang di saat ada acara tertentu Neng sengaja membawa putranya Alfian.


Neng tidak ingin kejadian bersama Reza terulang kembali. Dia selalu bercerita jika Papinya Al berada di Arab Saudi bekerja menjadi TKI di sana. Tidak ada lagi yang berani mendekati Neng termasuk Reza. Setelah diancam oleh Rianti, Reza meminta maaf kepada Neng dan dia tidak lagi mendekati Neng.


__ADS_2