Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Menunggumu


__ADS_3

β˜†β˜†β˜†Shobat sesusi reques anda semua hari ini author up dua bab,


jangan lupa like, komen, bunga, vote dan hadianya, awas kalu tidak ya!


I love you all πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒβ˜†β˜†β˜†


"Halo, bisa bicara degan Ibu Mitha?" kata Al setelah menekan nomor ponsel milik owner butik AA dengan nama Paramitha.


"Butik AA selamat pagi, ada yang bisa kami bantu, Tuan?" jawab seorang wanita yang tidak Al kenali suaranya.


Al mengerutkan keningnya, mendengar suara dari ponsel dengan seksama. Suara itu bukan suara Neng, karena suara itu terdengar keras. Suara Neng lembut dan tidak ada nada penekanan saat bicara.


"Bu, saya akan menesan gaun pengantin, apakah bisa langsung berhubungan dengan Bu Mitha?" Kembali Al mengulangi pertanyaannya karena yakin suara yang ada di balik ponsel itu adalah bukan Neng istrinya.


"Maaf Tuan, Bu Mitha masih diluar kota, saya wakil dari Beliau Mpok Atun."


"Kapan Bu Mitha kembali Mpok Atun?"


"Sekitar lima hari lagi."


"Baiklah, saya tunggu Beliau pulang saja terima kasih."


Ada rasa kecewa yang teramat sangat di hati Al saat tidak bisa mendengar suara wanita yang selalu dirindukannya selama ini. Harapannya sangat besar saat mendapatkan nomor ponselnya, tetapi kini dia hanya pasrah dan harus menunggu sampai dia kembali. Dia hanya bisa memandangi walpaper foto Neng saat di wisuda kelukusan SMK.


Waktu seolah jalan di tempat bagi Al saat ini, bahkan melakukan apapun selalu serba salah. Semua rasa makanan tidak ada yang enak, mata susah terpejam. Antara rindu dan penyesalan selalu berkecamuk di hatinya, rindu ingin segera bertemu dengannya, menyesal telah meninggalkannya.


Hari yang di tunggu akhirnya datang juga, bayangan Al jika owner Butik AA itu datang hari Minggu sore berarti Senin pagi dia bisa melihat sosoknya secara langusung saat butik di buka. Al menghubungi Junaidi dan Lilis untuk mendampinginya saat pertama kali melihat wanita pujaannya. Surya sudah mempersiapkan tempat strategis untuk tuannya duduk yaitu ruang security samping pintu masuk, ada batas kaca naco yang tidak terlihat dari luar tetapi terlihat jelas dari dalam.


Mulai dari hari Sabtu sore Al sudah di kantor yang ada di mall, berniat menginap di kamar pribadinya yang di rancang khusus seperti yang ada di villa. Pukul enam pagi bangun tidur dengan semangat, berendam menggunakan sabun aroma terapi rasa vanilla dan mandi dengan bersenandung kecil. Ingin memakai jas yang terbaik, memilih satu persatu jas yang ada di lemari tetapi sudah berganti lima kali tetapi Al selalu tidak percaya diri.


Belum sampai pukul delapan pagi Surya datang di kantor Al. Dia melihat kamar dengan pintu terbuka dan baju yang berantakan di tempat tidur. Surya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya seperti ABG yang sedang mengalami cinta monyet.


"Bos, apa yang Anda lakukan, ini kamar berantakan seperti kapal pecah?" tanya Surya heran.

__ADS_1


"Untung ada kamu Surya, aku bingung mau memakai jas yang mana, coba kamu yang pilihkan, semua terlihat jelek!"


"Jas Anda semua bagus, Tuan; sebentar aku pilihkan, Anda memakai yang warna putih tulang ini saja, Anda akan terlihat gagah!"


"Baiklah terima kasih, tolong sisanya kembalikan ke lemari."


Dengan mengambil napas panjang, akhirnya Surya merapikan jas yang berserakan di tempat tidur. Al berkaca di depan cermin berkali-kali untuk memastikan penampilannya harus sempurna. untuk menyempurnakan penampilannya Al memakai jam tangan di lengan kirinya.


"Surya, ayo cepat kita keluar!"


"Ini belum ada jam delapan Tuan, tidak mungkin seorang owner datang pagi-pagi."


"Tidak apa-apa, ayolah kita sarapan dulu!"


"Sebaiknya kita tunggu Junaidi dan Lilis dulu Tuan."


"Dia sudah otw ke sini nanti biar menyusul saja."


Surya mengikuti langkah panjang Al menuju pintu mall. Al berniat sarapan di depan mall di sebuah kafe sekalian bisa mengawasi orang yang akan masuk mall. Belum ada jam delapan pagi mall di buka tetapi yang masuk khusus para karyawan dan owner pemilik usaha.


"Surya kita pindah ke mall saja, ayo!"


"Baik Tuan."


Al duduk di ruang security membuka laptopnya, sambil mengawasi orang yang lalu-lalang keluar masuk mall. Sudah satu jam Al berada di ruang security, dia masih menunggu dengan setia. Semakin lama hatinya semakin resah tidak menentu. Detak jantung yang semakin tidak beraturan karena waktu semakin mendekati mall dibuka yaitu pukul sepuluh pagi.


Surya mulai ikut gelisah bukan karena menunggu owner Butik AA, tetapi menunggu Junaidi dan Lilis datang. Mereka berangkat dari villa pagi buta seharusnya sudah satu jam yang lalu mereka sudah datang. Ingin bertanya kepada tuannya tetapi ragu takut dia mulai emosi.


Sudah menunggu selama dua jam Al mulai gelisah berdiri, berjalan mondar-mandir dan duduk lagi. Pengunjung mall mulai satu persatu datang. Ada yang datang sendiri ada juga yang datang rombongan, baik remaja, orang tua, laki-laki ataupun perempuan.


"Tuan, mengapa Junaidi dan Lilis juga belum juga datang, seharusnya mereka datang dua jam yang lalu?"


Al langsung menepuk dahinya karena fokus menunggu owner Butik AA, dia sampai melupakan Junadi dan Lilis. "Oya aku lupa, coba kamu hubungi mereka!"

__ADS_1


"Baik Tuan."


Surya berkali-kali menghubungi Junaidi ataupun Lilis, tetapi ponselnya tidak ada yang aktif. Mencoba lagi dan lagi Surya sampai frustasi dan emosi. Kini tidak hanya Al yang emosi dan gelisah, Surya juga mulai emosi dan gelisah.


"Surya coba kamu hubungi kantor yang ada di Jakarta sekarang!"


"Oya mengapa tidak kepikiran ya, aku hubungi sekarang Tuan."


Bergegas Surya menghubungi perusahaan yang ada di Jakarta. Mencari informasi tentang sepasang suami istri itu. menghubungi langsung security yang ada di sana, tetapi sayangnya mereka tidak datang ke sana.


Ada seorang wanita muda dengan menggandeng anak laki-laki luput dari pandangan mereka saat wanita muda itu lewat. Mereka hanya melihat punggung wanita muda itu dengan rambut sebahu, memakai gaun tanpa lengan terlihat anggun. Al dan Surya saling pandang setelah melihat sekilas wanita muda dan anak laki-laki itu.


"Tuan, apakah itu mungkin owner darik Butik AA?"


"Mungkin saja, ayo kita kejar mereka!"


Al dan Surya berlari keluar ruang security mengejar wanita muda itu. Al merasa yakin setelah melihat anak laki-laki itu sekitar berumur delapan tahun. Apalagi penambilan mereka terlihat elegan dan modis.


"Neng ... Neng ... Neng tunggu!" teriak Al.


Wanita muda itu berhenti dan menengok pada Al. "Anda memanggil kami?" kata wanita itu dengan suara cempreng.


"Maaf kami salah orang, permisi." Kembali Al kecewa ternyata dia bukan Neng.


Tiba-tiba ada suara dering ponsel Al berbunyi, dia langsung mengangkat dan menekan tombol hijau. "Halo, selamat pagi."


" ... "


"Ya Pak, saya Alfarizi."


" ... "


"Kantor polisi ...?"

__ADS_1


Aku promo novel teman ya jgn lupa mampir



__ADS_2