
Malam harinya Dokter Atha di panggil Papi Alfarizi untuk datang ke rumah Alfian. Yang datang tidak hanya Marta Inayah sendiri melainkan berdua bersama Zain. Dia sama sekali tidak mau berpisah setelah bangun tidur sore hari.
"Ada apa, Papi?" tanya Dokter Atha setelah mereka sampai di rumah Alfian.
Papi Alfarizi tidak menjawab pertanyaan putri angkatnya. Tidak menyangka Zain tetap lengket dan menggandeng Dokter Atha ikut sampai ke rumah.
"Zain, belum belum pulang dari tadi pagi?" tanya Papi Alfarizi.
Zain hanya nyengir kuda sambil menggaruk kepala, "Belum, Pi."
"Dasar gelo!"
"Iiiiih Papi kayak tidak pernah muda aja, Zain bukan gelo tetapi tergelo-gelo dengan putri Papi."
Dokter Atha hanya tersenyum mendengar rayuan gombal Zain Papi Alfarizi menggeplak kepala Zain perlahan, "Duduklah Papi mau bicara!"
"Baik ... Pi." Pasangan baru menjawab dengan kompak.
"Dengar Papi, tadi sore Papa Harry ke sini sudah melamar secara resmi Atha, kami sudah sepakat soal akad nikah. Ini tidak bisa dirubah. Kalian hanya boleh merencanakan pesta resepsi saja."
Papi Alfarizi mengatakan rencana akad nikah akan di laksakan dua hari lagi. Semua langsung di kerjakan oleh Asisten Leo tadi sore. Sesaat setelah kesepakatan antara orang tua Zain dan keluarga Zulkarnain.
Akad nikah akan di lakukan di rumah Alfian. Baju untuk akad langsung dirancang oleh Mami Mitha. Catering di pesan oleh Mama Rianti pada saudaranya.
"Papi mengapa cepat sekali, Atha belum siap," protes Dokter Atha setelah Papi Alfarizi selesai bercerita.
Atha masih bingung dan belum siap jika dipercepat akad nikah. Beda lagi dengan Zain dia tersenyum bahagia. Bagi dia jutru terlalu lama dua hari baginya.
"Eee jangan dua hari, Papi!" kata Zain cepat.
"Jadi kalian tidak setuju dua hari lagi akad nikahnya?" tanya Papi Alfarizi.
"Bagi Zain terlalu lama, Pi. Zain maunya sekarang atau besok saja," jawab Zain sambil mengedipkan mata kearah Dokter Atha.
Dokter Atha mengerucutkan bibirnya karena kedipan mata Zain. Ingin sekali menjalani hubungan pelan-pelan dan tidak terburu-buru. Semua serba mendadak baginya, cinta status pacar dan lamaran dan kini akad nikah.
"Semua tidak bisa di rumah lagi, kalian tinggal menyepakati tentang mas kawin saja. Yang lain Asisten Leo yang mengerjakan." Papi Alfarizi menambah keterangan dengan tegas.
"Iya Pi." Dokter Atha akirnya hanya pasrah. Mengikuti apa kata keputusan orang tua. Mungkin jodoh memang sudah di tetapkan yang maha kuasa.
Setelah Papi Alfarizi sudah selasai memberikan nasehat untuk pasangan baru yang sedang mabuk cinta. Zain berniat mengajak Dokter Atha pulang ke apartemen. Sekalian pamit kepada Papi Alfarizi, "Papi ... kami pulang dulu ya!"
"Eee kamu mau pulang ke mana?"
"Ke apartemen dong, Pi."
"Kamu pulang sendiri saja, untuk sementara sebelum kalian resmi akad. Kalian di larang tinggal satu apartemen."
__ADS_1
"Papi, Zain janji tidak akan macam-macam. Zain hanya ingin berdua saja."
"Tidak ... kamu pulang sana, di tunggu sama Papa dan Mama di apartemen kamu!"
"Zain pingin ...?"
"Zain ... kalau kamu masih membantah mau Papi batalkan akad nikahnya, tunggu dua hari lagi kalian baru boleh tinggal satu rumah, Mengerti?"
"Baiklah, Zain pulang dulu."
Dokter Atha mengantarkan Zain sampai gerbang. Zain menggenggam tangan kekasihnya dengan erat. Seolah enggan untuk berpisah.
"Pulang aja yuk berdua, rasanya aku tidak rela berpisah lagi!" Zain merayu sambil berjalan mendekati mobil.
"Dokter Zain lupa, Papi tadi bilang apa?"
"Eeee mengapa masih memanggil begitu, ingat ini calon suami bukan atasan?"
"He he sudah terbiasa." dokter Atha tersenyum cengar-cengir mendengar protes Zain.
"Yang mesra gitu dong, Darling!"
Dokter Atha hanya tersenyum simpul mendengar Zain memanggil sebutan darling. Telinganya terasa aneh. Tidak terbiasa dengan panggilan mesra seperti itu.
"Jadi Atha harus memanggil apa?"
"Daring, Sayang, Hubby atau suamiku boleh juga."
"Iya tetapi kalau di rumah atau sedang berdua begini yang mesra dong!"
Dokter Atha hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, "Nanti saja belajar dulu masih aneh rasanya."
Belum sempat masuk dalam mobil, Alfian berlari dari dalam rumah, "Kakak ...!"
"Ya ada apa, Dik?"
"Si Kasep badannya panas, tolong di periksa dulu sebelum pulang?"
Dokter Atha langsung berbalik badan, berlari dengan cepat. Zain langsung ikut berlari sambil menggandenga tangan kekasihnya. Seolah tidak ingin terpisah lagi walau sudah diusir oleh Papi Alfarizi tadi.
Sambil berjalan menuju kamar si Kasep Al. Alfian bercerita jika tadi siang setelah istirahat si Kasep Al di suntik imunisasi di rumah sakit di tangani oleh dokter anak. Dari siang dan sore tadi si Kasep Al biasa saja tetapi setelah malam hari suhu tubuhnya langsung naik drastis sampai 37 derajat.
Si Kasep Al rewel dan selalu menangis. Tidak mau sama sekali di turunkan di tempat tidur box bayinya. Maunya di gendong atau dipeluk oleh Mami atau Oma saja.
Rania dan Mami Mitha bergantian menggendong si Kasep Al. Oma buyut hanya menghibur dengan cara mengajak berbincang. Oma buyut sudah tidak bisa menggendong lagi.
Sampai dalam kamar si Kasep Al, Dokter Atha langsung memeriksa kening keponakan kesayangan. Saat ini si Kasep Al ada digendongan Mami Mitha. Dokter kemudian memeriksa menggunakan termometer agar lebih akurat.
__ADS_1
"Mami, coba di kompres menggunakan air hangat!"
"Zain saja yang meminta air hangat kepada Bibi Tiwi."
"Boleh terima kasih."
Satu keluarga menjadi bingung dan khawatir. Bayi kesayangan yang selalu menjadi perhatian kini membuat semua keluarga khawatir. Terutama Rania sangat khawatir saat putranya menangis dan merengek.
"Mau gendong Mami lagi kah, Nak?" Rania mengusap pipi putranya dengan lembut.
Si Kasep berpindah lagi di gendongan maminya. Sampai menjelang pagi selalu berpindah dari Rania, Alfarizi, Mami Mitha dan Dokter Atha. Setelah di sepetiga malam panas mulai turun, dan bisa terlelap di box bayinya.
Kini tinggal Rania dan Alfian yang sedang menunggu si Kasep Al. Mami Mitha dan Dokter Atha beristirahat di kamarnya. Sedangkan Zain pulang hampir tengah malam setelah diusir oleh Alfian.
"Abang, istirahat saja. Rani yang menjaga si Kasep."
"Abang tidak ngantuk, Sayang. Rani saja yang beristirahat."
Alfian memeluk Rania dari samping. Tangannya mengusap pinggang dengan lembut. Terkadang tangannya mengusap bawah pinggang juga dengan lembut, "Abang ... jangan turun lagi bahaya!"
"Kurma jumbo Abang sudah terbangun, Sayang."
"Maaf ya, Bang. Satu minggu lagi."
Alfian hanya memejamkan mata sambil mengusap pinggang Rania. Sudah hampir lima minggu tidak mengajak kurma jumbo bergoyang. Menahan rindu yang teramat dalam semua di tahan demi si Kasep tersayang, "Sabar ya Bang!"
BERSAMBUNG
sebelum up lagi mampir yok ke Novel temen author
ini rekomen banget lo
Dear, Pak Boss
Author: Ika Oktafiana
Stella tidak pernah menduga bahwa dirinya akan jatuh cinta dengan seorang Arshaka Virendra, sang Direktur Utama di perusahaan tempat Stella bekerja.
Kejadian itu bermula ketika Stella merasa tertantang dengan sikap Shaka yang dingin dan kaku. Bahkan, untuk sekedar mengulas senyum saja tidak pernah.
Berbagai cara Stella lakukan untuk membuat Shaka mau tersenyum. "Senyum dong, Pak. Biar semakin tampan," goda Stella tempo hari saat keduanya tidak sengaja bertemu di saat hujan sore hari.
Dikala itulah, awal mula hidup Shaka berubah menjadi lebih berwarna, Stella berhasil menjungkir-balikkan hidup Shaka dan mulai mengenal rasa bernama 'cinta'.
Perlahan, penyebab dari sikap dingin Shaka terkuak, hidup yang keras dan masalalu yang kelam. Hal itu justru semakin membuat Stella begitu kagum dengan sosok Shaka. Seketika timbul rasa ingin selalu ada dan memeluk dikala pelik kehidupan menderanya.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Baca terus yuk^_^