
Sambil berjalan mengikuti Alfian mendekati mobil yang ada di halaman rumah. Abah masih mempertimbangkan harus memilih akan ikut siapa setelah bertemu dengan putri kandungnya. Belum menemukan solusi yang paling tepat dan adil untuk Rania dan putri kandungnya.
"Tunggu nanti saja, Kakek akan menjawab setelah bertemu dengan Mami Abang."
"Baik Kakek ... Abang tunggu."
Melajukan mobil menuju rumah kecantikan di mana Rania saat ini sedang melakukan perawatan. Rasa rindu di dada seakan sudah seminggu berpisah dengannya padahal belum ada setengah hari. Debaran hati yang merindu tak bisa di bendung lagi.
Waktu hampir tengah hari, masih sempat untuk makan siang dulu sebelum berangkat ke Bekasi. Menghubungi dan reservasi restoran langganan mami dan papi saat mereka berunjung ke Bogor sebelum tiba di rumah kecantikan. Ingin menciptakan kenangan bersama istri dan kakek yang baru saja di temukan.
Parkir di halaman rumah kecantikan Rania masih berganti baju yang baru saja tiba dari butik. Gaun panjang sederhana berlengan pendek dan berkerah sanghai. Sepatu wedges senada sengaja Alfian pilihkan sesuai dengan kepribadian Rania yang sederhana.
Alfian dan Abah hanya menunggu seperempat Rania sudah siap dan keluar dari dalam rumah kecantikan menuju lobi, "Abang Tuan ...!" panggil Rania dari dalam.
Yang terpana dengan Rania tidak hanya Alfian. Abah juga terpana melihat kecantikan paripurna Rania. Dandanan yang sederhana tetapi menonjolkan keanggunan alami Rania membuat dua laki-laki beda generasi sangat mengagumiya.
"Waaah ... Neng Rani cantik dan anggun, Abang pasti semakin cinta nich!"
Alfian tersenyum dan mengacungkan jempol, semakin di pandang Rania memang sepintas seperti Mami Mitha. Tidak cuma sifatnya yang lugu dan jujur. Setelah di make over tinggi badan dan selera saat mereka make-up juga sama dengan Mami Mitha yaitu sederhana tetapi terlihat elegan.
"Sangat cantik, Kakek. Terima kasih selama ini Kakek telah menjaga dia."
Abah mengangguk dan termenung berpikir, mungin ini sudah menjadi jalan takdir. Bisa menebus kesalahan pada putri kandung dengan cara menjaga cucu menantu. Ada rasa lega di hati Abah kini di sisa hidupnya bisa melakukan hal baik untuk cucu kandungnya.
"Abang Tuan suka dengan penampilan Rani?"
Alfian mendekati Rani dan menggandeng tangannya, "Sangat ... Abang suka jika Rani selalu berpenampilan seperti ini,"
"Jangan tiap hari juga dong, Abang Tuan."
"Kenapa tidak mau tiap hari?"
Rania teringat setelah selesai perawatan sambil menunggu baju dari butik datang. Dia membayar perawatan dengan jumlah yang fantastis. Jumlahnya sama seperti Rania narik angkot selama satu bulan penuh.
__ADS_1
"Bayarnya mahal ... jumlahnya sama saat Rani narik angkot satu bulan," bisik Rania di telinga Alfian.
Alfian terkekeh dan mengeratkan genggaman tangan dan mencium punggung tangannya, "Tidak jadi masalah, uang di kartu yang Rani pegang bisa di pakai untuk perawatan sampai rambut Rani memutih."
"Jangan Abang Tuan, lebih baik uangnya buat beli rumah yang ada kolam renangnya."
"Abang sudah punya, Rani tinggal masuk saja."
"Kalau begitu buat beli pesawat pribadi."
"Itu juga sudah punya walaupun atas nama Mami."
"Waaah Bu Mitha punya pesawat pribadi, keren banget?"
Alfian kaget Rania mengenal maminya. Padahal awal bertemu dia tidak mengenalnya sama sekali. Alfian juga belum bercerita latar belakang dari keluarg.
"Rani kenal dengan Mami Mitha?"
"Bu Mitha adalah idola Rani, Beliau orang yang berhasil dan dermawan berasal satu kampung dengan Rani."
"Pernah sekali."
Dalam perjalanan menuju restoran yang telah di reservasi oleh Alfian. Rania bercerita pertemuan pertamanya saat bertemu dengan Mami Mitha. Saat Idul Fitri kurang satu hari di berikan amplop berisi uang dua puluh ribu.
Sampai saat ini Rania ingin sekali sukses seperti idolanya. Hanya saja terkendala karena ibunya yang ingin menikahkan dengan seorang bandot tua. Padahal dulu bertekat ingin melanjutkan pendidikan sambil bekerja.
"Neng Rani pingin kuliah lagi, Bang. Kakek pernah menyuruh dia untuk mendaftar kuliah tetapi dia memilih menjadi sopir angkot," cerita Abah setelah Rania selesai bercerita.
"Rani pingin kuliah jurusan apa, nanti Abang yang membiayai?"
"Dulu Rani mempunyai cita-cita punya sekolah TK, tetapi Rani pingin kuliah di jurusan sekretaris."
Abah dan Alfian tertawa mendengar jawaban Rania, "Kuliahnya nanti setelah nikah resmi dan menemukan ayah kandung Neng Rani saja," nasehat Abah.
__ADS_1
"Kalau sekolah TK, Abang bisa sekarang juga mendirikan. Rani mau di mana tinggal bilang?"
"Abang Tuan ini ... kayak mau buat rumah semut aja, jangan sekarang Rani belum siap."
Sampai restoran Alfian langsung memarkirkan mobilnya di parkiran yang ada di bassman lantai dasar. Menggandeng kembali tangan Rania dan mengajak Abah masuk di Restoran. Masuk di private room yang ada di bagian samping restoran seperti biasa saat Alfian dan keluarga berkunjung.
Alfian tahu betul selera kakeknya sehingga dia memesankan menu makan khas Bandung, lalapan terutama petai goreng. Restoran yang menyediakan dua menu baik Indonesia maupun menu timur tengah. Alfian memesan nasi briyani kambing untuk bertiga dan pesan minuman teh lemon dan jus jeruk tidak lupa soup buah untuk makanan penutup.
"Bang mengapa kita makan di ruangan sendirian begini?" tanya Abah.
"Saat jam makan siang di sini akan ramai, Kakek. Saat Mami ke sini sukanya ya di ruang private room begini, lebih tenang suasananya."
"Orang tua Abang Tuan sering makan di sini?"
"Ya Sayang restoran ini salah satu restoran favorit Mami dan Papi."
Abah mengingat makakan favorit putri kandungnya saat masih sekolah SMK yaitu seblak dan peuyeum Bandung. Saat masuk pintu restoran Abah membaca ada berbagai macam menu khas bandung yang tersedia di sini. Abah bisa menebak sampai sekarang kemungkinan besar putrinya masih memiliki selera yang sama.
"Bang nanti pesan peuyeum untuk oleh-oleh Mami Abang ya!"
"Iya Kakek ... rupanya Kakek masih ingat makanan favorit Mami?"
Abah hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan Alfian. Saat ingin menjawab di urungkan setelah datang tiga karyawan restoran datang membawa menu makanan yang di pesan Alfian. Di letakkan di meja makan semua hidangan itu dengan rapi, "Silahkan Tuan, selamat menikmati."
"Terima kasih," jawab Alfian.
"Abang Tuan ... banyak banget pesanannya siapa yang mau makan?"
"Untuk kita dong, Sayang ... ayo makan saja. Abang lapar ambilkan buat Kakek dulu!"
"Baiklah ...."
Makan dengan lahap dan tanpa bersuara, sampai selesai dan kenyang. Setelah selesai datang lagi karyawan restoran yang mengantar pesanan peuyeum dan bill yang harus di bayar. Mereka langsung keluar dari private room setelah Alfian membayar.
__ADS_1
Berjalan beriringan Rania ada di antara Abah dan Alfian menuju pintu keluar Restoran. Ada seorang wanita memakai seragam karyawan restoran yag berlari dari arah dapur mendekati mereka bertiga sambil berteriak, "Ayah ... Ayah tunggu sebentar?"
"Siapa wanita itu Abah?" tanya Rania.