Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Tekat Kuat


__ADS_3

Zain nyengir kuda diusir oleh Dokter Atha dari kantornya. Dia memilih mengangguk tanpa kata. Tidak ingin bersitegang pagi buta hanya karena hal sepele.


Dokter Atha melenggang pergi meminggalkan Zain setelah pintu kantor ditutup. Melewati lobi rumah sakit dan masuk ke sebuah sepermarket yang ada di samping pintu utama. Zain mengikuti Dokter Atha dan menunggu di samping kasir.


Langsung menyerahkan kartu ATM miliknya saat Dokter Atha meletakkan satu keranjang penuh belanjaan di meja kasir. Dokter Atha awalnya tidak melihat jika ada Zain di sisi lain kasir bagian luar. Saat dia mengeluarkan ATM, kasir sudah menggesek kartu berwarna hitam.


"Pin Anda, Dok. Silahkan!" Kasir mendekatkan Mesin Gesek ATM kepada Dokter Atha.


Zain langsung nongol dari samping kasir sambil mengedipkan mata pada Dokter Atha. Menekan kode rahasia pin ke Mesin Gesek ATM tanpa melihat. Pandangan mata tetap terus kearah wajah Dokter Atha yang datar.


"Dok, ini dikirim ke alamat panti asuhan yang mana?" tanya Pegawai Kasir.


"Panti Asuhan yang ke tiga, terima kasih."


Ucapan terima kasih di tujukan kepada Zain sekaligus kasir yang bertugas. Kembali Dokter Atha meninggalkan Zain begitu saja. Kali ini Zain tidak mengikuti Dokter Atha melainkan bertanya kepada kasir.


Kasir bercerita setiap dua minggu sekali Dokter Atha berbelanja untuk empat panti asuhan yang berbeda. Belanjanya sering berbeda-beda setiap minggunya. Nominalnya juga akan berbeda sesuai dengan kebutuhan.


Zain tersenyum setelah mendapatkan informasi tambahan tentang Dokter Atha. Mulai sekarang tekatnya semakin kuat untuk lebih sabar untuk menakhlukkan pujaan hati. Kuncinya hanya sabar, telaten dan pantang menyerah.


Hampir satu bulan Zain melalukan kegiatan rutin. Dia membawakan sarapan, makan siang dan terkadang mengirim makan malam ke apartemen Dokter Atha. Sewaktu-waktu Dokter Atha ada jam tambahan untuk datang ke rumah sakit untuk operasi caesar, Zain sering mendampingi.


Dokter Atha sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Zain. Terbiasa makan masakannya dan terbiasa belanja untuk panti asuhan menggunakan uang Zain.


Dokter Atha juga mulai terbiasa melihat Zain disekitarnya. Terkadang Zain menemaninya saat melakukan operasi. Menemani juga saat kunjungn ke panti asuhan dan ke rumah Bibi Parti.


Hari ini adalah jadwal Rania periksa kandungan dan mengunjungi Ibu Titin yang masih di rawat. Dokter Atha mempersiapkan dengan teliti di kantor sekaligus kamar rawat inap milik Alfian yang ada di rumah sakit.


Rania datang ke rumah sakit pukul delapan pagi digandeng oleh Alfian. Perut Rania sudah mulai terlihat buncit umur kehamilannya sudah memasuki bulan ke enam. Alfian semakin protektif terhadap istrinya.


Alfia baru turun dari parkiran, memutari mobilnya untuk membuka pintu istrinya. Tiba-tiba ada laki-laki tua yang memanggil Rania dari parkiran motor.


"Neng Rani!" teriaknya.


Alfian langsung menoleh sambil membantu Rania turun dari mobil, "Siapa dia Sayang?"


"Babe teman Almarhum Abah."


"Mau ngapain dia?"


"Belum tahu lah Abang, Rani belum tanya."

__ADS_1


Alfian tersenyum dengan jawaban Rania. Selama hamil terkadang dia mudah emosi tanpa jelas permasalahannya. Alfian harus sering bersabar karena emosi bumil terkadang mudah berubah.


"Ada apa Babe?" tanya Rania.


"Babe ingin bicara sebentar dengan Rani, izin ya Abang ganteng!"


"Silahkan Babe, mau bicara apa?" jawab Alfian.


"Begini Neng Rani, si Abang gondong minta emak baru ...!" Belum sempat Babe melanjutkan ucapannya Rania sudah emosi dan langsung menjawab perkataan Babe.


"Apa hubungannya minta emak baru dengan Rani, Babe ini ada-ada aja!"


Alfian mengusap pundak Rania agar tidak emosi dan lebih bersabar, "Sabar dulu, Sayang ... jangan emosi tidak bagus buat dikbay." Alfian mengusap lembut perut Rania yang membuncit.


"Abang tidak tahu siapa Abang Gondrong sih," cabik Rani.


"Betul kata Abang Ganteng, Neng Rani coba dengarkan dulu Babe cerita!"


"Sialahkan Babe lanjutkan ceritanya." Alfian membuka pintu mobil agar Rania bisa duduk tidak berdiri, "Sayang duduk sebentar sini!"


"Begini Abang Ganteng, putra Babe yang bernama Abang Gondrong sudah ngambek selama tiga hari tidak mandi."


Babe tidak melanjutkan ucapannya karena mendengar Rania yang mengusap perutnya berkali-kali sambil mengucapkan "Amit-amit jabang bayi."


"Lanjut ceritanya, Be!" perintah Alfian sambil menahan tawa.


"Abang Grondrong ingin Babe menikahi si Esih mamanya Raffa, tetapi ...!"


Sekarang Babe sendiri yang menghentikan ucapannya. Babe sampai ternganga melihat ada Dokter Atha mendatangi Alfian dan Rania yang terlihat santai.


"Dik ... lama betul. Kakak tunggu dari tadi, ayo mumpung belum banyak pasien yang datang!" teriak Dokter Atha mendekati Rania.


Mata Babe tanpa berkedip melihat kecantikan Dokter yang baru saja datang. Rania menatap tajam dan kesal kepada Babe. Rania tahu betul pandangan mata yang di tunjukkan Babe untuk kakak cantiknya.


"Tunggu sebentar Kakak, Rani mau membereskan urusan dengan Babe sebentar!"


Rania turun dari mobil dibantu oleh Alfian. Sambil melirik Babe yang masih terpana karena Dokter Atha. Rasanya ingin mencolok mata Babe yang jelalatan.


"Mengapa ceritanya berhenti, Babe. Apakah targetnya berubah sekarang?" tanya Rania membuat Babe salah tingkah.


"Sayang, jangan jutek begitu, tidak bagus untuk dikbay," bisik Alfian sambil mengelus perut Rania.

__ADS_1


"Rani masih kesel sama Babe, Bang. Sudah bau tanah pinginnya kawin lagi."


"Nikah bukan kawin, Sayang. Kalau yang itu Abang juga suka."


"Ais Abang ini, ayo tinggalin Babe saja!"


"Maaf ya, Babe. Kami tidak bisa membujuk Bibi Esih, permisi!" teriak Alfian berlalu mengikuti langkah panjang Rania dan Dokter Atha.


Babe hanya terdiam dan bingung harus menjawab apa. Rania sudah bisa menebak alasan untuk bertemu. Padahal hanya akal bulus agar bisa mempersunting Esih mama dari Raffa.


Dokter Atha langsung memeriksa kandungan Rania setelah mereka sampai di kantor Alfian yang ada kamar khusus untuk persalinan nanti. Dibantu oleh dua suster yang mempersiapkan USG. Kali ini akan mengetahui identitas dari bayi yang ada dalam kandungan.


Selesai pemeriksaan awal oleh suster. Rania langsung berbaring dibranker tempat tidur. Diberikan jel di bagian perut tertentu.


Awalnya terdengar detak jantung bayi. Dokter Atha memeriksa bagian tubuh. Digerakkan lagi untuk melihat bayi laki- laki ataupun perempuan.


"Bisa di lihat, Dik. Semua sudah lengkap organ tubuh bayinya, rambut juga terlihat walau samar."


Alfian menggenggam tangan Rania sambil terus memperhatikan layar. Gerakan demi gerakan dilihat dengan seksama. Baru melihat melalui layar USG merasa sangat bahagia.


"Kak, Rani pingin melihat dikbay cewek apa cowok?"


Dokter Atha kembali menggerakkan layar dengan menggeser mouse. Memfokuskan area sekitar bawah pinggang dari bayi, "Ini dia ... dari tadi malu selalu terhalang oleh kaki mungilnya.


"Cewek atau cowok, Kak?" tanya Alfian.


BERSAMBUNG


Ayo mampir di novel teman


Rekomen lo sambil menunggu AST up



Kisah seorang gadis biasa yang jatuh cinta pada seorang lelaki bermata elang.


Keduanya berasal dari strata yang berbeda tetapi dengan kekuatan cinta tulus yang dimiliki Sasha berhasil menaklukkan Galaxy cowok bermata elang yang terkenal dingin dan penyendiri.


Galaxy lelaki yang punya trauma masa kecil dengan keluarganya. Selama ini hanya merasakan cinta dan kesetiaan dari seekor anjing kesayangannya yang berjenis Husky.


Husky bermata biru inilah yang akhirnya bisa mengobati trauma masa lalu Galaxy dan menemukan cinta sejatinya.

__ADS_1


Ikuti kisah Sasha dan Galaxy dalam menemukan cinta sejatinya bersama anjing kesayangan mereka Grey Husky bermata biru


__ADS_2