Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Dua Kabar


__ADS_3

Hampir lima hari ini Zain di rawat di rumah sakit. Walaupun sakit dia masih sering memantau pekerjaan dibantu asistennya Leo. Masih sering menandatangani berkas penting yang menjadi tanggung jawabnya.


Setiap pagi adalah hal yang sangat di tunggu oleh Zain. Menunggu sarapan pagi yang dibawa Dokter Atha. Menunggu wajah juteknya yang selalu di rindukan.


Pagi ini Dokter Atha membawakan sarapan nasi uduk yang dibeli di lantai bawah apartemennya. Dia datang bersamaan Mama Rianti berpamitan untuk pulang sebentar, "Titip Zain sebentar ya, Nak Dokter. Mama mau pulang sebentar." Mama Rianti menepuk punda Dokter Atha sambil tersenyum.


"Tentu Auntie, hati-hati di jalan."


Zain mengerucutkan bibirnya terlihat kesal. Pujaan hatinya memanggil Mama Rianti dengan sebutan Auntie seperti Alfian saat memanggil ibu dari Zain sejak kecil. Dokter Atha memandangi wajah Zain yang terlihat di tekuk.


"Mengawa wajah Anda terlihat kusut begitu, Dok?"


"Mengapa memanggil Mama dengan sebutan Auntie?"


"Apa salahnya hanya sebutan saja, tidak usah protes mau sarapan atau tidak?" tanya Dokter Atha lebih jutek dari biasanya.


"Hhmm ...." Zain memilih mengalah tidak melanjutkan ucapannya lagi daripada tidak disuapi.


Menyuapi sarapan, memberikan obat sampai mempersiapkan minum sudah Dokter Atha lakukan dengan cepat. Membersihkan box sisa sarapan dan di masukkan ke dalam tasnya juga sudah di lakukan, "Aku ke kantor dulu ya, Dok. Masih ada yang Anda perlukan?"


Zain menarik napas panjang, sudah hampir lima hari jika menjawab memerlukan hatinya. Dokter Atha hanya akan berlalu tanpa kata. Seolah hatinya terpaut tetapi masih ada dinding tipis yang menghalangi.


"Apa perlu aku jawab lagi, karena jawabanku akan selalu sama?"


"Berarti aku pamit dulu, beristirahatlah."


Dokter Atha tetap tidak menjawab pertanyaan Zain dengan jelas. Langkahnya keluar dari ruangan membuat Zain semakin yakin jika Dokter Atha mulai menerima dirinya. Hanya membutuhkan waktu yang lebih sabar untuk meruntuhkan dinding hati yang masih tertanam kokoh.


Julio sudah lima hari ini bolak-balik kantor dan rumah Bintang. Pertemuan singkat dengan gadis keturunan Sunda Betawi itu benar-benar serius. Niatannya untuk langsung melamar sudah bulat setelah lima hari ini selalu berdua menghabiskan waktu setelah pulang kerja.


Julio bertekat sebelum Rania melahirkan dia sudah harus menikah dengan Bintang. Sudah meminta restu kepada Ayah Junaidi dan Ibu Lilis. Sudah menghadap Papi Alfarizi dan Mami Mitha untuk meminta restu. Hari Minggu besok rencana keluarga akan mendatangi rumah Bintang untuk melamar.


Sore harinya setelah pulang kerja empat sahabat berkumpul di ruang rawat inap milik Zain. Di samping ingin melihat perkembangan kesehatan Zain yang sudah pulih. Julio akan mengabarkan akan segera melamar Bintang.


"Tega banget sih elu Bro, tunggu bentar lagi ngapa, kita nikah bareng!" cabik Zain sambil cemberut setelah selesai Julio berecerita.


"Tidak bisa begitu dong, Zain. Elu harus terima jodoh elu masih di langit." Eki Darsono menepuk pundak Zain sambil tersenyum devil.

__ADS_1


"Tenang saja Zain, nanti gue antar elu ke langit daah, biar cepat turun tuuuh jodoh setelah gue bulan madu." Julio tergelak diikuti Alfian dan Eki Darsono.


"Sabar Zain, jodoh itu sudah diatur, yang penting usaha terus." Alfian menasehati dengan bijak.


"Naah ini Adik Ipar yang paling benar, rasanya adem setelah mendengar ceramahnya, apalagi membantu merayu kakaknya untuk menerima jodoh dari langit di terima dengan tangan dua."


"Dodol lu, malah ngelunjak. Usaha yang benar jangan cuma merayu." Alfian menggelepak kepala Zain perlahan.


Sabtu siang Zain diperbolehkan pulang. Kesehatannya mulai pulih seperti sedia kala. Pulang di temani oleh Papa Harry dan Mama Rianti. Sesaat sebelum pulang Zain memeriksa jadwal Dokter Atha sedang berada di ruang operasi. Zain hanya mengirim pesan WA jika dirinya sudah pulang.


Sampai di rumah Bekasi, Zain mendapatkan kabar gembira dari Abang Zaqi. Lima hari lagi Abang Zaqi akan menikah di kampung halaman Mega di Surabaya. Seluruh keluarga sudah bersiap-siap ke Surabaya dengan rencana menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Papi Alfarizi.


Zain menjadi termenung sendiri saat ini. Satu persatu sahabat dan keluarga memasuki ke tahapan baru ke jenjang pernikahan. Sudah saatnya kini untuk tidak main-main menghadapi masa depan.


Sekarang hanya membulatkan tekat untuk masa depan bersama pujaan hati. Berusaha lebih keras lagi unuk menakhlukkan hati yang mulai mencair. Mendekati dengan hati tulus bukan modus.


Sabtu sore di rumah Alfian sedang sibuk mempersiapkan barang seserahan yang akan dibawa oleh keluarga Julio kle rumah Bintang. Semua di persiapkan oleh Ibu Lilis, Mami Mitha dan Umi Anna. Rania hanya bisa membantu sekedarnya, perutnya yang sudah terlihat besar membuat gerakannya semakin lambat.


"Sayang, tidak perlu memaksakan untuk membantu. Nanti kecapean." Alfian mengelus perut Rania dengan lembut.


"Rani ingin membantu, Bang. Melihat semua itu Rani sangat antusias."


"Ya tidaklah, Bang. Kita sudah mau punya bayi."


"Kirain Rani ngidam seserahan."


Rania ingin bangun dari duduknya, tetapi tidak kuat. "Bang tolong bantuin berdiri, aduuuh berat banget!"


"Aduuuk kasihan istri Abang, ayo Abang bantu!"


Alfian memeluk Rania dari belakang. Menariknya sambil melingkarkan tangannya di perut. Sayangnya tangan tidak bisa tergapai, "Aduh sayang tangan Abang tidak bisa berpegangan!"


"Ha ha ha tangan Abang terhalang sama si Kasep, agak turun pegangnya, Bang!"


"Di sini ya, Sayang?" tanya Alfian merapa inti dari tubuhnya.


"Abang jangan di situ berbahaya," bisik Rania di telinga Alfian.

__ADS_1


"Sudah terlanjur bangun kurma Jumbo Abang, yok masuk kamar!"


"Aiiis Abang ini, malu ada Mami dan yang lain sedang sibuk."


Alfian hanya tersenyum melirik Mami dan yang lain sedang asyik mempersiapkan seserahan tanpa memperhatikan Alfian sedang madusin istrinya, "Tidak apa-apa, mereka sedang sibuk ayo cepat kita ke kamar," bisik Alfian kembali.


Rania menggelengkan kepala sambil melirik Mami Mitha. Alfian terus mengeratkan pelukannya dari belakang sampai kurma jumbo menempel di badan belakang Rania, "Aauw Abang!" teriak Rania.


Sontak Mami Mitha dan yang lainnya mendongak melihat Rania yang bersuara keras, "Ada apa, Nak Rani?" tanya Mami Mitha kaget.


"Ini Mi, e ... e ... bayinya menendang gara-gara dielus sama Abang," jawab Rania sekenanya.


"Sana beristirahat saja, tidak perlu membantu kami!" perintah Umi Anna.


"Iya Oma, terima kasih. Maaf Rani tidak bisa membantu banyak."


"Tidak apa-apa, Neng. Sana istirahat saja," Ibu Lilis juga menyarankan untuk beristirahatlah


Alfian semakin tersenyum lebar dan menggandeng tangan Rania, "Ayo saatnya beristirahat dan saatnya kurma jumbo yang bekerja keras." Alfian berjalan menggandeng tangan Rania masuk lift untuk ke kamar utama yang ada di lantai atas.


Baru masuk lift Alfian sudah tidak sabar, menarik tangan Rania dan dimasukkan ke balik celana, "Kurma jumbo Abang sudah tidak sabar minta di belai!"


"Eeee Abang ...."


BERSAMBUNG


ayolah mampir Shobat


sambil menunggu AST up lagi ini rekomen banget



Pernikahan Rahasia Anak SMA 2


Author: LichaLika


Zara Adelia, gadis cantik dan juga seorang Nona muda yang masih duduk di kelas 12 SMA, terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan seorang pria yang lebih dewasa darinya. Ia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria dari kalangan sederhana, kedua orang tua Zara sangat yakin jika pria tersebut bisa membuat Zara bahagia. Pria tersebut tak lain adalah guru olahraga sekaligus guru BP nya di sekolah. Sedari dulu Zara sangat tidak menyukai guru olahraga nya itu.

__ADS_1


Akankah Zara bisa hidup bahagia bersama pria yang bukan pilihannya? Nyatanya sehari-hari Zara harus berhadapan dengan suami sekaligus guru olahraga nya di sekolah. Mungkinkah cinta mulai bersemi di antara mereka?


__ADS_2