
"Waduuuuh!" teriak Surya saat mendengar pertanyaan Putri Siregar.
"Surya, kamu tahu di mana Alfian sekarang?" tanya Papi Alfarizi sambil mengedipkan matanya.
Surya tersenyum devil memahami kedipan mata dari tuannya. Harus menjawab tetapi lebih baik tidak jujur. Surya membuka bukunya pura-pura melihat jadwal, "Bang Al sekarang ada di Den Haag. Nona mau ke kota mana?"
"Antara amsterdam atau Den Haag." Putri tersenyum mendengar jawaban Surya, seperti ada yang di rencanakan dan yang akan di lakukan.
"Berapa hari Nona ke sana?" tanya Surya lagi.
"Sepuluh hari, terima kasih saya pamit Om Al."
Setelah Putri Seregar keluar mall, Papi Alfarizi bergegas masuk kantor. Ingin segera mengabarkan tentang Putri Siregar. Agar tidak bertemu di sana saat Putri Siregar berkunjung.
Alfian yang saat itu sedang makan berdua dengan Rania. Perbedaan waktu yang memang berbeda jauh. Mendapatkan kabar Papi Alfarizi, Alfian tidak merasa khawatir.
Hari ini Alfian akan bertolak ke degara terakhir yang akan di kunjungi. Tidak mungkin akan bisa bertemu dengan Putri Siregar. Akan mencari di ke sudut manapun di seluruh Asterdam tidak akan bertemu.
Dengan sengaja Alfian mengambil foto saat makan siang di restoran yang sangat terkenal di sana. Alfian hanya melihatkan foto jelas diri sendiri sedang mencium punggung tangan Rania. Sedangkn badan dan wajah Rania tidak terlihat sama sekali.
Foto itu di posting di media sosial miik akun pribadi Alfian. Dengan cepat foto itu tersebar di dunia maya. Seluruh keluarga teman dan karyawan tanpa terkecuali melihat postingan itu.
Pernikahan Alfian memang masih di rahasiakan. Hanya keluarga inti saja yang tahu tentang pernikahan itu. Jadi di dunia maya sekarang bergulir berita putra seoang pengusaha sukses kini telah memiliki tambatan hati.
Siang hari saat ada di dalam pesawat menuju Negara Islandia. Rania saat ini sedang mendengarkan cerita tentang kisah Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Bercerita juga tentang kisah Putri Siregar, papa dan pamannya.
"Jadi sampai sekarang si Putri itu masih mengejar Abang?"
Alfian hanya menganggukkan kepala, tetapi tanganya menyusup dibalik helaian benang, "Abang awas jangan sampai Rani terpancing dan pingin minta di sedot, Rani masih lampu merah!"
Alfian hanya terkekeh sambil menarik tangannya. Kini dia bercerita lagi tentang postingan yang baru saja di kirim di media sosial. Masih di rahasiakan status pernikahan. Sampai rencana Putri Siregar akan berkunjung ke Belanda.
"Untung kita sudah berangkat ke Islandia, coba bertemu di Belanda pasti sudah Rani bejek-bejek itu muka!"
__ADS_1
"Sabar Sayang, tidak perlu di ladeni wanita seperti itu. Dia akan semakin melunjak."
"Jelas Rani tidak rela dong, Abang. Millik Rani tidak boleh di cintai orang lain."
Jadi Rani sangant mencuntai Abang?" tanya Alfian sambil mengusap pipi dan bibir Rania.
"Ya iyalah ... Rani itu hanya cinta Abang sudah satu tahun lebih."
"Kalau sama kuma jumbo, Rani cinta tidak?"
"Itu lebih lagi Abang. Jangan sampai si Putri itu mengambil kurma jumbo Rani. kalau Abang rela di pegang dia, kurma jumbo Abang akan Rani tebas!"
"Aduuuh sadis banget." Alfian langsung memegang kurma jumbo yang ada di balik celana.
"Ha ha ha bercanda Abang Tuan."
Malam hari Alfian mengajak Rani berkunjung di Aurora Borealis. Sebuah pesona alam dengan diselimuti nuansa magis yang menawan. Warnanya yang hijau bercampur dengan warna lainnya mendominasi kegelapan malam di musim dingin.
Tempat ini memberikan pengalaman tersendiri yang sangat berkesan pada Rania yang menyaksikan fenomena alam ini. Mereka duduk di alam terbuka dan melihat cahaya alam menari, menghiasi langit.
Salju yang menutupi kawasan tersebut mempercantik Aurora Borealis yang tampak di langit. Tempat ini juga menjadi tempat pertemuan lempeng tektonik Amerika Utara dan Eurasia. Tidak lupa Alfian mengabadikan momen langka ini berdua untuk kenang kenangan.
Di Islandia Alfian hanya mengunjungi satu tempat wisata saja. Seharian mereka menghabiskan waktu untuk mencari kuliner unik dan oleh-oleh. Sisa waktu di habiskan di kamar hotel untuk beristirahat.
Hari sabtu siang Alfian dan Rania sudah tiba kembali di Indonesia. Kini berkumpul di rumah Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Memberikan oleh untuk keluarga, karyawan yang ada di rumah. Bahkan seluruh karyawan konfeksi dan butik AA mendapat oleh-oleh juga.
Rania langsung menjadi idola baru baik idola keluarga atau karyawan terutama karyawan Mami Mitha. Sifatnya yang supel dan bersahaja mudah berbaur dengan siapa saja. Bahkan saat di rumah Mami Mitha, Rania sering membantu bekerja di konfeksi AA tanpa sungkan.
Banyak yang melarang dan merasa sungkan tetapi Ranaia tetap saja membantunya. Katanya sudah terbiasa kerja dari kecil. JIka diam saja membuat badan sakit semua.
Hari Minggu pun Rania tetap membantu para karyawan yang sedang lembur. Membiarkan Alfian sendiri di kamar tanpa teman. Sampai saat makan siang dia mencari suaminya yang sedang tidur siang malas melakukan apapun. Rania langsung duduk di samping tempat tidur dan membangunkan suaminya, "Abang Tuan, ayo bangun!"
"Hhmm ...!"
__ADS_1
Dengan sengaja Rania mentowel pipinya agar cepat bangun, "Ayo bangun, di tunggu Mami dan Papi makan siang!"
Alfian langsung menarik Rania dalam pelukan. Di peluknya dengan erat sampai dia tidak bisa bergerak. Di cium seluruh wajah tanpa henti dengan gemas.
"Abang Tuan ...!" teriak Rania.
"Rani harus mendapatkan hukuman karena dua hari ini saat siang selalu meninggalkan Abang di kamar sendiri."
"Emang hukumannya apa?"
"Abang pingin nyedot tenaga Rani sampai sepuluh kali."
"Waaaduh gempor dong nanti Rani."
"Salah siapa Rani cuekin Abang."
Alfian langsung bergerilya pada Rania sambil tetap mendekapnya. Bergerak saja Rania sangat susah. Dari mencium pipi dan mengabsen seluruh wajah cantik nan mempesona. Menjelajahi setiap inci sampai sekitar tempat favoritnya, tidak luput dari jangkauan tanda kepemilikan.
Setelah berpindah ke area bawah sedikit, dengan sengaja Rania membuka kaitan penutup favoritAlfian. Bukan cuma Alfian saja yang menjadikan dua gunung kembar sebagai tempat favorit. Rania juga sangat menyukai saat Alfian beraksi dan bermain di sana.
Sering sekali Rania menarik rambut Alfian saat aksi Alfian konsentrasi di atas puncak gunung secara bergantian. Sampai Alfian mulai bermain dan menggerakkan kurma jumbo perlahan. Dan semakin di percepat hampir di puncak tiba-tiba ada pintu yang di ketuk dengan keras.
Tok ... tok ... tok!
Seolah konsentrasi Rania puyar seketika, "Abang ada yang mengetuk pintu," bisik Rania .
"Tanggung Sayang, biarin saja dulu." Alfian terus menggerakkan kurma jumbo sampai puncak.
Bersamaan pintu kembali di ketuk, Tok ... tok ... tok!
"Susah banget sih di bangunkan, cepat di tunggu Mami dan Papi. Elfa sudah kesemutan nich nungguin Abang!"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Shobat ayo mampir dong di sebelah masih sepi nich