Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Aku Tresno Koè


__ADS_3

Sebelum tetangga datang untuk mului mengirim doa untuk Almarhum Mbah Kakung, Pakde Sarto lah yang dibuat sibuk oleh Alfarizi. Dia terpaksa membeli oleh-oleh menggunakan truk untuk mengangkutnya. Dari sembako, kurma dan air zam-zam dalam jumlah besar harus dibelinya di Kota Ngawi, bahkan dia harus memborong beberapa toko oleh-oleh haji yang ada di sana.


"Mengapa harus kurma dan air zam-zam sih Kang oleh-olehnya?" protes Neng saat sedang membantu membungkus kurma.


"Disesuaikan karo wajahe bojomu," jawab Pakde Sarto sambil tertawa.


"Itu seharusnya oleh-oleh pulang haji atau umroh, Pakde!" protes Alfian yang duduk di samping Mbah buyut, ibu kandung dari Pakde Sarto.


"Alfian, ngopo muka Papimu koyok Onta Arab, opo goro-goro dadi TKI suwe ora muleh?" (Alfian, mengapa wajah Papimu seperti Onta Arab, apa gara-gara menjadi TKI lama tidak pulang?) tanya Mbah Buyut yang bernama Mbah Saminem.


"Emboh Mbah, Al yo rak mudeng, tekok dewe karo Papi!" (Tidak tahu Mbah, Al juga tidak faham, tanya saja sendiri sama Papi!)


Alfarizi yang tidak tahu Mbah Saminem ngomong apa langsung berbisik pada Neng, "Bicara apa Nenek nya, Neng?"


"Tanya, mengapa wajahnya mirip seperti Onta Arab."


"Ibu aku terurunan Arab-Betawi, Mbah," Alfarizi menjawab dengan pelan.


Sambil membungkus parsel mereka bercanda dengan riang. Hanya Alfarizi yang banyak diam karena tidak faham dengan bahasa jawa. Sikap Neng mulai mencair dan tidak terlihat canggung setelah kejadian bertemu tetangga tadi sore.


Alfarizi berkali-kali tanya kepada Neng perkataan mereka yang sedang bercanda saat dia tidak tahu artinya. Mbah Saminem faham bahasa Indonesia tetapi dia tidak bisa mengucapkannya selalu bertanya menggunakan bahasa jawa. Semenjak Pakde Sarto memanggil Alfarizi Mas Onta Arab semua keluarga dan tetangga juga ikut memanggil itu.


"Mas Onta Arab, tunggalmu piro?" tanya Mbah Saminem.


"Tanya apa dia Neng?" bisik Alfarizi.


"Saudara nya berapa jumlahnya?"


"Aku dua bersaudara Mbah."


"Wong tuomu manggone ngendi?" Mbah Saminem bertanya lagi.


Neng langsung berucap, "Mbah bertanya orang tua tinggal di mana?"


"Mereka tinggal di Riyadt Arab Saudi, Mbah."


Sampai hampir setengah jam Mbah Saminem bertanya, Neng menjadi translate nya dan Alfarizi menjawab dengan bahasa Indonesia. Terkadang Alfarizi menjawab menggunakan bahasa Jawa setelah diajari oleh Neng jawaban bahasa jawa yang mudah. Setiap Alfarizi bertanya dengan cepat Neng menjawab, sampai dia memiliki ide jahil untuk bertanya tentang perasaanya yang dipendamnya selama ini.


"Neng Geulis ...!" bisik Alfarizi.

__ADS_1


"Ya mau tanya apalagi."


"Kalau cinta bahasa jawanya apa?"


"Tresno." jawab Neng singkat.


"Kalau kamu bahasa jawanya?"


"Koè."


"Kalau aku cinta padamu?"


"Aku tresno koè."


"aku juga ...!"


"Eee ...?" Neng baru menyadari apa yang dikatakan Alfarizi.


Neng langsung menatap wajah Alfarizi sambil mengerucutkan bibirnya, rasa gugup dan nervous serta kaget jadi satu. Mengalihkan pandangannya pada parsel yang dibungkusnya saat Alfarizi tetap memandangi wajahnya tanpa berkedip. Neng menghirup napas panjang tanpa memandang orang sekitarnya terutama Ibu Ani yang selalu meliriknya.


Alfarizi hanya menatap sendu tanpa berkedip Neng yang salah tinggah. Wajahnya yang putih terlihat memerah seperti tomat walaupun dia berusaha menyembunyikan kegugupannya. Rasa cinta semakin berkembang setelah melihatnya mulai meresa nyaman berada di sisinya.


Malam ini adalah malam yang paling bagi Neng. Setelah pernyataan cinta Alfarizi Neng semakin salah tingkah dan tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Kamar sederhana yang di tempati bertiga malam ini hanya memiliki tempat tidur nomor dua, tidak cukup untuk bertiga. Pakde Sarto menambahkan kasur single bed di bawah untuk tidur Akfarizi sedangkan Neng dan Alfian tidur di tempat tidur.


Sudah hampir tengah malam saat Alfian tertidur pulas setelah selesai bercanda dengan papinya. Alfarizi masih terjaga menunggu Alfian benar-benar terlelap. Dia tahu jika Neng juga belum tidur walaupun matanya terpejam.


Alfarizi bangun dan duduk di bawah, dagunya di letakkan di samping wajah Neng yang tidur terlentang dan matanya terpejam. Menatapnya lekat-lekat wajah mulus tanpa berkedip. Bertekat mengajaknya bicara dari hati ke hati malam ini.


"Neng ... Neng Geulis, aku tahu kamu belum tidur!"


"Neng please aku ingin bicara sebentar!"


"Hhmm ...!"


"Maafkan aku, aku dulu selalu menyakiti kamu, dulu aku menelantarkan kalian aku ...!"


Belum selesai melanjutkan ucapannya Neng langsung memotong, " Aku sudah lama memaafkan Anda, tidak perlu terus-menerus meminta maaf."


"Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi, aku sunguh-sungguh, aku suka sama kamu."

__ADS_1


Neng langsung membuka matanya dan melirik nya. Jaraknya yang hanya satu jengkal Neng tidak berani menengok sama sekali. Jantung rasanya berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Apakah ada kesempatan kedua untukku bisa menebus kesalahan yang ku buat, aku ingin mengobati luka yang parnah aku ...?"


"Tuan, apakah bisa Anda tidak buru-buru?"


"Tentu Neng Geulis, aku akan menunggumu."


"Jangan memaksaku, jangan samakan aku dengan wanita lain. aku tidak pernah bisa kenal lawan jenis seumur hidupku, apakah Anda bisa mengerti maksudku?"


"Tentu Neng Geulis, aku akan melakukan apapun agar kamu bisa nyaman bersamaku."


"Maaf Tuan aku ...!"


"Tunggu dulu Neng Geulis, aku tidak akan menuntut dan meminta apapun darimu, aku akan selalu berbuat yang terbaik untukmu, hanya satu saja yang aku minta, tolong jangan panggil aku Tuan, rasanya aku masih jahat saja saat kamu memanggil seperti itu!"


Neng menarik napas panjang dan menggeluarkan perlahan. Sudah mencoba tidak memanggil itu saat di depan umum, tetapi sudah terbiasa dari awal bertemu rasanya sulit untuk merubahnya. Seperti hati yang sudah terbiasa dan terpatri dari awal bertemu bahwa hanya miliknya seorang tak seorangpun boleh memilikinya. Sampai sekarang kata-kata itu selalu saja tertanam di hatinya.


"Sudah terbiasa Tu ... eee, aku harus panggil apa?"


"Abang, Kakak, asal jangan Mas Onta Arab aja seperti masyarakat di sini."


Neng tertawa tetapi sambil menutup mulutnya. Tidak ingin putranya terbangun mendengar tawanya di tengah malam. Nanti di kiranya Mbak Kunti yang gentayangan mencari onta arab yang masih terjaga.


"Iiih kamu maah Neng, jangan di tutup atuuh kalau tertawa, aku tidak bisa melihat wajah cantikmu!"


"Apa sih, aku mau tidur!"


"Jadi bagaimana memanggilnya kan belum ada kesepakatan, Neng Geulis?"


"Besok lagi aja, aku mengantuk."


"Baiklah selamat malam istrinya Mas Onta Arab," canda Alfarizi sengaja agar dia tertawa lagi, rasanya hanya mendengar tertawanya membuatnya bahagia.


"Fffhh ...!" Neng menahan tawa lagi sambil menutupi wajahnya dengan selimut.


Setelah dua jam berlalu Alfarizi mendengar napas teratur Neng yang sudah tertidur pulas. Mata Alfarizi tetap saja tidak bisa diajak untuk terpejam maunya hanya memandang wajah cantik yang sudsh terlelap. Ada suara getar ponsel milik Neng yang dalam keadaan mode diam di atas meja, dia langsung terbangun dan melihat siapa yang menghubungi, sayangnya hanya ada nomor yang tidak di kenali.


"Siapa yang mengubungi Neng jam segini, apakah ini nomor si Serangga itu?"

__ADS_1


__ADS_2