
Sesaat Al terhibur karana bertemu dengan teman waktu SMP. Apalagi bertemu dengan teman sebangku yang sekarang ini sudah meraih cita-citanya yaitu seorang dokter. Kini mereka berbincang berdua saling bercerita pengalaman hidup dan masa lalunya.
"Harry, sekarang kamu tinggal dimana?"
"Aku di Bekasi bersama istri dan dua putraku, Al."
"Kamu tugas di rumah sakit di Bekasi juga?"
"Betul, kamu sekarang sudah sukses ya, istri seorang model terkenal, putri cantik, pantas saja kamu sudah lupa denganku!"
"Kamu bisa aja, aku minta nomor handphone kamu, aku rencana ada bisnis di Bekasi, aku berkunjung saat bisnisku berhasil nanti!"
"Tentu, harus datang lo ya, kalau perlu bawa istri dan putrimu, kita bisa reuni keluarga."
Al tersenyum ragu, ke Bekasi berniat mencari istri siri dan anaknya bukan mengajak istri sah dan anak angkatnya. Al menahan diri untuk bercerita karena berniat ingin mencari anak kandungnya terlebih duhulu, baru menceritakan tentang rumah tangganya.
Bertukar nomor handphone, meminta alamat rumah, tempat bekerja semua sudah mereka lakukan. Pertemuan mereka lebih banyak Harry yang bercerita tentang keluarganya. Al lebih banyak mendengarkan, dia menceritakan tentang istri sah dan anak angkatnya hanya sekedarnya saja.
Banyak juga teman wanita Al yang menanyakan tentang istrinya, Al pun hanya menjawab sekedarnya. Bahkan ada temannya yang katanya sudah janda tebar pesona terutama kepadanya, tetapi Al tidak menanggapinya. Sekarang ini hati Al hahya fokus kepada Neng dan anaknya yang belum tahu di mana keberadaan mereka.
Menjelang tengah malam Al berniat ingin pulang ke villa. Sekarang ini dia lebih suka tidur di kamar yang dulu pernah di pakai tidur bersama istri sirinya. Bisa memeluk dan menciumi baju yang pernah dipakai Neng sesuka hati. Rasa rindu yang selalu menyesakkan dada bisa terobati saat Al berada di kamar itu.
Al baru berjalan sampai parkiran telepon berdering dengan kencang. Al meraih handphone dan membaca dengan tulisan Umi. Bergegas Al menekan tombol hijau dan menempelkan di telinganya.
"Halo Umi, di Jakarta sudah tengah malam, ada apa?"
" ... "
"Ooo baiklah, aku ke sana sekarang!"
Al melajukan mobilnya kearah bandara Sukarno Hatta, mendapatkan perintah dari Umi Anna. Ibu yang telah melahirkannya 38 tahun yang lalu. Sudah hampir tiga tahun Umi Anna tinggal di Riyadh Arab Saudi mendampingi Abi Ali Zulkarnain meneruskan bisnis milik leluhur Umi Anna disana.
__ADS_1
Umi Anna adalah wanita keturunan Arab dan Jawa, sedangkan Abi Ali asli dari suku Betawi. Umi pulang ke Indonesia bersama Isya adik Al yang akan menikah sebentar lagi dengan seorang pemuda teman kuliahnya di Australia. Calon suami Isya adalah putra dari seorang pengusaha besar yang tinggal di Bekasi.
Wanita tua berhijab yang anggun itu ternyata sangat mirip wajahnya dengan Alfarizi. Sayangnya karena sudah cukup umur Umi Anna memiliki riwayat penyakit hipertensi. Isya yang sering terkena amarah Umi jika Isya melakukan hal yang tidak sesuai kehendak uminya.
Mereka menginap di rumah Alfarizi, karena rumah milik Abi Ali sudah lama di kontrakkan dari pada kosong. Sampai di rumah Umi Anna langsung beristirahat di kamar tamu yang ada di lantai bawah. Al dan Isya berbincang di kamar Isya yang ada di ujung lantai dua.
"Isya, ternyata kamu benar, Sinta memiliki kekasih gelap dan berselingkuh."
"Sekarang Abang percaya padaku, kemana aja Abang selama ini?"
"Maaf waktu itu aku tidak percaya padamu, tetapi aku masih mencari bukti yang kuat agar dia tidak bisa mengelak,"
"Ceraikan saja dia Bang, wanita ular di pelihara!"
"Pasti itu, tetapi tidak sekarang, jangan cerita dulu pada Umi dan Abi ya, please!"
"Abang menunggu apa lagi, buktinya dia sekarang jarang pulang?"
"Ada satu lagi Isya, nanti kalau sudah waktunya Abang ceritakan."
"Bang, besok Isya dan Umi akan ke Bekasi dijemput oleh Bang Fano."
"Waah yang sekarang punya Abang baru, tapi Abangmu ini jangan di tendang lo ya!"
"Abang apaan sih!"
"Semoga kamu bahagia adikku, setialah dengan pasanganmu, jangan sampai ada pengkhianatan seperti terjadi di keluarga Abang, ok!"
"Iya Bang, terima kasih, semoga persoalan Abang cepat selesai."
Pagi harinya Umi Anna marah-marah setelah mendengar cerita Bibi pembantu jika Sinta jarang pulang. Al juga jarang pulang dan lebih parahnya lagi Marta dititipkan di rumah oma dan opanya. Isya tidak berani bercerita karena sudah berjanji kepada Al sampai semua terbukti.
__ADS_1
"Umi, kami sama-sama sibuk, jangan marah-marah!" kata Al santai.
"Umi, jangan marah terus, bagaimana jika bertemu dengan calon mertuaku, Umi nanti terlihat jelek?"
Umi Anna tersenyum dan mengambil napas panjang mencoba untuk mengendalikan diri. Al dan Isya saling pandang dan tersenyum bisa membuat ibunya mengendalikan diri dan tidak marah lagi. Al dan Isya memeluk Umi Anna secara bersamaan.
"Umi nanti setelah selesai bertemu dengan orang tua Fano, mampir di mall yang rencananya aku beli ya!"
"Untuk apa Umi ke sana, Al?"
"Umi bisa melihat keadaan mall itu, bisa jadi pertimbangan saat pengelolaannya nanti."
"Abang, aku juga mau melihat mall itu tetapi dengan satu syarat!"
"Apa syaratnya Isya?"
"Abang harus membayar Isya dan Umi saat shooping di sana!"
"Itu namanya merampok Isya, kamu curang." Al pura-pura merajuk dan mengerucutkan bibirnya.
"Abang ini, uang Abang buat apa kalau tidak di habiskan, ayolah!" rayu Isya.
"Baiklah, ini kartu Abang belanjalah sesukamu, yang penting Isya dan Umi bahagia."
Setelah sarapan Al berangkat ke kantor seperti biasa. Isya dan Umi Anna berangkat ke Bekasi di jemput oleh Stefano Darwan, calon suami Alfarisya Zulkarnain. Untuk bertemu dengan mereka sebagai balasan karena satu bulan yang lalu orang tua Stefano telah berkunjung ke Riyadh melamar Isya secara resmi.
Mereka berbincang di rumah Stefano sampai sore hari, Umi Anna dan Isya mengunjungi mall yang seperti permintaan Abangnya. diantar kembali oleh tunangannya sampai mall yang dituju. Stefano ada pekerjaan yang harus di selesaikan sehingga dia meninggalkan mereka untuk shooping berdua saja.
Umi Anna dan Isya berjalan masuk mall sambil bergandengan tangan dan melihat-lihat kondisi mall. Saat mereka berjalan baru beberapa meter langkah Umi Anna berhenti setelah sampai di depan butik. Mata Umi Anna tertuju pada satu foto anak laki-laki yang menggunakan jas berdiri menghadap ke samping, tangan kiri di pinggang tangan kanan menunjuk seperti memegang pistol.
Umi Anna langsung mengambil handphonenya. Membuka galeri foto mencari foto putranya saat masih kecil. Wajah posisi badan dan tatapan mata yang sama. Yang membedakan hanya bajunya saja, yang ada di galeri memakai baju kotak-kotak sedangkan foto besar yang ada di depannya menggunakan jas.
__ADS_1
"Isya ... Isya, kepala Umi pusing sekali!" kata Umi Anna memegangi kepalanya, lemas dan pingsan seketika.
"Umiiiiii!" teriak Alfarisya dengan keras.