Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Taj Mahal


__ADS_3

Malam ini pukul sepuluh Alfarizi dan Neng bersiap untuk terbang ke India sesuai jadwal ke dua bulan madu. Perjalanan dari Bandar Udara Internasional Charlles de Guaille Paris sampai di Bandar Udara Internasional Indira Dandhi India di tempuh sekira sembilan jam. Dari bandara menuju kota Agra hampir menjelang pagi baru tiba di hotel yang sudah reservasi sebelumnya di daerah dekat bangunan bersejarah Taj Mahal.


India adalah negara impian almarhumah ibu mertua yang ingin di wujuwdkan oleh Afarizi setelah dari Paris. Sayangnya hanya memiliki waktu satu hari satu malam untuk mengunjungi negara yang terkenal dengan penduduknya yang sangat padat itu. Sehingga Afarizi hanya mengajak Neng di tempat wisata yang sangat terkenal yaitu Taj mahal dan menyaksikan festifal Holi yang sedang berlangsung meriah di Agra.


Pagi ini yang pertama di kunjungi adalah Taj Mahal, Bangunan bersejarah Taj Mahal juga dinyatakan sebagai tempat bersejarah paling terkenal yang sudah dikenal dari penjuru dunia. Di sebut juga dengan nama Mumtaz Mahal karena dulunya merupakan mempersembahkan khusus dan spesial dari seorang suami yang bernama Kaisar Shah Jahan kepada istrinya. Proses pembuatan bangunan ini dikerjakan oleh sebanyak 20.000 pekerja selama 22 tahun, ini menjadi bangunan yang sangat spektakuler.


Ada banyak sekali elemen yang diambil untuk konsep bangunan ini, ada banyak sekali elemen Islam termasuk di antaranya adalah desain, kubah, hingga menara yang sangat mirip dengan pintu masuk yang ada di sekitar bangunan. Taj Mahal dibangun dari marmer putih yang sudah didekorasi dengan halus bertahtakan pola bunga dan batu-batu semi mulai. Untuk jenis batu semi mulia ini di antaranya ada lapis lazuli, berlian, mutiara, dan juga batu giok. 


Neng memperhatikan bangunan Taj Mahal dengan linangan air mata, setiap langkahnya hanya teringat sosok ibu yang ceria sedang bersenandung lagu india lama. Kecintaan ibu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan India tanpa di sadari juga membuat Neng seolah sangat dekat dengan negara yang baru saja di kunjunginya. Alfarizi hanya bisa menggenggam tangannya dengan erat dan sesekali mengusap air matanya yang berlinang di pipi.


"Honey, Ibu sudah bahagia di sisi Nya, sekarang kita sudah bisa mewujudkan impian belau, berbahagialah."


"Terima kasih Papi, maaf Mami jadi baper."


"Ayo kita berkeliling lagi!"


Hanya sampai setengah hari berada di Taj mahal. setelah selesai makan siang dengan menu makanan India. Neng dan Alfarizi menyaksikan festival Holi yang sedang berlangsung meriah di sana. Festival Holi di India juga dirayakan oleh banyak individu sebagai perayaan musim semi dan juga dapat diartikan sebagai perayaan ucapan syukur kepada para dewa untuk musim semi yang melimpah.


Perayaan terkenal memuji kemenangan kebaikan atas kejahatan. Salah satu demonstrasi mendasar untuk diingat dari festival ini adalah gambaran dari jelmaan iblis wanita bernama Holika. Dewa Hindu, Wisnu, dipuji selama perayaan sebagai Dewa Pelestarian karena telah berhasil melenyapkan iblis wanita itu. Kebangkitan Wisnu adalah Krishna dan Dewa Hindu populer lainnya, yang merupakan karakter energik yang senang melemparkan warna dan air kepada anak-anak. Nama "Holi" ditandai sebagai Festival Warna karena karakter Krishna yang energik dan ceria.


Karena perayaan Holi ini hampir serentak di derah kota Agra dan banyak dirayakan di jalan, banyak anak-anak yang berlarian di jalan dengan ceria sambil melemparkan warna tanpa sengaja Neng juga terkena holi powder warna-warni itu. Alfarizi juga meminta holi powder dari mereka untuk dioleskan pada kedua pipi Neng.


"Ini menandakan jika putri Ibu sudah benar-benar mewujudkan impiannya untuk mengunjungi negara favoritnya," kata Alfarizi mengusap pipi Neng menggunakan holi powder.


"Mami juga mau sini holi powdernya, ini menandakan bahwa menantu Ibu sudah mewujutkan kebahagiaan putri Ibu, terima kasih Papi untuk ini." Neng mengusap pipi Afarizi menggunakan holi powder.

__ADS_1


Sambil bercanda keduanya ikut bermain Holi dengan riang berjalan dan berjingkrak mengikuti musik yang menghentak. Suara kendang yang senada dengan tabuhan drum semakin membuat semua yang mendengar bersemangat larut dalam kebersamaan.


Perayaan holi berlangsung sampai sore hari sehingga Neng dan Alfariizi tidak bisa keluar dari daerah kota Agra. Setelah makan malam mereka harus kembali ke bandara untuk melanjutkan perjalanan ke bandara kembali ke Riyadh Arab Saudi. Dalam perjananan mereka hanya sempat membeli Kain Sari khas India untuk oleh-oleh keluarga.


Dalam pesawat Neng langsung masuk kamar untuk beristirahat. Hampir tiga hari perjalanan wisata bulan madu benar-benar di manfaatkan oleh Alfarizi untuk quality time berdua tanpa jeda. Siang hari untuk wisata berdua malamnya untuk goyang bersama onta arab.


Malam ini di pesawat Neng hanya meluruskan kakinya di tempat tidur, rasa pegal seharian berjalan mengikuti meriahnya perayaan Holi, "Kenapa Honey, apakah kakinya pegal?" tanya Alfarizi saat baru masuk kamar.


"Iya Pi, capek sekali."


"Sini Papi pijitin, apakah perlu pakai minyak?"


"Memangnya Papi bisa pijit kaki?"


"Sudah berapa kaki yang dipijit plus-plus sama Papi?"


"Eeee baru mau ini jangan macam-macam pikirannya ya!"


"Katanya ahli, bagaimana sih Papi ini?"


"Maksudnya ahli pijit plus-plus khusus untuk istri tercinta."


Alfarizi mulai memijit Neng dari pergelangan kaki, betis bergantian kanan dan kiri. Naik lagi ke paha bagian bawah juga bergantian kanan dan kiri. Tidak lama kemudian sambil memandang wajah Neng yang sedang menikmati sentuhan tangannya, senyumnya mulai devil saat mulai memijit di area intimnya.


"Papi itu bukan kaki, jangan pijit di situ!"

__ADS_1


"Ini yang Papi maksud paling ahli ya pijit ini, Honey."


Kembali Alfarizi merabanya dengan lembut sambil tersenyum devil. Selalu saja tidak bisa menahan rasa jika hanya berdua. Rasa cinta yang semakin menggebu selalu ingin di ekpresikannya dengan tindakan yang nyata.


"Papi, yang yang di pijit bukan di situ terus, sini pindah lagi!" Neng menepuk paha kaki sebelah kanan.


Sambii terkekeh Alfarizi memindahkan tangan seperti yang diinginkan istrinya. Memijit dengan lembut hanya sebentar saja di sana, lama-lama kembali ke tempat fovoritnya lagi sambil memandangi wajah Neng yang mulai kesal, "Tidak bisa diajak kompromi tangannya Mami, dia maunya kembali ke tempat favoritnya, tuuuh, kan!" Alfarizi mengedipkan matanya agar Neng tidak marah.


"Papi, kaki Mami belum hilang nich pegalnya jangan modus terus naaah!"


"Iya Honey, sebelah mana lagi?"


"Mulai dari awal lagi, awas ya kalau modus lagi, khusus untuk malam ini Papi bergoyangnya tanpa musik!"


"Eee apa maksudnya tanpa musik?"


"Maksudnya onta arab bergoyang sendiri, buka sendiri, masukin sendiri, kalau sudah selesai ditutup sendiri."


"Waduh di mana enaknya kalau begitu?"


"Kalau mau pakai musik, yang semangat pijitnya, pakai perasaan gitu, jangan melirik sini terus. Untuk sementara ini di tutup dulu sampai hilang pegalnya."


"Yaaah jangan di tutup, jadi tidak semangat nich mijitnya buka lagi dong!"


"Modus ...."

__ADS_1


__ADS_2