Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Di Basmi Permanen


__ADS_3

Mobil Surya parkir di depan rumah yang tidak asing lagi bagi Rangga Siregar. Saat mobil itu sudah berhenti dengan sempurna seolah Rangga Siregar hampir tidak percaya. Saat dalam perjalanan tadi bayangan di otak Rangga sudah membayangkan dia akan di sekap di gudang yang sepi, pengap dan akan di hajar habis-habusan.


"Bawa dia turun cepat!" perintah Surya.


"Siap Bos."


Kedua anak buah Surya langsung menarik Rangga Siregar Tanpa kata. Mengikuti Surya dan Desi yang berjalan menuju ruang tamu. walaupun Rangga meronta-ronta tetap saja dia tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman tangan kekar anak buah Surya.


"Tunggu dulu, mengapa aku di paksa masuk rumahku sendiri?" tanya Rangga Siregar yang heran karena ternyata dia di gelandang ke rumahnya sendiri.


"Nyonya, kami sudah datang." kata Surya.


"Desi, Surya duduklah!" perintah Umi Anna.


Di ruang tamu itu sudah menunggu Empat orang wanita, dan dua laki laki tua, yaitu Umi Anna, Isya, istri ke tiga Rangga dan ibu kandung Rangga yang laki-laki ada Abi Ali dan Ayah kandung Rangga Siregar.


"Mama, Papa ada apa ini?" tanya Rangga pada kedua orang tuanya.


"Kamu ya anak kurang ajar, apa yang kamu lakukan dengan menantu Tuan Ali dan Nyonya Anna?" tanya Papanya Rangga.


"Memang mengapa, mereka belum terikat pernikahan, tidak salah lah aku mengejarnya, aku suka dia!" Rangga menjawab sekenanya dan duduk di samping istri ke tiganya.


"Sekarang jawab, mengapa kamu menjual mobil bodong kepada Tuan Ali?" tanya Mamanya Rangga dengan tatapan mata yang tajam.


"A ... aku tidak menjual mobil bodong."


"Kamu masih mengelak, lihat ini buktinya!" Istri ke tiga dari Rangga memberikan bukti dari penjualan mobil Lamborgini hasil curian dengan surat-surat palsu. Foto Rangga saat berjabat tangan dengan Abi Ali, dan


bukti transfer uang kepada rekening atas nama Rangga Siregar.


"Kami tidak akan menuntut kamu ke kantor polisi tentang kasus ini, cukup kembalikan uang kami, dan tanda tangani surat perjanjian ini!" kata Umi Anna memberikan kertas satu lembar dan sebuah polpoin di atas meja.


"Cepat Papa tanda tangan, uangnya sudah aku kembalikan!" perintah istri dari Rangga Siregar.


"Apa isi perjanjian ini?" tanya Rangga Siregar


"Kamu tidak perlu mengetahui isi surat perjanjiannya, tanda tangan dulu atau aku coret kamu sebagai ahli waris keluarga!" teriak Papanya Rangga dengan geram.


"Baiklah, aku tanda tangan."

__ADS_1


Papanya Rangga termenung teringat dua jam yang lalu di datangi oleh pengusaha terkenal Ali Zulkarnain bersama istrinya di show room mobil milik putranya Rangga sambil membawa polisi dan dua pengawal. Menunjukkan bahwa putranya melakukan jual beli mobil hasil curian.


Dengan sedikit ancaman akan di penjarakan dan di tutup show room mobil itu kedua orang tua Rangga Siregar meminta agar bisa di selesaikan dengan kekeluargaan. Ali Zurkarnain menyetujuinya dengan syarat putranya tidak mendekati menantu dan cucunya. Akhirnya keduanya sepakat Rangga harus menjauhi Ningtiyas Paramitha, mengembalikan uang pembelian mobil Lamborgini dan mulai saat ini show room akan di ambil alih oleh ayah kandung Rangga Siregar dan istri ke tiganya.


"Ini Sudah aku tanda tangani!" kata Rangga setelah tanda tangan dan melempar polpoinnya begitu saja di meja.


"Sekarang kamu baca surat perjanjian yang baru saja kamu tanda tangani, aku hanya memastikan semua sesuai dengan perjanjian itu!" perintah Abi Ali berdiri dan bertolak pinggang.


Rangga Siregar membaca langsung pada poinnya saja yaitu:




Rangga Siregar harus menjauhi Ningtiyas Paramitha baik secara pribadi ataupun urusan bisnis.




Show Room mulai saat ini di pimpin oleh Ucok Siregar dan wakilnya Santy Siregar.






Jika bercerai dengan Santy Siregar, Putri Siregar akan di asuh oleh ibu kandungnya dan akan di coret dari ahli waris keluarga Siregar.




Selesai membaca surat perjanjian, Rangga Siregar mendorong sofa yang di dudukinya sambil berterisk, "Aaaarrrg, breng sek, mengapa isinya tidak adil?"


"Kamu jangan macam-macam Rangga, tidak cuma Tuan Ali yang meminta kembali uangnya, masih ada lima orang lagi yang meminta ganti rugi, Papa tidak punya uang sebanyak itu, bo*doh; Santy yang membayar ganti rugi mereka semua!" teriak Papa Ucok.

__ADS_1


"Breng sek!" teriak Rangga lagi.


"Baiklah urusan kami sudah selesai kami pamit."


Abi Ali dan rombongan ingin keluar dari rumah milik Rangga Siregar. Ada bibi yang tergopoh-gopoh mendatangi majikannya sambil tertunduk, "Maaf, ada dua polisi dan seorang wanita cantik yang ingin bertemu dengan Pak Rangga."


"Rangga, ini urusan apa lagi, breng sek kamu ya, membuat Papa susah saja!" kembali Ucok Siregar naik pitam.


Surya tersenyum menyeringai mengikuti Abi Ali dan Umi Anna yang keluar rumah Rangga Siregar dengan bergumam lirih, "Selamat menikmati serangan ku selanjutnya Serangga!" dan mengirim pesan WA kepada tuannya, "Si Serangga sudah di basmi secara permanen."


Keluar dari rumah Rangga Siregar, Umi Anna dan Abi Ali mengajak Isya, Surya, Desi dan anak buahnya makan di restoran untuk makan siang walaupun sudah telat. Memesan makan sambil membicarakan tentang hubungan Alfarizi dengan Neng. Selama ini kedua orang tua Alfarizi selalu memantau hubungan mereka dengan bekerja sama dengan Surya dan Desi.


Sementara itu di rumah Neng, sepeninggalan Surya menggelandang Rangga Siregar keluar rumahnya. Saat ini Alfarizi duduk di ruang keluarga, menunggu Neng keluar dari kamar. Kini hatinya semakin yakin jika Neng sudah mulai bisa menerimanya walaupun belum seratus persen.


Alfarizi mulai mengitropeksi diri, dirinya memang pernah berbuat salah, tetapi kini mulai ingin memperbaiki diri, ingin mengubah menjadi lebih baik. Semua manusia memang tidak ada yang sempurna termasuk dirinya, sekarang ini hanya ingin berusaha berbuat yang terbaik untuk orang yang sangat di cintai yaitu Neng dan Alfian putranya.


Hampir satu jam Alfarizi termenung sambil menunggu Neng di ruang keluarga, tetapi yang di tunggu tak kunjung keluar dari kamar. Alfarizi berjalan perlahan naik tangga menuju lantai dua. Berdiri di depan pintu kamar Neng, mondar-mandir tangannya ingin mengetuk tetapi diurungkan. Alfarizi ragu untuk mengetuk pintu, dia tahu betul sifat Neng sekarang ini dan teringat jika dia berpesan tidak ingin terlalu di paksakan, harus berlajan mengalir tanpa beban.


Alfarizi melihat jam tangan, teringat saat ini waktunya Alfian pulang sekolah. Dia memutuskan untuk menjemput putranya terlebih dahulu dan akan menemui Neng berdua dengan putranya.


Setelah sampai di rumah kembali berdua dengan putranya, Alfian berlari menuju lantai atas diikuti oleh Alfarizi dari belakang langsung ke kamar maminya membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Mami, Al pulang ...."


Neng yang dari tadi setelah menampar Rangga Siregar langsung masuk kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan shower tanpa membuka bajunya. Keluar kamar mandi hanya melilitkan handuk di badannya dari dada sampai paha bawah. Dan memakai handuk kecil untuk menutupi rambutnya yang basah keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Alfian masuk kamar dan Alfarizi berdiri di depan pintu.


"Papiiii ... balik badan!" teriak Neng.


" ...?"


[Menurut Raider Papi mau balik badan tidak ya? atau dia berdiri menatap pemandangan yang indah di depannya?] silahkan di jawab ....



jangan lupa mampir shobat, sambil menunggu


Apa Salahku Tuan? up lagi


I love you all

__ADS_1


__ADS_2