
ĺAbah dan Rania terpaksa berangkat ke pangkalan angkot malam itu juga setelah di panggil babe ayah dari Abang Gondrong. Rasa takut dan khawatir berada di dalam benak Rania dan Abah. Takut di paksa untuk meladeni Abang Gondrong yang seperti anak kecil.
Rania memarkirkan angkotnya di sembarang tempat setelah melihat ada banyak orang yang berkumpul di lahan kosong samping pangkalan angkot. Langsung berlari mendekati mereka takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Ada pelaminan kecil, satu meja pendek di tengah karpet permadani yang membantang di depan pelaminan. Abah memandang pelaminan dadakan itu dengan emosi. Sambil meletakkan tangan di pinggang, "Apa-apaan ini Babe, apakah kamu akan memaksa cucuku?"
"Jangan emosi dan marah dudu, Abah!" Babe mencoba meredakan emosi Abah.
"Bukankah sudah aku bilang, jangan paksa cucuku menikah dengan Abang Gondrong kesayanganmu itu!"
Babe menarik tangan Abah menjauhi pelaminan diikuti oleh Rania dari belakang. Sampai angkot yang terparkir di belakang pelaminan dadakan Babe langsung memberhatikan Abah dan Rania. Mengajak duduk di jok angkot dan mengajak berbincang.
"Abah coba dengarkan sebentar, jangan emosi dulu!"
"Cepat katakan keburu aku obrak-abrik pelaminan yang kamu buat itu!" Abah kembali bertolak pinggang.
Babe bercerita tiga jam setelah Rania meninggalkan Abang Gondrong. Datang wanita yang umurnya sama dengan Abang Gondrong membantu dia bangun saat berguling-guling di tanah. Keduanya memiliki sifat dan kekurangan yang sama.
Abang Gondrong langsung terpesona saat pandangan pertama demikian juga dengan wanita itu. Saat itu juga Ibu dari wanita itu meminta untuk langsung menikahkan mereka. Kedua keluarga langsung sepakat untuk menikahkan mereka tanpa ada syarat apapun.
Abang Gondrong langsung melupakan Rania dalam sekejab. Tidak lagi mengingat nama itu padahal sudah hampir satu bulan selalu di sebutnya setiap saat. Kini sudah berganti dengan wanita yang memiliki sifat dan pikiran yang sama.
"Ha ha ha ...!" Abah tertawa terbahak-bahak setelah Babe selesai bercerita.
__ADS_1
"Abah, mengapa malah tertawa?" tanya Rania sambil mengerutkan keningnya.
"Lucu saja mendengar cerita Babe, Abang Gondrong sudah mendapatkan jodoh, dengan mudahnya dia melupakanmu, Neng Rani kapan?"
"Abah ngeledek Rani ya, tunggu sebentar lagi pasti suami halu Rani akan menjemput," jawab Rania sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudah jangan bertengkar, Kami memanggil Abah untuk menjadi saksi bukan untuk bertengkar, ayo sudah saatnya akad nikah di mulai!"
Abah bergabung dengan sopir yang lain untuk menyaksikan dan menjadi saksi akad nikah Abang Gondrong. Rania hanya duduk termenung menyaksikan pengantin mengucapkan ikrar akad dari kejauhan. Duduk sambil melamun membayangkan suami halu yang sudah satu tahun tidak pernah lagi di temuinya.
Membayangkan seandainya yang duduk di pelaminan itu adalah dirinya bersama Tuan Halu. Dengan mengucapkan kata sakral yang diidamkan setiap pasangan yang saling mencintai. Walau maharnya tidak seperti yang di tawarkan oleh bandot tua saat itu, pasti akan sangat bahagia.
---
Di villa Julio sedang berkonsentrasi mencari gadis yang ada di ponselnya. Mencari informasi di media sosial, semua di telusuri dengan teliti. Di jaman yang sangat canggih dengan dukungan tehnologi tinggi dengan mudah Julio mencari informasi tentang wanita yang bernama Rania Kirana.
Dalam postingan di media sosial Julio mengambil foto kegiatan sehari-hari Rania Kirana saat sedang menarik angkot. Ada juga saat bersama kakeknya yang sering di panggil Abah. Atau saat Rania sedang berlatih taekwondo bersama dengan teman-temannya.
Sudah komplit mendapatkan informasi tentang gadis itu, Julio tidak langsung mengirim laporan kepada Alfian. Dia akan memastikan terlebih dahulu informasi yang di dapatkan di media sosial. Ingin menyaksikan sendiri secara langsung gadis yang bernama Rania Kirana yang membuat sahabat dan sekarang ini menjadi bosnya susah untuk move on.
Pagi ini Julio langsung meluncur ke Bogor menggunakan motor gedenya. Hanya menggunakan petunjuk goegle map dia langsung bisa menemukan pangkalan angkot. Parkir di kedai bakso yang tidak jauh dari pangkalan Julio duduk santai sambil menikmati semangkuk bakso dan segelas es teh.
Menunggu sampai pukul sembilan pagi, Julio baru melihat gadis itu memasuki area pangkalan angkot. Melihat dari kejauhan gadis yang selalu memakai celana tiga perempat, topi yang di balik dan handuk yang melingkar di leher. Dia turun dari kemudi angkot untuk menunggu penumpang dan duduk bersama dengan teman sesama sopir di kursi panjang.
__ADS_1
Gadis itu lebih memilih menunduk melihat ponsel dan berkonsentrasi berselanjar di media sosial pada ponselnya. Hanya sesekali dia berbincang dengan sopir yang sebagian besar adalah laki-laki paruh baya. Bahkan terkadang saat diajak berbincang walaupun menjawab pertanyaan mereka, gadis itu masih saja menunduk dan melihat layar ponsel.
"Ayo parong ... Bogor, langsung berangkat!" teriak laki-laki paruh baya yang sedang membantu mencarikan penumpang untuk angkot Rania.
Dengan diam-diam Julio mengabil foto dan merekam kegiatan gadis itu dari kejauhan. Julio melihat giliran angkot milik Rania Kirana mulai di penuhi dengan penumpang. Rania Kirana juga langsung masuk di angkotnya saat menumpang sudah penuh.
"Bang ... Rani narik dulu, ini uangnya terima kasih!" teriak Rania sambil memberikan uang jasa kepada laki-laki yang berteriak mencari penumpang.
"Ya ... hati-hati Neng Rani," jawab Laki-laki itu sambil menerima uang dari Rania.
Julio langsung membayar bakso dan es teh yang di pesannya. Berlari mengambil motor gedenya dan mengikuti angkot yang di kemudikan oleh Rania. Julio tetap merekam kegiatan gadis itu dari belakang baik saat dia menurunkan penumpang atau menaikkan penumpang di jalan raya.
Sesekali Julio juga mendengar teriakan Rania yang mencari penumpang dengan suara yang lantang, "Parung ... Bogor, ayo langsung!"
Julio tersenyum mendengar seorang gadis yang berteriak tanpa malu saat mencari penumpang. Umurnya yang masih belia tidak menyurutkan niatnya untuk mencari nafkah demi menyambung hidup sendiri tanpa di dampingi orang tua. Mengetahui dia berjuang sendiri hanya ikut kakek tua yang menganggapnya sebagai cucu, Julio menjadi salut atas perjuangan gadis yang sedang di awasinya.
Dua kali bolak-balik trayek Parung - Bogor Julio mengikuti angkot tanpa berhenti. Sampai waktu istirahat makan siang, Julio mengikuti angkot masuk warung nasi padang. Membeli dua bungkus nasi padang dengan lauk rendang dan petai goreng. Julio mengikuti angkot sampai di rumah sederhana dan di sambut laki-laki tua yang di lihatnya di media sosial.
Julio membelokkan motornya untuk pulang ke Bekasi. Berniat mengabarkan kepada Alfian tentang selesainya penyelidikan. Dia menghentikan motornya di pinggir jalan untuk mengirim pesan WA kepada Alfian, "Done Bang, gue sudah menemukan gadis itu, sekarang dia ada di kota Bogor."
BERSAMBUNG
Sambil menunggu up AST jangan lupa mampir di novel teman ya
__ADS_1
Ini rekomen banget lo ...