
Kaki Al terasa lemas seperti tak bertulang. Mulai nenyadari mengapa Umi Anna pingsan karena tensi langsung tinggi. Naluri seorang ibu tidak pernah salah jika menyangkut anak atau cucunya.
"Al Sekarang kamu faham maksud Umi, kamu bisa cerita sekarang?"
"Umi aku...!" Al tidak melanjutkan ucapannya, lidahnya terasa kelu.
Dengan terpaksa Al menceritakan tentang istri sirinya, mulai dari awal sampai sekarang sudah tiga tahun belum juga menemukan jejaknya. Umi Anna benarik napas panjang setelah mendengar cerita putranya. Raut wajahnya terlihat kecewa karena Al tega memperlakukan seorang wanita dengan tidak semestinya.
Melihat wajah Umi Anna dan Isya yang kecewa Al hanya bisa medunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Umi Anna rasanya ingin memukul putranya yang membuatnya sangat kecewa. Mata Isya merah karena menahan marah karena abangnya memilih Sinta dari pada gadis yang memberikan keturunan untuknya.
"Maafkan aku Umi, aku sangat menyesal."
"Kamu tega Al, apakah kamu tidak berpikir jika orang lain memperlakukan adikmu seperti yang kamu kakukan kepada gadis itu, ha?" kata Umi Anna dengan kesal.
"Abang b*d*h memilih arang yang dipoles emas dan membuang permata yang terkena lumpur."
"Maafkan aku!" Kembali Al menunduk rasa bersalah itu semakin menyesakkan dada setelah Umi Anna dan Isya menyalahkannya.
"Betul kata Isya kamu memang b*d*h, jangan minta maaf kepada Umi dan Isya, mintalah maaf kepada gadis itu, kamu juga egois Al, kamu masih menganggap dia istrimu, sedangkan kamu sudah tidak pernah memberinya nafkah."
"Menghalu aja Bang, jika dia itu aku pasti Abang sudah aku tendang sampai Benua Antartika, dasar kejam!" Isya semakin emosi dan memukul bahu Al dengan keras.
"Kamu selidiki butik itu, Umi tidak akan ikut campur, kamu juga harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan mengerti Al?"
"Iya Mi, maafkan aku."
Datang Surya mendorong pintu setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. "Tuan, ada lagi yang bisa aku bantu?"
"Besok kamu beli mall itu berapapun harganya!"
"Tapi Tuan mall itu ...!"
"Aku tidak perduli dengan masalah konflik pemilik mall, kamu tahu Surya kemungkinan besar anak laki-laki yang kamu kirim lewat pesan Wa tadi adalah anak dari istriku."
"Betulkah Tuan, aku mengenal dan menyukai asisten dari owner butik itu."
"Oya, coba kamu hubuhgi dia, cari informasi tentang ownernya, alasan aja jika Isya ingin memesan gaun pernikahan, cepatlah!" peruntah Al dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Baik Tuan."
"Bang Surya jangan lupa di loaud spicker!" perintah Isya.
"Baik Nona, tetapi nanti jangan bicara ya, agar Desi tidak curiga!"
Keluarga Al semua mengangguk setuju. Surya membuka ponselnya mencari nama Desi dan menghubungi dia. Menekan tombol hijau dan menekan loaud spicker.
"Hai Desi, apakah pancaran Suya di hatimu semakin bersinar?" rayu Surya sambil tersenyum manis.
"Apa sih Abang ini, lebay tahu, ada apa Abang menghubungi?"
"Apakah besok aku bisa ke butik, adik dari bosku ingin memesan gaun pengantin rancangan Butik Aa?"
"Maaf Bang, Bu Mitha sedang keluar kota dua Minggu lagi baru pulang."
Al mengerutkan keningnya berpikir nama istri sirinya adalah Neng bukan Mitha. Dia mencoba mengingat nama lengkapnya Neng adalah Ningtiyas Paramitha. Apakah mungkin dia sekarang menggunakan nama yang paling belakang gumamnya dalam hati.
"Waduh lama sekali, apakah Bu Mitha sedang menghadiri event?"
"Kamu sudah pernah bertemu suaminya, mengapa setahun sekali, memangnya di mana suami Bu Mitha kerja?"
Hati Al semakin nyeri mendengar percakapan antara Surya dan Desi bahwa Neng sudah menikah. Al mulai ragu pemilik butik itu bukan Neng melainkan orang lain. Keraguan itu semakin besar karena yang bernama Mitha itu memiliki ibu sedangkan Neng hanya miliki ayah serta ibunya sudah meninggal dunia.
"Belum pernah sih Bang, kata Ibu Ani suami Bu Mitha itu bekerja di Arab Saudi sebagai TKI, pulang ke Indonesia setahun sekali.
"Siapa Ibu Ani itu, Desi?"
"Ibu Ani itu ibunya Bu Mitha."
"Siapa nama putra dari Bu Mitha?"
"Namanya Alfian Alfarizi disingkat AA untuk nama butiknya."
"Ooo, suami Ibu Ani ke mana Desi?"
"Sudah meninggal dunia."
__ADS_1
Mendengar dari percakapan itu Al meragukan jika yang di maksud Bu Mitha itu adalah Neng istri sirinya melainkan orang lain. Mendengar anak laki-laki ada nama depannya kembali Al memiliki harapan untuk bisa bertemu dengan Neng dan anaknya. Berniat ingin menyelidiki sendiri, walaupun kemungkinan itu tidak ada satu persen Al bertekat tidak akan menyerah.
"Mengapa kamu melamun, apakah kamu ragu, Al?" tanya Umi Anna.
"Kalau mendengar cerita dari Desi, banyak sekali perbedaan, Mi."
"Coba kamu sebutkan di mana perbedaannya?"
"Istriku Neng sudah tidak memiliki ibu, hanya tinggal bersama ayahnya saja; dia bersuku Sunda, dan tinggal di Jawa barat."
"Tetapi nama putranya memakai nama Abang, kalau menurut Umi foto ini putra Bang Al?" tanya Isya dengan analisanya.
"Ya, Umi yakin jika yang ada di foto itu cucu laki-laki Umi."
"Tuan, Nyonya, Desi sering bercerita jika putranya Bu Mitha nama panggilannya juga Al seperti Tuan." Surya juga memberikan pendapatnya.
"Tuuuh dengarkan Al, kamu selidiki owner butik itu, Umi kasih waktu kamu bisa menyelesaikan dan bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan, mengerti?"
"Iya Umi, terima kasih."
Malam itu juga Al ditemani Surya pergi ke mall dan Butik AA, untuk mengetahui informasi sebanyak mungkin tentang owner butik itu. Kebetulan masih ada sisa waktu setengah jam sebelum mall tutup. Al hanya berdiri terpaku melihat foto itu tanpa bisa berkata sepatah katapun.
Melihat foto poster besar di depannya terlihat sangat berbeda dengan di ponsel. Jantung Al rasanya berdegup kencang. Perasaannya tidak bisa dikendalikan lagi. Haru, bahagia, cemas, gelisah seolah menjadi satu berharap foto yang ada di depannya adalah putranya.
Berkali-kali Al mengusap foto Alfian tanpa sadar. Sambil mata terpejam membayangkan sedang membelai putranya. Dia tidak memperdulikan tatapan tajam dan heran orang yang lalu-lalang melewatinya.
Surya yang berdiri di samping Al fukus dengan ponselnya. setelah meminta link media sosial milik butik AA dari Desi. Dia langsung mencari informasi tentang owner tik AA. Selama kenal dengan Desi Surya juga belum pernah bertemu dengan bos dari Desi.
Yang pertama Surya lakukan adalah membuka instagram dengan nama Butik AA. Banyak sekali postingan di sana tetapi sayangnya sebagian besar yang di posting adalah hasil rancangan baju anak-anak dan foto Alfian sebagai modelnya. Ada juga foto para pelanggan yang berkomentar puas dengan rancangan owner Butik Aa.
Kemudian Surya membuka facebook juga dengan nama Butik AA. Sebagian besar isinya hannya baju dan baju yang di jual. Hanya ada beberapa foto yang tidak Surya kenal di antaranya foto Alfian sedang memeluk seorang wanita setengah baya. Surya membuka profil ternyata ada foto Alfian sedang mencium pipi Neng. Neng yang sudah berubah 360 derajat penampilannya.
"Tuan lihatlah, kemungkinan ini adalah owner dari Butik AA!" kata Surya sambil menunjukkan ponselnya.
promo novel temaan shobat, jangan lupa mampir
__ADS_1