Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Lomba


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Sekarang ini Neng sudah sampai di semester akhir dalam kuliahnya. Saat ini Neng sedang mengikuti lomba disainer baju khusus untuk anak. Persiapan demi persiapan dilakungan dengan teliti dibantu oleh Desi.


Setelah Peristiwa modus Reza kepada Neng, Desi semakin mengenal ibu beranak satu itu. Desi sering ikut bekerja di konfeksi untuk menambah biaya kuliahnya. Saat Neng sedang mengikuti lomba, Desi menjadi asisten Neng untuk memeprsiapkan show di akhir lomba.


Lomba diikuti calon desainer muda di seluruh Indonesia. Seleksi awal berlangsung selama tiga bulan. Peserta lomba memasuki babak akhir tinggal sepuluh peserta dari ribuan peserta yang mendaftar termasuk Neng.


Babak final tinggal menghitung hari, Neng semakin sibuk mempersiapkan rancangannya. Neng membuat desain baju khusus untuk anak laki-laki dan modelnya sebagian besar adalah putranya sendiri. Untungnya Alfian yang umurnya hampir lima gahun itu sangat senang saat di foto menggunakan memakai baju baru.


Dibantu dengan seluruh karyawan dan Desi, Neng mempersiapkan hasil rancangannya dengan teliti. Ditambah Alfian yang sangat mendukung Maminya dengan menjadi model dadakan. Dalam lomba itu Neng menggunakan nama panggung Paramitha dan menamai konfeksinya dengan nama "Butik AA" singkatan Alfian Alfarizi.


Hari Sabtu ini adalah hari penentuan pemenang lomba yang diikuti Neng. Seluruh karyawan ikut menyaksikan lomba, ingin melihat Al berlenggang di cat Walk di atas panggung. Penyelenggaraan lomba di laksanakan di sebuah mall ternama yang ada di Bekasi.


Saat awal perkenalan para Juri yang akan menilai para peserta, Neng tidak terlalu mendengarkan karena berkonsentrasi mengarahkan Al untuk bisa tampil sempurna diatas panggung. MC menyebutkan juri tamu yang hadir saat itu membuat Neng tertegun.


"Baiklah, inilah juri tamu kita hari ini, seorang model terkenal yang memiliki satu putri, mari kita sambut Sinta Zulkarnain, tepuk tangan untuk nya!"


Saat tepuk tangan gemuruh bersamaan seorang wanita cantik, seksi dan terlihat elegan, Neng hanya menatapnya tanpa berkedip. Sudah hampir lima tahun ini Neng mulai terbiasa mendengar dan melihat kabar istri sah dari papinya Alfian itu sekarang bertemu langsung dan bahkan akan menilai rancangannya.


Rasanya sangat berbeda saat melihat di infotaiment dengan bertemu langsung. Neng mulai berkeringat ingin, rasa sakit hati itu mulai muncul saat bertemu atau memikirkan masa lalunya. Ibu Ani yang faham betul kondisi Neng, saat melihat Neng berkeringat dingin dia langsung memanggil Alfian.


"Al, kemarilah!"


"Ada apa Nenek, Al sedang melihat panggung itu terlihat panjang."


"Coba Al lihat, Mami sepertinya sedang gugup, dia mulai berkeringat dingin, Al tahu apa yang harus dilakukan?"


"Tentu saja Nek, Al akan memeluk Mami, pasti akan baikan."


Al mendekati Neng yang sedang termenung memandang juri tamu yang akan turun dari panggung. Diikuti Ibu Ani mengikuti Al dari belakang. Dia juga ikut memberikan dukungan sepenuhnya kepada Neng.


"Mami, apakah Mami gugup?"

__ADS_1


"Iya Mami sedikit gugup, apakah kamu sudah siap, Nak?"


"Siap Mami, jangan gugup ada Al yang akan selalu memeluk Mami, ok!"


"Iya Nak, Mami akan baik-baik saja setelah mendapatkan pelukan darimu, terima kasih."


"Percayalah, saat Mami dan Al kompak, pasti akan memenangkan perlombaan ini." nasehat Ibu Ani sambil mengusap pundak Neng.


Pergelaran berlangsung meriah, satu persatu mereka menampilkan rancangan terbaiknya. Para juri menilai peserta dengann teliti termasuk Sinta Zulkarnain. Beragam model dan bahan di pergelarkan di atas cat Walk sesuai dengan tema mereka masing-masing.


Saat giliran Al naik paggung, banyak tepuk tangan yang menyertainya. Penampilan Al yang terlihat cool, wajah tampan, rambut tebal dan lurus dengan langkah yang mantap membuat banyak orang terhipnotis olehnya. Al menjadi idola dalam acara itu.


Selesai pergelaran ada sesi pertanyaan untuk para desainer dan para model untuk peserta yang masuk tiga besar. MC naik diatas panggung untuk mengumumkan peserta yang lolos. Seluruh peserta tegang mendengarkan MC dengan cemas.


"Ini dia hasil penilaian juri sudah ada di tanganku, marilah kita panggil satu persatu para nominasinya!" kata MC itu mulai membuat para peserta lebih tegang lagi.


Semakin tegang suasananya saat ini. Para pengunjung dan pendukung juga ikut tegang. Apalagi peserta menunggu dengan cemas berharap MC segera membacakan peserta yang masuk tiga besar.


"Calon desainer kedua yang mendapatkan nilai terbaik adalah Johan tepuk tangan dan silahkan naik pangungg beserta model ciliknya!" Tepuk tangan kembali menggema di lobi sebuah mall terkanal itu.


"Lanjut, ayo cepat lanjutkan!" teriak pengunjung yang penasaran.


"Waaah rupanya sudah tidak sabar ya, ini dia nominasi ketiga calon pemenang lomba desainer tahun ini yaitu Paramitha dan Al putranya."


Al langsung memeluk Neng dengan erat, "Mami, ayo kita dipanggil!"


Neng duduk di pangggung bersama Al disampingnya. Dia terlihat gugup karena berhadapan langsung dengan Sinta Zulkarnain yang terlihat menatap wajah Alfian. Ada rasa takut di hatinya, ketakutan jika Sinta Zulkarnain bisa mengenali wajah Alfian, karena wajah Alfian sangat mirip dengan Alfarizi.


Pertanyaan demi pertanyaan di tanyakan kepada setiap peserta, baik perancang ataupun model. Walaupun gugup Neng bisa menjawab dengan lancar. Ada salah satu juri yang penasaran dan mengidolakan Al. Juri wanita paruh baya itu melakukan wawancara secara spontan dengan Alfian.


"Boleh Ibu bertanya kepada Al tentang keluarga?"

__ADS_1


"Silahkan, Bu."


"Bersama siapa saja Al tinggal di rumah?"


"Al tinggal bersama Mami, Nenek yang banyak dan Mpok Atun."


"Mengapa Al punya Nenek yang banyak?"


"Nenek Al memang banyak Bu, mereka yang membuat baju yang aku pakai saat ini." jawab Al dengan polos dan lugu.


Para pengunjung, juri dan para pendukung tertawa lepas mendengar jawaban Al. Juri itu semakin penasaran ingin bertanya kembali. Sedangkan Neng tersenyum bangga melihat Al berani menjawab pertnyaan juri.


"Ibu boleh bertanya satu lagi, Al?"


"Boleh Bu."


"Dimana Papi Al, mengapa dia tidak tinggal bersama Papinya Al."


"Papi bekerja di Arab Saudi menjadi TKI, Bu."


"Pintar, apakah Al sudah sekolah?"


"Belum Bu, nanti setelah ini, Mami akan mendaftarkan Al sekolah TK."


Neng merasa lega mendengar jawaban Al. Setelah Al bercerita tentang papinya, Sinta Zulkarnain tidak lagi memandang wajah Al dengan tatapan yang tajam. Dengan pengakuan Al akan mengurangi orang bertanya tentang keluarganya.


Selesai wawancara kini saatnya mengumumkan pemenang pertama dalam acara itu. Tiga finalis bersama model berdiri di tengah panggung. Bahkan MC memutari para peserta finalis menambah tegang para peserta dan pengunjung yang datang.


"Baiklah, nilai untuk juara kedua adalah Johaaaaan, selamat." Tepuk tangan bergemuruh menggema di lobi mall.


"Dan kini tibalah saatnya untuk mengumumkan juara pertama dan ketiga, ayo yang mana dulu yang di sebutkan, juara pertama atau juara ketiga?"

__ADS_1


__ADS_2