Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Helikopter


__ADS_3

Suara panggilan itu kembali terdengar di telinga Alfian, "Abang Tuan...!"


Mata Alfian terbuka dengan lebar melihat ada Rania yang berlari mendekatinya sambil merentangkan tangan. Ada Julio yang tersenyum sambil membawa tas milik Rania. Dan tiga orang yang mengikuti mereka dari belakang.


Tanpa malu dan sungkan Rania langsung memeluk suami denga erat, "Abang Rani kangen," kata Rani dengan suara manja.


"Sayang mengapa nyusul ke sini?"


"Iiiih Abang ini, di bilangin Rani kangen sama Abang!" Rania mengerucutkan bibirnya karena pertanyaan Alfian.


Alfian langsung memeluknya lagi, berbisik di telinga dan bertanya dengan cepat, "Rani kangen sama kurma jumbo Abang Ya?"


"Ho'o ... Eeee?" Bergegas Rania menutup mulutnya bahaya jika keceplosan di depan banyak orang.


Julio membuka pintu mobil milik Papi Alfarizi. Surya langsung turun dari mobil Papi Alfarizi, "Bagaimana kamu bisa ke sini, Jul?"


"Saya menyewa helikopter, Pak."


"Bagus ... di mana helikopternya?"


"Ada sekitar dua kilo meter dari sini, apakah Nyonya Mitha mampu berjalan ke sana Pak Surya?" tanya Julio.


Mami Mitha langsung bangun dan keluar dari mobil. Diikuti Papi Alfarizi turun dari mobil sambil membantu Mami Mitha turun. Mami Mitha tersenyum dan langsung memeluk menantunya.


"Bagaimana keadaan Mami?" tanya Rania.


"Mami sudah baikan, Insyaallah sanggup jalan kalau hanya dua kilo meter."


"Nanti kalau capek bilang ya, Mi. Abang gendong!"


Malam itu mereka bisa keluar dari Pulau Seribu menggunakan helikopter yang disewa oleh Julio. Hanya Julio yang tidak ikut helikopter karena keluar dari Pulau Seribu menggunakan mobil milik Papi Alfarizi. Helikopter mendarat di rumah sakit yang berada di Bekasi yang memiliki landasan di lantai atas rumah sakit.


Papi Alfarizi langsung menghubungi Dokter Harry yang kebetulan bertugas pada malam hari. Ingin memastikan kesehatan Mami Mitha yang sempat suhu tubuhnya panas. Langsung menuju UGD setelah turun dari lantai atas setelah turun dari helikopter.


Mami Mitha di temani Rania di ruang rawat inap rumah sakit sambil menunggu hasil pemeriksaan laborat. Papi Alfarizi berbincang dengan Dokter Harry, Surya dan Alfian. Membicarakan ide Alfian setelah kejadian Mami Mitha sakit dalam perjalanan pulang.


"Papi, apakah Abang boleh mengemangkan usaha untuk mendirikan rumah sakit?"

__ADS_1


"Ide bagus, Bang. Papi setuju nanti Zain saja yang akan memimpin rumah sakit."


"Ok Uncle juga setuju, Bang. Uncle juga ikut menanam saham untuk rumah sakit."


"Apakah aku juga boleh ikut?" tanya Surya.


"Tentu saja, Baik berarti kita mendirikan rumah sakit untuk infestasi anak-anak kita."


Mencari lokasi tanah yang akan dibuat rumah sakit. Mencari pengembang yang akan membangun rumah sakit dan rencana karyawan dan tenaga medis. Akan di tangani bersama sesuai keahlian masing-masing.


Pagi harinya setelah cek-up lengkap Mami Mitha dinyatakan sehat dan pulang ke rumah. Alfian dan Rania berencana pulang ke Bogor sore hari. Menghabiskan waktu seharian ini bersama keluarga.


Rania saat ini sedang berbincang dengan ayah Doni dan Ibu Ani. Mereka membicarakan tentang Raffa yang sangat mendambakan seorang ayah. Doni juga sangat antusias jika membicarakan keluguan Raffa saat bersama.


Rania langsung berterus terang, "Bagaimana kalau Ayah menikah dengan Bibi Esih? "


Ibu Ani tersenyum dan mengangguk, "Ibu juga setuju dengan Rani kalau Doni menikah dengan Esih."


Doni bingung dan kaget dengan usulan dua orang wanita yang sangat di sayanginya. Hatinya tidak pernah memikirkan untuk menikah lagi. Rasa trauma pernikahan dengan Titin Suhartin sampai sekarang tidak pernah hilang.


"Kok melamun Yah, Rani cuma usul saja?'


Ibu Ani tersenyum dan langsung menjawab, "Kami tidak akan memaksakan tentang itu, Nak Doni. Jangan khawatir."


"Iya Ayah ... Rani hanya usul saja. walaupun tidak menikah dengan Bibi Esih. Raffa tetap masih bisa kok seperti adik Rani."


"Ya Nak, Ayah juga sudah menganggap Raffa seperti putra Ayah sendiri."


Doni kembali melamun teringat kisah masa lalu Esih. Ibu dari Raffa itu pernah hidup seperti mantan istrinya Titin Suhartin. Itu juga salah satu yang menjadi pertimbangannya.


Abah mendengar percakapan mereka sekilas saat baru keluar dari kamarnya. Dia langsung duduk di samping Doni. Menepuk pundak Doni yang sedang termenung.


"Kemarin Abah juga berpikir seperti Neng Rani. Abah juga ingin menjodohkan Esih dengan Nak Doni."


"Abah pernah menyampaikan itu kepada Bibi Esih?" tanya Rania.


"Belum pernah, tetapi Abah pernah menanyakan kepada Esih apakah pernah berniat untuk berumah tangga lagi."

__ADS_1


"Apa jawaban dia, Ayah?" tanya Doni penasaran.


"Esih juga trauma dan tidak ingin menikah lagi, Kemarin dia juga sudah mengatakan jika hanya akan menghabiskan sisa hidupnya untuk Raffa dan mengabdikan diri pada Abang Al dan Rani."


"Mengapa mengabdikan diri sama Rani?"


"Kata Esih akan bekerja dan merawat keturunan Bang Al tanpa minta digaji, sebagai tanda penyesalan atas apa yang dilakukan dulu bersama ibunya."


"Tidak harus menebus kesalahan ibunya juga dong Abah!" protes Ibu Ani.


"Entahlah itu salah satu syarat agar dia mau menempati rumah Abah, tetapi sekarang Abah sangat bersyukur. Dia sudah menyadari kesalahannya."


Doni mengangguk dan kembali termenung. Merasa lega karena tidak harus dipaksa untuk menikah lagi. Setiap orang pasti memiliki pilihan hidup senrdiri untuk mengisi sisa higupnya.


Bagi Doni mengabdikan diri kepada Ibu, menyayangi putrinya yang baru saja di temukan adalah tujuan hidupnya saat ini. Apalagi memiliki tanggung jawab pekerjaan yang ada berada konfeksi AA. Serta pengabdiannya pada keluarga Alfarizi Zulkarnain.


Julio datang dari dari Pulau Seribu dengan mengendarai mobil milik Papi Alfarizi. Alfian menemui Julio di kantor pribadi Papi Alfarizi, "Apakah sudah lunas helikopter yang elu sewa tadi malam?"


"Semua sudah beres, Bang."


"Oya Jul, mengapa kemarin Rani bisa ikut ke Pulau Seribu?"


"Penyewaan helikopter itu ide dari istri Abang, dia juga merengek ingin ikut menjemput Abang karena ingin merasakan naik helikopter."


Alfian tergelak sambil menggelengkan kepalanya, teringat keluguan Rania. Dia yang selalu membuatnya bisa memanfaatkan keluguan dan kejujurannya dengan baik. Mereka berdua kemudian melakukan rapat tentang pekerjaan sampai sore.


Sore hari Alfian dan Rania pulang ke Bogor bersama Julio. Motor Julio ada di rumah Alfian yang ada di Bogor. Julio duduk di kemudi sedangkan Alfian dan Rania duduj di belakang.


Dalam perjalanan pulang saat di lampu merah, Rania sepintas lalu melihat ada sosok laki-laki yang memakai seragam security. Berhenti sambil melihat ke depan, security itu memakai motor butut dan helm standar. Rania memandang dengan lekat laki-laki yang ada di samping mobil.


"Sayang ... mengapa melihat segitunya pada security itu, ada apa?"


"Abang, Kayaknya Rani kenal Bapak itu deh."


"Siapa sih, apakah dia mantan pacar Rani?"


"Abang ini ngawur saja, Dia sudah tua. Sebentar Rani perhatikan dulu dia, Abang jangan cemburu dulu!"

__ADS_1


"Eeee ...."


__ADS_2